KESAH.ID – Pandemi Covid 19 membuat masyarakat satu dunia menderita. Ketika angka reproduksi turun, pandemi berangsur menjadi endemi, masyarakat bersuka. Namun memasuki periode normal harapan untuk hidup yang lebih baik ternyata tidak segera bersinar, sesudah pandemi masyarakat di berbagai belahan dunia hidupnya justru makin sengsara.

Dalam teori manajemen konflik, pertentangan antar pihak kerap dianggap sebagai energi positif untuk melakukan perubahan. Konflik yang manifest sering mengantar pihak yang bertikai untuk tiba pada kesadaran bahwa konflik menghancurkan dan merugikan kedua belah pihak, menang kalah kemudian bukan menjadi pilihan.

Dengan demikian pilihan mengatasi konflik yang memenangkan kedua belah pihak akan menjadi jalan keluar, konflik kemudian mengantar pada konsensus baru.

Pun demikian halnya dengan manajemen krisis pada berbagai bidang kehidupan. Para perencana dan pelaku tertentu kerap kali merubah masalah menjadi peluang. Peluang untuk menghadirkan upaya baru demi menciptakan kondisi yang lebih baik.

Pandemi Covid 19 misalnya membuat masalah karena kebijakan pembatasan mobilitas. Berbagai hal mengalami kelesuan bahkan terpaksa dihentikan. Namun dibalik itu ada banyak peluang yang tumbuh, salah satunya adalah e-commerce. Kegiatan belanja secara online menjadi meningkat, pun demikian dengan layanan online lainnya juga mengalami pertumbuhan yang ekponensial.

Di Samarinda, konon ketika pandemi terjadi ledakan jumlah perusahaan penyedia alat kesehatan, jumlahnya 40 lebih. Semua berjualan alat kesehatan atau menjadi pemasok bagi proyek-proyek pemerintah karena sebagian besar anggaran belanja kemudian dialihkan untuk kesehatan masyarakat.

Dunia layanan hiburan dan permainan atau home entertainment juga berkembang pesat. Netflix salah satu penyedia layanan streaming film menjadi sangat dikenal dan menjadi teman setia bagi siapa saja yang sedang menjalani Work From Home.

Pandemi Covid 19 juga menjadi akselerator bagi adaptasi masyarakat terhadap uang digital, ecosystem cashless mendapatkan momentumnya. Uang fisik dianggap menjadi salah satu moda penularan Covid 19.

Dan yang paling fenomenal adalah munculnya para konten kreator yang mengendorse trading, masyarakat yang terbatas mobilitasnya dan berkurang pendapatannya kemudian memperoleh iming-iming untuk menghasilkan uang sambil rebahan. Rebahan tapi bisa jadi sultan.

Pendek kata semua yang berbau digital kemudian mengalami ledakan, masyarakat kemudian fasih bicara soal aset digital, kripto, token, metaverse dan lain-lain. Ada banyak dirupsi yang terjadi termasuk dalam dunia pendidikan lewat belajar online dan kemunculan banyak aplikasi edutech serta mass online course.

Ada banyak startup yang berkembang pesat tanpa burning rate yang tinggi, menjadikan para founder-nya seolah-olah CEO yang mumpuni.

Meski pergerakan dunia seolah melambat karena ada pembatasan mobilitas namun kehidupan nampaknya berputar dengan cepat, ada perubahan-perubahan besar di masa pandemi yang seolah menghadirkan masa depan baru untuk kehidupan manusia.

BACA JUGA : Merasakan Kutuk ‘Gold and Coal’ Lewat Teknologi VR

Pembatasan mobilitas di masa pandemi tentu saja melemahkan ekonomi. Ada banyak kegiatan ekonomi yang tidak bisa berjalan sebagai mana mestinya. Walau ada beberapa peluang ekonomi baru yang tumbuh tapi tak bisa dipungkiri ada banyak peluang ekonomi lainnya yang mesti terhenti, tak bisa beroperasi.

Sebagian besar masyarakat kemudian akan berkurang pendapatannya sehingga kemampuan atau daya beli terutama untuk konsumsi dan kebutuhan dasar lainnya menjadi menurun.

Pemerintah dimanapun kemudian akan melakukan serangkaian kebijakan, baik fiskal maupun moneter lewat kebijakan-kebijakan seperti bantuan langsung, pemotongan atau insentif pajak, koreksi suku bunga acuan dan lain-lain.

Besarnya uang yang digelontorkan lewat serangkaian kebijakan untuk menyelamatkan ekonomi rakyat tanpa dibarengi dengan peningkatan produksi atau aktivitas ekonomi tentu saja akan membuat jumlah uang yang beredar menjadi sangat besar. Situasi ini kemudian akan melahirkan inflasi, kenaikan berbagai harga atau jasa karena ketersediaannya menurun dibanding dengan jumlah uang yang beredar.

Beberapa negara kemudian berada diambang kehancuran ekonomi, bahkan kemudian ada yang tumbang, salah satunya Sri Lanka.

Namun ada juga negara yang kemudian memanfaatkan kondisi ini, tidak berupaya untuk menekan inflasi melainkan menunganginya demi mengenjot pertumbuhan lewat sektor pariwisata bagi turis mancanegara.

Negera itu adalah Turki.

Recep Tayyip Erdogan, pemimpin Turki memang bersinar semenjak menjadi Walikota Istambul. DIa dengan segera bisa merubah Instabul menjadi kota yang bersih dan menarik wisatawan dari mancanegara.

Ketika menjadi Presiden Turki, kebijakannya tentang pariwisata terus dipertahankan. Kini Turki menjadi salah satu destinasi wisata terutama di dunia. Untuk orang Indonesia, Turki bahkan menjadi negara impian untuk dikunjungi.

Erdogan berhasil menunggang angin pandemi untuk membuat Turki menjadi surga para wisatawan mancanegara. Turki menjadi salah satu negara yang longgar membukakan gerbang bahkan ketika pandemi sedang ganas-ganasnya.

Beberapa waktu lalu ramai berita tentang para selebritas yang gabut karena PSBB, piknik ke Turki. Indra Kenz, Si Murah Banget, sebelum memenuhi panggilan polisi, healing lebih dahulu ke Turki.

Turki menjadi surga wisatawan karena nilai uangnya undervalue, sehingga uang yang dibawa wisatawan dari luar negeri lebih perkasa. Untuk wisatawan dari Indonesia berwisata ke Turki menjadi terasa murah, bahkan jauh lebih murah daripada ke Singapura atau malah ke Raja Ampat, Papua Barat.

Tapi kebijakan Erdogan yang seolah tak bergeming pada inflasi sehingga mencapai hampir 80 persen membuat warga Turki sengsara. Harga kebutuhan pokok di Turki naik lebih dari tiga kali lipat. Sehingga banyak anak-anak muda Turki berpikir untuk pindah atau bermigrasi ke negara lain.

Erdogan memang melawan teori yang dianjurkan oleh para ekonom untuk menahan inflasi Turki. Dan mereka yang mengkritik atau tak setuju dengan kebijakan akan dipecat dari jabatan, diganti dengan orang-orang yang satu selera dengannya.

Bisakah Turki memperbaiki kinerja ekonominya hanya bergantung dari sektor pariwisata?. Nampaknya tidak, sebab Turki mempunyai ketergantungan besar terhadap import kebutuhan pangan dan energi, yang tentu saja akan menjadi beban apabila nilai mata uangnya rendah terhadap mata uang lainnya.

Ironis, Turki menjadi daerah tujuan healing bagi masyarakat lainnya yang balas dendam karena terkungkung pandemi selama hampir dua tahun, namun warganya justru sengsara ketika pandemi berlalu.

BACA JUGA : Gereja Unifikasi Di Balik Kematian Shinzo Abe

Sebenarnya bukan hanya Turki yang merana dan Sri Langka yang bangkrut. Hampir semua negara juga mengalami kelesuan termasuk raksasa ekonomi dunia seperti Amerika, Jepang, Inggris, China, Rusia dan lainnya.

Indonesiapun tak luput dari masalah ketika euforia karena pandemi mereda ternyata diguncang oleh kenaikan harga-harga. Minyak goreng misalnya sampai membuat antrian dimana-mana dan kini disusul dengan antrian BBM, utamanya Pertalite dan Solar.

Semua yang bertumbuh di masa pandemi satu persatu juga ambruk. Aktivitas yang tidak sepenuhnya online lagi membuat mereka yang mengandalkan aktivitas dalam jaringan kemudian berkurang pelangannya. Mempertahankan jumlah pemakai saja sudah sulit apalagi meraup pemakai baru.

Untung saja masyarakat Indonesia meski dikenal suka mengerutu namun masih sabar, belum muncul protes atau demonstrasi massal untuk menyuarakan keberatan atas banyak hal yang naik, mulai dari tarif listrik, air, pajak hingga kebutuhan hidup sehari-hari.

Namun kesabaran masyarakat memang masih perlu diuji, sebab pemulihan ekonomi tak akan berjalan dengan cepat, mengingat krisis terjadi di hampir seluruh belahan bumi.

Krisis pada saat ini bak laju kereta api yang tak mungkin direm secara mendadak. Permasalahan harus diselesaikan pelan-pelan, diurai satu persatu hingga kemudian mencapai keseimbangan.

Ujian karena pandemi masih akan terus berlangsung meski sekarang ini sudah memasuki tahap endemi. Ujiannya masih akan panjang terlebih tak lama lagi Indonesia akan memasuki tahun politik, untuk pemilu legislatif dan presiden.

Memasuki tahun politik para pelaku dan penentu kebijakan biasanya mulai kehilangan fokus, demi meraup masa depan politiknya mereka kemudian akan memilih untuk melakukan aksi-aksi populis. Aksi yang kelak bakal meninggalkan beban karena dana atau anggaran digunakan untuk kepentingan transaksional, meraup suara dan dukungan.

Jadi janganlah terlalu berharap jika tak siap untuk kecewa. Tetap kuat dan tetap teguh serta jangan merasa hanya diri kita yang menjadi manusia paling menderita sedunia.

note : sumber gambar – sumber gambar PUBLIKARMOL.ID