Bendera putih dengan tanda silang merah dikibarkan di lap-lap akhir race moto 2 GP Mandalika. Jumlah lap yang dipangkas membuat pembalap tidak perlu melakukan flag to flag untuk mengganti motornya dari ban kering ke ban basah.
Pembalap Thailand Somkiat Chantra berhasil meraih gelar, menjadi pembalap moto 2 pertama yang menjadi juara di Pertamina Mandalika International Street Circuit.
Usai bendera finish moto 2 dikibarkan gerimis semakin deras, hujan disertai angin dan petir mengguyur lintasan hingga menimbulkan genangan pada sepanjang lintasan. Balapan kelas utama mogo gp kemudian ditunda sampai waktu yang belum ditentukan.
Para pembalap yang sudah bersiap di paddock sebagian melepas kembali baju balapnya, menganti dengan kaos. Sementara para mekanik segera menyiapkan motor untuk merubah setting dari balapan kering ke balapan basah.
Di tengah penantian menunggu hujan reda, para pembalap dan kru di paddock serta penonton di tribun dikejutkan dengan kemunculan sesosok wanita memakai helm proyek dengan tangan kiri membawa semacam mangkok, berjalan sambil mengibas-ngibaskan tangan kanan. Terlihat mulutnya terus mengucapkan sesuatu, ucapan dan gerakan seolah-oleh mengusir hujan.
Pemandangan unik dan mungkin baru pertama disaksikan oleh para pembalap serta kru menjadi hiburan tersendiri. Sebagian besar tersenyum, bahkan Fabio Quartararo mencoba mengikuti aksi yang dilakukan oleh Pawang Hujan itu.
Terus berjalan bahkan hingga ke lintasan balap, Pawang Hujan mengudar mantera dan doanya walau badannya kuyup diguyur hujan.
Konon Pawang Hujan itu bernama Raden Rara Isyati Wulandari. Dia beraksi secara resmi karena memang ‘dikontrak’ oleh Indonesian Tourism Development Coorporation {ITDC}, BUMN pemilik sirkuit internasional Mandalika.
Tarifnya tidak main-main, imbal jasa untuk mengutak-atik cuaca selama perhelatan moto gp Mandalika, kabarnya bisa untuk membeli 3 buah Yamaha NMax tanpa kredit.
Hujan reda setelah turun satu jam lebih. Usai penampilan marching band yang mengiringi nyanyian lagu Indonesia Raya di hadapan Presiden Jokowi dan CEO Dorna, Carmelo Ezpeleta, race director mengumumkan pit race akan dibuka pada pukul 16.00 WITA.
Kurang lebih pukul 16.15 balapan dimulai dengan setting ban lintasan basah hingga balapan berakhir. Miguel Olivera pembalap Red Bull KTM mencatatkan diri sebagai pembalap kelas utama moto gp yang menjadi juara dalam balapan di Mandalika. Disusul oleh Fabio Quartararo, pembalap Monster Yamaha sebagai juara 2 dan Johan Zarco, pembalap Pramac Ducati menjadi pemenang ketiga.
Diatas podium para pemenang tersenyum senang, namun Raden Rara Isyati Wulandari nampaknya lebih senang lagi, sebab selain dibayar, para penonton nampaknya menganggap hujan reda berkat jasanya.
Padahal Pawang Hujan tak pernah bertugas untuk mengusir hujan, yang umumnya dilakukan oleh Pawang adalah memindahkan hujan atau menahan hujan. Jadi sebenarnya hujan berhenti karena awan yang menghasilkan bulir hujan diatas sana sudah habis.
BACA JUGA : Sisi Gelap Fast Fashion Dalam Industri Busana Massal
Penyelenggara moto gp sadar betul musuh dari balapan adalah cuaca, bukan hanya hujan melainkan juga panas. Keduanya sama-sama tidak ideal untuk menyelenggarakan perlombaan. Oleh karenanya motor disiapkan untuk menghadapi kedua kondisi itu, pun demikian dengan para pembalapnya.
Pabrikan penyedia ban juga menyediakan dua jenis ban yang berbeda untuk dipakai dalam balapan, masing-masing jenis mempunyai tingkat kekerasan yang berbeda. Ada yang hard, medium dan soft, suhu permukaan lintasan yang dipakai untuk menentukan komposisi mana yang akan dipilih.
Ketika balapan dimulai dalam kondisi lintasan kering, di paddock juga sudah disiapkan motor dengan ban untuk lintasan basah. Sebab bisa saja hujan tiba-tiba turun dan pembalap mesti menganti motornya. Pergantian motor karena kondisi cuaca di lintasan disebut sebagai flag to flag.
Dengan demikian penyelenggara moto gp tidak menolak atau berusaha merekayasa cuaca, melainkan menerima keadaan cuaca apapun dan menyiapkan diri untuk menghadapi dengan ban serta settingan motor yang berbeda.
Namun jika cuaca tak memungkinkan, balapan biasanya ditunda dan jika kondisinya dinyatakan tidak untuk balapan, maka lomba bisa saja dibatalkan.
Balapan dimajukan atau diundur sudah biasa dalam penyelenggaraan moto gp. Di banyak negera cuaca memang kadang tak menentu, dari cerah tiba-tiba hujan dan sebaliknya. Tahun 2018 lalu di Inggris balapan bahkan dibatalkan. Seluruh race tidak bisa digelar, para pembalap pulang tanpa mendulang poin.
Di Mandalika, tahun 2021 lalu, balapan WSBK juga ditunda sehari karena hujan deras yang menimbulkan genangan di lintasan dan gangguan pada penglihatan para pembalap.
Selain memajukan atau memundurkan jam balapan, dalam kondisi cuaca yang terganggu biasanya jumlah putaran juga akan dikurangi sepertiganya untuk mengurangi resiko buruk bagi para pembalap.
Karena perubahan cuaca yang tiba-tiba sudah menjadi kesadaran penyelenggara, tim dan juga pembalap tak mengherankan jika kemudian ada beberapa pembalap yang dikenal sebagai master lintasan basah. Jack Miller dan Johan Zarco adalah salah satunya.
Sedangkan Marc Marquez dikenal sebagai jagoan dalam urusan flag to flag. Marquez berkali-kali membuktikan diri sebagai pembalap yang punya perhitungan baik sehingga dengan tepat menentukan kapan waktu terbaik untuk ganti motor saat lintasan diguyur hujan.
Maka merekayasa atau mengutak-utik cuaca hampir tak terdengar atau terlihat dalam penyelenggaraan balapan moto gp. Mungkin ada perhitungan-perhitungan tertentu berdasarkan proyeksi cuaca, namun yang pasti upaya mencegah atau mengusir hujan tidak pernah dilakukan apalagi dengan cara mistis dan gaib seperti yang ditunjukkan secara terbuka dalam penyelenggaraan moto gp di Mandalika.
BACA JUGA : Label Crazy Rich Validasi Atas Kepalsuan
Di masa lalu ketika fenomena alam belum bisa diterangkan dengan baik oleh ilmu pengetahuan, masyarakat mencari jawabannya dari ‘orang pintar’. Mereka yang disebut pintar adalah para tokoh atau pemimpin seperti pemimpin suku, pemimpin agama dan dukun atau paranormal.
Dukun misalnya dianggap bisa berkomunikasi dengan sesuatu yang tak kasat mata, kekuatan yang berdiri sendiri atau ada dalam sesuatu. Dengan kemampuan komunikasi itu dukun bisa meminta sebuah kekuatan yang berada atau merasuki sesuatu untuk pergi, menyingkir atau mengurungkan niat sehingga sebuah kejadian tertentu bisa dihindarkan.
Perdukunan adalah sebuah praktek yang lazim pada masyarakat yang mempunyai sistem kepercayaan animisme dan dinamisme.
Kemampuan dukun berbeda-beda, ada yang dianggap pintar menyembuhkan penyakit, pintar mengatasi kerasukan, pintar dan manjur membuat jimat dan lain-lain. Yang pintar mencegah hujan atau mengotak-atik cuaca disebut sebagai Pawang Hujan.
Meski kini sebagian besar warga Indonesia menyatakan diri percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa, praktek atau sisa-sisa kepercayaan terhadap animisme maupun dinamisme belum terkikis habis. Dukun, pawang, paranormal atau orang pintar masih dipercaya sebagai orang yang mampu mengatasi masalah secara gaib.
Kedoyanan mengkonsumsi praktek-praktek semacam itu dianggap sebagai bagian dari spiritualitas atau bahkan disebut sebagai kearifan tradisional.
Tentu tidak salah memelihara atau menjaga spritualitas dan kearifan tradisional. Namun dalam batas-batas tertentu praktek-praktek perdukunan bisa menganggu pembangunan perangai ilmiah yang sangat diperlukan agar bangsa Indonesia bisa membuat lompatan kemajuan.
Hujan, cuaca dan iklim adalah fenomena yang secara ilmiah sudah bisa dijelaskan dengan terang benderang. Maka merekayasa hujan, cuaca atau iklim dengan cara-cara yang sulit untuk diterangkan dan bahkan dipertanggungjawabkan terlebih di ruang publik sungguh menodai akal sehat kita.
Semoga sebagian dari kita menyaksikan drama pawang hujan di Mandalika sebagai sebuah hiburan semata. Sebuah aksi yang membuat berita perhelatan moto gp yang sudah 25 tahun hengkang dari Indonesia menjadi semakin berwarna.
Dan sebagai sebuah pilihan untuk melakukan pemasaran, aksi pawang hujan di hadapan peserta dan penonton moto gp Mandalika sukses meraup perhatian serta berhasil menumbuhkan perbicangan seru di jagat maya, perbincangan yang membuat Mandalika dan Indonesia makin terkenal.
Aksi Raden Rara Isyati Wulandari melenggang di lintasan balap Mandalika jelas lebih berhasil meraih sentimen positif ketimbang rombongan pekerja dan pelaku ekonomi kreatif yang diboyong oleh Gekrafs untuk meramaikan Paris Fashion Show at Paris Fashion Week belum lama ini.








