Kalau tak ada teman yang mengajak bermain, saya suka bertamu diam-diam ke rumah Mbah Kaji, tetangga sebelah rumah.

Pintu depan rumahnya yang berhalaman luas selalu terbuka, jadi saya masuk saja tanpa kulonuwun lalu duduk di pojokan untuk membaca buku cerita yang ditata rapi diatas meja.

Ada banyak buku bacaan terjemahan yang cocok untuk anak remaja, seperti serial lima sekawan, hardy boys dan lain-lain.

Koleksi bukunya cukup banyak, bukan hanya buku cerita melainkan juga buku biografi, memoar dan kisah lainnya.

Salah satu kisah sejarah yang sempat saya baca adalah kisah tentang Sukarno yang ‘diasingkan’ di Wisma Yaso setelah tak lagi menjabat presiden.

Di tempat Mbah Kaji pula saya membaca novel Lelaki Tua dan Laut karya Ernest Hemingway yang kelak saya tahu merupakan sastrawan peraih penghargaan penulisan bergengsi Amerika Serikat.

Di rumah saya sebenarnya juga banyak buku, tapi buku-buku serius karena yang suka membeli buku adalah bapak. Terkadang saya ikut membacanya tapi jarang sampai tuntas karena isinya bikin sakit kepala.

Sama seperti kebanyakan teman lainnya kesukaan saya membaca buku sebenarnya hanya rata-rata saja, suka membaca cerita-cerita yang menyenangkan, lucu dan menghibur.

Membaca buku waktu itu dianggap keren, sehingga malu rasanya kalau sampai tak punya kartu perpustakaan. Berbekal kartu itu saya dan teman-teman bisa meminjam buku dari perpustakaan keliling yang seminggu sekali akan datang serta parkir di alun-alun.

Sesekali saya dan teman bermain akan melakukan petualangan membaca. Pergi ke toko buku Indira di Yogyakarta, bukan untuk beli buku tapi duduk membaca komik Tintin. Tidak seperti kebanyakan toko lainnya, toko buku Indira membiarkan bukunya yang dijual dibaca oleh pengunjung.

Kesukaan membaca secara gratisan itu berlanjut kala SMP hingga SMA. Saya mempunyai seorang teman yang punya toko buku. Darinya saya bisa meminjam buku-buku bacaan, termasuk yang berseri-seri seperti novel karangan Eiji Yoshikawa yang berjudul Mushasi.

Ketika naik kelas dua SMA, saya memilih masuk jurusan A4, jurusan bahasa atau sastra. Bukan karena saya suka membaca melainkan karena saya malas belajar matematika, kimia, biologi dan fisika.

Sebagai anak bahasa tentu saja saya mesti banyak membaca sastra dan kebetulan perpustakaan di sekolah saya cukup lengkap. Di kelas bahkan ada rak berisi buku bacaan yang dibaca saat jam istirahat.

Selain membaca novel-novel populer karya Ashadie Siregar, NH Dini, Marga T, Mira. Mariane Katopo dan MV Lestari, saya juga suka membaca novel sastra sejarah budaya karya Ahmad Tohari, Danarto, Mangunwijaya, Ajib Rosidi dan lain-lain.

Dan suatu saat saya menemukan sebuah novel yang unik, tertulis sebagai prosa liris. Judulnya juga menarik yakni Pengakuan Pariyem. Novel prosa liris itu ditulis oleh Linus Suryadi AG.

Saya yang waktu itu menyukai puisi bergaya esai semacam karya Rendra, terpesona ketika membaca larik demi larik karya Linus Suryadi itu. Mengikuti saja apa yang dituliskannya membuat saya terhanyut masuk dalam latar belakang budaya Jawa, soal hubungan antara priyayi dengan orang biasa.

Kekaguman itu membuat saya mencari tahu lebih, siapa Linus Suryadi AG itu. Dari beberapa bacaan kemudian saya tahu kalau Linus Suryadi AG adalah sastrawan asal Yogyakarta, anak didik dari Umbu Landu Paranggi yang waktu itu dikenal sebagai Presiden Sastrawan Malioboro.

BACA JUGA : Termakan Hutang Atau Perang?

Setahun lalu saya mendengar kabar Umbu Landu Paranggi meninggal. Presiden Malioboro itu kembali diperbincangkan setelah menghilang bak ditelan bumi. Di youtube ada beberapa video perbincangan tentangnya, salah satu yang membincang adalah Emha Ainun Najib, yang mengakui bahwa Umbu adalah guru yang baik untuknya dan gemar berpuasa.

Dalam perbincangan itu tersebutlah nama Linus Suryadi AG yang sebenarnya lebih tua dari Cak Nun, namun dalam pergaulan sehari-hari Linus berlaku seperti adik bagi Cak Nun.

Saya jadi teringat dengan Pengakuan Pariyem karya Linus. Saya tetap kagum namun punya pandangan bahwa Linus habis setelah menulis Pengakuan Pariyem, seolah semua yang dia punya sudah dikeluarkan semua, tak ada lagi karya monumental setelahnya.

Linus Suryadi AG tentu saja punya karya lain karena dia juga menulis puisi serta esai. Beberapa esainya saya baca namun puisinya tidak.

Karena ingat Pariyem, saya lalu mencari buku prosa liris versi digitalnya dan ketemu. Saya mencoba membaca kembali dalam terang ingatan masa lalu.

Dengan semangat saya membuka file buku digitalnya dengan laptop agar lebih enak menikmatinya. Sebagai digital migrant membaca buku digital memang tak akan se-khusyuk membaca buku cetak. Ada kecenderungan untuk lebih menjadi scanner ketimbang reader.

Lembar-lembar awal saya baca dengan tekun, namun tak lebih dari 10 menit energi untuk membaca dengan seksama mulai hilang, yang ada hanya niat untuk membaca secepat-cepatnya.

Tapi pada akhirnya energi membaca saya hilang, buku yang saya download dengan penuh semangat tak berhasil terbaca dengan tuntas. Sayapun tak berniat untuk menyelesaikannya kemudian.

Entah kenapa, saya kemudian merasa terganggu dengan apa yang Linus tuliskan dalam bukunya. Sebagai orang Jawa meski tidak terlalu njawani, sosok Pariyem dengan laku dan kebatinannya jelas offside.

Dulu mungkin saja saya membaca Pengakuan Pariyem tanpa referensi, terutama soal gender. Saya membaca begitu saja sehingga apa yang diudar oleh Linus lewat sosok Pariyem tidaklah bermasalah.

Kini lain ceritanya. Sosok Pariyem menjadi bermasalah sebab sangat jauh dari realitas bukan hanya saat ini, tapi juga saat buku itu dituliskan.

Benar bahwa Pengakuan Pariyem adalah fiksi, tetapi tetap saja fiksi selama mengambil latar realitas kebudayaan mestinya tetap sadar pada realisme.

Kebudayaan Jawa memang erat dengan terminologi nrimo, lewat ungkapan nrimo ing pandum. Ungkapan ini merujuk pada sikap untuk menerima dengan sukarela terhadap apa yang diberikan oleh kehidupan. Ikhlas dan legowo dalam menjalani lika-liku kehidupan.

Itu artinya setiap orang mempunyai jalan hidup masing-masing, tidak perlu iri atau dengki pada apa yang dicapai oleh orang lain. Setiap orang punya rejeki masing-masing.

Gambaran lain yang populer tentang kebudayaan Jawa adalah obsesi pada harmoni, guyub rukun untuk menghindari konflik. Sing waras ngalah, sering diucapkan dan dinasehatkan agar kericuhan tidak terjadi.

Namun jangan salah nrimo atau ngalah itu tidak berarti membiarkan ketidakadilan dan perilaku buruk dari seseorang ke orang lain kemudian dibiarkan. Kewenangan tetap akan dilawan walau perlawanannya tidak dengan kekerasan.

Dalam tradisi keraton Yogyakarta dikenal istilah topo pepe. Rakyat yang protes tidak akan berteriak-teriak di depan keraton, melainkan duduk diam-diam di tengah lapangan kala tengah hari hingga kemudian Sultan akan memanggilnya ke dalam istana dan memberi kesempatan pada rakyat untuk menyampaikan uneg-unegnya.

Sikap dan perilaku Pariyem yang lego lilo ditiduri oleh anak majikannya hingga hamil jelas merupakan persoalan yang berada di luar nalar normal. Soal yang kemudian membuat saya tak lagi berniat untuk kembali membaca tuntas Pengakuan Pariyem.

Tapi saya tetap mengagumi Linus Suryadi AG dengan prosa lyris Pengakuan Pariyem sebagai masterpiece-nya.

BACA JUGA : Derita Para Pengantri Minyak 

Memang selalu ada masa di mana perempuan disisihkan dalam sebuah kebudayaan. Segala simbol-simbol tertinggi dalam berbagai kebudayaan bahkan yang adi luhung bernuansa atau berkelamin laki-laki.

Perempuan dianggap sebagai yang lemah, yang kemudian diejawantahkan dalam politik sebagai rakyat. Penguasa adalah laki-laki, rakyat jelata adalah perempuan.

Menjadi perempuan dan kemudian terlahir dari golongan rakyat jelata kemudian menjadi kondisi yang paling mengenaskan karena tidak akan dianggap.

Tapi kondisi ini jelas sudah dilawan. Dalam tradisi Jawa kondisi ini dilawan misalnya oleh R.A Kartini dan sosok-sosok perempuan lain yang kemudian membuktikan diri bahwa hidup dan kehidupan bukan hanya bisa diurus oleh laki-laki.

Perlawanan bukan hanya datang dari sosok-sosok perempuan yang lahir dari keluarga elit, orang berkuasa atau berada melainkan juga dari perempuan-perempuan keturunan rakyat jelata. Ada Marsinah seorang buruh. Ibu-ibu dari Kendeng dan seterusnya.

Sudah bukan jamannya lagi lego lilo, nrimo dan pasrah atas penindasan dan kesewenang-wenangan atas nama kekuasaan, kedudukan, kekayaan atau kuasa-kuasa ilahiyah. Harmoni tidak bisa menjadi alasan untuk membiarkan penindasan terjadi secara berkelanjutan.

Presiden, akademisi, tokoh agama, tokoh masyarakat, orang kaya, orang kuat dan orang hebat lainnya tentu pantas dihormati atau ditakuti. Namun rasa hormat dan rasa takut itu tak boleh menghalangi langkah dan niat untuk melawan tatkala mereka melakukan kesalahan, kewenangan dan ketidakadilan dengan menggunakan ‘kuasa’ mereka.

Memprotes, menghadapi dan melawan dengan menunjukkan kesalahan atau kesewenang-wenangan mereka bukanlah penghinaan apalagi penistaan.

note : sumber gambar kabarno.com