Bisa jadi lantaran dipompa dengan semangat juang lewat pelajaran sejarah di sekolah, saya dan teman sejaman waktu itu suka bermain perang-perangan.
Menjelang puasa dan lebaran menjadi saat terbaik untuk mengekpresikan kesenangan menimbulkan bunyi layaknya jaman perang, bunyi meriam dan senapan.
Sebelum hari puasa tiba, saya dan teman-teman sudah mulai berburu bambu, melirik-lirik rumpun bambu petung yang pohonnya sudah tua. Dan kemudian kami tebang, lain kali yang kami tebang adalah pohon bambu milik orang yang kebunnya jarang didatangi. Kami tebang tanpa ijin alias mencuri.
Batang bambu itu kamu buat long bumbung, bentuknya seperti meriam. Kami membuat masing-masing. Dan nanti jika jadi akan dibunyikan saling bersahutan, seperti pasukan perang tengah berhadap-hadapan.
Selain long bumbung, kami juga akan membuat long pendem. Dengan menggali tanah sehingga nanti ada ruang di bawah tanah yang diatasnya ditutup dan ditindih dengan batu besar sehingga tidak terbongkar saat karbit disulut.
Long pendem biasanya dibuat di rumah teman yang pekarangannya besar dan agak jauh dari rumah-rumah lainnya.
Masih ada lagi yang kami buat selain long, yakni petasan atau mercon. Dibuat dari gulungan kertas yang padat lalu diisi mesiu yang biasanya dijual di toko besi yang juga menjual karbit.
Kalau long bumbung dan long pendem jarang gagal, lain halnya dengan mercon. Seringkali banyak yang tak bunyi, hanya ngeses atau mejen.
Jadi lain kali kami lebih suka membeli. Dan waktu itu banyak yang membuat mercon, ada yang bermerek tapi banyak juga yang tidak.
Main mercon memang berbahaya, ledakannya jika tak terkendali bisa bikin celaka. Makanya selalu ada korban, baik yang bermain atau yang membuat. Banyak rumah terbakar atau hancur karena tumpukan merconnya yang belum dijual meledak.
Terkadang ada juga cerita yang menyedihkan karena banyak orang yang tahu menahu juga jadi korban. Seperti bis yang meledak karena ada penumpang yang membawa sekotak atau sekarung petasan untuk dijual didaerah atau kota lainnya.
Petasan jika sebiji mungkin bunyinya hanya akan mengagetkan namun jika satu dos atau satu karung dan meledak bareng ya sama saja dengan sebuah bom.
Polisi akhirnya selalu melakukan razia setiap menjelang puasa dan lebaran. Toko besi juga tak mulai enggan melayani anak-anak yang membeli karbit. Obat mercon juga semakin susah didapatkan.
Kamipun ketika makin besar juga mulai enggan bermain long bumbung, rasanya malu kalau bulu mata dan alis hilang karena tersulut api saat meniup lubang sulut sebelum diledakkan.
BACA JUGA : Basically Suara Bagus Tapi Attitude Underrated
Tanggal 16 April lalu, Polres Bangkalan beserta tim gegana Polda Jatim memusnahkan 100 kg obat mercon dan puluhan ribu petasan di Lapangan Tembak Kodim 0829 Bangkalan.
Memusnahkan barang bukti, barang-barang hasil sitaan adalah hal yang biasa dilakukan oleh polisi, agar barang-barang itu tidak disalahgunakan kembali.
Kalau barang sitaannya berupa minuman keras biasanya, isinya dituang di lubang yang dibuat dalam tanah lalu botolnya dilindas dengan stoomwals. Barang elektronik selundupan biasanya juga demikian, langsung dilindas dengan mesin pemadat aspal jalanan itu.
Tapi ini petasan dan bubuk mesiu, yang kalau digabung berat material peledaknya lebih dari 100 kg. Lalu diledakkan begitu saja.
Dan hasilnya puluhan rumah yang jauh dari lokasi pemusnahan rusak terkena dampak ledakan pemusnahan mesiu dan petasan.
Ajaib. Apakah polisi dan tentara yang terlibat tidak berpikir jauh soal main ledakan yang mirip bom ini. Apalagi konon ada juga tim gegana, pasukan khusus polisi yang ahli soal ledak-ledakan.
Gegana adalah polisi yang ahli atau pakar soal ledakan. Lalu bagaimana mungkin mereka tidak menghitung dampak dari obat mercon dan tumpukan petasan yang diledakkan bersama-sama itu.
Padahal dalam aksi-aksi penangkapan teroris mereka biasanya sangat hati-hati soal segala sesuatu yang meledak. Semua bahan cair atau padat yang diperkirakan bisa dipakai jadi bahan peledak akan diamankan.
Nah ini sudah jelas-jelas bahan yang memang dikenal oleh siapapun untuk dipakai sebagai peledak, kok malah diledakkan begitu saja.
Okelah bahwa yang mengalami kerugian lalu diganti, tentu saja itu baik karena merupakan bagian dari tanggungjawab. Namun persoalan bukan hanya itu, ada yang lebih mendasar yakni perlakuan pada sesuatu yang jelas berbahaya, hasil razia agar tak menimbulkan bahaya tapi kemudian disepelekan bahayanya.
Mungkin saja memusnahkan petasan telah menjadi kebiasaan tiap tahunnya, karena sudah rutin maka SOP-nya jadi kurang diperhatikan, kewaspadaan dini menjadi hilang. Dan itu terlihat dari mereka yang hadir, nampak hadir begitu saja tanpa pengaman termasuk para wartawan baik wartawan betulan maupun jadi-jadian yang kemudian menyebarluaskan berita ini tanpa dosa.
Mestinya sebelum berita ledakan yang kemudian merusak rumah penduduk mestinya ada satu dua berita yang mempertanyakan rencana pemusnahan obat mercon dan petasan dengan cara diledakkan begitu saja.
Sayangnya berita itu tidak ada maka dipastikan semua yang menerima undangan peliputan bukanlah jenis peliput yang kritis.
Yang lebih ajaib ada berita berjudul “Polisi tak menyangka pemusnahan ribuan mercon malah merusak puluhan rumah,”
Bukankah polisi adalah ahlinya segala sesuatu yang berhubungan dengan peledak. Kok bisa tidak menyangka?.
Bisa jadi baik peliput, penyelenggara dan hadirin mereka semua menjadi kurang awas dan kehilangan nalar karena sesungguhnya mereka senang main petasan.
BACA JUGA : Aji Mumpung Aji Muntung
Main kembang api, roket-roketan, long, petasan dan mercon selalu menyenangkan untuk kebanyakan orang. Selama tak usil biasanya nggak ada yang sirik atau marah-marah.
Tapi yang menyenangkan tak selalu aman, sehingga yang bermain perlu hati-hati. Masalahnya dalam permainan selalu ada yang suka main-main.
Maka untuk bisa bermain aman harus ada pengurangan resiko, termasuk dari yang membuatnya. Dan buktinya, orang-orang China mampu membuat kembang api yang sebagian bisa meledak-ledak relatif lebih aman.
Segala macam bunyi-bunyian dan pijar-pijaran itu yang kini mewarnai langit nusantara tatkala hari-hari besar, yang berpendar dan membuat kekagetan disengaja adalah produk-produk China.
Sedangkan yang dibuat sendiri oleh masyarakat Indonesia kebanyakan dirazia, lalu dimusnahkan lewat upacara, dijadikan bahan berita. Lebih sial lagi barang sitaan yang tidak bisa dipakai bersenang-senang itu malah menyebabkan rumah yang tak ikut-ikutan jadi berantakan.
Pemerintah dan aparat memang cenderung mencari gampang. Lebih baik melarang ketimbang meningkatkan kemampuan pembuat petasan dan mercon untuk menghasilkan mainan yang menimbulkan ledakan tapi minim resiko.
Padahal pasar kembang api dan saudara-saudara lainnya besar sehingga pasar itu justru dimasuki oleh produsen dari luar negeri, yang kemudian hanya menghasilkan para pencari untung, menjajakan barang yang tak perlu memakai promosi.
Dan urusan cari gampang ini bukan hanya dalam urusan petasan dan mercon melainkan banyak urusan lainnya. Gagal menyediakan tempat sampah yang layak, biar nda terlalu kelihatan norak maka dipasanglah peringatan disana-sini, larangan membuang sampah sembarang sembari disertakan berbagai macam ancaman termasuk ancaman masuk neraka.
Negeri ini memang mempunyai banyak pakar, ahli yang omongannya selalu dikutip oleh media sebagai berita. Padahal keahliannya hanya melarang-larang sambil membeber ancaman dengan segala alasannya. Alasan yang dipakai untuk menutupi kegagalan membangun modal sumberdaya manusia.
Karena gagal membangun human capital maka keahlian yang paling dipunyai negeri ini adalah mengekploitasi dan mengektrasi sumber daya alam.
Berpesta pora menikmati hasil kekayaan alam, namun baperan melihat rakyat yang hanya mau sedikit bersenang-senang dengan membunyikan mercon dan petasan.
note : sumber gambar goodnewsfromindonesia.id








