KESAH.IDMengejar pertumbuhan dengan membakar uang dari investor tidaklah salah, namun jika dilakukan terus menerus tanpa kemampuan membangun profitabilitas lama kelamaan start up akan kehilangan daya tariknya dimata investor. Nilai valuasi pasar adalah ukuran semu, sebab banyak perusahaan bernilai tinggi namun sesungguhnya belum mencetak untung.

Serangan Covid 19 yang menglobal membuat dunia mesti beristirahat sejenak. Pembatasan mobilitas sebagai jalan untuk mengatasi pandemi membuat masyarakat yang biasa bergerak bebas untuk belajar, bekerja, belanja dan lainnya mesti harus banyak di rumah.

Beruntung saat pandemi Covid 19 datang, dunia telah mempunyai teknologi informasi dan komunikasi yang mumpuni. Mobilitas terbatas namun konektivitas tidak.

Apa yang tadinya hanya kerap dipidatokan seperti e-gov, e-office, e-learning dan lain-lain kemudian dipaksa utuk diterapkan. Walau gagu namun tidak ada jalan lain. Covid 19 menjadi enabler, faktor pendorong untuk mempercepat implementasi berbagai sistem yang bekerja berdasarkan teknologi informasi dan komunikasi.

Terkait dengan kebutuhan hidup, baik kebutuhan pokok maupun barang serta jasa lainnya, e-commerce kemudian tumbuh dengan sangat cepat. Masyarakat kemudian semakin akrab dengan belanja online dan transportasi online.

Tingginya transaksi perdagangan online antar daerah kemudian mendorong tumbuhnya start up kurir, baik di tingkat lokal maupun nasional.

Salah satu yang kemudian moncer adalah Si Cepat. Bisa jadi karena namanya tepat sebab orang memang berharap semuanya serba cepat. Konon selain cepat, Si Cepat juga murah.

Pembatasan sosial dalam skala besar membuat semua yang serba online seperti punya masa depan cerah. Dunia berubah menjadi serba digital. Pertumbuhan e-commerce dan hal-hal yang terkait dengannya menjadi ekponensial.

Ketika banyak orang tidak bisa bekerja, dipotong gajinya, dirumahkan atau bahkan kehilangan pekerjaan karena perusahaan tempat kerjanya kolaps akibat pandemi, dunia e-commerce menyerap banyak tenaga kerja. Pekerjanya dilipat gandakan karena beroperasi 24 jam.

Valuasinya meningkat dan yang kemudian berhasil melakukan IPO menuai duit seperti hujan badai. Sahamnya laris manis, lebih laris dari gorengan.

Banyak orang tercatat menjadi orang kaya baru karena jasa dan layanan digitalnya, termasuk uang digital.

Semua orang kemudian akrab dengan crypto currency, fasih menyebut bitcoin, ethereum, nft hingga koin artis.

Dompet digital juga menjadi semakin lazim, termasuk pinjaman online yang membuat banyak orang merana.

Kini kartu kredit juga semakin tak populer, digantikan oleh pay later.

Tapi bulan madu ternyata tak lama, kurang lebih dua tahun fly to the moon, ekonomi digital kemudian meredup seiring dengan semakin banyaknya masyarakat yang divaksin. Serangan Covid 19 mulai melemah.

Pelonggaran pembatasan sosial perlahan-lahan diberlakukan, masyarakat kembali hidup normal. Normal baru karena mesti terbiasa kemana-mana memakai masker.

Kegiatan yang sifatnya offline semakin banyak, webinar semakin tak disukai apalagi virtual tour.

Semua ingin bertemu, bertatap muka dan kembali memadati mall serta pasar-pasar untuk berbelanja. Banyak orang kembali tak yakin dan tak puas ketika harus belanja online, jika bisa ke toko atau melihat barangnya secara langsung sebelum membeli akan lebih disukai.

Dan start up yang tadinya mengobral rayuan mulai kehabisan uang untuk dibakar. Saatnya untuk bekerja mencari untung bukan mengaet pendownload dan pemakai aplikasi.

Menurut seorang kawan yang gemar belanja online, memasuki bulan Desember 2022 ini belanjaan yang dikirim melalui Si Cepat ternyata tak cepat sampai. Bahkan suatu ketika diantar oleh kurir lainnya.

Si Cepat nampaknya melakukan efisiensi, menata kembali sistemnya yang mungkin salah prediksi sehingga ketika Covid 19 mereda mereka menanggung beban sumberdaya terlalu tinggi. Maka daripada bangkrut, pilihan untuk merampingkan jumlah karyawan, mitra atau apapun sebutan menjadi sebuah jalan yang tak terelakkan.

BACA JUGA : Tahun Gagap

Publik mungkin tidak mengenal Patrick Walujo, pendiri firma investasi Northstar Group. Namun kalangan founder start up sangat tahu, Patrick adalah salah satu angel investor terbesar di Indonesia. Gojek adalah salah satu yang mendapat pendanaan awal darinya.

Bapaknya lebih terkenal, lulusan Cornell University ini anak dari Theodore Permadi Rahmat seorang konglomerat mulai jaman regim orde baru dulu. TP Rahmat meniti karirnya melalui Astra Group yang dikendalikan oleh Om-nya yakni William Soeryadjaya.

Nama Patrick Walujo mulai dikenal oleh publik ketika Bank Jago, salah satu bank digital baru di Indonesia sahamnya laris manis di pasaran. Harga sahamnya mencetak rekor tertinggi sepanjang masa setelah melesat 5 hari berturut-turut.

Sejak diterbitkan hingga pertengahan tahun 2021, saham Bank Jago meroket hingga 369 persen. Nilai kapitalisasi pasarnya pernah mencapai angka Rp. 252 Triliun. Nilai ini membuat Jerry Ng, pemegang 29,8 persen saham Bank Jago masuk daftar orang kaya Indonesia nomor kelima versi Forbes dengan kekayaan kurang lebih Rp. 70 Triliun.

Patrick sendiri menguasai kurang lebih 11 persen saham Bank Jago mendapat cuan kurang lebih senilai Rp. 20 Triliun. Gojek melalui PT. Dompet Anak Bangsa atau GoPay menguasai kurang lebih 21 persen saham yang setara dengan nilai RP. 54 Trilyun.

Investor lain yang menikmati gurihnya saham perusahaan teknologi keuangan adalah Chairul Tanjung, pendiri Allo Bank.

Sebelumnya Bukalapak juga melakukan IPO setelah 11 tahun beroperasi. Tercatat sebagai perusahaan teknologi pertama yang melakukan penawaran publik, Bukalapak mencatat sejarah dengan mengantongi dana segar sebesar Rp. 21,9 Triliun, terbesar sepanjang sejarah pasar modal Indonesia.

Goto hasil merger dari Gojek dan Tokopedia kemudian juga menyusul untuk melantai di bursa saham. Saat penawaran perdana, saham Goto diterima baik oleh investor, harganya sempat melejit walau tidak sampai ratusan persen. Goto berhasil mengantongi dana segar sebesar Rp. 13,7 Triliun.

Mengeruk dana segar dari publik lewat penawaran saham kemudian menjadi model perusahaan teknologi untuk menambah modal. Selain Bukalapak, Goto, cara tersebut juga dilakukan oleh Bibli dan perusahaan lainnya.

Dikenal sebagai Unicorn mereka kemudian sulit untuk menarik suntikan dana atau penyertaan modal investor privat atau korporasi.

Saat IPO, saham start up besar mampu menarik investor publik karena diberlakukan kebijakan lock up, pemegang saham besar atau saham tertentu dilarang untuk menjual sahamnya dalam periode tertentu. Kebijakan ini diberlakukan agar IPO tidak menjadi exit strategi dari pendana sebelumnya untuk keluar dari perusahaan rintisan dan mendapat untung.

Faktanya setelah periode lock up harga saham perusahaan teknologi seperti Goto kemudian terjun bebas. Harganya berada di bawah nilai pertama saat saham ditawarkan.

Memasuki akhir tahun 2022, Goto kehilangan kurang lebih Rp. 130-an Trilyun kapitalisasi pasarnya.

Berharap untung dengan memegang saham perusahaan teknologi nampaknya masih jauh. Pemegang saham mungkin belum buntung namun harus lebih sabar lagi menunggu perusahaan teknologi mampu mencetak untung.

BACA JUGA : Nagari Rimba Nusantara

Dalam beberapa tahun terakhir atmosfir keseharian dan ekonomi kita diwarnai oleh perusahaan rintisan atau perusahaan teknologi. Sebagian nama kita elu-elukan, menjadi dambaan bagi generasi muda untuk bekerja disana.

Namun memasuki paruh pertama tahun 2022 ada banyak berita tentang pemutusan hubungan kerja yang dilakukan oleh banyak perusahaan teknologi. Berderet perusahaan melakukan efisiensi, mengurangi jumlah karyawan.

Saat Ruang Guru memutuskan hubungan kerja dengan ratusan karyawannya mungkin masih bisa dipahami karena siswa sudah mulai melakukan pembelajaran tatap muka di sekolah. Tapi saat banyak perusahaan lain juga melakukan hal yang sama, maka muncul banyak tanda tanya.

Ternyata Linkaja,Tanihub, Zenius, SiCepat, TokoKrypto, GoTo, Ajaib, SayurBox, GudangAja dan juga Oyo.

Bukan hanya di Indonesia, perusahaan big tech global semacam Microsoft, Disney, Netflix, Sea induk usaha Shoppe, Amazon, Meta dan juga Twitter.

Kondisi ekonomi makro dan geopolitik kerap menjadi justifikasi dari aksi yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan ini. Tapi benarkah itu merupakan satu-satunya alasan?.

Nampaknya tidak, hukum alam tengah bekerja saat ini pada perusahaan-perusahaan teknologi. Model bisnis mereka tengah diuji apakah layak untuk berkembang dan mendapat untung dalam situasi saat ini.

Ada persoalan yang melingkupi berbagai perusahaan rintisan dan teknologi saat ini akibat keputusan yang dilakukan pada beberapa waktu lalu, saat pandemi.

Dimasa pandemi mereka begitu agresif merekrut karyawan, saat itu permintaan akan layanan digital meningkat, investor juga sedang royal menyuntikkan uang dan rela uangnya dibakar.

Permintaan sumberdaya meningkat, tapi jumlah sumber daya yang mumpuni terbatas terjadilah talent war, gaji yang ditawarkan untuk karyawan dengan kualifikasi tertentu sangat tinggi. Biaya operasional perusahaan menjadi membengkak, naik secara drastis.

Di Indonesia saat ini ada kurang lebih 2000-an perusahaan rintisan, sebagian besar belum mampu mencetak untung. Jadi untuk membiayai operasional perusahaan masih tergantung kepada dana investor.

Kondisi ekonomi yang tidak pasti, ancaman resesi dan inflasi mendorong investor untuk mengalihkan dananya ke sektor yang lebih pasti, yang resikonya lebih kecil. Ekonomi bakar uang tidak lagi menjadi pilihan.

Aktifitas online yang terbentuk selama masa pandemi ternyata tidak menjadi kebiasaan baru. Masyarakat hanya dipaksa serba digital karena pandemi, begitu pandemi mereda kebanyakan kembali kepada kebiasaan semula. Proyeksi perusahaan rintisan meleset, termasuk Facebook yang kemudian bermetamorfosa menjadi Meta. Mark Zuckenberg terlalu optimis dengan perkiraannya.

Akselerasi digital selama pandemi ternyata tidak permanen.

Ternyata menjadi perusahaan unicorn tidak selamanya indah. Unicorn adalah perusahaan rintisan yang punya valuasi diatas 1 milyard dollar sebelum masuk ke bursa saham.

Unicorn terlihat sexy namun sesungguhnya ringkih karena hanya dinilai dari nilai valuasi pasar bukan dari fundamental kekuatan bisnisnya. Jadi kecantikannya semu sebab mayoritas Unicorn belum mampu mencetak untung. Yang merdeka secara finansial mungkin hanya founder dan karyawan kuncinya tapi tidak perusahaannya.

Kita mungkin akan kehilangan banyak perusahaan-perusahaan rintisan yang tadinya menjadi idaman. Mereka yang tadinya mengibarkan bendera pertumbuhan kemudian gagal mengudarakan balon profitabilitasnya.

Mereka yang mengandalkan uang investor untuk mengerakkan roda perusahaan dengan sendirinya akan melambat lalu bangkrut karena gagal mandiri, tidak mampu tumbuh kuat.

Rumus mencetak untung pada dasarnya sederhana, karena rumus untung adalah pendapatan dikurangi pengeluaran. Jika pendapatan jauh diatas pengeluaran maka itulah untung.

Beberapa layanan perusahaan rintisan sudah menjadi keseharian kita, keberadaannya memang kita perlukan.

Kini mereka diuji apakah mereka mampu tetap memberi layanan dengan kemampuan sendiri. Membiayai dan menumbuhkan perusahaan dari pendapatan yang diperoleh. Penetrasi pasar mereka harus diperoleh karena layanan bukan iming-iming promosi dan kemudahan lain yang akan mengerogoti fundamental keuangan mereka.

Yang disebut hukum alam dalam ekonomi adalah mekanisme pasar. Inilah mekanisme yang akan menjaga keseimbangan. Pertumbuhan-pertumbuhan semu pada akhirnya akan terkuak, sebab tujuan perusahaan adalah mencari untung dari layanannya.

Maka jika tak bisa mencetak untung dari layanannya. Sehebat apapun perusahaan itu jika pendapatannya kurang dari pengeluaran pada akhirnya akan bangkrut, tidak relevan dan tak perlu ditangisi jika hilang.

note : sumber gambar – GODSTATS.ID