KESAH.ID – Yang namanya uang selalu mengundang penyelewengan, apapun namanya. Dibungkus dengan nilai, norma maupun moralitas apa saja, uang tetaplah menggoda.

Pengemis yang hidupnya lebih baik dari kebanyakan orang yang memberi uang pada mereka jumlahnya tak sedikit.

Saya dulu pernah punya tetangga, seorang pengemis. Mungkin satu-satunya yang secara terbuka berprofesi sebagai pengemis di kampung saya.

Ketika saya mengenalnya, dia sudah tua.

Pagi-pagi sekali ketika kebanyakan orang masih bersiap-siap berangkat kerja dan ibu-ibu sibuk membangunkan anaknya untuk berangkat sekolah, tetangga saya ini sudah berangkat, berjalan melewati jalan raya menuju kota.

Tubuhnya agak membungkuk namun langkahnya cepat dengan kepala menunduk menghadap jalan, tidak menenggok kanan kiri untuk menebar tegur sapa.

Saya sendiri jarang ke kota, paling seminggu sekali dengan rute dari rumah menuju gereja pulang pergi. Sehingga saya tak pernah tahu dimana tempat mangkal tetangga saya yang pengemis itu.

Dan meski mengemis, dia bukan termasuk yang termiskin di kampung.

Rumahnya  memang tidak besar namun terbuat dari beton, penuh bukan setengah batu seperti kebanyakan rumah lainnya.

Pada masa itu masih banyak pula masyarakat yang rumahnya berdinding anyaman bambu dengan atap getepe {daun kelapa kering}.

Dengan demikian bisa dikatakan tetangga saya yang pengemis itu hidupnya lebih berada ketimbang kebanyakan tetangga yang lainnya.

Pengemis memang jamak dianggap miskin waktu melakukan pekerjaannya. Pertama tentu harus tampil bak orang berkekurangan karena kekuatan pengemis adalah memancing rasa iba.

Karena rasa iba orang yang melihatnya kemudian tergerak untuk memberi, kebanyakan uang receh.

Yang memberi menganggap itu hanya uang receh, tapi kalau banyak orang yang memberi recehan jika ditotal dalam sehari mungkin saja akan mendapat jauh berkali lipat dari mereka yang bekerja sebagai buruh tani atau buruh bangunan.

Jika beruntung, pengemis juga akan mendapat pemberian yang tidak sekadarnya. Sebab banyak diantara yang memberi atau bersedekah itu akan mendapat balasan berlipat-lipat nanti. Maka sedekahnya bukan hanya sekadarnya karena kalau hanya recehan diyakini bakal dibalas recehan pula.

BACA JUGA : Dari Pertamina Ke Pertamini

Sekitar awal tahun 2000-an, saya dan beberapa teman kerap kali mengajukan permintaan bantuan kepada lembaga-lembaga pengumpul bantuan sosial. Waktu itu kami berencana membantu para pengungsi akibat konflik di Maluku Utara yang kemudian menyingkir ke Sulawesi Utara.

Para pengungsi tersebar di berbagai tempat namun yang saya dan teman-teman kerap datangi berada di beberapa kamp pengungsian yang ada di Kota Manado dan Bitung.

Berkali-kali kami mendapat bantuan baik dalam bentuk barang maupun uang. Bantuan barang misalnya pakaian, obat-obatan dan bahan makanan.

Menyenangkan mendapat bantuan walau terkadang kami mesti menahan lapar dan haus saat menyalurkannya. Pemberi bantuan hanya memberikan barang dan ongkos angkut, tak ada tambahan dana untuk lain-lainnya.

Salah satu kamp pengungsian yang sering saya kunjungi adalah Pabrik Rotan. Pengungsi menempati eks pabrik yang sudah tidak beroperasi di Kota Bitung. Mereka tinggal di bilik-bilik yang disekat-sekat dengan bahan seadanya.

Ada banyak anak-anak disana. Ibu-ibu sering mengeluh karena anak-anaknya rewel saat jam tidur. Tanpa tempat tidur yang layak, anak-anak menjadi susah tidur, tidurnya tidak nyenyak.

Saya kemudian berinisiatif mengajukan bantuan, saat itu yang terkenal adalah Dana Kemanusiaan Kompas. Saya meminta bantuan tempat tidur yang terbuat dari kayu.

Dalam komunikasi dengan DKK mereka menyetujui rencana bantuan tempat tidur itu. Mereka meminta tempat tidur dibuar sendiri oleh pengungsi, sebab diantara mereka pasti ada yang tadinya berprofesi sebagai tukang kayu.

Dengan demikian bantuan tempat tidur bukan hanya membuat anak-anak akan tidur nyenyak melainkan juga turut memberdayakan tukang kayu, sehingga mereka memperoleh penghasilan walau di pengungsian.

Bantuan akhirnya disetujui, dana dikirimkan. Saya dan teman-teman diminta untuk memantau, mendokumentasikan dan mengirimkan laporan ke DKK.

Laporan bantuan biasanya akan dipublikasikan di Harian Kompas lewat rubrik khusus sebagai bentuk pertanggungjawaban kepada para penyumbang.

Berkali-kali kami bolak-balik Manado Bitung, kadang naik mobil angkutan umum tapi kadang ada teman yang berbaik hati meminjami mobil berikut sopir dan bensinnya.

Oleh DKK kami diwanti-wanti tidak boleh mengambil uang sepeserpun dari dana bantuan yang diberikan kepada para pengungsi.

Karena kerpa berhasil memperoleh bantuan oleh sebagian teman-teman, saya kemudian digelari sebagai Ketua Partai Pengemis.

Saya memang rajin meminta bantuan tapi tidak dengan menengadahkan tangan melainkan dengan tulisan dalam lembaran proposal. Namun ada juga tawaran bantuan yang datang sendiri, karena diberitahukan oleh mereka yang pernah memberi bantuan pada saya dan teman-teman.

Memang tak semua bantuan membuat saya dan teman-teman sengsara menahan lapar serta haus. Ada juga bantuan dalam bentuk program sehingga saya dan teman-teman beroleh imbalan dalam jumlah yang cukup. Cukup untuk seorang bujangan yang tidur di sekretariat sehingga tak perlu membayar kos-kosan.

BACA JUGA : Banteng Yang Murka

Ada banyak pengumpul dan penyalur bantuan, ada yang hanya mengumpulkan lalu menyalurkan lewat organ lainnya, namun ada juga yang mengumpulkan sekaligus menyalurkan.

Bentuknya juga bermacam-macam mulai dari perseorangan, gerombolan hingga lembaga atau institusi yang punya kantor dan perwakilan di seluruh negeri.

Apapun nama dan bentuknya semua mengusung slogan non profit alias tidak cari untung.

Apapun slogannya, namun jika sebuah entitas menjadi besar maka ada banyak kemestian yang harus dipenuhi. Harus punya fasilitas yang tentu saja butuh pembiayaan rutin, roda organisasi juga harus dijalankan oleh mereka yang bekerja penuh waktu dan harus ada struktur tertentu untuk menjaga visi dan misi organisasi.

Semua itu butuh biaya besar, maka diperlukan branding, iklan, kampanye atau apapun yang juga menuntut biaya.

Pada akhirnya sumbangan atau bantuan akan lebih banyak yang dihabiskan untuk menjalankan roda organisasi ketimbang yang dibelanjakan langsung kepada penerima bantuan.

Dengan label non profit, pengelolaan sumbangan kemanusian, sumbangan sosial dan lain-lain kemudian cenderung tidak transparan, tidak banyak yang mengkritisi. Jika ada yang usil bertanya malah bakal diserang atau dianggap tidak sopan.

Padahal bukan sekali dua kali telah terbukti bahwa mereka yang mengusung bendera non profit ternyata mengeruk benefit untuk diri mereka sendiri, untuk kelompoknya bukan demi memberdayakan atau menolong masyarakat yang ‘dijual’ untuk mendapatkan dana dari masyarakat atau pihak lainnya.

Saya tidak tahu persis sebesar apa organizational fee yang dipunggut oleh sebuah organisasi sehingga mampu menggaji para petingginya hingga ratusan juta, memberi fasilitas kendaraan mewah dan lainnya.

Patut disadari bahwa potensi donasi dari masyarakat di Indonesia sangatlah besar. Jika efektif dana yang dikumpulkan mungkin berjumlah ratusan trilyun. Jumlah yang cukup untuk membuat aksi kemanusiaan yang significant.

Faktanya saat ini mungkin yang bisa dikumpulkan masih puluhan trilyun. Namun dengan jumlah sebesar itu saja sudah banyak yang ‘berfoya-foya’ dengan uang yang intensinya untuk bersedekah kepada mereka yang menderita, terpingggirkan dan hidup dalam muram durja.

UU Keterbukaan Informasi Publik mengisyaratkan kepada siapapun yang mengumpulkan dana publik untuk melakukan keterbukaan informasi dalam pengelolaan dananya. Tanpa diminta seharusnya aliran dananya dipublikasikan secara berkala.

Siapapun bahkan yang tidak menyumbang sekalipun berhak untuk bertanya atau mempertanyakan.

Berkilah dari keterbukaan dengan mengatakan “Jangan ikut campur pada dapur orang,” berarti dapurnya bermasalah.

Non profit memang tak cari untung, namun tak cari untung bukan berarti tidak banyak manfaatnya. Sayang benefit atau manfaat lebih banyak untuk diri sendiri atau kelompoknya.

Mengambil manfaat yang seharusnya diberikan kepada penerima manfaat dalam KUHP berarti korupsi. Dan ‘korupsi’ dengan label agama bukan hanya jahat tapi jahat sekali.

note : sumber gambar – BISNISMUDA.ID