KESAH.ID – Setelah runtuhnya Uni Soviet, bandul persaingan dunia berubah. Amerika kemudian menempatkan China sebagai saingan terberatnya. Dalam beberapa hal, China memang berhasil mengoyahkan kemapanan Amerika.

Ada gurauan yang mungkin agak keterlaluan, salah-salah bahkan bisa dituduh sebagai penistaan Tuhan.

Ini tentang China, Negeri Tiongkok yang dalam beberapa dekade ini semakin menunjukkan kebesarannya.

Kata gurauan itu adalah “Tuhan hanya menciptakan langit dan bumi, selebihnya buatan China,”

Kalau dipikir-pikir ada benarnya juga, karena barang buatan China ada dimana-mana. Hampir tak ada satupun hal yang tidak bisa dibuat di China. Matahari buatan saja mulai ada.

Puluhan tahun lalu, ketika dunia memasuki alam modernitas dan globalisasi ceritanya adalah tentang Amerika.

Negeri yang dijuluki Paman Sam ini menjadi ‘pemenang’ dalam perang dunia ke 2 dan kemudian membangun superioritasnya lewat Perang Dingin, membagi dunia dalam blok barat dan blok timur.

Amerika mengibarkan imperiumnya, Pax America, menggantikan Pax Romana dan Pax Britanica. Dollar menjadi mata uang dunia sebagaimana Dinar di masa imperium Romawi.

Gabungan antara kekuatan senjata dan uang membuat Amerika menjadi negara superpower, negara adidaya. Semua yang serba ada di Amerika. Pendek kata Amerika memang juara, apa-apa patokan atau benchmarking-nya Amerika.

Wajah dunia yang berona Amerika kemudian diistilahkan dengan McWorld.

Istilah McWorld pertama kali dimunculkan oleh Benjamin Barber dalam sebuah buku berjudul Jihad via McWorld. Lewat istilah itu Barber hendak mengambarkan proses tawar menawar atau pegulatan masyarakat lokal untuk mempertahankan solidaritas dan tradisinya mempergunakan infrastruktur kapitalisme modern.

Keluar dari defisini itu, McWorld sendiri mengambarkan Amerika melalui berbagai industrinya menancapkan pengaruh globalnya, masuk dalam sendi-sendi masyarakat lokal di berbagai belahan dunia.

Lewat McDonald, Amerika menyebarkan budaya makanan cepat saji yang di negerinya sendiri disebut junk food. McDonalisasi tentu saja bukan hanya lewat McDonald melainkan juga KFC, Pizza Hut dan lain-lain.

Budaya nongkrong sambil ngopi meski telah lama ada namun kemudian mempunyai nilai dan gaya yang baru lewat Starbuck. Bukan sebagai negara penghasil kopi, Amerika lewat Starbuck mendikte dunia tentang bagaimana cara menikmati kopi dengan benar.

Budaya pop Amerika yang meliputi gaya hidup, music, fashion dan film juga disebarluaskan selain melalui jaringan film Hollywood juga oleh MTV.

Sedangkan dalam dunia teknologi terutama komputasi, Amerika mengibarkan benderanya melalui Macintosh, dan kemudian merajalela lewat IBM, DELL, Intel, dan Microsoft.

Sementara di angkasa Amerika mengudara dengan Mc Donnel Douglas.

Dan memasuki peradaban teknologi informasi dan komunikasi, Amerika menjadi terdepan lewat Yahoo, Google, Meta, Twitter dan seterusnya.

BACA JUGA : Makin Kelihatan Kaya Makin Terpercaya

Memasuki tahun 2000-an bandul dunia seolah berubah. China berkembang menjadi penantang Amerika, tidak seperti Jepang, Korea dan juga Taiwan yang sebelumnya juga berkembang namun tetap tunduk pada Amerika.

Kepada China, Amerika susah mengatur-atur, melarang ini dan juga itu.

Produk-produk China yang dimasa sebelumnya kerap diidentikkan dengan produk sampah, gampang rusak dan murahan, ternyata bisa menjadi flagship killer. Lama diidentikkan dengan tukang tiru ternyata China kemudian bisa menghasilkan smartphone, mobil dan peralatan yang padat teknologi lainnya secara mumpuni.

Merek-merek smartphone dari China kemudian bisa menyaingi Samsung dan tidak gentar melawan Iphone.

Huawei, sebuah perusahaan teknologi dari China bahkan dihajar oleh Amerika, karena lebih dahulu menemukan dan berencana mengimplementasikan teknologi 5G. Produk Huawei sendiri di Eropa dan Amerika sangat ternama. Namun karena dilarang memakai Google Mobile Service, perkembangan Huawei kemudian menjadi terhambat.

Pun demikian dengan mobilnya seperti Wuiling dan DFSK yang tak lagi bisa disebut sebagai abal-abal.

Data menunjukkan bahwa China saat ini memimpin dalam industri manufaktur di dunia, cukup jauh diatas Amerika yang berada di tempat kedua.

Kekuatan industri manufaktur inilah yang membuat produk China ada dimana-mana, bahkan juga membanjiri Amerika, sehingga membuat pemerintahnya menjadi gerah.

Tapi perlu diingat bahwa China bukan hanya jago dalam industri manufaktur, dunia sains juga berkembang pesat yang ditandai dengan munculnya dua universitas ternama di China dalam daftar 20 universitas terbaik di dunia.

Dari universitas-universitas terbaik inilah akan muncul bibit-bibit peneliti, ilmuwan atau praktisi lain yang akan melahirkan inovasi-inovasi dan temuan teknologi baru.

Belajar dari pandemi covid 19, China dengan cepat bisa menemukan vaksinnya, bersaing dengan Amerika dan Eropa.

Pun demikian juga dengan teknologi yang memungkinkan masyarakat yang tengah mengalami pembatasan sosial tetap bisa beraktifitas secara online, yakni zoom, juga dikembangkan oleh orang keturunan China.

Soal komputer China tidak lagi bisa disepelekan. Ada banyak ahli super komputer di China, tak mengherankan jika di masa-masa awal penambangan bitcoin, China menjadi gudangnya para penambang. Dan kita semua tahu, menambang bitcoin atau koin kripto lainnya perlu komputer yang jagoan.

Dalam urusan internet sejak semula China berupaya mandiri dan mengembangkan teknologi serta berbagai aplikasinya sendiri.

Sehubungan dengan internet dan aplikasi, China mempunyai Great Firewall, kebijakan penyensoran yang sangat ketat.

Pemerintah China memblokir google, youtube, meta {facebook, instagram, whatsapp}, twitter, pinterest, snapchat dan lain-lain.

Aplikasi asing ini kemudian diganti dengan aplikasi lokal. Untuk mesin pencari yang ternama di China adalah Bing, sementara apilkasi media sosial seperti facebook adalah Weibo, sedangkan aplikasi messengernya adalah Wechat.

Uber dan Amazon yang diijinkan beroperasi ternyata juga tidak berkembang dengan baik di China. Didi Chuxing, ride hailing China memaksa Uber hengkang dari Negeri Tirai Bambu itu. Sedangkan Amazon tidak mampu menikmati kue belanja karena kalah populer dengan Alibaba.

Dan dari China kemudian muncul aplikasi yang mendunia yang mampu membuat Facebook ketar-ketir, mulai tergerus jumlah pemakai aktif dan pemakai barunya. Tik Tok menjadi salah satu faktor yang membuat Facebook bermetamorfosis menjadi Meta.

BACA JUGA : Pandemi Bikin Derita Begitu Reda Malah Tambah Sengsara

Bubarnya Uni Soviet dan runtuhnya Blok Timur ternyata tidak membuat kedudukan Amerika sebagai polisi dunia menjadi mapan. Muncul kekuatan baru yang menantang dominasi Amerika yakni China.

Secara selintas kedudukan Amerika memang mulai goyah, sebab China tidak seperti kebanyakan negara komunis dan sosialis lainnya. Di China nampak Karl Marx dan Adam Smith duduk berdampingan. Kapitalisme tidak disingkirkan melainkan dijadikan pelayan bagi sosialisme dan komunisme.

Wajah pemerintahnya tidak berubah, tetap dingin. Politik China bertumpu pada Partai Komunis China, partai satu-satunya. Namun ekonomi kapitalis dibiarkan tumbuh, melahirkan banyak konglomerat dan orang-orang kaya baru. Mereka dibiarkan terus berinovasi dan berekpansi sejauh tidak menganggu atau melawan kebijakan dan kendali pemerintah.

Pertumbuhan China yang melaju bak roket memang membuat pemimpin tertinggi Amerika Serikat kerap pusing tujuh keliling. Tanda-tanda mulai atau akan segera dikalahkan oleh China mulai terlihat jelas.

Tapi apakah Amerika kemudian tidak Super Power lagi?.

Nampaknya tidak demikian, bahwa kemajuan di China menganggu kemapanan Amerika memang iya, tapi belum bisa disebutkan bahwa China telah mengalahkan Amerika dengan menjadi Super Power baru.

Amerika dan China menurut anak-anak Jaksel tidak bisa dibandingkan secara aple to aple. Karena keduanya beroperasi dalam sistem yang berbeda.

Amerika berkembang dalam sistem yang terbuka dan terdesentralisasi sementara China berkembang dalam sistem yang tertutup.

Dan dalam peradaban dunia sekarang ini, watak Amerika lebih gampang diterima ketimbang China.

Wajah Amerika terbilang lebih ramah kecuali dalam urusan suka resek campur tangan terhadap politik negeri orang.

Dongeng Amerika menjadi lebih laku, ketimbang cerita tentang China.

Jadi sampai hari ini Amerika meski mulai merana karena serangan Covid 19, tetap masih merupakan negara Super Power dengan kekuatan senjata, ekonomi, industri dan gaya hidupnya. Namun tak bisa juga disangkal bahwa China memang maha, bukan hanya karena jumlah penduduknya yang besar namun juga karena perkembangan industri, teknologi dan sainsnya.

note : sumber gambar – JABAREKSPRES.COM