KESAH.IDInternet dengan teramat cepat merubah lanskap cara dan perilaku masyarakat dalam mengkonsumsi informasi. Media massa tidak lagi mencari saluran tunggal atau utama, ada banyak sumber informasi dan pengetahuan lainnya. Perubahan ini membuat media massa harus melakukan penyesuaian agar apa yang disampaikan tetap relevan dan diterima oleh masyarakat.

Sekitar tahun 1997, saya mulai memberanikan diri mengirim tulisan ke koran. Artikel masih dikirim dalam bentuk cetakan, dimasukkan ke amplop dan diserahkan ke meja redaksi. Dengan modal printer Epson yang bunyinya krek..krek…krek itu, saya mencetak tulisan untuk dimasukkan ke Manado Post.

Seingat saya tulisan pertama yang saya kirimkan bertema HIV/AIDS, tulisan saya kirimkan untuk menyongsong peringatan Hari AIDS Sedunia yang diperingati setiap bulan Desember.

Dimuat dan saya senang bukan kepalang. Waktu itu tulisan opini di koran memang bergengsi, bisa menjadi cara untuk menunjukkan eksistensi diri, kepakaran atau intelektualitas.

Sayapun lebih semangat menulis dan mengirimkan tulisan.

Seingat saya tulisan tentang Aksi Mogok Makan yang dilakukan oleh Aktivis PRD kemudian membuat pergaulan saya di kalangan aktivis menjadi semakin luas, tidak terbatas pada aktivis LSM saja.

Saat itu internet sudah ada namun masih lemot dan harus diakses dengan desktop yang terhubung dengan modem. Bisa dengan cara dial memakai telkomplaza atau berlangganan dengan sambungan wasantara net.

Internet lebih digunakan untuk email dan mailgroup atau mailingnews. Sebab browsing masih sering bikin pusing, upload dan download sering gagal, baru separuh sudah macet.

Dalam urusan lalu lintas informasi dan pengetahuan, internet belum menjadi ancaman karena masih bersifat privat. Lewat email dengan segala fasilitas berbagai informasi dan pengetahuan memang bisa disebarkan, namun sebarannya masih terbatas.

Radio, koran, televisi, majalah, newletter, bulletin dan lainnya masih memegang peran vital sebagai saluran informasi serta pengetahuan untuk masyarakat.

Talks show dan siaran langsung radio pada masa itu masih banyak didengar oleh masyarakat. Koran masih banyak yang berlangganan dan dijual di berbagai tempat mulai dari perempatan jalan hingga kios-kios pinggir jalan.

Sekitar tahun 2000 mulai muncul situs berita di internet. Salah satu yang memulainya adalah astaga.com. Internet mulai jadi ancaman bagi media-media mainstream, kecepatan pemberitaan yang menjadi andalan radio dan televisi mulai terguncang.

Seiring dengan makin bertambahnya kecepatan internet, ancaman menjadi kian nyata karena media online kemudian tumbuh subur tak terbendung.

Membuat website menjadi semakin mudah dan murah beberapa bahkan gratis seperti yang disediakan oleh blogger.com dan wordpress.com. kemudian disusul oleh kemunculan media sosial, yang membuat orang bisa saling bertukar informasi, bukan hanya teks melainkan juga suara, foto dan video.

Ketika Facebook pada tahun 2006 meluncurkan fitur catatan, kebiasaan saya untuk mengirimkan tulisan ke koran berhenti, saya lebih memilih untuk menulis catatan di Facebook. Menulis catatan di Facebook menjadi lebih interaktif ketimbang mengirimkan tulisan ke koran.

Selain itu juga muncul community blog platform user generated content semacam kompasiana. Menulis di platform itu jauh lebih menyenangkan karena setiap orang diberi halaman sendiri, tulisannya dikurasi. Andai bagus akan dijadikan headline sehingga bisa meraup banyak pembaca.

Sayapun kemudian memilih menulis di kompasiana, jumlah tulisan saya kurang lebih 348 artikel, 15 diantaranya dipilih menjadi headline. Satu tulisan tentang Jokowi saat menjadi Gubernur DKI dipilih untuk dicetak dalam sebuah buku kumpulan tulisan berjudul Jokowi Bukan Untuk Presiden.

Ketika saya rajin menulis di kompasiana, saya sudah lama tidak mendengar radio, mulai berhenti berlangganan koran. Kalaupun membeli koran yang saya beli adalah Kompas Minggu atau Kompas Edisi Khusus.

Sesekali saya masih membeli majalah, terutama majalah gaya hidup. Yang masih rajin saya tonton dan duduk khusyuk di depannya adalah televisi.

BACA JUGA : Dimana Bumi Dipijak, Disitu Mixue Dijunjung

Internet makin berkembang dalam hal kecepatan dan akses. Dimulai oleh blackberry namun kemudian ditumbangkan oleh android yang menjadi nyawa bagi kebanyakan merk smartphone.

Dengan internet di genggaman, setiap orang kemudian menjadi produsen sekaligus konsumen informasi. Dengan berbagai aplikasi yang ada di smartphone setiap orang bisa berbagi informasi, menyebarkan peristiwa dan kejadian yang ada di sekelilingnya dengan segera, bahkan real time lewat platform live streaming.

Ibaratnya dengan smartphone setiap orang bisa punya siaran radio, siaran televisi dan korannya sendiri.

Senjakala media massa mainstream tiba, banyak diantaranya yang tidak siap menghadapi perubahan tumbang. Yang siappun juga harus melakukan efisiensi, menutup atau merubah platform penerbitannya.

Berita tentang penutupan atau penghentian penerbitan dan siaran media massa mainstream kemudian menjadi biasa. Bukan hanya media yang diterbitkan oleh perusahaan kecil melainkan juga perusahaan besar bahkan dari golongan konglomerasi.

Kompas Group pada tahun 2016 sekaligus menutup 8 produk edisi cetaknya yakni Kawanku, Sinyal, Chip, Chip Foto Video, Hi Fi, Auto Expert, Car and Tuning Guide, dan Motor. Edisi cetak yang dihentikan itu kemudian dikonvergensikan menjadi platform online cewekbanget.id dan grid.co.id.

Tidak berhenti disitu, setahun kemudian majalah legendaris remaja yakni Majalah Hai juga dihentikan versi cetaknya. Dan setahun kemudian kejutan kembali terjadi karena Tabloid Bola juga dipensiunkan.

Gelombang penghentian versi cetak masih belum berhenti. Pada akhir tahun 2022 ini Kompas Grup kembali menutup publikasi cetak untuk Tabloid Nova, Majalah Bobo Junior, Majalah Mombi dan Majalah Mombi Junior SD.

Kompas Grup nampaknya mesti merelakan beberapa publikasi yang telah legend, bacaan yang menjadi teman setia bagi beberapa generasi bangsa dikebumikan, diakhiri selama-lamanya karena ditelan jaman.

Bukan hanya Kompas Grup yang memberi kejutan di akhir tahun 2022 ini. Di jagad media internasional, BBC Siaran Bahasa Indonesia juga akan mengakhiri siarannya lewat gelombang radio. Siaran radio BBC berbahasa Indonesia akan dipublikasikan dalam versi digital.

Dan Koran Republika yang kabarnya didirikan untuk menyaingi Haria Kompas juga mengakhiri edisi cetakannya. Koran yang dahulu didirikan sebagai ‘corong’ ICMI ini mulai tahun 2023 hanya bisa dinikmati dalam versi online.

Lanskap pencarian dan konsumsi informasi masyarakat memang telah berubah. Radio teresterial atau yang disiarkan melalui gelombang sebenarnya sudah terdesak semenjak siaran televisi berkembang. Televisi ibarat radio yang diberi gambar sehingga jauh lebih menarik perhatian, membuat orang lebih tahan duduk diam di depan layar ketimbang khusyuk duduk mendengarkan kotak radio.

Lewat telepon pintar sebenarnya orang bisa menangkap dan mendengarkan siaran radio, namun ternyata tak terlalu menolong keadaan. Ada lebih banyak pilihan informasi lain yang lebih menarik di dalam smartphone ketimbang siaran radio.

Berbeda dengan radio, surat kabar atau media cetak lainnya mulai turun peminat atau pengkonsumsinya karena internet dengan kemunculan media online. Berbeda dengan cetakan apa yang disajikan secara online pada umumnya gratis. Selain gratis berita atau informasi di media online lebih bisa diperbaharui atau terus menerus diupdate dalam jangka waktu yang lebih cepat daripada bentuk cetakan.

Lebih daripada itu menurunnya jumlah konsumen media konvensional berimbas pada pemasukan, baik pemasukan karena membeli, langganan maupun iklan. Media kemudian menanggung beban operasional yang besar, karena pendapat dari pembaca, pendengar dan iklan menurun.

Pemasang iklan lebih memilih untuk berpromosi di ekosistem digital. Platform untuk memasangnya juga makin meluas, bukan hanya pada media melainkan juga produk yang dihasilkan oleh para content creator. Kue iklan makin terbagi.

BACA JUGA : Si Cepat Yang Kirimannya Bergerak Lambat

Yang disebut senjakala media bukan berarti media massa tidak relevan lagi. Media massa tetap diperlukan karena sebagai sarana penyebaran informasi dan pengetahuan, media bekerja berdasarkan prinsip-prinsip yang telah teruji.

Namun model bisnis dan cara publisitasnya yang mesti berubah.

Radio misalnya tidak lagi bisa mengandalkan siaran melalui pancaran gelombang yang memaksa orang untuk mendengar pada jam tertentu agar tak ketinggalan informasi. Dengan siaran digital pendengar tidak mesti mendengarkan secara langsung, melainkan bisa memilih content tertentu pada waktu yang diinginkan.

Kini banyak radio bisa bertahan karena bukan hanya menghasilkan produk berupa suara melainkan juga video dan teks yang dipublikasikan lewat berbagai platform.

Demikian juga media cetak yang kemudian terbit dalam versi online. Berita umumnya juga dilengkapi dengan rekaman video, grafik dan lain-lain sehingga informasi yang disampaikan menjadi lebih dalam serta bisa dikonsumsi dalam berbagai versi.

Konvergensi menjadi kunci lewat teknologi agar publisitas menjadi relevan dan diterima oleh publik.

Kematian siaran teresterial, punahnya model informasi cetakan barangkali akan menimbulkan kesedihan serta kehilangan untuk sebagian generasi. Namun ini tak terhindarkan.

Dunia akan selalu berubah, teknologi akan selalu melakukan pembaharuan. Dan dalam ekosistem teknologi sebuah temuan akan mematikan temuan sebelumnya.

Teknologi internet memungkinkan media untuk menjangkau audiens dengan medium baru. Dengan kehadiran medium baru ini juga muncul pelaku-pelaku informasi baru. Ada beberapa tugas media massa yang diambil alih oleh mereka, ada partisipasi publik yang lebih luas untuk berbagi informasi.

Maka selain menyesuaikan diri dengan medium baru, media massa agar tetap relevan juga harus mengambil posisi dan peran baru. Radio misalnya tidak lagi menjadi sarana utama bagi masyarakat untuk mencari informasi, maka radio bisa tetap relevan dengan menghadirkan informasi yang bersifat hiburan, membahas berbagai macam kecenderungan atau gaya hidup yang sedang berkembang secara dalam.

Demikian halnya dengan koran, majalah dan lainnya. Berita langsung tidak lagi bisa menjadi andalan, sebab kejadian, peristiwa atau event akan diberitakan oleh mereka yang tahu, melihat, berada di dalamnya lewat sosial medianya masing-masing.

Jurnalisme dasar barangkali sudah diambil alih oleh publik, pewarta-pewarta privat atau komunitas. Media mesti menyajikan informasi yang berbasis pada jurnalisme madya, laporan yang lebih dalam dan komprehensif atau bahkan investigatif.

Internet sebagai sebuah capaian teknologi informasi dan komunikasi telah merevolusi cara masyarakat dalam mencari dan mengkonsumsi informasi serta pengetahuan. Apa yang dulu dianggap pencapaian dan kemapanan kemudian terguncang.

Tapi begitulah kehidupan, segalanya akan terus berubah dan segala sesuatu ada batasnya. Maka yang disebut dengan kemapanan dan keabadian hanyalah sebuah obsesi atau bahkan halusinasi yang menyenangkan untuk mereka yang tidak siap menghadapi perubahan.

note : sumber gambar – ALINEA.ID