KESAH.ID – Banyak orang percaya kepada Tuhan, namun lebih banyak lagi orang yang percaya kepada uang. Meski tak diimani, namun kepercayaan orang pada uang jauh lebih meyakinkan dibanding dengan kepercayaan kepada Tuhan yang masih kerap diragukan keberadaanNYA.
Apa yang akan terjadi jika ratusan gorilla, simpanse, bonobo atau orang utan dikumpulkan dalam satu tempat yang sama?.
Menurut Dokter Ryu Hasan, pakar neourosains, kelompok hominid selain manusia jika berkumpul dalam jumlah yang besar ditempat yang sama akan terjadi kekacauan.
Hal ini terjadi karena mereka tidak memiliki kecerdasan gerombolan sebaik homo sapiens.
Simpanse, bonobo, gorilla dan orang utan hanya mampu bekerja sama dalam kelompok kecil. Tidak seperti manusia yang mampu bekerja sama bahkan dengan orang yang tidak dikenalnya.
Evolusi kecerdasan gerombolan para kera besar ini tertinggal karena kemampuan berbahasanya tidak berkembang. Meski para ahli menemukan bahwa mereka mempunyai kemampuan berkomunikasi dengan kata-kata namun jumlahnya amat terbatas.
Kata yang umumnya dikenali adalah peringatan tentang adanya musuh atau gangguan.
Andai kemampuan berbahasa kera besar yang berjalan tegak ini sama dengan manusia, kemungkinan besar Planet of The Apes bukan hanya sebuah film.
Tapi jangan khawatir, kemungkinan munculnya kera besar yang fasih berbicara satu sama lain sehingga bisa memberontak dan kemudian memperbudak manusia sangatlah kecil atau bahkan tak mungkin lagi.
Seperti diketahui, evolusi kecerdasan dan kemampuan manusia untuk hidup dalam kelompok besar dimulai dari penguasaan terhadap api. Dan sampai sekarang kelompok kera besar belum ada yang bisa membuat api unggun, atau membuat obor untuk menerangi gelap malam.
Jika dibandingkan dengan revolusi peradaban manusia, kelompok kera besar ini berhenti pada tahapan pemburu pengumpul. Mereka masih memanfaatkan alam secara apa adanya, belum mampu melakukan rekayasa dan budidaya.
Hidup berpindah-pindah, membuat kelompok kera besar tidak mampu membangun modal sosial untuk membentuk tatanan masyarakat sipil. Lain halnya dengan manusia yang kemudian tinggal menetap kemudian mampu membangun rasa percaya satu sama lain, serta berbagai norma serta nilai untuk menjaga serta mengembangkan rasa saling percaya.
Kepercayaan sebagai sebuah nilai dan praktek mulanya dibangun lewat unsur primordial seperti Suku, Kepercayaan/Agama, Ras dan Aliran atau Golongan.
Namun kemudian aspek untuk membangun rasa percaya semakin meluas meliputi kompentensi, pengetahuan, ketrampilan dan juga teknologi. Dengan rasa saling percaya ini kemudian membuat manusia bisa bekerja sama, bekerja sama secara luas.
Salah satu wujud kerjasama yang terkadang tidak disadari adalah industri. Industri seperti otomotif, pesawat dan lainnya tidak mungkin berhasil tanpa kerjasama banyak pihak. Mobil, pesawat, smartphone dan lainnya mempunyai ribuan komponen, baik komponen keras dan komponen lunak.
Maka untuk menghasilkan produk meski mempunyai satu merk, perusahaan atau produsen yang terlibat amat banyak. Selalu ada rantai pasok yang terlibat di dalamnya, mulai dari hulu hingga hilir.
Rantai kerjasama akan semakin panjang setelah tahap produksi, yakni pemasaran dan layanan setelah pembelian.
Kerjasama ini tidak mungkin terjadi apabila tidak ada rasa saling percaya dan juga bahasa untuk berkomunikasi, sehingga satu sama lain kemudian saling memahami.
BACA JUGA : Pandemi Bikin Derita Begitu Reda Tambah Sengsara
Salah satu bisnis yang mengklaim sangat mengandalkan kepercayaan adalah institusi keuangan. Klaim itu wajar saja sebab uang memang merupakan salah satu yang paling dipercaya di dunia ini. Kepercayaan manusia pada uang tidak perlu diragukan lagi, dibanding dengan kepercayaan manusia pada Tuhan.
Soal uang semua orang boleh percaya uang, namun institusi keuangan tidaklah demikian. Mereka mempercayai uang tapi tidak mempercayai semua orang.
Terhadap semua orang, bank akan lebih menganjurkan untuk menabung. Mereka gemar mengucapkan mantera ‘hemat pangkal kaya’ artinya sisihkan uang dan kemudian tabung. Biarpun sedikit toh lama-lama bakal jadi bukit.
Maka syarat untuk menabung dibuat gampang, namun berbeda untuk mereka yang mau meminjam, syaratnya sungguh panjang.
Dalam urusan pinjam meminjam, ada kecenderungan bank lebih percaya pada orang kaya atau orang yang kelihatan kaya. Bagi bank, orang yang terbukti kaya adalah orang-orang yang pintar mengelola uang. Maka menyerahkan uang kepada orang kaya kemungkinan untuk berbiaknya lebih besar.
Kepercayaan bank ada pada aset kolateral, sesuatu yang bisa dijadikan jaminan.
Dan sebagai institusi yang memperoleh untung dari ‘bunga’ pinjaman atau capital gain lewat penyertaan modal, pasar yang gemuk bagi bank adalah kelompok masyarakat kelas atas, kelompok usahawan dan usaha-usaha besar.
Resikonya memang tinggi namun sepadan dengan hasil yang didapatkan.
Bahwa kemudian bank juga memberi pinjaman kepada kelompok usahawan menengah ke bawah, tidak lain tidak bukan hanya sebagai pemanis berslogan inklusi keuangan.
Sebenarnya kepada kelompok menengah ke bawah, bank akan lebih suka memberikan pinjaman konsumtif, untuk pembelian mulai dari rumah, mobil dan kebutuhan lain. Segala sesuatu yang kalau macet cicilannya maka barangnya akan disita.
Jadi apa yang dipinjamkan oleh bank bukanlah modal. Bank tidak terlalu tertarik untuk memberikan pinjaman modal kepada usahawan menengah dan kecil.
Sifat ini klop dengan para pengusaha atau orang-orang kaya yang tak mau memakai kekayaannya sendiri untuk membangun usaha. Bagi usahawan besar membangun usaha dengan mengandalkan uang dari bank jauh lebih aman, membuat kekayaannya tidak terancam.
Bahkan ketika usahanya membesar, mereka bisa meraup uang dari publik dengan cara menjual saham.
Dengan menjual saham, perusahaan menjadi perusahaan publik tapi hanya seolah-olah, sebab amat jarang sebuah badan usaha saham mayoritasnya benar-benar ditangan publik atau masyarakat.
BACA JUGA : Merasakan Kutuk ‘Gold and Coal’ Lewat Teknologi VR
Karena uang amat berurusan dengan kepercayaan maka didalam dunia uang atau kekayaan ini ada banyak drama. Drama pura-pura kaya dan bisa membuat orang lain kaya secara sekejap.
Di Indonesia sebelum muncul modus semacam skema ponzi, telah marak penipuan penggandaan uang. Pelakunya adalah dukun yang oleh masyarakat dipercaya sebagai ‘orang pintar’.
Sampai sekarang meski daftar orang yang tertipu telah setebal buku pelajaran namun masih saja korban-korban baru. Bukan hanya perorangan melainkan segerombolan karena ada ‘orang pintar’ yang penipuan massal lewat padepokan.
Soal uang kebanyakan orang menjadi dunggu, keinginan untuk dapat uang dengan cepat, menjadi kaya tanpa kerja keras membuat orang kehilangan nalar dan kewarasan.
Kelemahan ini yang kemudian diekploitasi oleh mereka yang punya keberanian dan ketrampilan untuk berpura-pura kaya. Penampilan yang bak orang kaya, sultan tanjir melintir membuat orang terpesona.
Internet terutama media sosial menjadi alat yang ampuh untuk berpura-pura sebagai orang kaya. Mudah mempunyai pengikut dan segala omongan serta tindak tanduknya selalu mendapat pujian. Yang curiga atau membenci akan diserang habis-habisan oleh para pengikutnya.
Meski pada akhirnya akan terbongkar tapi tetap butuh waktu untuk menyadarkan banyak orang soal tipuan tentang uang.
Dan karena tidak ada perjanjian maka mereka yang tertipu uangnya akan melayang, hilang.
Sayangnya banyak dari mereka yang tertipu oleh persona orang-orang yang pura-pura kaya telah tertipu berulang-ulang.
Tentang uang manusia memang gampang jatuh ke lubang yang sama. Lebih bodoh daripada keledai.
Ini mirip dengan orang yang gemar ke dukun kalau ada masalah. Ketika dukun yang didatangi ternyata tidak manjur bukannya bertobat dan tidak lagi percaya pada dukun melainkan mencari dukun lain yang dianggap lebih mujarab.
Tapi apa mau dikata bahkan institusi negara sekalipun masih juga percaya kepada Pawang Hujan, yakin kalau remote cuaca ada ditangan Mbak Rara.
Kabar baiknya yang gampang tertipu di dunia ini bukan hanya orang Indonesia.
Di Netflix bisa disaksikan berbagai film dokumenter tentang penipuan yang melegenda. Penipuan yang terjadi di Eropa dan juga Amerika. Ternyata manusia di sana juga sama saja gampang ditipu oleh persona yang kelihatan kaya.
Orang memang selalu gampang percaya pada apa yang ingin mereka percayai.
Dan salah satu yang ingin dipercayai adalah ada cara mudah untuk menjadi kaya. Uang memang membutakan.
note : sumber gambar – HOTDETIK.COM








