KESAH.ID – Jangan sepelekan jalanan, karena dari sana sering muncul kekuatan untuk melahirkan perubahan. Street food atau gerai makanan jalanan telah menjadi salah satu urat nadi perekonomian perkotaan. Dan street fashion akan segera menyusulnya. 

Orang Amerika dan mereka yang merantau ke sana mempunyai impian yang sama yakni American Dream. Mimpi Orang Amerika adalah sebuah kepercayaan bahwa kerja keras, pengorbanan dan kebulatan tekat tanpa melihat status atau latar belakang sosial dapat terwujud lewat kehidupan yang lebih baik.

Hal seperti itu bisa diwujudkan di Amerika karena disana ada kebebasan untuk memperoleh kemakmuran dan kesuksesan.

Adalah James Truslow {1931} yang pertama kali menyatakan bahwa setiap orang Amerika, warga negara Amerika dari berbagai tingkatan kelas atau kasta merasa bahwa mereka dapat memperoleh kehidupan yang lebih baik, aman, nyaman, mapan dan bahagia.

Truslow mengatakan bahwa semua manusia diciptakan sama, diberkahi oleh hak yang sama yakni kehidupan, kemerdekaan, kebebasan dan mencari kebahagiaan.

From zero to hero, from nobody to somebody menjadi credo lain dari American Dream. Tanpa membedakan latar belakang kelas, agama, etnis, budaya dan lainnya di Amerika ada banyak kisah tentang kepahlawanan dan kesuksesan, siapapun bisa jadi pahlawan, siapapun bisa menjadi seseorang.

Berbeda dengan orang Amerika, Mimpi Orang Indonesia lebih bersifat sosial komunal. Yang diimpikan adalah kesejahteraan bersama, masyarakat adil dan makmur. Mimpi Orang Indonesia adalah menjadi berarti untuk bangsa, negara, agama, masyarakat dan keluarga.

Namun Mimpi Orang Indonesia itu kemudian pudar dan tertular dengan Mimpi Orang Amerika ketika mulai banyak orang menjadi motivator, mengelorakan semangat untuk menjadi orang sukses. Yang disebut sebagai orang sukses adalah pribadi yang kaya, orang yang aman secara keuangan.

Citra Mimpi ‘Baru’ Orang Indonesia itu kemudian diwakili oleh ‘Mbak-Mbak dan Mas-Mas SCBD’. Istilah ini merujuk pada para karyawan yang bekerja di kawasan Sudirman Central Bussines District {SCBD} yang dalam kesehariaannya doyan memakai pakaian dan aksesories yang mewah.

Citra sukses yang paling mudah dikenali memang gaya, tampil maksimal di hadapan orang lain dalam balutan outfit bermerek.

SCBD sendiri merupakan kawasan bisnis ternama di Jakarta yang ditandai dengan jajaran gedung-gedung bertingkat dan mewah.

Bekerja di kawasan ini tentu saja melambangkan sebuah kesuksesan.

Tapi benarkah bekerja di kawasan yang terletak di Jalan Sudirman dan Thamrin ini selalu bergaji tinggi?.

Tidak juga, yang terjadi justru tuntutan tinggi, tampil penuh gaya sebagai bentuk signaling, mengirim tanda pada orang lain tentang betapa bergengsinya kawasan itu.

Tidak sedikit kisah yang menceritakan betapa Mbak-Mbak dan Mas-Mas SCBD kemudian terjerat ‘Utang Konsumtif’. Sebab tampilan dan gaya hidup mewah memang bakal menguras kantong.  Ambil contoh untuk rehat ngopi saja mereka mesti nongkrong di café tertentu yang harga segelasnya antara 50 hingga 100 ribu rupiah.

Hanya untuk kopi saja sebulannya bisa mencapai angka jutaan rupiah.

Tentu saja gaya semacam ini bukan hanya eklusif milik Mbak-Mbak dan Mas-Mas SCBD saja. Watak ini menjadi watak umum bagi warga internet yang kemudian dikenal lewat istilah flexing atau pamer kekayaan, kesuksesan.

Berlawanan dengan jaman dahulu, jaman ketika orang berusaha menyembunyikan atau menyamarkan kekayaan, di jaman media sosial, orang justru ramai-ramai pamer kekayaan dan kemewahan bahkan ketika mereka sesungguhnya tidak benar-benar kaya.

BACA JUGA : Non Profit Tapi Banyak Benefit 

Beberapa waktu belakangan ini SCBD tidak lagi dikenal sebagai Sudirman Central Bussines Distict melainkan menjadi Sudirman Citayam Bojongede Depok. Sebutan ini muncul  lantaran kawasan ini kemudian menjadi lokasi nongkrong sambil bergaya oleh anak-anak muda pinggiran Kota Jakarta.

Setiap hari terutama di akhir pekan, kawasan sekitar Taman RMT BNI Dukuh Atas hingga Terowongan Kendal diokupasi oleh remaja untuk nongkrong dan bergaya dengan pakaian serta dandanan yang serba unik. Tampilan mereka yang bukan sosialita namun bergaya ala fashionista kemudian dijuluki sebagai Citayam Fashion Week.

Kenapa Citayam?.

Bagi para pemakai kereta komuter Jakarta – Bogor pasti tak asing dengan Citayam. Disini lautan manusia yang menaiki kereta dari Jakarta sebagian besar akan turun, setelah sebelumnya sebagian kecil turun di Depok. Dan sebagian lainnya akan turun di Bojonggede dan terakhir di Bogor.

Citayam adalah permukiman padat yang berada di pinggiran kota Depok dan berbatasan langsung dengan Kabupaten Bogor. Akses ke Jakarta relatif mudah dan cepat lewat Tol Jagorawi dan Jalur Kereta Komuter.

Menopang kehidupan Ibukota, di Citayam tumbuh perumahan-perumahan yang melirik pembeli kelas menengah ke bawah. Kompleks perumahan itu umumnya berada disekitar stasiun kereta komuter yang akan mengantar penghuninya dengan cepat menuju tempat kerjanya di Jakarta.

Cerita di Citayam adalah kerja dan berkarir di Jakarta.

Tak asing dengan cerita ibukota kemudian membuat anak-anak remaja Citayam yang gabut memilih Jakarta menjadi tempat nongkrong. Tentu bukan di kafe atau kedai-kedai kekinian di Kemang, Senopati atau yang lainnya, nongkrong disana jelas butuh modal besar.

Ruang publik kemudian menjadi pilihan dan dipilihlah lokasi yang tak jauh dari moda transportasi mereka yakni kereta komuter.

Lokasi sekitar stasiun kereta yang paling dekat dengan SCBD, kawasan terkeren di Jakarta kemudian menjadi pilihan. Nongkrong di kawasan elit namun tak perlu dompet yang tebal, yang penting cukup untuk membeli makanan dan minuman instan ala penjual Starling ‘Starbak Keliling’.

Dengan dandanan yang unik dan nyentrik, merekapun mulai bikin konten. Menunjukkan eksistensi mereka bahwa modal pas-pasan pun bisa bergaya.

Di akhir pekan jumlahnya bisa ratusan, membuat pedagang Starling senyumnya menyungging karena bisa pulang membawa keuntungan ratusan ribu. Memang belum cukup untuk investasi kripto, namun sekurangnya bisa membuat tidur malam jadi nyenyak.

Kemunculan ‘Komunitas Citayam’ di jantung bisnis ibukota awalnya memang menganggu. Mbak-Mbak dan Mas-Mas SCBD yang keren-keren tentu saja menjadi risih. Kawasannya dicemari oleh penampilan yang tidak mencerminkan kelas finansial ala SCBD.

Buat sebagian besar orang memang terlihat keanehan. Anak-anak muda yang berpenampilan alay dan cas-cis-cus sekenanya seperti mahkluk dari dunia lain.

Tapi kontroversi inilah yang kemudian menarik perhatian. Para selebgram dan konten kreator yang jeli kemudian melihat hal ini, kehadiran anak-anak alay di SCBD menjadi ‘ladang konten’.

Bagi para konten kreator, kontroversi menjadi penting karena ini merupakan salah satu syarat untuk menjadi viral.

Kehadiran anak-anak Citayam di SCBD secara tidak langsung dan tak sengaja merupakan bentuk ‘perlawanan kelas’. Budaya nongkrong anak-anak Jakarta diwakili oleh anak-anak Jaksel yang menjadikan Hollywing sebagai katedralnya.

Nongkrong untuk anak-anak berlabel Jaksel merupakan pintu karir, karena dengan nongkrong kemungkinan akan bertemu para pesohor, berfoto, mengunggah story atau reels bersama mereka akan meningkatkan jumlah follower. Follower meningkat adalah jalan untuk menjadi influencer atau selebgram, konten kreator ternama yang akan kebanjiran order dan endorsement.

Bikin konten dengan anak-anak Jaksel mungkin sudah menjadi mainstreams, sulit meledak. Maka anak-anak Citayam apapun kata orang, entah alay, norak atau memalukan, menjadi penting untuk mendongkrak viewer.

Kolaborasi antara para konten kreator dan anak-anak nongkrong yang tak tentu arah itu kemudian memang viral. SCBD kemudian menjadi panggung fashion jalanan, tempat anak-anak Citayam menunjukkan outfit mereka.

Muncullah istilah Citayam Fashion Week, gelaran gaya fashion jalanan yang aksesoriesnya dengan mudah ditemukan di marketplace.

BACA JUGA : Dari Pertamina Ke Pertamini

Berbagai konten di media sosial kemudian viral, muncul sosialita dan fashionista yang modal jajannya antara 5 hingga 10 ribuan, hasil racikan dari berbagai minuman sachetan instans yang disajikan dalam gelas plastik murahan.

Ada Bonge dan Roy, selebritas jalanan yang sibuk melayani permintaan foto sana-sini dan ajakan kolabs dari para konten kreator mapan. Ada pula Jeje, yang tampil stylis dan segera menjadi kiblat berbusana yang penuh gaya.

Viral di media sosial, SCBD tak lagi menjadi tongkrongan anak-anak Citayam. Anak-anak pinggiran Jakarta lainnya ikut bergabung, merayakan demokratisasi gaya di ruang publik paling ternama di Ibukota.

Komunitas fashion SCBD ini kemudian mendunia ketika akun twitter Tokyo Fashion memberi apresiasi. Media fashion Jepang ini memberi kredit positif atas aksi anak-anak remaja yang berdandan dan membuat jalanan menjadi layaknya catwalk.

Tokyo Fashion kemudian membandingkannya dengan kelahiran Street Fashion Harajuku yang juga muncul di kawasan sekitar Stasiun JR Harajuku, Distrik Shibuya, Tokyo.

Dalam tuturannya Tokyo Fashion menyebutkan bahwa Harajuku dulu juga dianggap nyeleneh dan tidak dihargai oleh masyarakat setempat.

Dan seiring dengan waktu Harajuku kemudian diterima bahkan kemudian menjadi salah satu kiblat street fashion yang punya pengemar di seluruh dunia.

Akankah komunitas fashion jalanan yang dimulai oleh anak-anak Citayam ini akan merubah dunia mode di Indonesia, seperti halnya Harajuku di Jepang?.

Kita belum tahu.

Jika dilihat dari gayanya yang kebanyakan menggunakan celana dan hodie oversize, atau berpakaian hitam-hitam ala Tik Tok yang disebut sebagai Cewek Mamba, sedangkan yang berpakaian warna warni disebut dengan Cewek Kue. Atau disebut dengan Cewek Bumi karena memakai baju dengan warna Earth Tone. Dan ada juga yang disebut dengan Cewek Peri karena menggunakan gaun, serta cewek-cewek yang menunjukkan pusar karena memakai baju Crop Tree.

Sedangkan cowoknya memakai dandanan ala metal, hip-hop, celana kotak-kotak, baju flannel dan lain sebagainya.

Jadi dilihat dari gayanya memang masih acak.

Meski begitu syarat pertama untuk melahirkan sebuah perubahan telah dipenuhi, SCBD telah menumbuhkan sebuah komunitas, komunitas anak muda yang suka bergaya dan menciptakan gaya.

Andai ekosistem ini tetap terjaga maka dari kawasan finansial dan bisnis terkenal di Jakarta kelak akan lahir aliran fashion jalanan yang akan merubah gaya berbusana di Indonesia dan mungkin juga dunia.

Citayam Fashion Week mungkin saja akan menjadi tempat pencarian bakat, ajang kreasi dan pertemuan para kreator sehingga untuk menjadi mendunia bakat-bakat muda dari Indonesia tak perlu flexing dan tipu-tipu hadir serta menjadi bagian dari Paris Fashion Week, New York Fashion Week dan lainnya.

Dan yang paling penting tak perlu menunggu sampai kaya untuk bergaya, apalagi hanya pura-pura kaya.

note : sumber gambar – KOMPAS.COM/CYNTHIA LOVA