KESAH.ID – Semangat rebelian anak-anak Citayam yang kemudian dibranding oleh industri warta sebagai Citayam Fashion Week, membuat pentolan SCBD menjadi bintang. Namun kebintangan mereka menempatkan diri di simpang jalan. Walau tenar namun ruang publik Sudirman tidak lagi menjadi milik mereka.

Beberapa waktu belakangan saya menghabiskan banyak waktu ditemani Netflix. Saya menonton banyak film, mockumentary dan dokumenter yang ada hubungannya dengan perilaku serta sikap yang tumbuh dalam ekosistem digital dan media sosial.

Tontonan ini menarik buat saya karena selain menghibur juga membuat saya belajar lebih dalam bagaimana pengaruh teknologi terutama komunikasi membawa banyak perubahan terhadap tata laku manusia dalam hubungannya dengan orang lain.

Dulu mencari perhatian selalu diusahakan sehalus mungkin, tidak mencolok. Karena kalau ketahuan bakal digelari sebagai ‘Caper’, label yang bikin seseorang tak enak hati.

Namun sekarang di jaman media sosial yang disebut sebagai ‘mencari perhatian’ dilakukan secara terang-terangan. Media sosial ibarat senjata ampuh buat para ‘Attention Seeker’ untuk menebarkan persona dan pesonanya.

Dalam amatan saya, Tik Tok mampu menumbangkan berbagai media sosial yang sebelumnya sudah mapan, karena platform ini jelas-jelas menempatkan tingkah laku dan hal-hal menarik perhatian sebagai isi utamanya.

Berisi video pendek, kreator Tik Tok hanya akan menayangkan segala hal yang sifatnya ‘daging’ semua. Daya tarik yang ditampilkan di Tik Tok yang pertama tentu visual, dengan filter dan kecerdasan buatan yang terpasang di aplikasi, wajah yang ditampilkan di Tik Tok semua nampang bling-bling dan glowing.

Daya tarik berikutnya adalah atraksi, berupa goyang-goyang dan aksi lainnya. Bernuansa erotik, banyak kreator Tik Tok menjadi ‘daya tarik seksual’ sebagai penarik perhatian penonton.

Aksi para pedangdut dengan aneka label goyangnya, tumbang oleh ‘Goyang Tik Tokers’.

Lahir dalam ekosistem horizontal video, apa yang ditampilkan di Tik Tok menjadi fokus pada kreatornya. Apa yang ada pada dirinya kemudian yang terekpos.

Karena sebagian besar cara akses internet saat ini memaka telepon pintar maka video Tik Tok menjadi yang paling cocok untuk disaksikan dalam format layar telepon pintar.

Kini apa yang viral di Tik Tok akan segera menjadi viral juga di media sosial lainnya. Algoritma kemudian akan berpihak pada konten-konten yang diunggah melalui Tik Tok atau bersumber pada Tik Tok.

Fenomena SCBD menjadi bukti bagaimana anak-anak remaja yang mau eksis dan mengaktualisasikan dirinya dengan mencari perhatian kemudian menjadi viral karena terpublikasi lewat konten Tik Tok sebagai jalur penyebar warta.

Saya menyebut anak-anak Sudirman sebagai pencari perhatian karena mereka datang, nongkrong dengan gaya dan cara berpakaian yang unik. Mereka tidak pamer atau flexing sebagaimana layaknya konten creator mapan atau anak-anak nongkrong di Jaksel. Sebab apa yang mau dipamerkan jika outfitnya saja kebanyakan dibeli di pasar malam, lapak thrifting atau program promosi barang di marketplace.

Dan remaja tanggung yang kemudian terbranding dengan ‘Citayam’ karena semula sebagian besar berasal darisana ternyata berhasil menarik perhatian.

Konten anak-anak SCBD yang awalnya dibuat oleh Andy Tumere banjir tanggapan, banyak komentar meski sebagian nyinyir dan sarkas.

Pontensi untuk meraup viewer ini kemudian menarik perhatian konten kreator lainnya hingga kemudian muncul bintang dan ikon diantara kerumunan anak-anak SCBD yang kemudian bukan lagi Sudirman Central Bussines Distrik melainkan menjadi Sudirman Citayam Bojongggede dan Depok.

Merujuk pada gaya berpakaian yang unik dan nyentrik namun dipakai penuh percaya diri, fenomena SCBD ini kemudian terbranding di media sebagai Citayam Fashion Week.

BACA JUGA : Bergaya Dengan Barang Non Ori

Saya bukan fashionista dan juga tak cukup punya pengetahuan tentang seluk belum fesyen walau saya mengemari wastra. Meski begitu istilah Citayan Fashion Week – yang entah juga siapa yang pertama kali memakainya – tidaklah tepat menurut saya.

Anak-anak SCBD itu tidak pertama-tama meletakkan visi untuk mempertontonkan gaya fesyen mereka pada khalayak. Gaya berpakaian mereka itu tumbuh organik. Kesadaran soal fashion lebih karena pakaian atau aksesories itu yang mereka mampu beli untuk bergaya.

Mungkin hanya Ale yang sejak semula bercita-cita menjadi model. Makanya dia selalu berpakaian modis sejak berangkat dari rumah. Dan nanti sesekali memamerkan apa yang dia pakai kepada rekan-rekannya disana dengan cara menyeberang Zebra Cross di jalan Sudirman.

Memamerkan apa yang dipakai secara atraktif bak peragawan di kalangan anak SCBD hanya selingan untuk seruan-seruan. Pertunjukan apa yang dipakai oleh mereka selebihnya biasa saja dilakukan sambil bercengkrama, atau lalu lalang di tepian jalan dan berkeliling taman. Maka istilah yang lebih cocok adalah Street Fashion, ketimbang Fashion Week.

Tapi begitulah cara industri memandang. Padahal fenomena SCBD jika dibedah dari Cultural Studies justru lebih menarik. Fenomena ini bisa disebut sebagai perlawanan, anak-anak itu adalah rebel yang datang untuk menahklukkan kultur dominan anak-anak nongkrong di Jakarta yang dikuasai oleh Budaya Jakarta Selatan.

Jaksel itu sub cultur elit yang tak mungkin dimasuki oleh anak-anak Citayam yang sebagian besar berasal dari keluarga kelas menengah ke bawah. Tak mungkin anak-anak ini yang hanya punya modal puluhan ribu untuk masuk dalam sirkel anak Jaksel dan kemudian turut eksis.

Modal anak-anak Citayam ini nggak bakal cukup hanya untuk membeli minuman yang lagi hype atau nge-hit di Jaksel. Segelas minuman atau sepiring cemilan anak Jaksel sudah cukup untuk membeli ooutfit anak-anak Citayam yang banyak dijual di pasar malam atau lagi promo bebas ongkir di berbagai marketplace.

Kenapa Jakarta?.

Di Citayam sendiri kemungkinan anak-anak ini tidak menemukan ruang untuk mencari jatidiri, mengekpresikan dan mengaktualisasikan dirinya. Citayam, daerah  antara Depok dan Bojonggede adalah permukiman yang padat. Kawasan penyangga Jakarta ini barangkali tak cukup punya ruang publik yang proper untuk anak-anak remaja yang gemar menarik perhatian.

Pun juga modal, kemampuan ekonomi mereka yang terbatas juga tak memungkinkan mereka untuk eksis dengan membentuk komunitas motor apalagi mobil. Mereka barangkali juga tak punya ketertarikan ideologi untuk membentuk komunitas Punk, Reggae dan lain sebagainya.

Mereka barangkali hanya ingin berada dan mengada sebagai anak-anak Citayam, anak-anak biasa namun tetap gembira dan bisa bercengkrama serta bersosialisasi dengan rekan sebayanya.

Dan SCBD kemudian dilihat sebagai peluang ruang untuk menemukan apa yang mereka cari. Entah sengaja atau tidak namun pilihan untuk nongkrong di SCBD kemudian menjadi strategis. Kaum rebelian dari Citayam dan kemudian diikuti dari daerah lainnya kemudian menahklukkan jantung ekonomi dan keuangan Ibukota.

Membangun sub kultur baru, mampu mengoyang kemapanan sub kultur dominan tanpa berhadapan secara langsung. Sebuah strategi perang yang amat cerdas.

Jaksel punya ikon dan anak-anak SCBD pun kemudian punya ikon juga. Ada Bonge, Roy, Ale, Kurma, Wahyu dan juga Jeje.

Yang paling fenomenal adalah Jeje, walau bukan anak Citayan. Jeje, menjadi ikonik karena dari dirinya lahir penanda semiotik dari anak-anak SCBD. Muncul kata ‘slebew’ yang entah apa maknanya. Tanda lainnya adalah cara jalannya dan juga gestur ketika sedang diwawancara. Konten Tik Tok pun ter-jeje jeje, meniru gaya jalan dan gestur tubuh Jeje.

Dan di sub kultur apapun kisah percintaan selalu menjadi bunga. Mesti ada king and queen. Bonge adalah King dan Kurma adalah Queen, sementara Jeje adalah Princes-nya sedangkan Prince ada Roy, Wahyu dan lainnya.

Pesona dan persona yang telah terbranding ini kemudian mengundang ‘kekuatan’ lain untuk datang ke SCBD, entah untuk menunggang gelombang ataupun menjadi kekuatan dominan baru dengan cara mengambil alihnya dari tangan para perintis.

Layaknya sebuah Start Up yang kemudian berkembang secara ekponensial namun para foundernya tersingkir.

BACA JUGA : Amerika Memang Super Tapi China Maha

Muncul Paula dan Baim dengan dua koper uang. Dan tak lama kemudian terdengar kabar perusahaan Baim Wong mendaftarkan merek Citayam Fashion Week untuk mendapat paten atasnya.

Inisiatif dari Baim yang ditegaskan olehnya sebagai itikad baik untuk membantu anak-anak Citayam menjadi kontroversial. Muncul banyak perdebatan, soal berhak atau tidak, pantas atau tidak dan lain sebagainya.

Lagi-lagi saya tak punya cukup kompentensi untuk membahas pengajuan hak merek ini.

Namun buat saya fenomena kelompok elit atau kuat yang datang ke kelompok tertentu dengan itikad baik kerap kali dilandasi oleh ‘Mesianis Kompleks’. Sebuah dorongan untuk menolong orang atau kelompok lain karena menganggap mereka bermasalah, lemah atau tidak mampu.

Bukan hanya Baim dan Paula yang punya itikad baik, sebelumnya Menparekraf juga sudah menawarkan beasiswa untuk Roy. Tawaran yang kemudian ditolak, Roy merasa tidak perlu untuk sekolah lagi, dia pingin fokus membuat konten.

Sandiaga Uno menganggap anak-anak SCBD ini bermasalah karena sebagian tidak sekolah atau putus sekolah. Sementara anak-anak ini tidak menganggap itu sebagai masalah.

Pun demikian dengan Baim dan Paula, mereka melihat ada potensi di SCBD, namun komunitas anak-anak ini dianggap bermasalah karena tidak ada yang mengatur, mengelola dan kemudian mempublikasikan secara terencana. Baim dan Paula terpanggil untuk melakukan itu agar masa depan dan kebelanjutan anak-anak SCBD terjamin. Sebuah niat yang mulia.

Tapi apakah Bonge, Roy, Ale, Wahyu, Kurma, Jeje dan lainnya butuh itu, entahlah. Dan apakah cita-cita mereka ingin bergelut dalam bidang fesyen dan sejenisnya, atau dunia hiburan?. Belum tentu juga.

Bahwa Bonge menikmati ketenaran wajar saja, kelasnya juga sudah naik karena dihadiahi Iphone, outfit yang setara dengan anak-anak Jaksel yang biasa memakai sepatu berharga jutaan, kesana kemari naik mobil, siapa yang nggak mau?

Yang pasti ekosistem nongkrong SCBD telah berubah karena infiltrasi kekuatan yang lebih besar yang kemudian mau mengatur dan dominan. Anak-anak SCBD kemudian mati gaya dan mati angin. Bonge dan Jeje misalnya kemudian jadi boneka, ekpresinya tak lagi otentik.

Sesekali wajah Jeje jengah dan lelah, bahkan tak jarang meledak emosinya. Mungkin dia merasa tak lagi berpijak di tempatnya.

Dalam kajian perkotaan dikenal istilah gentrifikasi. Sebuah kawasan yang dikembangkan oleh kelas bawah, masyarakat lemah atau komunitas biasa kemudian diambil oleh kelas yang kastanya lebih tinggi untuk dipercantik, dimodernisasi dan ditata dengan kaidah-kaidah kapitalistik.

Bonge dan teman-temannya pasti kalah, sumberdaya mereka tak cukup untuk melawan itu, mereka bahkan cenderung larut menikmati kelas baru yang mereka masuki. Sirkel Bonge misalnya sudah berubah, teman atau sahabat baiknya terkini adalah Willie Salim, konten kreator papan atas yang dikenal gemar memborong barang-barang mahal.

Willie yang jelas-jelas anak orang kaya yang kini banyak omong soal Citayam, dia seakan menjadi jubir dan PR untuk anak-anak SCBD.

Berteman dengan Willie dan sirkelnya, Bonge yang sepatunya kini berharga jutaan dan Iphone tergantung di dada pasti tak lagi memburu Kurma untuk dijadikan ratunya.

Selamat menikmati ketenaran untuk para perintis “Citayam Fashion Week’, hanya perlu disadari semangat kalian sebagai kaum rebel sudah melemah. Sebab kini kalian sudah tenar dan berubah menjadi komoditas.

Komidtas yang dalam sekejap bisa diganti oleh komoditas lainnya, sebab ‘Citayam Fashion Week’ kini direplikasi dimana-mana. Dan kalian tidak lagi menjadi Point of Interest sebab para pewarta menjadi punya banyak pilihan karena ada dan akan ada Surabaya Fashion Week, Taman Cerdas Fashion Week, Pariaman Fashion Week, Simpang Lima Fashion Week dan lain sebagainya.

Dunia memang kerap tidak adil.

Ada pepatah ‘ Created by the poor, stolen by the rich”, orang kaya memang bisa membeli banyak kepala, termasuk membeli suara orang-orang miskin.

Sudah miskin dan tidak terkenal pula, sungguh menjadi siksa neraka dunia.

note : sumber gambar – BOGORNEWS.ID