Pada 7 Mei 2022, Deddy Corbuzier mengunggah video berjudul ‘Toturial Jadi G4y di Indo!! Pindah ke Jerman Ragil dan Fred”.
Podcat yang mengundang pasangan sesama jenis yakni Ragil Mahardika dan Frederick Vollert tak lama setelah tayang kemudian memancing ketidaksenangan dari warga internet.
Ketidaksenangan itu diwujudkan lewat tagar #UnsubscribedYouTubeDeddyCorbuzier. Tagar itu kemudian mendominasi percakapan di sosial media yang berlambang burung emprit biru.
Setelah kurang lebih ditonton oleh 5,4 juta pemirsa, video itu dihapus dari podcast Close The Door.
Saya bukan penonton setia Close The Door, tapi saya tak memungkiri punya kekaguman pada sepakterjang Deddy Corbuzier. Dia tipikal manusia multitalent yang berhasil mengeluti berbagai profesi.
Khusus pada aktivitasnya sebagai kreator di You Tube, dua jempol tangan dan dua jempol kaki patut saya acungkan. Deddy hebat, hebat sekali.
Close The Door bukan hanya channel tapi telah jadi perusahaan media. Deddy berhasil mengembangkannya menjadi Multi Channel Network . Model pengembangan yang berbeda dibanding dengan kreator lain yang membuat channelnya menjadi layaknya televisi. Satu channel isinya macam-macam.
Tapi Deddy tidak, di channelnya hanya ada dua jenis program yakni podcast {close the door} dan stand up comedy {somasi}. Namun logo Close The Door ada di banyak channel lain, seperti channel Detecitive Aldo, Ferry Irwandi, Rheinald Kasali, Indrawan Nugroho, Bang Mpin, Adella Wulandari dan lain-lain.
Deddy berhasil mengembangkan Close The Door menjadi Multi Channel Network, masing-masing channel mempunyai kekhasan sendiri. Sebagai perusahaan Close The Door berafiliasi dengan sejumlah channel untuk melakukan serangkaian program pengembangan penonton, pemograman konten, kolaborasi kreator, monetisasi, penjualan dan lain-lain.
Dari sebagian channel yang powered by close the door kita bisa mendapat konten yang isinya daging semua, esay yang bernas, informatif dan menambah pengetahuan layaknya sekolah atau kuliah.
Tapi jika kembali ke channel Deddy Corbuzier sendiri rumus kecerdikannya sebenarnya sangat biasa, Deddy gemar memainkan permainan ‘Tepi Jurang’ mengangkat isu yang punya potensi menjadi kontroversi di warga internet.
Rumus sederhana viralitas media sosial adalah kontroversi yang memprovokasi, lakukan klarifikasi dan minta maaf kalau argumen tidak kuat. Dengan rumus ini konten akan mendulang reaksi artinya kalau video yang nonton akan banyak. Viewers melimpah sama artinya dengan monetisasi yang kencang, duit dari adsense mengalir deras.
Jika kontroversinya panjang videonya tetap akan ditonton banyak orang, hitungan viewers terus bertambah. Tapi jika suhu panasnya tak terkendali, apa boleh buat ya di take down saja.
BACA JUGA : Berkendara Dengan Bahan Bakar Air
Mengunggah sebuah video dengan judul ‘Tutorial Jadi Gay Di Indo’ jelas membuat banyak orang yang menjadi judulnya saja padahal belum menonton dengan tuntas sudah meradang.
Gay atau biasa dikenal sebagai homo adalah orientasi seksual yang sampai dengan hari ini sebagian besar orang di Indonesia ingin menghapuskan atau mengenyahkan dari Bumi Nusantara.
Orientasi seksual penyuka sesama jenis ini dalam persepsi, sistem nilai dan moralitas masyarakat umum di Indonesia bukan hanya dianggap kriminal, melainkan juga aib besar bahkan penyakit yang mengancam masa depan bangsa dan negara.
Maka judul yang dilabeli tutorial tentu saja segera akan memancing anggapan Deddy tengah mempromosikan gay dan LGBT pada umumnya. Padahal kalau ditonton dengan seksama, sama sekali tidak ada bau-bau promosi atau dukungan dari Deddy Corbuzier pada orientasi seksual tersebut.
Oh, iya istilah LGBT sebenarnya bukan hanya mengandung soal orientasi seksual melainkan juga identitas seksual. Lesbi, Gay dan Biseksual adalah kluster tersendiri yang berbeda dengan Transeksual.
Secara ekplisit Deddy mengakui modus bermain di tepi jurang pada acara Somasi. Para komika yang tampil biasanya membawakan materi-materi yang nyerempet-nyerempet syaraf isu sensitif di publik.
Dan biasanya mereka yang tampil dan mampu membawa beat-beat yang menggigit kemudian akan ditampilkan kembali sebagai bintang tamu dalam podcast Close The Door.
Di close the door, Deddy Corbuzier tidak secara ekplisit mengakui permainan tepi jurang, padahal sama saja karena kebanyakan yang dihadirkan memang punya kontroversi. Sehingga kerap kali ada celetuk dari narasumber yang mengatakan “Saya tak punya masalah kenapa diajak kesini?”.
Deddy Corbuzier tahu benar bahwa yang digemari {tapi juga beresiko jika kepleset} oleh warga internet Indonesia adalah tiga isu yakni Tuhan {agama}, Seks dan Uang.
Membincang tiga hal itu baik pada dirinya sendiri atau menghubungkan dengan isu ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya, pertahanan dan keamanan rakyat semesta dijamin akan mendulang pemirsa.
Apalagi jika isu itu dibahas dalam pola dikotomis, antara kutub A dan B. Dan kita semua tahu pola di media sosial memang dikotomis bukan spektrum. Di media sosial kelompok yang berada dalam spektrum akan dianggap plin plan, dia akan dimusuhi oleh A dan B maka tak banyak kreator yang memilih berada dalam ruang itu.
Apakah Deddy Corbuzier men-take down video tentang LGBT itu karena takut dipolisikan?. Pastinya tidak karena tidak ada yang perlu disoal dari video itu, sebab didalamnya sama sekali tidak ada ‘endorsement’ agar laki-laki menjadi penyuka laki-laki.
Lalu kalau bukan karena itu apakah Deddy takut kehilangan subscriber?. Rasanya juga tidak, bukan rahasia lagi kalau para pengelola tagar cancel culture sebagian besar diantaranya juga bukan subscriber atau penonton aktif Deddy Corbuzier.
Men-take down video yang telah meraup jutaan penonton justru merupakan permainan manis dan cerdik dari Deddy Corbuzier, dengan minta maaf, menunjukkan kerendahan hati dan legowo membuang video yang meraup jutaan penonton, kemungkinan besar akan menimbulkan simpati publik, warga internet. Dan simpati adalah pintu masuk untuk membawa orang menjadi subscriber baru.
Empat bulan lalu subscriber Deddy Corbuzier sekitar 16,7 juta, hari ini subscibernya tercatat sebanyak 18,6 juta. Setiap bulan channel Deddy Corbuzier mampu meraup subscriber baru sebanyak 500 ribu.
Selama 4 bulan terakhir video yang mampu meraup jumlah pemirsa diatas 5 juta antara lain berjudul : Guncang Youtube Habib Kribo Marah Besar, Bahaya Beda Agama Di Somasi, Gazali Every Day NFT Kaya Mendadak, Mantan Suami Mantan Istriku, Sok Kaya Tapi Nipu, Ericko Mokondo {Modal Kontol Doang}, Manusia Sampah Ya Kayak Gini {Sultan Sultan Tholol}, Ustadz Yahya Waloni Masih Benci Kafier, Pemerasan dan Rekening 800 Milyard, Aku Bugil Bebas di Onlyfans, Simpanan Mobil, Cewek dan Pulau itu ada, Kaya Loe Palsu, Chuax, Konten Doang, Ya Tuhan Kuyangnya Dimakan Pakai Rendang, Mendebat Si Pawang Hujan, dan Reza Arap Memang Anjeng Si DS.
Silahkan cermati judulnya dan saksikan videonya, isinya sebenarnya dangkal-dangkal saja dan tak dikupasa tuntas, mirip dengan judul dan isi dari koran yang dulu disebut koran kuning yang menjamur di tahun 80-an. Atau program televisi yang dilabeli infotainment, yang meski dengan hastag dikupas tuntas setajam silet tetap saja isinya tak jauh dari duga-duga, ghibah atau fitnah yang dikemas cantik.
BACA JUGA : Akankah Tommy Suharto Berguru Pada Bongbong Marcos?
Sewaktu membincang tentang video yang di-take down oleh Deddy Corbuzier, teman saya sempat bertanya apa pandangan saya terhadap LGBT?.
Saya menjawabnya secara langsung sebab tak ingin terlibat dalam perdebatan yang tidak perlu atau malah bisa bikin hubungan pertemanan jadi renggang.
Jadi saya mulai menerangkan bahwa jenis kelamin, identitas seksual dan orientasi seksual meski semua berurusan dengan seks masing-masing beroperasi dalam wilayahnya sendiri.
Karenanya seks dan seksualitas manusia menjadi lebih rumit daripada binatang pada umumnya serta sejatinya memang sudah melampaui ‘fitrah’ alamiahnya.
Buat saya benar bahwa secara alamiah seks bertujuan untuk meneruskan keturunan agar sebuah spesies tidak punah. Dan mahkluk yang berada dalam kingdom of animalia umumnya bereproduksi melalui hubungan seksual sehingga tercipta mahkluk jantan dan betina, laki-laki dan perempuan.
Tapi itu tidak mutlak karena ada hewan yang bisa bereproduksi sendiri tanpa pejantan, seperti Lebah Madu Cape, Kadal New Mexico Whitptail, Komodo dan Phyton.
Kemampuan hewan betina bereproduksi sendiri ini disebut dengan Phartenogenesis.
Pada sejenis hewan tertentu yang kebanyakan bersel tunggal, mereka juga mampu bereproduksi dengan cara membelah diri. Seperti Amoeba dan Cilata, Flagelatta Caudatum.
Kebanyakan binatang perilaku seksualnya masih untuk kepentingan reproduksi murni, mereka hanya berhubungan seks di saat pejantan ada dalam masa birahi dan perempuannya ada dalam masa subur.
Jika tidak sedang dalam masa birahi, pejantannya akan tenang-tenang saja meski disekitarnya banyak betina yang mestinya menarik hati. Pun demikian dengan yang betina, jika tidak sedang dalam masa subur tak akan sudi berhubungan seksual meski dirayu dengan modus apapun. Namun pada binatang tertentu sang jantan tidak mempunyai siklus birahi sehingga bisa berhubungan sewaktu-waktu dengan sang betina yang sedang birahi.
Sang betina yang birahi akan mengeluarkan hormon dan feronom yang akan menarik pejatan untuk membuahi, betinanya juga akan kelakuan atau tindakan tertentu untuk mengirim sinyal itu.
Masalahnya kemudian menjadi lain ketika menyangkut manusia dan beberapa hewan lainnya yang berkesadaran diri. Manusia berhubungan seks tidak semata untuk kepentingan reproduksi. Dalam kenyataannya hubungan seks yang dikehendaki untuk menghasilkan keturunan tidak menjadi mayoritas lagi. Manusia lebih sering melakukan hubungan seks untuk rekreasi.
Namun sistem nilai, moral, religiusitas dan kebanyakan hukum masih menempatkan seks dalam kerangka prokreasi atau meneruskan keturunan. Maka dalam konteks ini hubungan seks yang tidak dalam kerangka itu selalu menjadi masalah. Bukan hanya masalah personal melainkan juga masalah publik.
Dalam konteks prokreasi, yang disebut normal adalah yang tertarik dengan lawan jenis, laki-laki tertarik pada perempuan dan perempuan tertarik pada laki-laki, karena hanya itulah yang memungkin untuk melahirkan keturunan. Di luar itu akan disebut tidak normal.
Namun sekali lagi karena seks dan seksualitas manusia sudah melampaui urusan meneruskan keturunan maka muncul banyak orientasi seksual lainnya.
Orientasi yang dianggap normal dan seharusnya adalah heteroseksual. Namun dalam orientasi monoseksual ini didalamnya ada gay dan lesbian.
Kemudian ada orientasi poliseksual, yang termasuk didalamnya adalah biseksual, panseksual dan queer.
Lalu ada orientasi aseksual, yang meski bisa merasakan perasaan romantik pada orang lain namun tak punya keinginan untuk berpasangan secara seksual. Kaum selibater dalam Gereja Katolik tidak bisa dimasukkan dalam kategori ini karena pilihan selibat adalah disengaja demi tujuan tertentu.
Dan masih ada yang lainnya seperti Aromantik, Androseksual, Gineseksual dan Demiseksual.
Bagaimanapun juga orientasi seksual adalah sesuatu yang fluid, bergerak ke kanan dan ke kiri serta tak ada yang benar-benar ‘konsekwen’ hanya tertarik pada jenis kelamin tertentu.
Menjadi soal pada umumnya semua ajaran, sistem nilai atau pengetahuan di luar biologi hanya mengakui kelamin adalah laki-laki dan perempuan. Yang lain dianggap penyimpangan dan perlu dikembalikan entah ke laki-laki atau perempuan.
Padahal kelamin ternyata juga bervariasi dan variasinya banyak namun kemudian sering disederhanakan dengan istilah ‘kelamin ketiga’ atau ‘interseks’.
Beberapa negara dan kebudayaan mengakui keberadaan interseks ini secara ekplisit, namun pada umumnya mereka yang dalam kartu identitasnya akan kesulitan ketika berurusan dengan administrasi dan hukum pada sebagian besar negara di dunia, bahkan bisa dianggap kriminal.
Di luar urusan orientasi seksual dan jenis kelamin masih ada yang disebut identitas seksual. Seseorang dengan tubuh yang sangat laki-laki, ternyata merasa dirinya bukan laki-laki. Atau seorang dengan tubuh laki-laki tapi kelakuannya sangat perempuan namun tidak ingin dianggap sebagai perempuan dan seterusnya.
Jika masih ingin lebih rumit lagi maka ada juga yang disebut perilaku seksual. Aksi atau kegiatan seksual yang bahkan tak perlu melibatkan secara seksual orang atau jenis kelamin lainnya secara langsung. Seperti mastubarsi atau onani, ngintip, nonton film porno, phone seks, video call seks, membaca cerita porno dan lain-lain. Dan orang bisa puas.
Jadi kenikmatan atau ketertarikan seks manusia bukan hanya pada manusia lainnya melainkan juga pada benda dan mahkluk lain. Ada lho orang yang jatuh cinta pada mobil, motor, pohon, sapi dan jembatan.
Teman saya mulai garuk-garuk kepala dan mual mendengar apa yang saya katakan. Dan dia kemudian mengatakan “Kita bicara yang lain saja,”.
Sayapun mengiyakan karena membicarakan seks dan seksualitas manusia dengan basis ‘baik dan buruk’ sering kali memang hanya akan menghasilkan pertentangan.
Setelah meneguk sisa kopi terakhir di gelasnya, teman saya berbisik “Nanti kita bicara lagi setelah saya baca buku biologi dan neurosains,”








