Sewaktu masih kanak-kanak, saya memahami antri itu sebagai sesuatu yang seru dan menyenangkan. Sebab ketika diminta untuk antri, pasti akan ada sesuatu yang istimewa untuk dibagikan.
Dengan semakin bertambahnya umur, yang disebut dengan antri semakin lama menjadi semakin menyebalkan. Terlebih ketika antri di ruang-ruang layanan publik. Sudah lama antri, kapan akan dilayani tidak jelas.
Duduk di ruang antrian pulang-pulang tekanan darah bertambah tinggi. Tidak sulit untuk menemukan orang-orang tertentu entah karena kekayaan, kedudukan atau koneksi dengan mudah dilayani tanpa antri.
Kini ketika saya mulai merasa tua, antrian terasa menyedihkan. Betapa tidak di negeri yang katanya kaya raya, nomor satu penghasil ini dan itu, ternyata antri masih terjadi dimana-mana. Beberapa antrian terasa sudah menjadi permanen.
Bagi saya kini antrian adalah ironi, terlebih lagi ketika beberapa saat lalu antrian minyak goreng sawit kemasan mengular setiap hari selama beberapa minggu.
Kebetulan bulan-bulan ini karena ada kegiatan tertentu, saya dua kali seminggu melewati jalan PM. Noor. Pemandangan yang saya lihat masih sama dengan ketika 3 atau 4 tahun lalu saya melewatinya hampir setiap hari. Ada deret panjang di kanan-kiri jalan, truk-truk menunggu antrian untuk mengisi solar di SPBU.
Entah sejak kapan antrian truk itu mengular di jalan PM. Noor, yang jelas kejadian itu sudah biasa sejak bertahun-tahun. Dan nampaknya bukan hanya di SPBU PM. Noor saja antrian itu terjadi, sebab beberapa bulan lalu setiap malam hingga pagi, antrian seperti itu pernah terlihat di SPBU Jalan Juanda, bahkan trotoar dijadikan tempat parkir truk untuk mengantri.
Mungkin karena ada di jalan utama, kemudian segera ditertibkan.
Antrian truk untuk mengisi solar di SPBU terbukti berbahaya. Beberapa kali ada kejadian pengendara motor atau mobil menyeruduk truk dari belakang. Kecelakaan yang sudah memakan korban.
Setiap kali melewati antrian seperti itu saya auto jengkel. Namun diam-diam di dalam hati juga muncul kekaguman terhadap para sopir dan awak truk lainnya. Saya kagum dengan kesabaran mereka untuk mengantri, membuang waktu produktif mereka bukan hanya 1 sampai 2 jam, sebab lain kali bisa menunggu semalaman.
Dan ketika antrian sudah terjadi menahun maka bisa dipastikan dalam antrian itu sudah ada permainan. Entah siapa saja yang bermain namun yang disebut sebagai kesempitan bagi kelompok tertentu memang selalu akan menimbulkan kesempatan bagi kelompok lainnya.
Dan tentu saja permainan-permainan apapun bentuknya akan semakin menambah repot para sopir dan awak truk lainnya.
BACA JUGA : Lord Luhut Tanpamu Aku Bisa Apa?
Ngomong-omong soal derita sopir truk yang terkena antrian permanen, minggu lalu saya sempat mendapat cerita dari seorang aktivis mahasiswa yang ikut mengorganisir demo sopir truk di Balikpapan.
Menurut dia sedari awal parkir untuk mengantri para sopir truk sudah dihampiri masalah. Antrian di pinggir jalan akan menghalangi kios, warung atau penjual-penjual lain disampingnya. Jadi begitu mulai antri tak lama kemudian terdengar sumpah serapah dari pemilik kios, warung atau penjual lainnya. Antrian truk dianggap menghilangkan rejeki mereka karena membuat pembeli enggan mampir.
Sebenarnya bukan hanya sumpah serapah atau gerutuan pemilik warung saja yang ditumpahkan kepada para supir truk itu. Pasti ada banyak yang lainnya meski tak terdengar. Barangkali para pemilik barang yang barangnya dibawa oleh truk itu namun tak sampai-sampai.
Atau pemesan angkutan yang sudah menunggu namun truknya juga tak sampai-sampai karena sedang antri di SPBU.
Jika ditelisik lebih jauh banyak sekali efek antrian yang tidak terlihat. Namun mereka yang terdampak barangkali hanya mengerutu, misuh-misuh sambil sesekali mengirim pesan kepada para sopir truk bertanya “Posisi dimana?”.
Andai kemudian dijawab “Ngantri di SPBU’, ya sudah komunikasi tak lagi bisa diperpanjang, mengantri di SPBU yang diperlukan hanya panjang sabar bukan banyak omong. Apalagi ketika tangki SPBU sedang kosong dan menunggu mobil tangki pemasok BBM yang mungkin juga sedang ngantri di SPBU lainnya untuk mengisi tangki pengerak mesinnya.
Energi lebih besar diperlukan oleh sopir dan awak truk lainnya apabila harus mengantri sambil menginap, terlebih jika truk berisi bawaan barang dan komoditas yang berharga. Biar jengkel karena menunggu tetap harus waspada, lengah dan terlelap kalau mengantri salah-salah barang hilang dicuri orang.
Bicara soal kesempatan dalam kesempitan, bisa jadi diantara truk-truk yang mengantri, profesinya memang pengantri. Pura-pura butuh BBM padahal sebenarnya mereka adalah pengepul yang mencari untung dari selisih harga antara BBM bersubsidi dan non subsidi. Mereka mengantri untuk membeli BBM bersubsidi dan kemudian menjual kembali sebagai BBM non subsidi.
Atau para pengepul ini adalah orang yang melihat peluang bisnis sebagai penyalur BBM independen. Mereka membeli BBM dalam jumlah besar di SPBU, kemudian menyalurkan ke kios-kios Pertamini. Mesin pengisian BBM milik perorangan yang alatnya mirip-mirip dengan yang ada di SPBU, sudah terdigitasi namun BBM bersumber dari jerigen didalamnya.
Pertamini umumnya menjual pertalite, bukan solar.
Dan penjual BBM pinggir jalan ini meski banyak menolong mengurangi antrian motor di SPBU sehingga tak mengular seperti truk tetap saja bermasalah terutama dari sisi keamanan. Berkali-kali terjadi kecelakaan yang menyebabkan kebakaran hebat hingga menelan korban jiwa.
BACA JUGA : Narkoba Bukan Jalan Bahagia
Ketika tinggal di MInahasa, negeri nyiur melambai penghasil kopra, saya senang setiap kali ada yang mengajak untuk membuat minyak kelapa. Saya suka sekali ‘mencukur’ kelapa, alat parutnya berbeda dengan parutan yang saya kenal di Jawa.
Yang saya tunggu setiap kali membuat minyak kelapa adalah blondo, hasil endapan yang terpisah kala santan dipanaskan hingga menjadi minyak. Rasanya gurih.
Orang Minahasa dan Manado pada umumnya menyebut blondo dengan istilah ‘tai minyak’. Istilah yang lucu karena blondo menjadi satu-satunya tai yang bisa dikonsumsi.
Dalam percakapan sehari-hari sesekali akan terdengar seseorang mengumpat “Tai minyak ngana”. Sebuah ungkapan kekesalan pada orang lain karena omongannya tak bisa dipercaya, manis di mulut pahit di hati.
Rasanya beberapa waktu terakhir banyak orang Indonesia juga mengumpat dengan cara yang kurang lebih sama untuk mengungkapkan kekesahan perihal minyak.
Minyak mulai dari minyak makan hingga minyak untuk pengerak mesin bermasalah. Demikian juga dengan cara mengatasinya.
Kalau soal harga yang naik karena harga bahan baku melonjak tinggi, bisa jadi kebanyakan orang menerima. Tapi segala urusan dengan domestic market obligation, domestic price obligation, security safety net dan lain-lain kerap kali malah bikin pusing.
Misalnya pada minyak goreng sawit kemasan premium. Hasilnya minyak menghilang dari pasaran. Hingga kemudian kebijakan intervensi dicabut dikembalikan kepada harga pasar. Yang kemudian disubsidi adalah minyak curah.
Minyak curah dan minyak premium sama-sama berbahan baku CPO. Bedanya hanya pada proses akhir dimana minyak curah tidak dilakukan deodorisasi sehingga warnanya kemerahan/kecoklatan, kurang jernih dan kurang wangi.
Sama seperti solar bersubsidi yang kemudian dijual oleh pengepul nakal menjadi solar industri, bukan tidak mungkin minyak goreng curah di make-up sedikit lalu dikemas cantik dan kemudian dijual sebagai minyak goreng sawit kemasan premium.
Dan urusan seperti ini di negeri kita tak kurang jumlah pemain dan ahlinya. Mereka adalah orang-orang yang sejak kecil sangat percaya bahwa dalam kesempitan selalu ada kesempatan.
Industri tipu-tipu ini tak pernah kekurangan investor, banyak yang mau mencuci uangnya lewat bisnis semacam ini. Meski beresiko tinggi namun pasti menguntungkan. Kalaupun nanti kena masalah, mereka selalu percaya bahwa masalah bisa diselesaikan dengan uang, uang yang diambil dari keuntungan yang sudah mereka tangguk.
Ah, tai minyak memang.
note : sumber gambar infopublik.id








