Jalanan kerap bikin jengkel, selain banyak lubang dan patahan antara sambungan semen yang bisa membuat pengendara terantuk serte terjerembab, perilaku pengendara lainnya tak kurang sering bikin sengsara.

Syukurlah di sela-sela itu terkadang muncul hiburan kalau mata terantuk pada bokong truk yang berjalan pelan di depan. Kendaraan angkutan itu terkenal karena di bagian belakangnya sering ada lukisan dan tulisan yang nyeleneh, unik dan lucu.

Yang dilukis umumnya wajah-wajah perempuan cantik, beberapa dalam pose nan sexy. Gambarnya mungkin biasa saja namun yang bikin tersenyum adalah kata-kata yang menyertainya. Seperti ‘Lek Seneng Podo Lali, Lek Susah Podo Takon – Posisi’, ‘Pingin Nyanding, Nanging Koe – Not Responding’, ‘Putus Cinta Soal Biasa, Putus Rem Mati Kita’, ‘Pulang Malu, Nggak Pulang Rindu’ dan lain-lain.

Namun sekitar tahun 2013 lalu di bokong belakang truk muncul poster dan slogan wajah Suharto yang tengah mengatakan “Piye Kabare, Isih Penak Jaman Ku To”.

Bukan hanya di truk atau mobil angkutan lainnya tapi juga muncul dalam bentuk stiker, kaos, flyer di internet bahkan juga di baliho-baliho.

Nampaknya muncul kerinduan pada sosok Suharto yang jatuh karena reformasi setelah berkuasa lebih dari 30 tahun.

Tidak bisa dipungkiri bahwa masih ada kelompok pecinta Suharto, orang-orang yang rindu dengan pemimpin seperti dirinya. Museum Suharto di Yogyakarta dan makamnya di Astana Giri Bangun terus dikunjungi oleh orang-orang yang rindu padanya.

Paska reformasi, demokrasi prosedural memang masih menghasilkan bolong disana-sini. Praktek-praktek busuk dan buruk dalam politik serta pemerintahan tak serta merta bisa segera dihapuskan. Kolusi, korupsi dan nepotisme dalam bentuk-bentuk yang berbeda dengan masa pemerintahan orde baru juga marak disana-sini.

Maka wajar jika ada sebagian masyarakat terutama masyarakat kecil, masyarakat yang tidak berpenghasilan tetap kemudian membandingkan dengan masa ketika Suharto memerintah. Mereka merasa jaman Suharto lebih enak karena kebutuhan pokok relatif lebih mudah diperoleh dengan harga yang lebih murah.

Yang penting memang perut duluan, soal layanan administrasi publik yang lebih canggih, transparan dan cepat memang menyenangkan tapi kalau perut lapar dan harga-harga bikin kantong menjerit semua pencapaian atau perbaikan serta kemajuan itu hampir tak ada artinya.

Ekonomi pasca reformasi memang diserahkan pada mekanisme pasar, apa yang dulu diatur atau diintervensi oleh negara kemudian dilepaskan. Mekanisme pasar ini pada satu sisi memang menguntungkan, namun ada kalanya menyusahkan. Gejolak harga sering terjadi dan yang paling menderita adalah mereka yang paling lemah pengaruh dan ekonominya.

Pemerintah memang masih bisa meregulasi namun belum tentu efektif, seperti yang terjadi pada minyak goreng. Rangkaian regulasi yang digulirkan oleh pemerintah tidak efektif untuk menekan kenaikan harga. Kebijakan pemerintah bahkan memakan korban, lagi-lagi yang terlemah yakni petani sawit. Kini mereka menjerit karena susah menjual biji sawit dan harga minyak goreng sawit juga masih tetap tinggi.

Bagi keluarga Cendana, sinyalmen kerinduan pada Suharto menjadi peluang untuk kembali memasuki dunia politik. Andai saja salah satu dari putra-putri Suharto berhasil kembali memimpin negeri maka itu akan menjadi kesempatan bagi mereka untuk membersihkan nama Suharto dari segala atribut busuk yang membuatnya jatuh dari kekuasaan.

Mbak Tutut, Mbak Titiek dan Tommy Suharto telah mencoba namun hingga hari ini belum berhasil. Mbak Tutut lewat Partai Karya Peduli Bangsa dan Tommy Suharto lewat Partai Berkarya, namun kedua partai yang didirikan putra-putri Suharto itu tak berhasil menjadi partai besar, bahkan menengahpun juga tidak.

Mbak Titiek sempat berhasil menjadi angora DPR RI, juga wakil Ketua MPR lewat Partai Golkar dari Dapil Yogyakarta. Tapi setelah itu surut.

Pulang balik keluarga Sukarno jauh lebih berhasil dari keluarga Suharto. Putri Sukarno, Megawati Sukarno Putri berhasil membangun partai besar, berhasil menjadi Presiden RI. Kini mereka bahkan sudah menyiapkan generasi ketika untuk kembali berkuasa.

Masih ada keluarga lain yang ingin meneruskan tradisi berkuasa sebagai pemimpin negeri, yakni Keluarga Susilo Bambang Yudhoyono. Roadmap-nya lebih jelas namun posisinya masih terus di level medioker.

BACA JUGA : Deddy Corbuzier Take Down Video Tutorial Jadi Gay Di Indonesia

Di Philipina nama Ferdinand Marcos tidak bisa dipisahkan dari regim pemerintahan yang brutal dan represif terhadap lawan politik, mirip dengan Suharto. Ferdinand Marcos berkuasa di era darurat militer dan sesudahnya, dari tahun 1965 hingga 1986.

Bukan hanya Marcos sang presiden yang terkenal, melainkan juga istrinya karena kegemarannya mengkoleksi barang-barang mewah. Hasrat konsumtif Imelda pada waktu itu sungguh diluar nalar, dia membeli parfum kesukaannya bukan botolan melainkan galonan. Koleksi sepatunya kurang lebih 3000 pasang.

Konon gaji Marcos sebagai Presiden hanya 13.500 USD per tahun tapi hidup dipenuhi dengan gelimangan kemewahan. Mobil mewah, jet pribadi, kapal pesiar dan koleksi lukisan yang langka karya Monet, Picasso dan Van Gogh.

Di masa pemerintahannya Marcos membangun industri-industri besar yang dimonopoli oleh kroninya. Industri yang kemudian stagnan atau bahkan bangkrut karena tidak efisien. Habibie termasuk salah satu orang yang dibujuk Marcos untuk membangun industri dirgantara di Philipina sebelum dipanggil pulang oleh Suharto.

Kegagalan membangun ekonomi membuat Philipina banyak berhutang sehingga menimbulkan krisis di tahun 1983. Krisis yang beberapa tahun kemudian membuat Marcos dan keluarganya terusir dari Philipina.

Namun hanya lima tahun dalam pengasingan, Imelda Marcos dan Bong Bong Marcos anaknya bisa kembali ke Philipina. Imelda divonis bersalah namun pada saat yang sama bisa menduduki kursi DPR sehingga jeruji besi tidak urung dinikmati. Imelda menjadi anggota DPR hingga umurnya menjelang 90 tahun.

Bong Bong Marcos juga berhasil menjadi anggota DPR, dia juga divonis bersalah atas kasus pengelapan pajak, tapi tuntutan hukumnya kemudian diringankan. Karir politiknya terus berkembang hingga kemudian menjadi Senator. Bong-bong pada pemilu 2016 mencalonkan diri sebagai wakil presiden namun kalah.

Dan pada pemilu 2022 ini, Bong Bong Marcos kembali mencalonkan diri dan menang. Jika dilantik dia akan didampingi oleh Sara Duterte sebagai wakil presiden. Sara adalah anak dari Rodrigo Duterte, presiden Philipina yang habis masa jabatannya tahun 2022 ini. Rodrigo dikenal sebagai salah satu pendukung Ferdinand Marcos dulu.

Ironisnya Bong Bong Marcos bukanlah calon presiden yang paling mumpuni, dia dikenal menghindari acara debat. Selain itu dia juga tak suka diwawancarai secara mendadak atau spontan karena media dianggap sering memojokkan dirinya.

Tapi Bong Bong menang, unggul dengan angka yang cukup telak jauh mengungguli calon-calon lainnya.

BACA JUGA : Berkendara Dengan Bahan Bakar Air 

Bagaimana mungkin seorang politisi medioker dan berlatar belakang keluarga yang korup, dijatuhkan oleh kekuatan sipil dan kemudian terusir dari negerinya bisa kembali berkuasa?.

Paska jatuhnya Ferdinand Marcos, perjalanan demokratisasi Philipina memang penuh liku, ada banyak drama yang tidak menjauhkan Plilipina dari percobaan kudeta, korupsi dan lain sebagainya.

Kekuatan masyarakat paska gerakan people power juga makin tumpul, parlemen jalanan atau aksi-aksi massa tidak cukup kuat untuk menyuarakan perubahan. Demokrasi mengalama disfungsi.

Nampaknya rakyat kebanyak mulai lelah dengan kondisi demokrasi yang penuh drama ini. Dalam kondisi ini rakyat umumnya akan memilih pemimpin yang cenderung ‘keras’ dan tidak liberal. Pemimpin yang akan menggunakan kekuatannya untuk menstabilkan segala sesuatu yang tidak stabil.

Pemimpin yang tidak liberal ini umumnya juga disukai oleh kaum oligark dan Philipina adalah kantong para oligark yakni elit-elit ekonomi dan politik yang berlatar tuan tanah. Siapapun yang didukung oleh mereka dan mampu menjamin kemapanan mereka akan menang.

Bong Bong Marcos juga berhasil memanfaatkan sosial media untuk membangun citranya sebagai politisi bersih dan humanis. Facebooknya mempunyai 6 jutaan pengikut, channel Youtubenya disubscribe oleh 2 jutaan orang demikian juga dengan akun TikTok nya.

Disinformasi dan hoaks juga disebarkan lewat internet, termasuk salah satunya adalah informasi tentang kekayaan orang tuanya. Sebagian besar informasi menyebutkan bahwa kekayaan itu berasal dari honor Ferdinan Marcos sebagai pengacara, pemberian dari klien sebelum Ferdinand Marcos jadi presiden, dengan demikian kekayaan itu sah, bukan kekayaan haram.

Berbagai laporan tentang pelanggaran HAM pada masa Ferdinand Marcos juga dituduh sebagai laporan yang bersumber dari desas-desus. Philipina di masa pemerintahan Ferdinand Marcos bahkan diklaim sebagai negara terkaya kedua setelah Jepang.

Era kepemimpinan Ferdinand Marcos digambarkan sebagai era keemasan Philipina di masa lalu.

Pemilih tua yang umumnya tak peduli pada HAM, kekebebasan berpendapat dan lain-lain dengan mudah akan memberikan dukungan, untuk mereka yang penting negara aman dan harga-harga terkendali. Sedangkan para pemilih muda juga akan memberi dukungan karena kemudian percaya bahwa Ferdinand Marcos tidaklah korup, sedangkan soal kebrutalannya mereka tidak kenal karena belum lahir.

Kejadian yang hampir sama terjadi juga di Indonesia. Rakyat nampaknya telah lelah dengan proses demokrasi yang ujungnya justru membuat harga-harga kebutuhan pokok naik, tidak stabil dan pemerintah tak secara efektif bisa mengatasinya.

Meme bergambar Suharto dengan tulisan “Piye kabare, isih penak jamanku tho?” menunjukkan adanya kerinduan kepada masa kepemimpinan Suharto atau jenis pemimpin sepertinya.

Pemilih di Indonesia kini sebagian besar juga anak-anak yang tak punya pengalaman, kenangan dan pengetahuan tentang regim orde baru sehingga mudah menelan informasi yang tak benar atau hoaks .

Usaha keluarga Suharto untuk kembali kepada kekuasaan juga sudah dilakukan meski belum berhasil. Namun jalan itu masih terus terbuka dan kalau bukan anak Suharto mungkin kelak yang akan menjadi pemimpin adalah cucu atau cicitnya.

Dan jika mereka berhasil memimpin maka yang pertama akan dilakukan adalah menghapus jejak buruk Suharto dari catatan sejarah bangsa dan negara Indonesia.