Melihat ajang pencarian bakat menyanyi yang masih tersisa di beberapa televisi, tidak bisa dipungkiri bahwa Indonesia mempunyai banyak penyanyi bersuara bagus.
Beberapa diantaranya bukan hanya bersuara bagus, melainkan juga mampu bermain musik dan mencipta lagu sendiri, musik dan lagu yang tak kalah bagus.
Dengan kemampuan itu wajar jika mereka kemudian ingin menjadi artis penyanyi maupun musisi yang ternama untuk memberi warna dalam dunia musik Indonesia.
Sayangnya untuk dikenal dan diterima oleh masyarakat apalagi masuk dalam industri musik tidaklah mudah. Persaingannya sangat ketat, sehingga ajang kontes pencarian bakat menjadi pilihan cepat untuk mencapai tujuan itu.
Lewat ajang pencarian bakat, seseorang yang tidak menjadi juara sekalipun bisa dilirik oleh industri musik, direkrut oleh sebuah manajemen musik sehingga jalan untuk meniti karir menjadi lebih terencana.
Namun dengan perkembangan teknologi, jalan untuk meniti karir bermusik menjadi semakin lebar. Seseorang bisa bekerja mandiri untuk menjadi terkenal. Beberapa orang musisi atau penyanyi ternama baik dunia maupun Indonesia memulai karirnya dengan mengunggah karyanya melalui media sosial.
Youtube, IG, Tik Tok dan lainnya kemudian banyak melambungkan nama-nama pengcover lagu. Seseorang yang menyanyikan lagu yang pernah direkam atau dipopulerkan oleh penyanyi/artis lainnya.
Tidak sedikit, lagu yang dicover atau dinyanyikan ulang oleh orang lain itu lebih bagus daripada versi yang dinyanyikan oleh penyanyi aslinya. Sehingga pencover lagu mendapat perhatian dari pemirsanya.
Dan jalan ini kemudian kerap dipilih oleh penyanyi jalur media sosial, mereka memilih menjadi spesialis pengcover lagu.
Salah satu yang ternama bernama Tri Suaka.
Pria kelahiran Baturaja, Sumatera Selatan yang pergi ke Yogyakarta untuk kuliah setelah cita-citanya menjadi polisi kandas. Di Yogya, Tri Suaka bertemu dengan Adiani Rambe yang kemudian menjadi teman duet-nya ngamen dari Kafé ke Kafé.
Mendapat perhatian dari penontonya, Tri Suaka dan Adiani Rambe kemudian membuat channel youtube. Ada dua channel youtube yang berisi video-video Tri Suaka, Adiani dan teman-temannya yakni Tri Suaka Channel dan Adiani Suaka.
Gaya kedua channel ini berbeda, Tri Suaka Channel lebih menampilkan video-video yang bercorak ‘selebritas’ sementara channel Adiani Suaka lebih berisi penampilan di Café Pendopo Lawas. Kedua channel ini telah meraup pemirsa lebih dari 800 juta views.
Baik subscriber maupun viewernya mengalahkan channel Kangen Band Official, bahkan channel Noah Offcial sekalipun juga kalah. Padahal suara Tri Suaka mirip-mirip Ariel Noah, bukan Ariel Noah yang mirip-mirip Tri Suaka.
BACA JUGA : Aji Mumpung Aji Muntung
Menyanyikan lagu orang lain itu biasa saja, semua dari kita juga melakukannya. Penyanyi dan penciptanya bahkan senang kalau lagunya dinyanyikan oleh banyak orang.
Yang menjadi masalah ketika lagu yang dinyanyikan itu kemudian dipublikasikan dan bernilai ekonomi.
Dalam hal ini pencipta, penyanyi atau penerbitnya kemudian dirugikan karena hak ekonomi mereka dilanggar. Karena lagu yang dinyanyikan atau dipublikasikan ulang itu adalah lagu yang sebelumnya dirilis secara komersial.
Para pengcover lagu yang kemudian memonetisasi lagunya tentu saja melanggar hak cipta yang meliputi hak moral dan hak ekonomi, apabila mereka tidak mendapat ijin dari pemegang hak-nya.
Lagu milik orang atau pihak lain jika ingin dikomersialkan mesti memperoleh lisensi dari pemegang haknya.
Masalahnya tidak semua pemegang hak cipta ngotot soal hal ini, selain tak punya kemampuan mengontrol mungkin juga tak mau ribet dan ribut. Sehingga para pengcover lagu bisa leluasa terus bernyanyi, tampil dimana-mana dan dilabeli sebagai artis oleh masyarakat.
Youtube sendiri kemudian menjadi sarang para kreator yang menekuni cover lagu. Di media sosial para pengcover lagu memang dikategorikan sebagai orang-orang kreatif karena kemampuan mereka mengaransemen ulang atau menampilkan lagu yang berbeda dengan versi aslinya.
Kenapa youtube membiarkan hal semacam ini terjadi, membebaskan youtuber mengupload karya-karya yang merupakan karya orang lain?
Tentang video cover di youtube yang memenuhi syarat untuk monetisasi sebenarnya ada aturan. Youtube menetapkan aturan bahwa halaman video di YouTube Studio menunjukkan video yang diupload mempunyai hal-hal berikut ini :
- Klaim hak cipta di Kolom Batasan
- Status monetisasi video ditetapkan ke Nonaktif
- Teks mengambang yang menyatakan bahwa video memenuhi syarat untuk berbagi hasil pendapatan iklan
Pada dasarnya trik untuk meraup pendapatan baik di youtube maupun di media sosial lainnya dengan cara meng’cover’ tidak hanya berlaku untuk lagu, melainkan juga untuk model video lainnya. Ada banyak kolom review, informasi olahraga, tempat wisata, ilmu populer dan lain-lain yang tidak menggunakan bahan sendiri melainkan video atau publikasi orang lain.
Andai tidak digunakan untuk kepentingan komersial, bisa jadi ‘cover’ merupakan bentuk apresiasi atau penghargaan pada kreator pertama atau aslinya. Sayangnya beberapa kreator melakukan ‘cover’ sebagai bentuk kecurangan.
Andaikan video yang diupload tidak dimonetisasi bukan berarti tidak bermasalah. Sebab monetisasi ada banyak jalannya. Peluang ekonomi tidak hanya dari aplikasi melainkan juga dari luar seperti endorse dan juga undangan untuk tampil offair.
Dan penghasilan dari luar ini yang justru tidak mudah ditelusuri oleh mereka yang dilanggar haknya.
BACA JUGA : Bukan Mafia Yang Dibongkar Tapi Koruptor Yang Ditumbalkan
Seseorang yang meniti karir sebagai penyanyi dalam lingkup industri mainstream relative lebih berliku. Butuh perjuangan dan nafas panjang untuk mencapai keberhasilan.
Meski banyak yang menjengkelkan namun biasanya mereka lebih tersaring karena industri musik dan pertunjukan punya patokan-patokan baik yang tertulis maupun tak tertulis, industri ini sudah mempunyai kultur tersendiri.
Sedangkan para ‘artis’ yang tumbuh dari media sosial relative lebih bebas. Mereka bertumbuh dengan pola dan gaya yang mereka ciptakan atau yakini sendiri. Akibatnya mereka kerap kali memang lebih ‘tengil’ karena punya standar yang diciptakan oleh mereka sendiri.
Relatif lebih independen, mereka kemudian tak segan menunjukkan perilaku-perilaku toksik yang tidak mungkin dipertontonkan dalam layar atau panggung industri hiburan mainstreams.
Dalam titik tertentu inilah yang kemudian membuat mereka menjadi mudah tergelincir. Apalagi subscriber, viewers atau penonton di acara offairnya bukanlah orang-orang yang fanatik karena para peng-cover tak punya karya lagu sendiri yang bisa dibela mati-matian oleh para pengemarnya.
Para pengcover lagu akan berbeda dengan penyanyi atau band yang punya karya sendiri, sehingga punya fanbase yang kuat.
Dunia media sosial memang mampu dengan cepat melambung seseorang hingga sampai bulan, namun dengan cepat juga bisa membanting seseorang hingga terbenam dalam lumpur.
Ada banyak deret penampil yang terkenal karena media sosial dan mempertaruhkan segalanya untuk menjadi ‘artis’ namun kemudian tenggelam, terkubur oleh kemunculan ‘artis-artis’ media sosial yang muncul kemudian.
Dan Tri Suaka bersama dengan rekan duetnya yang baru yakni Zinidin Zidan tengah memasuki siklus itu. Kelakuan mereka mengolok-olok Andika Kangen Band bukan hanya menimbulkan kemarahan dari para pecinta Kangen Band melainkan juga dari para musisi lainnya.
Dan bermula dari kemarahan itu borok dan kebobrokan Tri Suaka mulai dibongkar satu per satu termasuk dari mereka yang merasa dirugikan atas aksi cover lagunya. Dan keberatan dari mereka yang memegang hak yang kemudian mengadukan pada pihak berwajib sudah cukup untuk membawa Tri Suaka berurusan dengan hukum.
Baik Tri Suaka Channel maupun Adiani Suaka masih mengupload video hingga hari ini. Kolom komentarnya juga aman-aman saja, artinya Tri Suaka dan teman-temannya masih terus bernyanyi. Walau konon ada beberapa rencana pertunjukan yang dibatalkan karena kehebohan dari sana-sini.
“Meminta maaf,” begitu rumusnya, tak perlu bela diri sana-sini. Dengan mengaku bersalah umumnya netizen akan lupa yang sebelum-sebelumnya. Lagi pula sebuah kehebohan akan hilang sendiri karena akan tertimpa oleh kehebohan lainnya yang akan muncul kemudian.
Yang penting jangan berbuat kesalahan konyol lagi yang membuat netizen akan kembali mengungkit-ungkit kesalahan di masa lalu.
note : sumber gambar suara.com








