Sore ketika yang berpuasa belum lama membatalkan puasanya, anak saya mengajak pergi makan di luar. “Yuk, kita cobia wagyu,”

Sambil mengetik di depan layar komputer saya menjawab sambil lalu “Wagyu kw kah?”

Dari berbagai video kuliner saya tahu kalau wagiu adalah daging sapi terbaik dari Jepang. Tentu saja enak tapi saya tak tertarik karena menurut saya harganya terlalu mahal. Dan untuk apa makan makanan yang terlalu mahal jika ada makanan lain yang juga enak namun harganya masuk akal.

Anak saya dan mamahnya bersiap, saat hendak berangkat kembali bertanya “Lho, nda ikut kah?”.

“Nda minat,” jawab saya sambil terus mengetik.

Merekapun pergi. Namun tak lama kemudian mereka berdua kembali, tak ada tanda-tanda bahwa mereka baru menyantap salah satu daging sapi termahal di dunia. Yang dibawa pulang malah seplastik sayuran dan seikat selongsong ketupat.

“Tutup kah?” tanya saya penasaran.

“Penuh, sudah reservasi nanti jam 8, kami pesan tiga tempat jadi nanti ikut,” kata istri saya.

Sayapun mandi, lalu memakai kaos hitam dan celana pendek hitam serta menyiapkan sepatu slip on yang kanvas dan solnya juga berwarna hitam.

Menjelang jam 8 malam saya mengingatkan untuk berangkat. Mereka tampak santuy aja.

“Dekat aja, cuma dibawah situ,” kata anak saya.

Di bawah artinya sekitar Jalan Juanda atau Wijaya Kusuma.

Dalam hati saya berpikir di sebelah mana ada yang restoran yang jual wagiu disitu?.

Jam 8 persis kami berangkat, saya berboncengan dengan anak saya. Dan dengan percaya diri saya membawa motor menuruni jalan Juanda 4, masuk ke jalan besar. Jalanan macet dengan kesibukan orang mempersiapkan lebaran.

Saat melewati SPBU Juanda anak saya berkata “Gang depan belok kiri,”

“Lho sebelah mana sih,”

“Itu lho belakang Pom Bensin,”

Astaga kalau tahu gitu kan tidak perlu masuk jalan besar, bisa langsung dari Juanda 4 samping Ruang Teduh.

Dan saya tak menyangka tempat yang dituju ternyata Teras Japan, yang berada di ruko belakang pom bensin paling ujung. Beberapa waktu lalu kalau tidak salah merupakan lokasi kedai kopi.

Sesampai di sana saya baru sadar, kalau pilihan tempat ini pasti hasil dari instagram. Teras Japan memang sesekali kami lewati tatkala saya menjemputnya pulang dari sekolah.

BACA JUGA : Kita Tak Makin Cerdas

Gelombang Korea mulai menghantam Indonesia lewat K-Drama dan kemudian disusul dengan K-Pop yang membuat anak-anak muda Indonesia menggilai Boyband dan Girlsband dari Korea.

Setelah itu kuliner ala-ala Korea mulai merambah Indonesia. 3 sampai 4 tahun belakangan ini di Kota Samarinda bertumbuh resto bakaran Korea. Resto daging panggang atau barbeku yang berlabel grill, menjadi favorit masyarakat.

Makan ramai-ramai dengan bakaran dari plat besi diatas meja memang sering ditampilkan dalam drama-drama Korea.  Yang dibakar adalah daging sapi, ayam, sosis, cumi dan masih banyak lainnya.

Sebelumnya dan bersamaan dengan menjamurnya kuliner Korea, kuliner ala Jepang juga sudah mengeliat. Ada beberapa resto Jepang yang menyajikan sushi, bento dan sabu-sabu. Juga kios-kios streetfood yang menyajikan jajanan seperti takoyaki, korokke, mochi, dorayaki, ikayaki dan lain-lain.

Dan kemudian disusul dengan resto atau kios yang menyajikan ramen dan udon.

Sedangkan di sektor minuman setelah serbuan aneka Thai Tea, kemudian dari Jepang dikenal ocha dan matcha. Dan minuman yang dikenal sebagai boba kemudian juga terkenal, sajian teh yang dikombinasikan dengan susu dan perasa lainnya lalu dikocok hingga berbusa ini adalah populer dari Taiwan.

Dulunya makanan atau kuliner dari luar negeri selalu dihadirkan lewat restoran eklusif dengan makanan yang belum tentu cocok dengan lidah kebanyakan orang Indonesia dan mahal harganya. Nama-nama restorannya mungkin dikenal masyarakat namun makanannya tidak.

Kini dengan hadirnya kedai-kedai tenda, kios ala-ala kaki lima yang populer dengan sebutan streetfood membuat makanan  ala Korea, Jepang dan lainnya menjadi akrab dengan lidah masyarakat Indonesia utamanya generasi muda.

Di Samarinda setelah wabah Korean Grill, muncul resto yang mengusung konsep ala warung tenda dengan hidangan utama bakaran ala Jepang, namanya Teras Japan. Tidak seperti kedai grill ala Korea, meja-meja di Teras Japan  dibagian tengahnya disiapkan tempat untuk meletakkan bakaran yang panasnya berasal dari arang membara.

Di tempat yang kemebul karena asap mengepul ini ditawarkan menu Japanese BBQ, membakar potongan daging sapi premium dengan harga yang ramah kantong masyarakat kebanyakan.

Teras Japan didirikan oleh Axel Andaviar pada bulan Juni tahun lalu. Axel selama ini dikenal sebagai drummer band Coklat. Di Teras Japan sebenarnya ada dua tempat makan yakni Tora Yakiniku yang menyajikan Japanese BBQ dan Toyofuku yang terkenal dengan gyosa atau pangsit khas Jepang.

BACA JUGA : Asyiknya Menyulut Long dan Meledakkan Petasan

Disambut ucapan selamat datang dalam bahasa Jepang yang entah apa artinya, anak-anak muda dengan tampilan kasual, celana atau rok dan kaos hitam akan menunjukkan meja yang kosong. Pilihannya bisa di bawah atap semacam teras yang satu sisinya bertembok atau di pelataran beratapkan langit.

Kemudian akan ditawarkan menu dengan berbagai keterangan termasuk promo atau discount dengan syarat tertentu, seperti membuat story di instagram disertai hastag tertentu. Jika bersedia potongannya lumayan juga.

Dan ketika pesanan sudah ditentukan, petugasnya akan berteriak menyebut nomor meja untuk segera disiapkan alat bakaran. Arang membara dalam wadah plat stainless akan ditempatkan di bagian tengah meja.

Begitu ditaruh akan segera terasa uap panas tersebar menyebar dari sana. Maka jika cuaca cerah apalagi sejuk, memilih tempat di pelataran yang beratapkan langit merupakan pilihan terbaik.

Karena bukan pengemar fanatik kuliner Jepang, saya tak tahu banyak tentang menunya. Yang jelas untuk menu bakaran ada paket yang disiapkan atau yakiniku set yang terdiri dari Australia Gyu Tan atau lidah sapi yang diiris tipis, tenderloin dan short plate.

Nah untuk yang penasaran dengan wagyu namun gugup dengan harganya, tak perlu takut untuk mencoba wagyu set yang disajikan di Teras Japan. Ada beberapa pilihan yakni premium cut, meltique cube dan top side. Kalau tidak salah yang termahal sekitar 80 ribuan per 100 gram.

Saya mencoba saikoro, tidak butuh waktu lama untuk memanggang. Saat dikunyah dagingnya terasa meleleh di mulut, melebur tanpa perlawanan. Dipadu dengan salad selada mix, rasanya cocok dimakan dengan nasi. Pingin sih nambah kalau ada yang membayari.

Dibakar begitu saja sebenarnya sudah enak, tapi untuk yang ingin menguatkan rasa, bakaran di Teras Japan akan disertai dengan 3 saus untuk cocolan yakni minyak wijen, bubuk cabe dan air lemon.

Oh, iya untuk yang doyan daging dan ingin mengunyah bakaran dengan potongan tebal ada tora bomber. Tora bomber berbahan potongan daging rib eye yang telah dimarinasi dengan minyak wijen dan bawang bombay.

Saya tidak memesannya namun dari pandangan mata, tora bomber salah satu yang paling menarik secara visual.

Memakan daging bakaran mungkin masih kurang mengenyangkan apalagi buat yang doyan makan. Jadi dalam pesanan bisa menambahkan camilan. Ada pangsit-pangsitan, salah satunya disebut gyosa dengan isian daging dan daun bawang. Camilan disajikan per set sebaganyak 5 buah.

Yang pingin tetap makan daging ayam bisa memesan teriyama chicken, daging ayam yang dibalut dengan tepung renyah. Ada rasa ori dan ada pula yang dibalut dengan aneka saos. Rasanya renyah dan gurih segar dengan daging yang masih juicy.

Jadi buat yang ingin menikmati pengalaman makan tanpa diburu waktu sembari menikmati uap hangat arang panas, silahkan mencoba sajian kuliner ala streetfood Jepang di Teras Japan.

Setelah kenyang dan ingin melangkahkan kaki untuk pulang, lagi-lagi ucapan terimakasih serta selamat jalan dalam bahasa Jepang akan diteriakkan keras-keras. Tersenyumlah saja kalau tidak tahu apa artinya.

Tapi bisa jadi mereka sebenarnya mengatakan “Terimasih atas kunjungannya, jangan kapok untuk datang kembali,”