KESAH.ID – Salah satu dosa sejarah terbesar adalah cita-cita menjadikan satu dunia sebagai satu dalam segala-galanya. Termasuk diantaranya adalah satu agama. Namun cita-cita unifikasi itu selalu ada walau tak pernah ada bukti yang menunjukkan bahwa cita-cita itu benar bisa terwujud.
Sewaktu tinggal di Manado, saya beberapa kali menemukan kehebohan. Jalanan macet karena kerumunan orang yang datang silih berganti, terlihat dari jauh mereka yang datang kemudian khusyuk berdoa. Nyala pendar lilin ada di mana-mana.
Awalnya saya mengira ada yang meninggal. Tapi setelah kasak-kusuk sana-sini kemudian saya mendapat informasi bahwa di tempat itu ada ‘penampakan’.
Tumbuh dalam ajaran dan tradisi Katolik, saya segera tahu bahwa yang disebut dengan penampakan berarti ada seseorang yang melihat dengan kasat mata kemunculan atau tanda yang memperlihatkan wajah, sosok Tuhan Yesus atau orang kudus lainnya, yang paling sering adalah Bunda Maria.
Waktu itu yang bikin heboh adalah kemunculan tanda yang memperlihatkan wajah Yesus di dinding rumah dan dinding gereja. Sementara tanda lain adalah patung Bunda Maria yang mengeluarkan air mata.
Mendengar kabar seperti itu saya tidak terlalu antusias, lalu bergegas ikut dalam kerumunan untuk turut melihat dan kemudian berdoa sambil berharap ada mukjizat. Saya selow aja menanggapinya, bersyukur andai semua itu bisa membuat orang menjadi semakin beriman dan saleh.
Tapi tetap saja saya tak mau begitu saja percaya, harus tetap skeptis agar tak jatuh dalam model beriman yang buta.
Secara pribadi saya meyakini bahwa penampakan Tuhan atau orang kudus, malaikat dan lainnya secara kasat mata sudah berhenti, finis. Apa yang kemudian terlihat atau merasa dilihat pada masa kini mesti dinilai dengan dalam atau diuji.
Buat saya, Tuhan, orang kudus dan malaikat adalah istimewa, sangat istimewa. Jika kehadiran atau penampakan tidak disertai dengan bukti keistimewaan itu maka tidak bermakna apa-apa. Percaya boleh saja tapi itu belum tentu merupakan kepercayaan yang benar.
Dalam tradisi dan ajaran Gereja Katolik memang dikenal istilah penampakan. Setiap tanggal 6 Januari dalam kalender liturgi gereja akan dirayakan Hari Raya Penampakan Tuhan atau Epifani. Perayaan ini bertujuan untuk merayakan pernyataan dan perwujudan kehadiran Tuhan di tengah umat dan dunia ini.
Apakah pernyataan dan perwujudan kehadiran Tuhan itu ekplisit, kasat mata?. Menurut saya tidak.
Tuhan hadir dan mewujud secara rohaniah. Wajah atau kehadirannya ditemukan dalam pengalaman hidup, perjumpaan dengan orang lain, peristiwa-peristiwa. Tuhan ada dalam pengalaman kita, disadari maupun tidak disadari.
Doa, laku rohani, puasa, ziarah, devosi dan lainnya adalah jalan untuk menyadari betapa Tuhan hadir dalam seluruh kehidupan kita. Dalam proses atau perjalanan hidup itu kita akan menemukan pengalaman kehadiran, campur tangan dan penampakan Tuhan, bukti keberadaanNYA tanpa Dia harus menampakkan ujud dan wajahNYA.
Tradisi, ajaran dan Kitab Suci memang mencatatkan kemunculan secara ekplisit, kasat mata dari Yesus yang bangkit setelah kematianNYA. DIA menampakkan diri kepada Maria, ibuNYA, juga Maria Magdalena dan Maria lainnya serta perempuan lain dan para muridNYA.
Namun setelah itu Yesus diangkat ke surga dengan mulia dan tak menampakkan diriNYA lagi.
Setelahnya ada banyak kisah dan cerita tentang penampakan dan tanda-tanda yang merujuk pada kemunculan Yesus secara kasat mata. Baik menampakkan diri pada seseorang maupun sekelompok orang.
Kisah yang bisa jadi merupakan peristiwa iman bagi banyak orang, namun sekali lagi, saya tak mengimaninya, sebab kisah-kisah atau cerita itu tidak diakui atau diterima sebagai ajaran resmi oleh otoritas gerejani.
BACA JUGA : Dor, Biasa di Amerika, Kejutan di Jepang dan Kesimpangsiuran di Indonesia
Meski tak semistik orang Katolik, orang Protestan juga memberi tempat yang istimewa terhadap mukjizat dan penampakan. Soal mukjizat, di beberapa denominasi gereja protestan bahkan sering diadakan kebaktian-kebaktian penyembuhan. Disana ada banyak cerita tentang mukjizat, seperti orang sakit disembuhkan, masalah diatasi dan lain sebagainya.
Dalam lingkungan gereja Protestan juga kerap muncul sosok-sosok yang mengklaim telah melihat penampakan, mengalami visioning, bertemu dengan Tuhan, berbincang dan mendapat pewahyuan sehingga melahirkan sekte, kelompok atau aliran baru.
Salah satu sosok yang kemudian kembali diperbincangkan karena disebut sebagai penyebab yang mendorong Tetsuya Yamagami menembak Shinzo Abe, bekas Perdana Menteri Jepang baru-baru. Sosok itu adalah Sun Myung Moon.
Yamagami menembak Shinzo Abe karena menganggap Shinzo adalah salah satu pendukung berkembangnya Gereja Unifikasi yang didirikan oleh Moon. Gereja ini mempunyai pengikut yang sangat banyak di Jepang, salah satunya adalah ibu dari Tetsuya Yamagami.
Menjadi pengikut yang taat, ibu Tetsuya Yamagami kemudian mendonasikan kekayaannya pada Gereja Unifikasi untuk mendukung karya misionernya. Tetsuya Yamagami marah dan sakit hati. Dia merasa Gereja Unifikasi membuat ibunya bangkrut.
Sun Myung Moon, pendiri Gereja Unifikasi lahir di wilayah yang sekarang berada di Korea Utara, pada tahun 1920. Ketika kecil Moon beserta keluarganya menjadi Kristen bergabung dengan Gereja Presbyterian.
Dia tumbuh menjadi seorang Kristen yang saleh dan bahagia. Ketika remaja Moon mengaku mengalami penglihatan, mimpi yang olehnya dianggap sebagai perjumpaan dengan Yesus. Dalam penglihatan itu Moon mengaku diurapi oleh Yesus dan diberi mandat untuk meneruskan tugas Yesus yang belum selesai. Oleh Yesus, Moon diangkat menjadi Messias dan orang tua untuk semua bangsa.
Cerita Moon ini tentu saja dianggap sebagai bentuk kesesatan. Moon dikeluarkan dari Gereja Presbyterian. Tapi Moon tetap bertahan pada visinya, pada apa yang diyakini sebagai pertemuannya dengan Yesus.
Dan pada umur 30-an, Sun Myung Moon kemudian mendeklarasikan gerakan keagamaan baru yang disebut sebagai Gereja Unifikasi. Sebuah gereja yang mempunyai intepretasi berbeda terhadap Alkitab dibanding dengan gereja lain pada umumnya.
Moon tidak mengakui doktrin utama Kekristenan yakni Trinitas. Bagi Moon yang kemudian memformulasi ajaran-ajaran Gereja Unifikasi, Yesus bukanlah Tuhan melainkan salah satu dari 3 Adam yang telah diturunkan oleh Tuhan ke bumi.
Ajaran Moon tentang Tuhan didasarkan pada ekpresi Tuhan pada kehidupan di bumi. Menurutnya Tuhan mewujud dalam dua hal yakni Sung Sang atau sebab dan Hyung Sang atau akibat. Sebab berwatak maskulin, dan akibat berwatak feminim.
Bentuk nyata dari sebab dan akibat itu adalah Adam dan Hawa. Kebersamaan antara Adam dan Hawa menjadi ekpresi cinta Tuhan, tujuan penciptaan agar laki-laki dan perempuan saling melengkapi, hidup bersama, mengalami kesenangan dan kebahagiaan dalam nama cinta.
Maka menjadi Kristen dalam konteks Gereja Unifikasi adalah laki-laki dan perempuan yang berpasangan, saling mencintai, berbagi kasih untuk kemudian membagikan kasihnya kepada dunia yang lebih luas. Dengan demikian Gereja Unifikasi sangat mengagungkan kehidupan keluarga.
Kenapa Moon kemudian mendapat mandat untuk meneruskan karya penciptaan Tuhan di dunia?.
Menurutnya Adam yang pertama gagal. Setelah diberi pasangan yakni Hawa, mereka justru jatuh ke dalam dosa. Keberdosaan yang kemudian menggagalkan rencana dan karya penciptaan Tuhan.
Kemudian Tuhan mengutus Adam yang kedua, yakni Yesus. Lagi-lagi Yesus gagal mewujudkan ekpresi penciptaan dan karya Tuhan karena sampai akhir hayatnya, Yesus tidak berpasangan.
Karena itu kemudian Tuhan menunjuk Sun Myung Moon untuk menjadi Adam yang ketiga, bapa semua bangsa.
Moon kemudian mengaku diri sebagai jelmaan Yesus, Adam berikutnya yang mempunyai tugas untuk menyatukan bukan hanya Korea Utara dan Korea Selatan, tetapi juga menyatukan bangsa-bangsa yang tercerai berai dan agama-agama yang terpecah belah.
Sun Myung Moon kemudian menamai aliran keagamaannya sebagai Gereja Unifikasi, karena tugas perutusannya adalah menyatukan semuanya atas nama cinta dan kasih Tuhan.
BACA JUGA : Bonge, Jeje, Roy ‘Aktivis’ SCBD Fashion Week
Karena aliran ini lahir di Korea maka sering disebut sebagai Gereja Korea. Namun karena ketokohan Sun Myung Moon yang sangat sentral maka Gereja Unifikasi sering juga disebut sebagai Gereja Moon.
Gereja ini kemudian tumbuh dengan pesat bukan hanya di Korea melainkan juga di Taiwan, Amerika dan Jepang.
Di Amerika misalnya, Gereja Moon mempunyai harian yang terkemuka yakni The Washington Times. Memang tak sebesar The Washington Post, namun tetap terpandang dan bergengsi.
Sedangkan di Korea, selain dikenal sebagai tokoh agama, Sun Myung Moon juga dikenal sebagai bisnisman yang sukses, Moon merupakan salah satu konglomerat ternama di Korea.
Dengan kekayaan, media yang kuat dan pengikut yang taat, Moon kemudian berhasil mencengkeramkan pengaruh pada tokoh-tokoh politik baik di Korea maupun Jepang. Akses dan lobi politiknya konon dipercaya turut mengemukkan pundi-pundi kekayaan gerejanya.
Dengan kekayaan itu Gereja Unifikasi mampu mempunyai petugas misionaris untuk memperluas dan memperlebar pengaruhnya sehingga semakin banyak orang bergabung menjadi jemaatnya.
Di Korea sendiri yang awalnya merupakan negara dengan penganut Budha, lama kelamaan menjadi Negeri Kristen. Sun Myung Moon dengan Gereja Unifikasinya salah satu yang punya jasa besar untuk perubahan itu, tentu saja juga karena Gereja Gereja Korea lainnya.
Sun Myung Moon sendiri kemudian meninggal di tahun 2012 dalam usia 92 tahun. Usai wafatnya, Gereja Unifikasi mulai meredup, pengikutnya turun dengan drastis karena kehilangan tokoh sentralnya yang karismatis, tokoh yang diyakini sebagai jelmaan Yesus, nabi oleh para pengikutnya.
Meski demikian pengikutnya di Jepang masih banyak, ajarannya nampaknya cocok dengan orang Jepang. Seperti diketahui orang Jepang memang suka mencampuradukkan berbagai keyakinan, mengabung-gabungkan antara keyakinan tradisional, budhisme, sinto dan kekristenan. Dan kegemaran ini ditemukan dalam ajaran Gereja Unifikasi.
Dan ibu Tetsuya Yamagami adalah salah satunya. Terpesona dengan ajaran Gereja Unifikasi, tanpa ragu semua kekayaannya diserahkan untuk gereja.
Dan Tetsuya yang keluar dari dinas ketentaraan angkatan laut Jepang dengan pangkat rendah, lalu bekerja sebagai operator Forklift kemudian merasa hidupnya semakin susah karena ibunya tak punya apa-apa lagi di dunia ini, semua telah dipersembahkan untuk gereja demi kemulyaan Tuhan.
Derita dunia ini kemudian membuat Tetsuya Yamagami berniat membunuh para tokoh Gereja Moon, namun karena tak ditemukan yang tepat maka sasaran kemudian dialihkan kepada Shinzo Abe, tokoh politik yang pernah menduduki jabatan perdana menteri selama 9 tahun. Shinzo dianggap bertanggungjawab karena memberi angin bagi berkembangnya Gereja Unifikasi di Jepang.
Kisah tentang aliran, gerakan atau kelompok keagamaan yang getol mendorong pengikutnya untuk menyumbangkan kekayaan tentu saja tidak hanya khas pada Gereja Unifikasi. Tokoh yang karismatis dan mampu mengerakkan jemaahnya untuk menyumbang bukan hanya dikala berkelebihan juga bukan hanya Sun Myung Moon. Ada banyak di dunia termasuk di Indonesia.
Dan tentu saja orang yang sakit hati, kecewa atau frustasi karena keluarga, sanak saudara kehilangan semua kekayaannya untuk berderma juga bukan hanya Tetsuya Takagami. Pun yang kemudian bertindak, mengungkapkan rasa itu juga banyak.
Tapi yang kemudian merakit senjata api dan menembakkannya pada bekas perdana menteri mungkin hanya satu. Dan semoga tidak ditiru.
note : sumber gambar – CNNINDONESIA.COM








