KESAH.ID – Demi untuk bergaya banyak orang rela untuk melakukan apa saja, termasuk diantaranya tidak malu dan tidak ragu untuk memakai barang KW, produk-produk Non Ori.Istilah KW Super membuktikan bahwa kepalsuan diterima sebagai kewajaran bahkan kebanggaan.
Jauh sebelum media sosial marak dengan konten pamer-pamer, Syahrini telah menghiasi layar media infotainment dengan gayanya yang modis selangit. Ya selangit karena Outfit Of The Day yang dikenakan Syahrini dalam sebuah penampilan bisa dipakai harganya bisa setara dengan satu mobil Pajero Sport.
Bukan cuma gaya berpakaian atau berdandannya yang fenomenal serta ikonik. Gaya bicara artis yang menyebut dirinya sendiri sebagai Princess ini desahannya sulit ditiru. Dan dari mulutnya kerap terluncur kata, jargon atau kalimat yang bombastis dan kemudian viral.
Yang mengidolakan atau menjadikan Syahrini sebagai panutan pasti masih hafal dengan kata atau kalimat semacam : Alhamdulilah yah!, I fell free, Embeerr, Sesuatu, Ciao Bella, Maju mundur cantik, Pokoknya seperti itu, Ulala …cetar membahana, Hempas datang lagiih, Semua terpampang nyata, Berjalan manjaah, Anti badai anti huruhara, Usir syantiek hush-hush sanaah, Cucok meong, Inces, Gubrak gubrak gubrak..jeng jeng jeng, Rasa keelitan citarasa internasionale dan Kacida raosna.
Kata atau kalimatnya biasa saja tapi karena diucapkan oleh Syahrini dengan gaya bicara unik, desah manja kemudian membuat orang terpesona atau sekurangnya tersenyum karena lucu-lucu mengemaskan.
Bukan hanya pria dan wanita yang mengemari Syahrini melainkan juga sebagian besar waria ingin menjadi sepertinya, menjadi princess.
Dulu mungkin hanya Syahrini dan rekan-tekan sosialitanya yang fasih menyebutkan kata branded untuk segala sesuatu yang dipakainya.
Tapi kini branded dan OOTD tidak lagi dimonopoli oleh kaum selebritas yang wajahnya rajin keluar di layar kaca, terus diberitakan di program infontaiment meski minim karya dan prestasi.
Anak-anak nongkrong di trotoar pinggiran jalan yang hanya mampu jajan minuman di Starbuck Keliling, konten di tik toknya penuh dengan obrolan OOTD.
Anak-anak remaja dan muda yang mestinya menjadi masyarakat wajib belajar kini lebih membaptis dirinya sebagai masyarakat bergaya.
Karena terkenal tak mesti harus masuk televisi, selebritas dan sosialita anak remaja serta kaum muda menjadi semakin meluas. Yang diidolakan atau jadi panutan tak mesti artis, melainkan seleb yang lahir dari media sosial, entah instagram atau tik tok.
Para seleb inilah yang kemudian menjadi influencer, pemberi pengaruh dan dianggap sebagai panutan untuk ditiru segala kelakuannya.
Hanya saja sebagian besar dari peniru, kaum followers ini adalah kaum jelata yang belum naik kelas. Maka bergaya dengan barang-barang bermerek ibarat mimpi belaka karena harganya kelewat jauh di angkasa.
Bergaya memang butuh modal.
Tapi kaum jelata pasti tak kehilangan akal sebab di ‘pasar malam’ ada banyak barang serupa dengan barang bermerek yang harganya jatuh terkapar. Maka dengan modal seadanya, tangga untuk menuju panjat sosial menjadi tersedia.
Karena pasarnya besar, produksi atau peredaran barang palsu, tiruan atau bajakan kemudian menjadi marak. Apa yang sedang ngetrend akan ditiru habis-habisan. Ketika di toko resminya orang sedang mengantri, di luaran barang tiruannya sudah bertebaran.
Baju, celana, topi, dompet, tas, sepatu, kacamata dan barang tiruan lainnya seakan-akan sudah jadi kenormalan, yang jualan tak perlu sembunyi-sembunyi. Mungkin saja yang ditiru tak terlalu peduli karena kelas pembeli barang asli dan barang tiruan berbeda jauh.
Namun tak semua produk tiruan, non ori atau kw, murah dan buruk. Beberapa diantaranya sulit dibedakan dengan aslinya, persis plek ketiplek.
Yang membeli barang begini juga bukan orang sembarangan, tetap orang beruang tapi merasa harga barang aslinya sudah keterlaluan atau bisa jadi tak ingin menjadi kolektor yang membeli barang untuk investasi.
Seiring dengan perkembangan e-commerce, outlet penjualan barang tiruan menjadi semakin luas. Di marketplace bertaburan seller atau reseller yang memperjualbelikan barang tiruan secara bebas. Ada yang menyamarkan ada pula yang terang-terangan mengatakan sebagai tiruan.
Karena dijual online maka produsen atau lembaga terkait bisa mengawasi. Hingga kemudian US Trade Representative atau USTR merasa perlu untuk memberi teguran. Dan baru-baru ini USTR memberi peringatan tentang e-commerce yang dianggap memfasilitasi penjualan barang tiruan.
Menjualnya juga tidak perlu sembunyi-sembunyi karena secara tradisional ada banyak tempat fisik yang lazim menjual barang tiruan. Kios atau lapak pasar tradisional dan pasar malam adalah tempat paling mudah untuk membeli barang tiruan, terutama untuk produk-produk dan brand-brand kenamaan Amerika.
BACA JUGA : Amerika Memang Super Tapi China Maha
Industri gaya hidup meski tak bikin kenyang telah berkembang menjadi industri besar. Hanya untuk mengikuti keinginan bergaya, orang bisa habis-habisan membelanjakan uangnya.
Kesenangan karena bergaya walau tak seberbahaya dengan kesenangan karena memakai narkoba namun sudah cukup untuk membuat orang lupa pada hal-hal yang lebih penting.
Di Manado dikenal istilah “Biar kalah nasi yang penting jangan kalah aksi,”.
Istilah ini dengan sangat baik mengambarkan bagaimana masyarakat kemudian lebih mendahulukan kepentingan untuk bergaya, tampil mempesona ketimbang memenuhi kebutuhan gizi dan juga nutrisi.
Dulu ketika di Manado biasa sekali saya mendengar mereka yang sebenarnya malas pergi ke gereja tapi tak mau mengakuinya dengan bersembunyi dibalik alasan “Tidak ada baju dan sepatu gereja,”.
Gaya memang penting dan rasanya itu bukan hanya tabiat dari orang Manado.
Untungnya akhir-akhir ini muncul istilah slow fashion. Sebuah kesadaran bahwa untuk bergaya tak selalu harus memakai baju, pakaian atau pernak-pernik fashion yang baru.
Arus ini ditandai dengan munculnya banyak lapak atau gerai berlabel thrif shop. Memperjualbelikan pakai-pakaian bermerk yang meskipun bekas namun masih layak pakai. Dulu pakaian atau produk fashion semacam ini lazim ditemui di lapak cakar bongkar atau awul-awul. Atau lebih dulu lagi di pasar rombeng atau pasar maling.
Munculnya banyak thrift shop memungkinkan anak-anak remaja dan muda serta kaum lainnya untuk bergaya dengan produk fashion bermerk secara ‘legal’.
Hasilnya di jalanan dan tempat tongkrongan dengan mudah disaksikan anak muda remaja yang membungkus dirinya dengan produk branded hasil dari hunting brand-brand kepala di lokasi thrifting.
Meski bukan termasuk fashionista dan sosialita mereka akrab dengan pakaian hoodie atau crewneck oversize bermerk Champion, Dickies, Carhartt, Ben Davis, Patagonia, Timberland, GAP dan lain-lain.
Selain itu juga produk fashion dari brand-brand yang di Indonesia dikenal lewat sepatunya, seperti Nike, Adidas, Rebook, New Balance, The North Face, Puma, Converse dan lainnya.
Anehnya item-item tertentu dari brand-brand kepala ini meski bekas harganya bisa tetap mahal karena bersifat limited edition sehingga masuk kategori collectable item atau vintage.
Buat yang benar-benar mengerti trend fashion, apa yang dipakai oleh thrift mania jelas out of date, model lama. Tapi para pengemarnya tidak hilang akal atau tak peduli, yang penting kan mereknya, bukan soal disain terbarunya. Lagi pula yang melihat bukan pengamat mode atau jurnalis yang biasa meliput peragaan busana.
Atau mereka yang kreatif kemudian memadu padankan sehingga muncul gaya baru, yang tidak selalu keren karena terlihat aneh. Namun aneh jika kemudian diikuti oleh banyak orang akhirnya jadi trend juga. Dan gaya fashion Harajuku, awalnya juga dianggap aneh.
Dan terbukti di jantung ekonomi Ibu Kota Jakarta yang diokupasi oleh anak-anak Citayam akhirnya melahirkan Citayam Fashion Street. Jujur saya kebanyakaan dari kita meski tak punya selera fashion yang tinggi, umumnya akan mengernyitkan dahi melihat apa yang mereka kenakan.
Tapi anak-anak pinggiran yang tenggil dengan gaya berkasta jauh lebih bawah daripada Anak Jaksel bisa memancing kaum fashionista, seleb dan sosialita untuk berlenggak-lenggok di zebra cross Jalan Sudirman.
BACA JUGA : Makin Kelihatan Kaya Makin Terpercaya
Urusan tiru meniru atau menjiplak memang salah satu keahlian manusia sejak semula. Bahkan dalam dunia ekonomi kreatif kerap diamini dengan istilah ATM, Amati, Tiru dan Modifikasi. Niat baiknya adalah belajar dari orang lain, mulai mengikuti hingga kemudian melahirkan gaya tersendiri.
Tapi tidak semua mau sabar sampai menemukan orisinalitas. Ibarat orang dagang, tak terlalu peduli dengan yang dijual yang penting barangnya laku.
Pertemuan antara yang menjual dengan niat dapat uang dan pembeli dengan kesukaan pada barang murah menjadi klop untuk tumbuh kembangnya ekosistem peniruan dan pemalsuan. Dan semuanya bisa ditiru atau dipalsu, bukan hanya barang melainkan juga ijazah, skripsi dan seterusnya.
Sudah lama para penulis dan penerbit buku mengeluh soal buku bajakan. Buku laku tapi penulis dan penerbitnya tak dapat uang.
Pun juga para seniman, pencipta lagu. Lagunya terkenal dan viral, tapi pemasukan dan royaltinya nol.
Lebih hebat lagi sekarang ini yang diperjualbelikan juga akun-akun palsu. Baik akun media sosial atau akun-akun untuk menikmati layanan streaming hiburan.
E-commerce besar yang kerap dijadikan sarang penjualan barang atau product palsu memang mulai berbenah, mulai melakukan filtering pada seller atau re-seller yang memperjualbelikan produk illegal. Tapi tetap saja marketplace ternama belum bisa menjamin 100 persen produk yang dijual di toko onlinenya legal.
Masalahnya yang palsu atau produk tiruan bukan hanya dijual di marketplace melainkan juga lewat media sosial. Dan di media sosial berlaku hukum siapapun bisa menjadi penjual atau menawarkan dagangannya.
Karena memakai platform User Content Generated, lubang untuk menjual barang KW atau Non Ori menjadi sulit untuk ditambal. Sebab pengguna dengan mudah membuat toko atau akun untuk jualan. Tinggal klak-klik dan jadi, kalaupun nanti ketahuan dan diblokir bisa buat akun atau toko baru lagi.
Sebenarnya e-commerce atau media sosial bisa menerapkan syarat yang lebih keras untuk pengguna namun ditengah persaingan memperebutkan pengguna aktif dan pengguna baru, membuat syarat yang rumit untuk pemakai aplikasi umumnya dihindari. Kemudahan adalah mantra utama bagi banyak apikasi atau perusahaan sistem elektronik untuk meraup pengguna agar tumbuh secara eksponensial sehingga valuasi perusahaannya fly to the moon.
Tik Tok meski berasal dari negeri surganya barang KW, ternyata lebih menerapkan standard yang tinggi ketimbang facebook dan instagram untuk jualan. Mereka yang bisa memakai aplikasi Tik Tok Shop syarat pertamanya adalah mempunyai follower di atas 10.000. Sebuah angka pengikut yang sulit untuk dicapai oleh konten kreator yang tidak benar-benar serius.
Bagaimanapun yang disebut dengan produk KW atau Non Ori akan tetap membanjiri pasaran jika konsumen tak punya kesadaran moral untuk turut mengatasinya. Maka selain mesti mengekang nafsu untuk bergaya dengan illegal, konsumen mestinya juga mulai bersekutu untuk menggalang kekuatan dengan menerapkan budaya cancel culture. Mesti berani meng-unfollow atau memboikot para panutannya yang ketahuan bergaya dengan memakai barang tiruan.
Hal ini berlaku juga untuk para pemilih, konsumen politik agar tak memilih para calon yang asli tapi sebenarnya palsu. Berjanji menjadi pemimpin untuk mensejahterakan negeri tapi meraih kedudukannya dengan sokongan daya dan dana kaum oligarki.
Dan sama dengan barang KW, di negeri ini ada banyak politisi dan pemimpin negeri yang asli tapi palsu.
note : sumber gambar – BPGUIDE.ID








