Setelah dua tahun mudik lebaran dibatasi atau bahkan dilarang, lebaran tahun ini pintu mudik telah dibuka lebar kembali dengan catatan tetap mematuhi protokol kesehatan. Mudik dengan fit dan pulang mudik juga fit.
Gairah mudik terasa dimana-mana, acara mudik bareng mulai diselenggarakan, penyelenggara transportasi yang sudah lama puasa menyambut dengan gembira.
Ada kesempatan yang mesti digunakan sebaik mungkin, membawa pemudik tak akan “digaruk” oleh polisi, seperti tahun-tahun sebelumnya.
Hukum pasarpun berlaku, ketika lebih banyak pengguna dibanding dengan penyedia jasa maka harga akan naik.
Kenaikan harganya bisa gila-gilaan walau biasanya pemerintah akan mengaturnya terutama untuk angkutan darat di Jawa dan Sumatera.
Tapi bagaimana dengan tiket pesawat?
Naiknya harga menjelang lebaran membuat beberapa orang ‘misuh-misuh’ lewat media sosial. Di salah satu akun facebook, seseorang menyebut harga tiket dari Samarinda ke Pulau Jawa berkisar antara 5 sampai 9 juta rupiah. Dia kemudian menjuluki transportasi udara sebagai pesawat untuk orang berduit.
Mungkin karena sedang puasa sehingga gak boleh emosi, maka pemilik akun facebook itu kemudian menasehati dirinya sendiri “Ya udah tidur di rumah aja {gak lebaran di kampung halaman},” dan memilih untuk bersilaturahmi dengan keluarga di kampung dengan menggunakan pesawat yang termurah, yakni pesawat telepon.
Membaca status facebook itu kemudian muncul kata aji mumpung dalam benak saya. Dan ketika saya ketik di kolom pencarian google yang muncul adalah video Iwan Fals feat Ubay Nidji berjudul Aji Mumpung.
Saya mengira itu lagu baru Iwan Fals setelah lama tak bersuara terhadap regim, ternyata tidak. Lagi itu rupanya lagu daur ulang dari karya Guruh Sukarno Putra kurang lebih 38 tahun yang lalu. Lagu itu ternyata pernah dipopulerkan oleh Vina Panduwinata.
Sayapun mencari lyriknya dan bait pertama nampaknya cocok untuk mengambarkan apa yang disebut dengan aji mumpung.
Di suatu zaman orang pada gila-gilaan
Saling cari kesempatan dalam kesempitan
Memupuk kekayaan
Mengejar kedudukan
Berlomba mumpung ada kesempatan
Kesempatan
Aji mumpung dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan sebagai Pemanfaatan situasi dan kondisi untuk kepenting diri sendiri selagi memegang jabatan yang memungkinkan adanya peluang untuk hal itu; dan senyampang atau selagi.
Sebagai kiasan aji mumpung sepadan dengan pepatah mencari kesempatan dalam kesempitan seperti larik bait yang dinyanyikan oleh Iwan Fals diatas. Di tengah euforia mudik, penyelenggara transportasi mencari kesempatan untuk menangguk untung, karena yang ingin pergi jauh lebih banyak dari kursi yang tersedia.
BACA JUGA : Bukan Mafia Yang Dibongkar Tapi Koruptor Yang Ditumbalkan
Perkara memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan, saya jadi ingat pendidikan di jaman old, jaman saya masih bersekolah.
Waktu itu pendidikan intelektual masih dipenuhi dengan banyak nasehat moral dan nilai-nilai lainnya. Pendidikan bahasa Inggris menghasilkan nasehat time is money dan do your best. Tak heran jika kemudian segala sukses dinilai dengan uang. Dan untuk menjadi sukses harus bekerja keras, yang terakhir ini tentu saja nasehat yang baik.
Masalahnya kemudian saya dan teman-teman sejaman juga diajari untuk selalu mengambil kesempatan lewat nasehat jangan lewatkan kesempatan karena kesempatan tidak akan datang dua kali.
Padahal ternyata kesempatan sering datang berulang-ulang atau terkadang memang tak ada lagi kesempatan.
Karena kesempatan bisa datang berkali-kali mestinya tak usah terlalu ngotot harus memanfaatkan kesempatan. Dan jika kesempatan tidak ada yang perlu dilakukan adalah menciptakan kesempatan, itulah yang disebut kreatif dan inovatif.
Hanya saja alih-alih menjadi kreatif, kebanyakan orang bukannya menciptakan kesempatan, melainkan memanfaatkan kesempitan jadi kesempatan. Tidak ada langkah kreatif apapun, apalagi inovasi, yang diperlukan hanyalah modal tega.
Tega mengambil untung dari orang lain, lagi pula yang diambil untungnya kebanyakan juga tak keberatan bahkan bersyukur karena bisa cepat sampai ke tujuan, misalnya dalam kasus mudik.
Aksi ambil untung ini bahkan akan dimaklumi tatkala masyarakat tidak mempunyai banyak pilihan. “Biarlah, toh mereka hanya ambil untung setahun sekali,” begitu komentar bijak kebanyakan orang.
Hanya saja setelah didera pandemi selama dua kali lebaran, dan setelah pandemi mulai mereda segala sesuatu harganya mulai naik, tentu saja kenaikan ongkos transportasi udara membuat banyak orang terganggu. Tidak mudik dua kali lebaran bukan berarti punya tabungan lebih banyak untuk mudik lebaran tahun ini.
Tapi begitulah hukum ekonomi bekerja dengan konsisten, meski pemerintah bisa ikut campur tangan namun tak akan pernah tuntas menyelesaikannya karena pemerintah tidak benar-benar berkuasa. Kaena layanan transportasi tidak semuanya milik pemerintah.
Alhasil yang disebut dengan aji mumpung akan selalu terulang setiap tahunnya, seperti sudah punya jadwal tetap di saat perayaan hari-hari besar.
BACA JUGA : Pariyem Bukan Kartini
Yang tidak termasuk penganut mudiko ergo sum {saya mudik maka saya ada}, bukan berarti bebas dari aji mumpung. Sebab penganut aji mumpung dalam perayaan hari-hari besar tidak melulu hanya para penyelenggara angkutan. Setiap orang dengan peran dan fungsinya masing-masing di masyarakat bisa memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan.
Dalam konteks yang lebih luas bahkan yang disebut sebagai aji mumpung sebenarnya punya dampak dalam kehidupan sehari-hari kita semua. Sebab yang disebut aji mumpung adalah kelaziman dalam dunia politik dan pemerintahan.
Politik dan pemerintahan secara sederhana bisa dipahami sebagai segala sesuatu hal yang berhubungan dengan mengatur kehidupan bersama agar menjadi lebih baik untuk semua orang.
Untuk itu diperlukan pemimpin, pembesar dan pembantu-pembantunya sehingga ada banyak jabatan.
Kedudukan politik dan pemerintahan kemudian sering disebut sebagai amanah, sebab bukan hanya menyangkut kompetensi melainkan niat terutama untuk melayani orang banyak, mendahulukan kepentingan umum.
Oleh karenanya mereka yang memegang kedudukan mesti punya kecakapan teknis yang disebut kebijakan namun juga kematangan spirit yang disebut kebajikan.
Hanya saja politik dan pemerintahan kemudian masuk dalam wilayah kompetisi, tujuannya memang baik untuk memilih atau menghasilkan yang terbaik. Namun tidak selamanya kompetisi akan berlangsung secara fair, menyandingan dan mempertandingkan yang baik sehingga menghasilkan yang terbaik dari antara yang baik.
Sekali lagi saya jadi ingat kiat dari seorang teman perihal menjadi orang besar {pejabat politik atau pemerintahan}.
Menurutnya untuk menjadi orang besar yang pertama harus dilakukan adalah berteman dengan orang besar. Kiat ini tentu saya setuju, berteman dengan orang besar artinya menjadikan orang besar sebagai mentor, pengajar yang darinya kita belajar.
Masuk dalam inner circle orang besar artinya kita bisa punya kesempatan lebih untuk meningkatkan kapasitas dan pengetahuan.
Kiat berikutnya adalah melakukan tindakan besar atau melakukan kerja besar. Lagi-lagi saya setuju, tapi jelas ini merupakan hal yang sulit untuk dilakukan. Tindakan besar hanya bisa dilakukan oleh orang-orang tertentu, mereka yang disebut inovator, perintis dan lain-lain.
Nah berikutnya jika tak bisa melakukan tindakan besar atau kerja besar maka harus mengalahkan orang besar. Soal ini saya tidak bisa bilang setuju atau tak setuju, melainkan tidak berani. Melawan orang besar jelas tindakan berjudi karena pilihannya hanya kalah atau menang.
Dan berdasarkan pengalaman, kiat yang ketiga ini yang nampaknya banyak dilakukan oleh orang yang tidak sabar menunggu giliran untuk menjadi orang besar, atau khawatir kesempatannya lewat. Buktinya banyak orang kemudian mendirikan organisasi tandingan, melengserkan orang lain lewat musyawarah luar biasa, konggres tandingan atau mengembosi dari luar.
Dari semua kiat menjadi orang besar yang disampaikan oleh teman saya itu rasanya sedikit sekali orang besar yang kemudian memperoleh kedudukannya karena melakukan tindakan atau kerja-kerja besar, yang banyak terjadi nanti setelah menduduki jabatan mereka kerap kali membesar-besarkan tindakan atau kerja mereka.
Namun sebenarnya masih ada cara lain untuk menjadi orang besar. Dan kali ini ada di dalam syair yang dinyanyikan oleh Iwan Fals dan Ubay Nidji, bunyinya demikian :
Abaikan kejujuran
Untuk mencapai tujuan
Mumpung ada kesempatan terbentang
Terbentang
Tiada tempat bagimu orang jujur
Tempat hanyalah bagimu yang mujur
Ya menjadi orang mujur itu yang tidak bisa dilawan, namun juga tak bisa diterka kapan akan datang kemujuran itu.
Mujur karena tiba-tiba saja ada teman, saudara, kerabat atau lainnya yang tiba-tiba jadi pembesar lalu menunjuk atau mengajak untuk duduk dalam jabatan besar.
Nah, meskipun kaget dan tidak siap, ya diterima saja sebab kesempatan tak akan datang dua kali jadi aji mumpung mesti digunakan. Mumpung ada yang menawari jabatan atau kedudukan, kalau tak diterima bakal lewat.
Soal nanti bagaimana menjalankan kedudukan atau jabatan itu toh akan ada staf atau pegawai yang membantu, apalagi jika diperbolehkan mengangkat dan mengaji staf khusus, tentu akan lebih mudah.
Apapun bisa dikerjakan oleh staf, mulai dari sambutan sampai presentasi, termasuk pertanyaan jika harus berdialog dengan pihak lain. Satu-satunya yang diperlukan agar bisa menduduki jabatan atau kedudukan itu dengan nyaman adalah berani bersikap tidak jujur.
Sebab yang dituntut untuk berani jujur itu hanya KPK.








