Seingat saya, sekurang dua kali pernah mengikuti tes IQ. Yang pertama ketika kelas dua SMP sebagai syarat untuk untuk melanjutkan ke Sekolah Lanjutan Tingkat Atas untuk menentukan apakah memilih SMA Umum atau SMA Kejuruan.
Saya lupa persis hasilnya tapi ketika dipanggil oleh guru BK, dia mempertanyakan pilihan saya yang waktu itu menuliskan ingin melanjutkan sekolah ke STM Mesin/Industri. Saya memang pernah punya keinginan untuk melanjutkan sekolah ke salah satu STM ternama di Solo.
Akhirnya saya melanjutkan ke SMA Umum, SMA yang masih satu yayasan dengan SMP saya jadi tak perlu perjuangan untuk masuk, 99% pasti diterima.
Setelah tamat SMA, saya melanjutkan lagi ke Kelas Persiapan Atas di Kolese Petrus Kanisius, SMA yang masa pendidikannya 4 tahun. Kelas Persiapan Atas adalah kelas terakhir yang dikhususkan untuk mereka yang masuk di tikungan, bukan dari tamat SMP melainkan setelah tamat SMA.
Saat menjelang akhir pendidikan, sebelum menentukan pilihan untuk melanjutkan ke sekolah tinggi, kembali diselenggarakan tes IQ. Rasanya penyelenggara test-nya sama dengan saat saya di SMP. Lagi-lagi saya tidak terlalu ingat hasilnya berapa karena buat saya tidak terlalu penting.
Test IQ waktu itu penting untuk mereka yang akan melanjutkan ke STF Driyarkara atau ke beberapa sekolah tinggi filasafat lainnya di Jawa, sedangkan saya memilih untuk melanjutkan ke STF yang ada di Sulawesi Utara.
IQ atau kecerdasan intelektual waktu itu penting, mereka yang disebut pintar adalah orang-orang dengan IQ tinggi semacam Einstein, Habibie dan lain-lain.
Pintar identik dengan IQ tinggi atau cerdas secara intelektual yang diukur dengan cara mengikuti tes untuk menilai kemampuan membaca, berbahasa, matematika dan sains.
Bicara soal kecerdasan intelektual, bangsa yang dianggap manusianya cerdas-cerdas adalah Yahudi. Tapi benarkah?.
Berdasarkan laporan dari World Population Review 2021 lewat studi yang dilakukan oleh Ulster Institute pada tahun 2019, 10 negara dengan rata-rata IQ penduduknya yang tertinggi adalah : Jepang, Taiwan, Singapura, Hongkong {China}, China, Korea Selatan, Belarusia, Finlandia, Liechtenstein dan Belanda bersama Jerman.
Keberhasilan negara-negara ini mencerdaskan warganya tak lepas dari sistem pendidikan yang mereka kembangkan. Pendidikan dan kecerdasan mempunyai hubungan yang erat karena pendidikan yang baik cenderung akan menghasilkan populasi yang cerdas dari waktu ke waktu.
Mungkin ada yang bertanya, kenapa Amerika Serikat, Inggris dan negara-negara maju lainnya tidak termasuk dalam daftar negara rata-rata kecerdasan penduduknya yang tinggi. Sebuah penelitian lain mengungkapkan faktor yang membuat sebuah negara bisa maju atau berkembang pesat.
Lewat studi Intellegence Capital Inde yang mengukut tingkat kecerdasan berdasarkan negara mana yang paling mungkin memanfaatkan kecerdasan warganya yang paling cerdas untuk ‘memperluas batas pengetahuan’ dan memperkenalkan teknologi serta inovasi ekonomi pengetahuan seperti big data, cloud computing, artificial intelligence dan lainnya maka diperoleh hasil Amerika Serikat sebagai kampiunnya.
Setelah itu disusul oleh Inggris, Jerman, Australia, Swedia, Singapura, Swiss, Kanada, Finlandia dan Denmark.
Dengan demikian rerata IQ tinggi tidaklah merupakan syarat mutlak bagi sebuah negara untuk berkembang dan maju, yang paling penting justru bagaimana negara membangun ekosistem agar kecerdasan penduduknya bisa menghasilkan produk pengetahuan dan teknologi yang berguna untuk masyarakat luas, sehingga menghasilkan nilai ekonomi karena dipakai atau dikonsumsi oleh masyarakat banyak.
Oleh karenanya dibutuhkan aspek kecerdasan lain yakni kecerdasan majemuk, bukan hanya intelektual melainkan juga kecerdasan relasi {kerjasama}, kecerdasan aksara {suka membaca}, kecerdasan alam {biofilia} dan lain-lain yang sering disebut sebagai kecerdasan emotional dan spiritual.
BACA JUGA : Asyiknya Menyulut Long dan Meledakkan Petasan
Bagaimana dengan Indonesia, bukankah tujuan kemerdekaan dan pembangunan salah satunya adalah mecerdaskan bangsa Indonesia?.
Berbagai data tingkat dunia yang dirilis selalu menempatkan Indonesia di daftar paling rendah dalam urusan kecerdasan intelektual dan juga kemampuan membaca. Meski terus menerus berupaya melakukan reformasi pendidikan namun ternyata dunia pendidikan belum mampu memberi sumbangan yang berarti untuk meningkatkan kecerdasan bangsa secara significant.
Bahkan ada kecenderungan dari generasi ke generasi kecerdasan bangsa Indonesia semakin menurun. Kalaupun sekarang terlihat banyak orang cerdas hal itu dimungkinkan karena teknologi. Banyak orang cerdas karena menggunakan teknologi, bukan cerdas dari dirinya sendiri.
Beberapa tahun yang lalu muncul berbagai sessi yang menawarkan jalan untuk meningkatkan kecerdaan, terutama kecerdasan emosi dan spiritual serta memaksimalkan kerja otak.
Banyak orang ikut serta bahkan tak sedikit yang kemudian membentuk komunitas setelah mengikuti sessi-sessi tertentu. Hasilnya masyarakat Indonesia juga tak semakin cerdas secara emosional maupun spiritual, juga kinerja otaknya tak membaik.
Banyak orang lupa bahwa kecerdasan dan kemampuan kerja otak tidak bisa ditingkatkan dalam waktu hanya semalam.
Dokter Ryu Hasan menyebut gairah orang untuk mengikuti ini dan itu guna meningkatkan kecerdasan menjadi marak karena kebanyakan orang Indonesia percaya hal-hal yang gaib. Dan salah satu hal gaib itu adalah kepercayaan bahwa dirinya akan cerdas dengan mengikuti sebuah seminar.
Kepercayaan pada hal-hal gaib inilah yang kemudian dimanfaatkan oleh segelintir orang untuk menjual ‘kecerdasan’. Seperti cerdas mencari uang dengan cara menawarkan berbagai macam aplikasi dan sistem yang ‘seolah-olah cerdas’ padahal pada akhirnya adalah penipuan.
Merasa takut tidak dianggap cerdas, banyak orang kemudian berinvestasi, melakukan trading lewat aplikasi dan robot. Mereka takut dianggap tidak cerdas jika tak ikut padahal dengan ikut serta justru sedang membuktikan dirinya sama sekali tak cerdas.
Ini gambaran orang Indonesia saat ini yang dalam world population review tahun 2022 rata-rata IQ orang Indonesia 78.4. Angka ini dibawah rata-rata dunia yang berada di angka 82.
Meski kehidupan kita sehari-hari lebih diarahkan oleh kecerdasan emosional namun IQ lah yang mendasari bagaimana seseorang berpikir rasional dan bagaimana kognisi mengenali realitas.
Penampilan seorang pesulap atau magician akan menarik untuk siapapun, baik yang IQ tinggi maupun IQ rendah suka menontonnya. Yang membedakan mereka yang ber-IQ rendah percaya bahwa magic itu ada, sementara yang ber-IQ tinggi menganggap itu sebagai hiburan yang mengagumkan.
Dan dalam kenyataannya seorang magician sekalipun ternyata tak percaya magic. Semua penampilannya yang seolah ‘gaib’ dimungkinkan karena peralatan-peralatan mahal dan latihan untuk menguasai trik.
Bangsa yang IQ-nya rendah selalu menganggap tidak ada yang mustahil untuk mereka, sementara bangsa yang ber-IQ tinggi paham dengan keterbatasan.
BACA JUGA : Basically Suara Bagus Tapi Attitude Underrated
Beberapa hari sebelum Lebaran ada kehebohan yang muncul dari Kalimantan Timur. Kehebohan bermula dari status facebook seorang professor yang merupakan rektor dari salah satu institut ternama.
Sebagian yang dikatakannya benar, tentang anak-anak muda yang memberi harapan di masa depan. Anak-anak muda yang hebat dan berpikir terbuka, yang artinya ber-IQ tinggi. Nasehatnya untuk anak-anak muda yang ingin jadi hebat juga benar adanya.
Sama dengan profesor itu tentu saja meski tak mengenal anak-anak muda itu sayapun turut bangga.
Yang menjadi soal adalah kesalahan nalar dari sang profesor ketika menceritakan pengalamannya mewawancarai mahasiswa yang hendak mendaftar untuk memperoleh beasiswa bergengsi agar bisa kuliah di luar negeri.
Pak Profesor yang tentu saja telah menyelesaikan gelar akademik tertinggi atau doktoral melakukan jumping conclusion. Antara data dan kesimpulan tidak berhubungan. Ada bias yang tidak faktual, bias sentiment emosional yang didasari atas ketidaksenangan pada kelompok tertentu.
Tanpa bukti yang menyakinkan, hanya berdasar beberapa orang yang diwawancarai, Sang Profesor kemudian menyimpulkan kalau anak-anak muda yang membanggakan, berpikir terbuka dan siap mengisi pos sumberdaya manusia ke depan itu adalah mereka yang tidak suka demonstrasi dan tidak memakai penutup kepala.
Dua kata kunci yang menjadi soal adalah ‘demonstrasi’ dan ‘manusia gurun’.
Lewat kata kunci ini status facebook Profesor itu telah melakukan stereotyping, bahwa laki-laki yang suka demonstrasi dan perempuan yang berjilbab, dia anggap pikirannya akan tertinggal dalam soal sains. Alhasil dari mereka tidak ada yang lolos dari wawancara yang dilakukan olehnya untuk memperoleh beasiswa.
Padahal wawancara yang dilakukannya hanyalah sebagian saja, ada banyak wawancara lain yang ternyata meloloskan anak-anak muda yang rajin demonstrasi dan juga konsisten memakai jilbab lulus itu menerima beasiswa serupa.
Mengeneralisir atau membuat kesimpulan umum hanya dengan satu sumber data yakni pengalamannya sendiri jelas membuat profesor jatuh dalam contradiction in actu.
Sang profesor bicara soal pikiran dan wawasan terbuka serta membanggakan hal itu. Namun kesimpulan yang disampaikan lewat status facebooknya jelas menunjukkan ketertutupan pikirannya.
Dan kesalahan-kesalahan berpikir seperti yang ditunjukkan oleh Profesor itu dan juga banyak orang lainnya itu yang membuat kecerdasan bangsa Indonesia tidak semakin meningkat, terus berada di rata-rata bawah.
Logical fallacy terus mewarnai ruang publik yang kemudian menuai tanggapan yang juga memamerkan kesalahan nalar yang sama. Hasilnya adalah pamer argumen tanpa nalar hingga menghasilkan saling tuduh yang tidak perlu.
Dan soal berpikir dengan nalar baik memang tak ada hubungan dengan gelar atau capaian akademik. Seperti yang sering dikatakan oleh Rocky Gerung bahwa ijazah dan gelar bukan menandakan seseorang bisa berpikir dengan baik, melainkan menunjukkan bahwa dia pernah berpikir dengan baik ketika menyelesaikan tugas kuliah.
Maka mereka yang berijazah dan bergelar, setelah tak kuliah lagi bisa jadi kembali ke jalan pikir yang tidak benar. Kembali berpikir dengan bukti yang tidak kuat dan lebih menonjolkan kekuasaan akademis, bukan tertib akademis alias mempraktekkan authority based true.
Kesimpulan yang berujung bahwa wawasan, pikiran baik seseorang berhubungan dengan kebiasaan melakukan protes, penutup kepala dan lain-lain jelas tak bisa dipertanggungjawabkan. Baik mereka yang suka demo atau tidak, mereka bisa saja berpikir terbuka dan juga berpikir buruk. Pun juga mereka yang memakai penutup kepala atau tidak, mereka juga sama-sama bisa berpikir terbuka serta berpikir tertutup.
Dan ini menyedihkan untuk negeri yang cita-cita kemerdekaannya adalah mencerdaskan kehidupan bangsa.








