KESAH.ID – Di tengah deru narasi besar tentang transisi energi global, masyarakat Dayak Kenyah Lepoq Jalan di Desa Budaya Lung Anai, Kutai Kartanegara, punya cara sendiri untuk mendefinisikan kemandirian. Melalui tradisi perladangan dan perayaan syukur panen Uman Undat, mereka membuktikan bahwa kedaulatan sejati bukan berasal dari teknologi tinggi atau investasi besar, melainkan dari kedalaman akar tradisi dan ketahanan pangan di atas tanah sendiri.
Yurni, petani perempuan dari Lung Anai, mengirim kabar tentang perayaan Uman Undat yang akan dilaksanakan pada hari Sabtu, 18 April 2026. Namun, ketika berjumpa dalam sebuah pertemuan di Bumi Harapan, Sepaku, Yurni menyarankan untuk datang pada hari Jumat saat masyarakat Lung Anai menyiapkan acara tersebut.
“Datang hari Jumat saja biar bisa melihat prosesnya,” saran Yurni.
Yang dimaksudkan proses oleh Yurni adalah kegiatan masyarakat Lung Anai saat bergotong royong: membuat tepung beras, memasukkan tepung ke dalam bambu, lalu membakarnya dengan kayu, atau proses membuat undat.
Sepagi mungkin saya berangkat dari Samarinda menuju Desa Budaya Lung Anai, Loa Kulu, Kutai Kartanegara. Lung Anai adalah satu dari 16 Desa Budaya di Kutai Kartanegara yang ditetapkan pada masa kepemimpinan Bupati Syaukani HR.
Lung Anai terbilang sebagai desa terkecil di Kutai Kartanegara; luasnya hanya sekitar 185 hektar dan terkepung oleh Desa Sungai Payang. Lung Anai dulu merupakan salah satu dusun dari Desa Sungai Payang. Selain dikenal sebagai Desa Budaya, Lung Anai yang mayoritas penduduknya adalah masyarakat Dayak Kenyah Lepoq Jalan, kini dikenal juga sebagai penghasil cokelat premium.
Dari arah Sungai Payang, di bukit terakhir terlihat di kejauhan halaman rumah lamin ramai dengan kendaraan terparkir; aroma kesibukan terpancar dari sana. Dan benar, hampir seluruh warga berkumpul di sana dengan kesibukan masing-masing.
Di dalam lamin, ibu-ibu telah bersiap membuat undat, memasukkan tepung beras ke dalam bambu, dan menutupnya dengan daun cokelat. Sembari menunggu semua bahan siap, mereka bercengkerama satu sama lain. Di samping lamin, terlihat kaum lelaki tengah memotong dan membersihkan ruas bambu. Di bagian dapur, warga lainnya tengah menyiapkan santap siang. Menurut salah seorang warga, mereka sedang memasak labi-labi atau kura-kura air tawar untuk makan siang.
Sembari menunggu makan siang, beberapa ibu menjemur beras yang telah direndam sebelumnya. Beras itu nanti akan digiling untuk menjadi undat.
“Sekarang kami giling dengan mesin, tidak ditumbuk lagi,” ujar Tinggai.
Setelah makan siang, beberapa warga mulai menggiling beras yang sebelumnya telah dijemur di depan lamin. Hasil gilingan diambil oleh ibu-ibu dan mulai dicampur dengan parutan kelapa, sedikit garam, dan gula pasir. Setelah tercampur, adonan dimasukkan ke dalam bambu, lalu diketuk-ketuk agar padat. Setelah penuh, ujungnya ditutup dengan daun cokelat.
Tak butuh waktu lama, beberapa loyang adonan tuntas dimasukkan ke dalam bambu dan siap untuk dibakar. Di samping gereja tua, tepat di depan lamin, beberapa orang bersiap menyalakan api untuk membuat perapian. Bilah bambu yang telah diisi adonan akan dibakar menggunakan bara dari samping. Angin yang bertiup kencang membuat gumpalan asap pekat yang membuat mata perih.
“Ayo kita bakar!” teriak seseorang yang datang membawa sekarung ruas bambu berisi tepung dari dalam lamin.
Bambu-bambu itu disusun berjajar agar mendapat panas sempurna dari bara api kayu yang terus diatur suhunya agar bambu tak gosong dan undat-nya tidak berkerak.

BACA JUGA : Segelas Liberika

Bagi Lukas Nay, Kepala Desa Lung Anai, menjaga tradisi perladangan adalah mandat yang diwariskan oleh leluhur. Bagi masyarakat Kenyah, berladang adalah fondasi hidup karena padi merupakan akumulasi dari energi alam—perpaduan antara sinar matahari, air hujan, dan doa yang dipanjatkan ke langit.
“Kami tidak mengenal istilah ‘energi’ dalam bahasa teknis kota. Bagi kami, energi itu adalah uman (makanan). Jika ladang kami sehat, kami punya energi untuk bekerja, menari, dan menjaga hutan,” ujar Lukas.
Sebagai bagian dari masyarakat tradisional Kaltim, masyarakat Kenyah Lepoq Jalan masih berusaha menjaga tradisi perladangan gilir balik sebagai bentuk manajemen energi yang cerdas. Bekas ladang akan dibiarkan beristirahat (bekan), agar tanah dapat memulihkan energinya secara alami tanpa asupan pupuk buatan dari luar.
“Perayaan sekarang sudah berbeda dengan saat kami masih menganut kepercayaan lama atau Kaharingan. Tetapi kami tetap bersyukur atas anugerah dari alam dan Tuhan,” lanjut Lukas.
Lukas kemudian menerangkan tradisi perladangan orang Dayak Kenyah Lepoq Jalan yang disebut nutung uma. Menurutnya, ada beberapa tahapan berladang yang dimulai dari menentukan lahan, menebas, lalu membakar. Setelah itu, akan ada acara untuk menentukan hari baik atau saat yang cocok untuk bertanam yang disebut alaq tau. Pada waktu yang ditentukan, masyarakat mulai menugal, menanam bibit padi pada lubang tanam.
Begitu padi tumbuh, rumput yang ikut tumbuh akan disiangi. Ketika padi mulai menunjukkan bulir yang penuh, akan ada upacara Uman Ubeq atau membuat emping padi, utamanya padi ketan. Tak lama setelah Uman Ubeq, padi akan dipanen. Puncaknya adalah pesta syukur panen sebagai penutup siklus nutung uma. Pada acara Uman Undat atau Mecaq Undat ini, padi baru akan ditumbuk menjadi tepung halus. Tepung itu dicampur dengan parutan kelapa serta gula, lalu dimasukkan ke dalam bambu dan dibakar.
“Rasanya seperti kue putu kalau masih panas,” terang Lukas.
Saya mencicipinya. Dan benar undat memang terasa lembut kalau dimakan hangat. Dan benar pula ketika sampai di Samarinda, oleh-oleh undat yang saya bawa sudah dingin sehingga tekstur dan rasanya akan lebih menyerupai sagon.

BACA JUGA : Sejuta Kedai

Sopiansah, atau biasa dipanggil Tian, salah satu peladang muda yang aktif, menjelaskan bahwa kemandirian pangan adalah fondasi dari transisi energi yang adil.
“Saat orang bicara tentang listrik atau bahan bakar, kami bicara tentang bagaimana dapur kami tetap mengepul tanpa harus bergantung pada pasokan luar yang mahal. Beras ini adalah ‘bahan bakar’ utama kami. Jika kami berdaulat atas pangan, kami punya posisi tawar untuk menentukan bagaimana energi lain masuk ke desa kami,” jelas Tian.
Transisi energi sering kali datang ke Kalimantan Timur dalam bentuk proyek besar yang terkadang justru mengancam ruang kelola rakyat. Peralihan energi listrik dari PLTD ke PLTU membuat ladang mereka tergerus dan terendam banjir akibat operasi perusahaan batu bara. Transisi dari batu bara ke energi terbarukan sekalipun tetap bisa mengancam penghidupan mereka karena lahan HTI bisa saja beralih menjadi Hutan Tanaman Energi. Padahal bagi masyarakat Dayak Kenyah Lepoq Jalan, energi adalah bagian dari ekosistem yang harus dijaga, bukan sekadar komoditas dagang.
Tian melihat kaitan erat antara perladangan dan kemandirian masa depan.
“Transisi energi seharusnya tidak membuat kita tercabut dari akar. Di ladang, kami belajar tentang efisiensi. Kami menggunakan biomassa dan menjaga sumber air yang nantinya bisa menjadi mikrohidro. Itulah transisi energi versi kami: kecil, tersebar, dan dikuasai rakyat sendiri,” tegasnya.
Menghubungkan tradisi pesta panen dengan transisi energi adalah tentang memahami subsistensi sebagai bentuk perlawanan. Ketika sebuah komunitas mampu memenuhi kebutuhan dasarnya secara mandiri, mereka secara otomatis mengurangi jejak karbon dari rantai distribusi industri yang panjang.
Bagi Dayak Kenyah Lepoq Jalan, menjaga tradisi perladangan adalah cara memastikan bahwa “bahan bakar” kehidupan mereka tetap bersih, adil, dan berdaulat. Pesta panen kali ini bukan hanya tentang merayakan hasil bumi, tetapi juga memperkuat benteng kemandirian energi di jantung Borneo yang kian terhimpit zaman.
Di tengah hiruk-pikuk wacana transisi energi global yang kerap didikte oleh teknologi tinggi dan investasi besar, masyarakat Kenyah Lepoq Jalan menawarkan perspektif yang lebih membumi: bahwa kemandirian energi sejati dimulai dari kedaulatan subsistensi di atas tanah sendiri.
Penulis : Meyrina Desyana
Editor : Yustinus Sapto Hardjanto
Gambar : Nonprofit Journalism









