Saat membuka Indonesia International Motor Show {IIMS} 2007 di Jakarta Convention Centre, Kamis 19 Juli 2007 Presiden Susilo Bambang Yudhoyono waktu itu berharap ada putra bangsa yang dapat mengembangkan mobil berbahan bakar air.
Harapan itu mungkin saja tak lepas dari informasi yang diperoleh oleh Presiden SBY perihal seseorang yang tengah mengadakan penelitian tentang blue energy itu. Presiden SBY sempat berujar “Sekarang ada penelitian putra bangsa yang jika berhasil kontribusinya besar karena yang diteliti adalah bahan bakar berbasis air,”
Putra bangsa itu kemungkinan bernama Joko Suprapto, warga desa Ngadiboyo, kecamatan Reso, Kabupaten Nganjuk.
Bahan bakar temuan Joko ini pernah diuji coba dan dikampanyekan oleh Presiden SBY serta rencananya akan dipamerkan dalam konperensi PBB di Bali. Pada tahun 2007 di Bali memang digelar Konperensi Kerangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim.
Ketika menjelaskan hasil temuannya, Joko Suprapto yang mengaku meneliti sejak tahun 2001 pada intinya blue energy dihasilkan dengan cara memecah molekul air menjadi H plus dan 02 min. lalu dilanjutkan dengan katalisasi tertentu, rangkaian karbon tertentu sampai menjadi bahan bakar.
Entah bagaimana nasib blue energy ciptaan Joko Suprapto yang dielu-elukan di masa pemerintahan Presiden SBY itu. Sudah dua periode Presiden Joko Widodo menjabat mengantikan Presiden SBY, BBM yang masih dipakai dan dijual di SPBU adalah solar, pertalite, pertamax, biosolar dan taka da blue energy.
Yang jelas Joko Suprapto kemudian ditahan karena membuat Universitas Muhammadiyah Yogyakarta menderita kerugian sekitar Rp. 1,345 milyar. Kepada Rektor UMY, Khoirudin Bashori waktu itu dijanjikan oleh Joko Suprapto mesin pembangkit listrik sendiri bernama Jodhipati yang akan menghasilkan listrik lebih murah dari PLN dan alat refinery untuk mengubah air menjadi bensin. Alat yang dijanjikan tak pernah terwujud.
Joko sudah dibebaskan tahun 2010 lalu dan konon tetap melakukan penelitian untuk menghasilkan energi bersih dan kendaraan yang digerakkan oleh energi alternatif.
Dalam KTT G20 yang juga akan diselenggarakan di Bali pada November 2022 nanti juga akan dipamerkan karya yang hampir serupa dengan blue energy Joko Suprapto. Temuan air menjadi bensin ini dihasilkan melalui sebuah alat yang dinamakan Nikuba singkatan dari Niku Banyu.
Penemunya adalah Aryanto Misel, warga Lemahabang Wetan, Cirebon. Aryanto menerangkan cara kerja Nikuba adalah memisahkan antara hydrogen dan oksigen yang terkandung dalam air lewat proses elektrolisis.
Hidrogen yang dihasilkan kemudian dialirkan ke ruang pembakaran kendaraan bemotor sebagai bahan bakar. Oksigennya kemudian dielektolisis kembali menjadi hydrogen dan dialirkan lagi ke ruang pembakaran.
Namun air yang dipakai dalam Nikuba adalah air yang sudah bebas dari logam berat. Nikuba sendiri merupakan hasil penelitian mandiri oleh Aryanto Misel selama 5 tahun. Dan rencananya alat itu akan dijual seharga Rp. 4,5 juta per unit.
Alat temuan dari Aryanto Misel ini telah dipasang dan diujicoba pada 30 unit kendaraan dinas TNI dari Kodam III Siliwangi. Anggota Koramil Lemahabang yang juga memakai Nikuba mengaku kendaraan yang dipakai olehnya selama 4 hari hanya butuh setengah liter air.
Aryanto sendiri mengklaim kendaraan yang dipasangi Nikuba hanya butuh satu liter air untuk menempuh perjalanan Cirebon ke Semarang pulang pergi.
Dia juga mengatakan bahwa alat buatannya telah dipesan sebanyak 10 ribu unit oleh Kodam III Siliwangi.
BACA JUGA : Akankah Tommy Berguru Pada Bongbong Marcos?
Hidrogen memang dianggap sebagai bahan bakar masa depan karena ramah lingkungan. Emisi yang dihasilkan hanya berupa uap air.
Sebagai bahan bakar sebenarnya hidrogen sudah dipakai oleh misi penerbangan luar angkasa.
Penerapan pemakaian hidrogen untuk kendaraan bermotor dianggap lebih efisien ketimbang memakai baterei atau mobil listrik. Mengisi hidrogen akan lebih cepat daripada mengisi baterei, selain itu bobot hidrogen juga lebih ringan dari baterei.
Persoalan sekarang adalah proses untuk menghasilkan hidrogen masih kompleks sehingga membutuhkan biaya yang mahal. Tantangan lainnya adalah pada penyimpanannya karena hidrogen rawan meledak.
Hidrogen tidak tahan panas, padahal mesin kendaraan akan menghasilkan panas. Jika insulasinya kurang baik maka kendaraan akan beresiko meledak. Hidrogen juga akan segera meledak jika kena percikan api.
Tapi ini hanya soal waktu saja, begitu juga dengan biaya. Kelak jika semakin banyak yang memakai maka harganya juga akan semakin ekonomis. Apalagi jika kemudian bisa ditemukan alat yang secara mudah dan cepat merubah air menjadi hidrogen. Bukan tidak mungkin suatu saat harga hidrogen bisa saja ‘gratis’ atau murah sekali.
Dan yang disebut sebagai mesin berbahan bakar air atau disebut sebagai fuel cell secara prinsip memang sudah diterapkan oleh berbagai produsen mobil. Misalnya Toyota lewat Toyota Mirai, Honda lewat Honda Clarity dan Hyundai lewat Hyundai Nexo.
Produsen mobil Eropa juga tak ketinggalan, Mercedes meluncurkan model GLC F-Cell SUV dan BMW meluncurkan BMW X5, keduanya berbahan bakar hidrogen.
Sejarah kendaraan berbahan bakar air sebenarnya memang sudah lama sejak tahun 1975 dipelopori oleh Stanley Meyer di Amerika Serikat.
Amerika Serika waktu itu diembargo minyak oleh Arab Saudi, sehingga harga minyak melambung dan ekonomi, kacau. Saat itu Meyer kemudian menciptakan kendaraan berbahan bakar air untuk merevolusi industri otomotif yang rakus minyak.
Sayang hasil pengembangannya tidak diapresiasi, Meyer diintervensi bahkan dituduh curang dan tidak sah. Karyanya dianggap sebagai eloktrolisis biasa dan tidak revolusioner sama sekali. Penelitiannya juga dianggap sebagai usaha untuk mencuci uang.
Meyer kemudian ditemukan meninggal secara misterius. Sempat ada dugaan Meyer diracun namun penyelidikan polisi mengatakan bahwa Stanley Meyer meninggal karena aneurisma otak atau pengelembungan pembuluh darah di otak.
Terkait dengan penemuannya yakni mobil dengan mesin berbahan bakar air di Amerika Serikat sana juga jadi pro dan kontra. Meyer menyebutkan bahwa temuannya adalah sel bahan bakar yang bekerja memecah atom air menjadi bentuk paling dasar yakni dua atom hidrogen dan satu atom oksigen.
Hidrogen kemudian dibakar untuk menghasilkan energi yang akan dikirim ke roda mobil. Oksigen bersama sisa air akan dibuang melalui knalpot sehingga tidak mengeluarkan emisi berbahaya bagi kesehatan dan lingkungan.
Temuan Stanley Meyer ini telah dipatenkan tapi pada tahun 1996 pengadilan menetapkan sebagai penipuan karena mobil yang diklaim hanya menghabiskan 83 liter air untuk perjalanan dari Los Angeles ke New York ketika hendak diuji oleh saksi ahli, Meyer menghindar dengan alasan yang dibuat-buat.
BACA JUGA : Nikola Tesla Ironi Seorang Penemu
Rheinald Kasali, guru besar Ilmu Manajemen dan praktisi bisnis mengatakan “Celakalah kita yang masih berpikir baru menjadi manusia berilmu kalau sudah pergi ke pendidikan tinggi dan memperoleh gelar,”
Dia mengatakan hal itu dalam kaitan dengan realitas yang disebut sebagai ledakan non degree. Faktanya sekarang ini banyak temuan atau produk inovasi tidak lahir dari laboratorium, ruang riset dan development perusahaan besar atau badan-badan riset lainnya yang berisi kaum cerdik pandai, melainkan dari orang-orang biasa.
Ada banyak orang hebat yang mendapatkan ilmu tanpa gelar, memperoleh bukan dari pendidikan melainkan dari sumber-sumber lain dan bisa mempraktekkan lebih hebat dari mereka yang mempelajari secara khusus sebagai bidang studi utamanya.
Lalu lintas penelusuran pencarian di mesin pencari google menunjukkan bahwa kata kunci : cara membuat aplikasi, online course, data sains, video pengetahuan dan digital marketing naik tinggi selama masa pandemi.
Ini membuktikan bahwa banyak orang memakai internet untuk belajar secara mandiri. Data lain menunjukkan pengguna e-learning mengalami peningkatan.
Meski tidak terpuji ada banyak orang belajar coding sendiri dan berhasil meretas situs, sebagian kemudian berkembang menjadi ahli dan konsultan cyber security. Tak sedikit pula yang berhasil menjadi pengembang game dan aplikasi.
Konon sepertiga dari mereka yang berpraktek sebagai cyber security tidak bergelar sarjana IT.
Dalam dunia musik, seorang operator forklift ternyata berhasil memukau musisi-musisi dunia saat memperagakan kemampuan memainkan melodi dengan caranya sendiri. Kita mengenalnya dengan nama Alif Ba Ta.
Mungkin Alif Ba Ta mempunyai bakat besar dalam seni, namun bagaimana dengan orang-orang biasa yang kemudian bisa membuat helikopter dan pesawat terbang. Mereka yang sama sekali tidak mempelajari ilmu aeronautika yang sangat rumit itu?.
Begitu juga mereka yang bisa membuat motor, mobil dan lain-lain termasuk bahan bakar dari plastik serta air.
Tentu saja mungkin dan memang terjadi.
Yang menjadi soal dari beberapa temuan yang dihasilkan oleh orang-orang biasa atau mereka yang belum dan tidak bergelar sebagian diantaranya masuk dalam kategori pseudoscience. Sesuatu yang nampaknya diterangkan dengan sangat ilmiah namun dalam beberapa aspek bertentangan atau tidak sesuai dengan metode ilmiah.
Bisa jadi secara teori masuk akal namun ketika diimplementasikan dalam peralatan atau teknologi menjadi sangat sederhana, berlawanan dengan teori-teori yang sudah teruji. Memisahkan hidrogen dengan peralatan yang langsung dipakai di dalam kendaraan sangatlah sulit untuk dilakukan, meski tidak mustahil.
Perusahaan otomotif terkemuka sekalipun belum berhasil menciptakan mesin mobil atau kendaraan yang langsung diisi air. Mesin yang berhasil diciptakan adalah yang berbahan bakar hidrogen, jadi hidrogen dihasilkan lebih dahulu lewat proses lain baru diisikan dalam tangki kendaraan.
Tapi andai temuan Meyer, Joko dan Aryanto benar maka itu sungguh-sungguh merupakan revolusi yang bisa membuat dunia bergerak makin cepat tanpa harus menimbulkan laju kerusakan lingkungan yang ekstrim.
Sebagai temuan sains dan teknologi karya anak bangsa seperti Joko dan Aryanto yang mengklaim bisa mengerakkan mesin kendaraan dengan bahan bakar air secara langsung tentu perlu dibuktikan lewat serangkaian uji yang disupervisi berbagai ahli lainnya.
Promosi oleh orang ternama, presiden, jenderal, artis dan kesaksian dari pengguna hanyalah bunga-bunga serta penyemangat. Namun tetap bukan merupakan validasi.
Dipamerkan dalam ajang-ajang pertemuan dunia internasional juga bukan merupakan bukti yang validitasnya tinggi.
Kendaraan yang tangkinya diisi langsung dengan air dan kemudian bisa jalan terdengar masih to good to be true, meski kita semua berharap itu terjadi namun masih perlu dibuktikan lebih dalam dan lebih terang. Agar semua tak menjadi kontroversial, menimbulkan keriuhan disana-sini dan tak terbukti ‘merevolusi’ serta berakhir dengan senyap.








