Bulan September tahun lalu unggahan di media sosial dipenuhi dengan wajah selebriti, youtuber, vlogger dan blogger yang nonggol di billboard Time Square New York.

Mereka berada di New York, Amerika Serikat karena diboyong oleh Erigo, brand fashion lokal Indonesia yang mendapat kesempatan untuk tampil dalam pagelaran New York Fashion Week.

Setelah berkiprah kurang lebih 10 tahun dalam dunia fashion tanah air, akhirnya Erigo meluncurkan koleksi ‘ERIGO X’ yang secara eklusif dipersiapkan untuk perhelatan NYFW.

Erigo sendiri dikenal sebagai brand yang menyajikan busana terkini berupa pakaian sehari-hari, active dan formal yang mengadaptasi elemen gender netral.

Keikutsertaan Erigo dalam NTFW adalah pengalaman pertama mengikuti fashion week. Di tanah air pun Erigo belum pernah ikut pergelaran busana baik yang diselenggarakan oleh pihak lain atau diselenggarakan sendiri.

11 tahun lalu Erigo memulai kiprahnya di dunia fashion, awalnya mengusung tema batik dan ikat namun kemudian berubah menjadi kasual fashion sampai sekarang. Erigo mulai terkenal lewat acara offline seperti JakCloth.

Namun kemudian mulai memfokuskan diri lewat penjualan online dengan bergabung pada platform shopee. Dan tiga tahun terakhir ini Erigo menjadi best selling brand dalam ekosistem shopee.

Erigo mempunyai beberapa toko di berbagai kota besar namun lebih difungsikan sebagai gudang dan pusat layanan penjualan agar pembeli di wilayah itu bisa memperoleh pakaian yang dipesan secara lebih cepat.

Pada waktu-waktu tertentu, Erigo akan mengadakan ‘Erigo Tour’ dengan membuka toko pop up secara serentak di ratusan kota besar se Indonesia. Biasanya selama satu bulan Erigo akan membuka gerai sementara di pusat-pusat perbelanjaan besar dan menawarkan paket pembelian yang membuat konsumen bisa mendapat harga yang jauh lebih murah dari biasanya.

Pakaian harian yang nyaman sekaligus bergaya semakin menjadi kebutuhan sehari-hari. Industri ini tumbuh dengan pesat. Yang mengincar pasar Indonesia bukan hanya pemain dalam negeri melainkan juga pemain-pemain besar fashion dunia.

Dengan jumlah penduduk yang besar dan sebagian besarnya adalah usia produktif, pasar Indonesia adalah pasar yang matang untuk siap dan sigap menelan berbagai jenis dan model pakaian yang menarik hati.

Meningkatnya konsumsi pakaian per kapita dan kesadaran serta keinginan untuk terus bergaya menimbulkan persoalan tersendiri. Produksi pakaian menjadi semakin banyak dan pergantian trend atau gaya menjadi semakin cepat.

BACA JUGA : Label Crazy Rich Validasi Atas Kepalsuan

Bagaimana cara kerja industri busana?.

Secara umum siklus produksi busana dimulai dari konvensi tekstil di Paris yang dihadiri oleh para produsen busana seluruh dunia untuk mengetahui bahan, pola, warna dan apa saja yang paling muktahir saat itu.

Apa yang dilihat dan ditemui dalam konvensi itu kemudian diaplikasikan dalam desain para perancang busana ternama. Rancangan dibuat dan kemudian ditampilkan dalam berbagai pagelaran busana seperti Paris, London, Milan dan New York Fashion Week serta lain-lainnya pada tahun berikutnya.

Pada saat itu busana hasil rancangan akan dilihat oleh para fashionista dan kemudian dibeli serta dipakai dalam berbagai event yang tentu saja tidak luput dari sorot kamera dan pemberitaan media massa. Rancangan kemudian menjadi trend. Trend atau kecenderungan yang disukai oleh para fashionista inilah yang kemudian ditangkap oleh para produsen fashion untuk merancang seri busana produksinya.

Dan diujungnya, busana yang terinsiprasi dari berbagai model yang nge-hit di berbagai peragaan ternama kemudian akan dibeli oleh konsumen umum melalui gerai-gerai milik produsen busana yang tersebar di berbagai penjuru dunia.

Keseluruhan proses mulai dari konvensi, perancangan, penampilan di runaway hingga di rak toko bisa memakan waktu hingga 2 tahun. Hanya saja dengan segala kemajuan teknologi dan komunikasi, kini hanya diperlukan waktu sekitar 6 bulan.

Namun ditengah persaingan antar produsen untuk merebut hati konsumen, nampaknya waktu 6 bulan terlalu lama.

Adalah Zara yang kemudian merevolusi rantai panjang produksi busana itu. Zara kini menetapkan waktu 1 bulan untuk memangkas waktu antara pertunjukan busana hingga dipakai oleh para konsumen umumnya.

Bukan hanya soal waktu yang dipangkas habis. Zara juga merubah pola peluncuran koleksi busana. Industri busana umumnya meluncurkan koleksinya dua kali setahun, yakni koleksi musim semi/panas dan koleksi musim gugur/dingin.

Dari dua kali setahun, Zara kemudian merubah menjadi dua kali sebulan. Apa yang dilakukan oleh Zara ini kemudian disebut sebagai fast fashion, sebuah kecenderungan yang mendisrupsi industri busana dunia.

Tidak seperti para produsen busana lainnya, koleksi yang dihadirkan setiap dua minggu sekali membuat Zara tidak mendistribusikan pakaian yang sama pada tiap-tiap gerainya. Setiap toko mempunyai koleksi yang berbeda-beda. Koleksi yang dijual di toko itu akan disesuaikan dengan analisa terhadap konsumen yang tinggal atau dilayani oleh toko tersebut.

Bagaimana Zara melakukan hal ini?.

Jika industri busana pada umumnya mendasarkan pada prediksi tahunan atas desain apa yang akan laku di musim depan, sebuah prediksi yang tidak selalu tepat. Zara menempatkan para manejer tokonya sebagai analis real time atas kecenderungan masyarakat konsumen disekitar wilayah kerjanya.

Staf toko, yang berhubungan dengan pelanggan akan bertindak sebagai detektif dan penyidik, mengamati baju yang sering dicoba tapi tak dibeli, menanyakan alasan atas apa yang dikembalikan dan lain sebagainya.

Segala hal yang memungkinkan untuk mendapatkan preferensi dari para pelanggan dilakukan. Dan informasi tersebut dikirim setiap saat ke markas Zara untuk dijadikan rujukan bagi para perancangnya.

Dengan model perancangan seperti ini para perancang busana dari Zara tidak semata-mata mengikuti trend dunia yang diperoleh dari berbagai peragaan busana melainkan juga mengikuti preferensi pelanggan sehingga tercipta desain-desain unik yang tidak ketinggalan jaman sekaligus mengikuti maunya pelanggan di lokasi yang berbeda-beda.

Dengan berbagai informasi serta jumlah perancang busana yang besar, Zara setiap bulannya mampu menghasilkan 1000 rancangan, hal mana membuat produk Zara tidak pasaran. Jumlah rancangan yang besar itu kemudian diproduksi dalam skala kecil untuk kemudian didistribusi ke masing-masing toko setiap dua minggu sekali. Bukan hanya menambah stok melainkan sebagai produk koleksi baru.

Produk best seller sekalipun tidak akan diproduksi ulang, fokusnya tetap memproduksi koleksi baru yang berbeda, meski produk best seller tetap menjadi referensinya.

Tidak seperti brand lainnya, Zara kemudian menumbuhkan ekosistem dilarang mikir lama-lama. Pergi ke toko melihat-lihat lalu pulang sambil terus berpikir dan esok kembali untuk membeli tidak bisa diterapkan di Zara, karena besar kemungkinan besok yang ingin dibeli sudah tidak ada.

Hingga kemudian sensasi unik, eklusif dan langka aka nada di benak para pelanggan. Pelanggan kemudian akan lebih sering datang ke toko untuk memastikan akan mendapatkan koleksi busana yang diinginkannya.

Jangan harap atau menunggu produk Zara didiskon. Dengan jumlah produksi yang terbatas kemudian didistribusikan pada wilayah yang tetap, Zara juga mempunyai keuntungan lain yakni tidak memerlukan gudang yang besar untuk menyimpan produk sebelum didistribusikan ke toko-toko. Koleksi bisa langsung segera didistribusikan begitu selesai dibuat di pabriknya.

Karena yakin para pelanggannya akan selalu mendapatkan koleksi yang baru anggaran iklan Zara juga tidak terlalu besar dibandingkan dengan brand-brand lainnya. Kepuasan pelanggan adalah kunci sehingga para pelanggan akan menjadi penyambung mulut. Inilah iklan gratis yang dahsyat kekuatannya.

Dengan model produksi dan marketing yang disebut sebagai fast fahion, Zara perusahaan retail pakaian telah menjadikan Inditex perusahaan induknya menjadi produsen dan retailer fashion terbesar di dunia.

Zara telah mengalahkan H&M, Uniglo dan GAP, serta menjadikan Amancio Ortega, sang founder menjadi salah satu orang terkaya di Eropa dan dunia.

Kekayaannya telah melampaui angka 1 kuadtrilyun rupiah. Meski begitu Amancio Ortega tidak suka tampil di depan umum, jarang difoto dan diwawancara, dan suka makan di kantin perusahaannya. Yang paling istimewa, Amancio Ortega konon telah bekerja selama 25 tahun tanpa liburan.

BACA JUGA : Minyak Sawit Tak Tepat Lagi Menyindir Dengan Ironi

Kini kecepatan produsen dan ritel pakaian menyediakan koleksi busana tidak semata-mata hanya merupakan milik Zara. Pola yang ditemukan dan dipakai oleh Zara segera diikuti oleh produsen dan ritel lainnya.

Untuk pelanggan atau konsumen hal ini tentu bernilai positif. Di pasar ada banyak koleksi busana yang sesuai keinginan setiap saat. Ganti model atau ganti gaya dengan mudah dilakukan selama ada uang untuk membelinya.

Namun disisi lain, disrupsi atau inovasi dalam dunia busana ini mempunyai sisi gelap yang melahirkan ancaman bukan hanya pada lingkungan hidup melainkan juga keadilan untuk para pekerjanya.

Pada soal isu lingkungan hidup, fast fashion kemudian mendorong masyarakat untuk sering membeli baju, artinya produksi baju akan semakin meningkat dan pada akhirnya sampah atau baju bekas juga akan semakin bertambah.

Dari sisi produksi akan terjadi peningkatan pemakaian pewarna dan bahan baku pakaian yang terbuat dari polyester yang berasal dari bahan baku fosil. Semua ini akan menghasilkan limbah yang akan mencemari perairan dan juga tanah dengan zat kimia berbahaya, termasuk salah satu diantaranya adalah mikro plastik.

Industri fahion juga kerap memanfaatkan produk yang berasal dari binatang, seperti kulit misalnya. Peningkatan permintaan kulit binatang akan mengancam populasi binatang di alam liar,

Dan pada akhirnya dengan sering berbelanja dan berganti mode maka akan ada banyak pakaian yang dibuang sebagai sampah. Dan sekarang ini sampah tekstil telah menjadi salah satu sampah terbanyak yang dengan mudah ditemukan mengendap bersama dengan sedimen di parit, got, sungai bahkan pesisir laut.

Walau banyak brand fashion kini berkampanye dengan melahirkan koleksi pakaian yang dilabeli sebagai hasil daur ulang, namun jumlah daur ulang sampah tekstil jumlahnya masih belum seberapa. Apa yang didaur ulang tidak sebanding dengan apa yang terbuang begitu saja atau terbakar di tempat-tempat pembuangan sampah.

Sisi gelap fast fashion lainnya adalah kemanusiaan. Glamour dan pendapatan besar yang diperoleh oleh produsen dan ritel busana sering kali berbanding terbalik dengan mereka yang paling berjasa untuk menghasilkannya.

Produsen busana besar biasanya tidak membuat sendiri produknya. Pakaian dihasilkan melalui mekanisme outsourcing, yakni perusahaan-perusahaan atau kontraktor yang berada di negara lain, negara dunia ketiga atau negara berkembang yang biasanya membayar murah para pekerjanya.

Dulu Indonesia dikenal sebagai ‘negara tukang jahit’ karena ada banyak perusahaan yang menjadi kontraktor dari produsen ternama di dunia untuk memproduksi sepatu, pakaian dan lain-lain. Namun aturan ketenagakerjaan yang mulai ketat membuat perusahaan global kemudian memindahkan pabriknya ke negara seperti Bangladesh, Pakistan, Kamboja, India dan lainnya.

Di negeri ini, barang yang dipakai untuk bergaya dihasilkan dalam ruang-ruang kerja yang tidak manusiawi. Jam kerja yang diluar batas dan bayaran yang amat murah. Beberapa diantaranya bahkan bisa disebut sebagai perbudakan modern.

Ada banyak laporan kecelakaan kerja hingga menimbulkan korban jiwa. Cerita tentang pabrik yang runtuh karena konstruksi yang tidak layak juga kerap terjadi. Supervisi yang rendah dari para pemberi pekerjaan menjadi persoalan. Mereka hanya berurusan dengan pencapaian dan kualitas barang produksi bukan pada bagaimana barang itu dihasilkan, sesuai standar kemanusiaan universal atau tidak.

Ada banyak yang menyuarakan kondisi ini dan kemudian ada pula produsen yang kemudian menerapkan etika bisnis yang lebih baik, namun demi mengejar keuntungan tak sedikit pula yang tutup mata serta tak mau bertanggungjawab atas kondisi yang menindas para pekerja kontaktornya.

Sisi gelap fast fashion ini kemudian memunculkan antitesa dalam bentuk gerakan untuk tetap stylish namun ramah lingkungan. Gerakan ini disebut dengan slow fashion.

Slow fashion dideskripsikan sebagai proses produksi fashion yang lebih ramah lingkungan dan transparan terkait dengan material serta proses pembuatannya. Pakaian dibuat dengan bahan yang berkualitas sehingga lebih awet serta memakai bahan alami, seperti pewarna yang berasal dari kulit buah, daun, umbi dan lainnya.

Model lain dari slow fashion adalah memakai pakaian bekas yang masih layak pakai. Untuk bergaya tak diperlukan pakaian baru. Gaya bisa dilakukan dengan memadupadankan pakaian-pakaian lama.

Trend slow fashion ini kemudian ditandai dengan munculnya second store, preloved store atau sebutan lain yakni thrifting.

Namun sebagai sebuah kesadaran atau gerakan yang mempromosikan kelestarian lingkungan dan keadilan sosial, slow fashion sendiri bukan tanpa masalah. Pakaian yang dihasilkan dengan bahan bermutu dan ramah lingkungan tentu saja rantai produksinya panjang yang pada akhirnya harganya menjadi tidak murah. Tidak setiap orang bisa menikmatinya karena sifat produk yang unik dan eklusif.

Sementara kemunculan second store juga tidak dengan sendirinya mengurangi sampah pakaian bekas. Sebab pakaian bekas yang dijual kembali di berbagai gerai bukanlah pakaian yang berasal dari Indonesia. Ber-bal bal pakaian bekas setiap hari didatangkan dari luar negeri, mulai dari Jepang, Korea Selatan, Singapura bahkan mungkin dari Amerika dan Eropa.

Sebagian memang layak dipakai atau bahkan sangat layak karena merupakan koleksi pakaian bermerek yang telah lewat masa jualnya. Namun sebagian besar lainnya meski dijual sangat murah tak ada yang membelinya. Dan kemudian akan berakhir menjadi sampah.

Masalahnya yang didatangkan bukan hanya pakaian melainkan juga sepatu, tas, topi dan juga selimut. Tanpa pengaturan yang ketat, pada akhirnya negeri kita bisa menjadi tempat pembuangan sampah dengan label slow fashion.

Apapun itu pada akhirnya kita masing-masing bisa berkontribusi untuk menjaga kelestarian lingkungan dan menumbuhkan keadilan sosial dengan tidak terlalu sering berbelanja pakaian. Ingatlah bahwa kehormatan diri bukan berasal dari apa yang kita pakai, melainkan dari apa yang kita katakan dan lakukan.

Tukul kerap mengatakan “Don’t judge a book by it’s cover”, jangan menilai buku dari sampulnya. Begitu juga kita, sebaiknya tidak menilai atau menghormati orang hanya dari apa yang dikenakannya.