KESAH.ID – Selama ini sutradara sangat otoritatif dalam menyajikan dan mengarahkan apa yang mesti dilihat oleh penontonnya. Otoritas penuh ini luntur ketika teknologi kamera 360 ditemukan. Visual yang dihasilkan oleh kamera 360 membebaskan penonton untuk melihat apa yang ingin dilihat dari sebuah film atau konten digital lainnya.
Kamera pada umumnya, seperti kamera handphone akan mengambil gambar dalam bentuk foto atau video dengan luas 90 hingga 130 derajat. Visual yang disajikan adalah apa yang ada di hadapan yang memotret atau merekamnya.
Dalam konteks penyajian realitas, gambar atau visual yang dihasilkan akan menyajikan realitas secara tidak lengkap, realitas yang terbatas. Maka untuk menghadirkan daya tarik, juru potretnya harus memilih realitas dengan komposisi dan sudut pandang yang terbaik.
Keterbatasan kamera untuk menghadirkan realitas apa adanya kemudian diatasi dengan hadirnya teknologi kamera 360.
Kemera 360 adalah kamera yang memiliki kemampuan menangkap citra dalam bentuk foto atau video dengan sudut 360 derajat. Semua arah dapat ditangkap oleh kamera ini secara bersamaan.
Memakai kamera 360, otomatis foto atau video yang diabadikan akan mencakup keseluruhan sisi dari titik dimana gambar diambil. Hal ini dimungkinkan karena kamera 360 memiliki dua atau lebih lensa yang aktif bersamaan merekam gambar.
Hasilnya jika dinikmati begitu saja seperti bikin pusing. Tanpa gadget atau aplikasi khusus, hasil rekaman kamera 360 memang tak bisa dinikmati secara sempurna.
Google Street View adalah salah satu contoh yang paling lazim dan tidak asing bagaimana hasil rekaman kamera 360 disajikan untuk publik.
Ketika masa pandemi, disaat mobilitas masyarakat dibatasi muncul banyak tawaran virtual tour. Beberapa paket virtual tour diambil dengan kamera 360. Dengan bantuan aplikasi Google Tour, gambar atau video yang diambil dengan kamera 360 bisa dinikmati dilayar gadget seperti layaknya kita hadir di tempat itu.
Di dunia music tanah air pada tahun 2020 lalu juga mulai disajikan konser yang direkam dan disiarkan dengan kamera 360. Konser bertajuk BOLD Music Virtual Xperience adalah salah satunya.
Ketika konser ini disiarkan melalui televisi memang menyajikan pengalaman menonton pertunjukan musik dengan sajian gambar yang berbeda. Menarik namun masih terasa agak ganjil dan membingungkan.
Pada dasarnya gambar atau video yang dihasilkan oleh kamera 360 untuk dapat dinikmati secara sempurna memang mesti disaksikan dengan perangkat Virtual Reality.
Atau gadget lain yang compatible atau mendukung ARCore seperti halnya yang disajikan melalui Google Street View atau Google Tour.
BACA JUGA : Gereja Unifikasi Di Balik Kematian Shinzo Abe
“Ini pengalaman pertama saya menyaksikan film dokumenter dengan VR, keren,” ujar Kahar Al Bahri yang akrab disapa oleh teman-temannya dengan panggilan Ocha.
Sebenarnya Ocha mengungkapkan kekagumannya dengan umpatan.
Hasil rekaman teknologi kamera 360 yang kemudian disaksikan lewat perangkat VR membuatnya melihat dan merasakan pengalaman baru atas isu yang tidak asing baginya, isu yang sejak lama digelutinya hingga sekarang.
Saya dan beberapa teman lainnya juga turut menyaksikan dan merasakan hal yang sama atas pemaran hasil penelitian kolaboratif Gold and Coal.
Apa yang disajikan di Kedai Orca, KS. Tubun pada hari Selasa, 19 Juli 2022 memang tidak selengkap pameran serupa yang dilaksanakan di Papua dan Yogyakarta.
Hasil yang disajikan di Samarinda hanyalah sebagian yakni rangkaian film dokumenter dan komposisi bunyi. Padahal Gold and Coal, sebagai sebuah karya kolaborasi juga menghasilkan komposisi gerak dan komposisi set/instalasi.
Namun karena keterbatasan ruang, waktu dan personel, kesemuanya tidak bisa dihadirkan di Samarinda.
Dua pengkarya yang hadir adalah Daniel Kotter, movie maker dari Jerman dan Ikbal Lubys, dari Yogyakarta, seorang ekplolator suara yang piawai memainkan gitar.
Daniel menyajikan filmnya yang direkam di beberapa titik wilayah pertambangan batubara di Leipzig, Jerman dan pertambangan emas di wilayah sekitar area pertambangan PT. Freeport, Papua.
Sedangkan Ikbal menyajikan komposisi suara yang dihasilkan oleh perangkat untuk mengayak emas dari limbah tailing buangan PT. Freeport. Suara dihasilkan dari benturan pasir dan krikil pada kawat yang terbentang pada bidang bawah saringan.
Sajian film yang merekam lanskap dan dinamika di Papua dan Leipzig lewat teknologi VR serta penampilan Ikbal mengekplorasi suara yang diintepretasi dari laku para penambang emas di limbah buangan PT Freeport memberi dan meninggalkan kesan, impresi yang mendalam atas bagaimana industri ektraksi bekerja.
Sebagai medium karya lintas disipliner ini memang mampu menghadirkan realitas dan membawa pembelajaran yang imersif. Sayangnya memang punya keterbatasan yang membuat tidak mudah untuk menjangkau masyarakat secara massal.
Menghadirkan keseluruhan pengkarya dan hasil karyanya pastilah tidak murah, pun waktu atau kesempatan yang tersedia juga tidak selalu ada.
Untuk menyaksikan filmnya saja diperlukan peralatan VR dan perlengkapan lainnya seperti headset dan drive pemutar yang jumlahnya cukup banyak. Belum lagi kursi yang nyaman yang bisa berputar 360 derajat agar yang menyaksikan bebas memilih sudut pandangnya.
Di tambah dengan karya lain dalam bentuk performance gerak, performance ekplorasi suara dan juga instalasi atau set lainnya jelas butuh ruang yang cukup dan memadai.
Namun dengan segala keterbatasan apa yang dihadirkan dalam pameran Gold and Coal di Kedai Orca sudah cukup untuk membuka mata, bahwa ada cara berbeda untuk menghadirkan realita industri ekstraktif atas lanskap, wajah dan dinamika hidup masyarakat lokal.
Dan bicara soal Kalimantan Timur, Ocha menjamin bahwa kerja penelitan kolaboratif semacam ini pasti akan menghasilkan karya yang lebih hebat.
“Kaltim mempunyai bahan yang lebih lengkap karena punya sejarah panjang ekstraksi mulai dari migas, kayu, batubara, sawit dan kini akan mulai dengan penambangan bahan semen,” ujarnya.
BACA JUGA : Dor, Bisa di Amerika, Kejutan di Jepang dan Kesimpangsiuran di Indonesia
Menjawab pertanyaan tentang kenapa memilih emas di Papua dan batubara di Leipzig, Daniel Kotter menyadari perbandingan itu sekilas tidak pararel.
“Emas dan batubara tidak sama, namun pertambangan atasnya, juga ekploitasi sumber alam lainnya akan serupa karena sama-sama mempunyai dampak bagi bentang alam, lingkungan, masyarakat, ekonomi dan politik,” ujar Daniel.
Diterangkan juga olehnya bahwa proyek kolaboratif Gold and Coal adalah salah satu dari seri penelitian kolaboratif selain migas dan sawit.
Daniel Kotter juga menyebutkan bahwa ekploitasi sumberdaya alam oleh industri ekstraktif selalu menampilkan wajah kolonialisme dalam bentuk yang lain.
Wilayah yang kini ditambang oleh PT. Freeport sudah diincar sejak jaman Belanda, diperebutkan antara Belanda dan Amerika. Dengan dukungan Suharto, Freeport memulai operasinya selayaknya perang, kedatangannya disertai oleh tentara yang diterjunkan dengan parasut.
Sejak semula kedatangannya menakutkan untuk masyarakat lokal, masyarakat Suku Amugme, Komoro dan lainnya.
Ketika mulai beroperasi, masyarakat kehilangan segalanya, termasuk semua penanda atas lanskap alamnya. Nama-nama setempat tak lagi dikenal dan dipakai, muncullah nama Eastberg dan Grasberg, Tembaga Pura dan Kuala Kencana.
Tiba-tiba muncul modernitas dan kota modern di tengah belantara Papua. Masyarakat lokal hanya bisa menyaksikan dari kejauhan, mereka yang hidup nyaman dengan cara merampok kekayaan alam setempat.
Ekploitasi tembaga, emas, perak dan mineral ikutan lainnya telah membuat masyarakat Papua kehilangan hutan dan lahan sumber pangannya, kehilangan air yang bisa dikonsumsi secara langsung.
Gunung adalah susu ibu yang darinya akan mengalir air kehidupan. Kini airnya mengalir dalam bentuk banjir, bukan susu ibu melainkan susu coklat karena mengandung banyak lumpur dan berbahaya untuk kesehatan karena mengandung unsur-unsur kimia berbahaya dari sisa buangan pengolahan tembaga, emas dan lainnya.
Yang datang ke Papua bukan hanya investor yang menambang karena ijin dari pemerintah melainkan juga para penambang illegal yang mengais emas dari tailing sisa buangan PT. Freeport. Kehadirannya membawa kontras yang lain, munculnya kamp-kamp, permukiman sementara yang tidak tertata.
Koeksistensi masyarakat lokal dengan lingkungannya menjadi buyar, berantakan dan menyisakan pertanyaan kapan semua akan berakhir?
Perlawanan untuk mengakhirinya juga senyap, yang dilawan terlalu kuat. Masyarakat hanya bisa pasrah, mengeluh dan merasa sendiri menghadapi nasib buruknya. Tidaklah heran jika kemudian mereka menjadi susah untuk mencintai Indonesia.
Di Jerman, batubara merupakan komoditas penting pada masa keberadaan Jerman Timur. Di Leipzig, kehadiran tambang batubara menyingkirkan penduduk setempat, membuat mereka dimukimkan kembali pada permukiman yang seragam dan berbeda suasana dengan yang sebelumnya.
Ada yang mensyukuri tetapi ada juga yang meratapi. Beberapa beranggapan bahwa kehilangan itu sepadan karena menghasilkan pendapatan yang lebih baik.
Tambang kemudian kebanyakan dihentikan operasinya setelah unifikasi Jerman. Ada banyak kelompok yang bersuara untuk penutupan tambang openpit.
Bekas tambang kemudian dinaturalisasi, menjadi permukiman dan lanskap yang digemari oleh orang kota dan turis. Namun tetap saja lanskapnya tak akan bisa dipulihkan, tambang selalu meninggalkan defisit material, karena ada material penyusun lanskap yang hilang. Tambang terbuka pasti akan meninggalkan lubang besar.
Buat mereka yang tidak punya hubungan dengan lanskap itu di masa lalu, bukan merupakan bagian dari masyarakat setempat akan memandang danau buatan dari bekas tambang sebagai sebuah keindahan baru, ekosistem buatan yang nyaman.
Namun untuk mereka yang peduli, lubang berair itu adalah monumen defisit material yang tumbuh dari keserakahan dan perampokan atas sumber dan ruang hidup masyarakat setempat yang kemudian dipaksa untuk merubah cara hidup dan masa depannya.
Di Kalimantan Timur sebagaian masyarakatnya berpesta atas operasi industri ekstraktif baik yang legal maupun illegal. Sementara sebagian lainnya tengah berjuang untuk mempertahankan keberlanjutan masa depan hidupnya dengan meng-ada bersama dengan lingkungan dan sumberalam hayatinya.
Ada banyak konflik kepentingan, antara mempertahankan lanskap alam atau mengekpoitasinya habis-habisan. Hanya saja masyarakat setempat selalu berada dalam posisi lemah, terjepit ditengah pertarungan kepentingan, menjadi serba salah.
Situasi yang kemudian selalu memunculkan para pencari keuntungan, mengambil dari kanan dan juga kiri yang membuat masyarakat menjadi makin frustasi.
Perlawanan ibarat menghantam tembok, suara keras ditelan oleh deru angin lautan, terpeleset dalam bertindak salah-salah bisa masuk bui.
Tapi pada akhirnya semua baik yang beruntung, mengambil untung maupun yang dirugikan sama-sama menikmati banjir, kelebihan air di musim hujan dan kekurangan air di musim kemarau serta air yang buruk sepanjang musim.
Belum lagi suhu yang makin panas dan debu yang berhamburan dari jalanan bahkan dari jalanan yang disemen mulus saat terpapar panas berhari-hari.
Dan karena kelembaban yang menurun akibat hilangan tutupan vegetasi di lahan yang luas, ancaman kebakaran lahan selalu menjadi resiko yang mesti ditanggung oleh semuanya.
Dan di salah satu bagian dari bentang alam yang paling berantakan akan berdiri Ibu Kota Negara baru Republik Indonesia. IKN yang bernama Nusantara akan menjadi monumen baru betapa negeri ini dibangun dengan cara mengekpolitasi sumber dan kekayaannya secara brutal.
note : tentang Gold and Coal bisa dibaca di tautan ini IKBALLUBYS








