KESAH.ID – Urusan parkir sering bikin sakit kepala. Ongkos parkir yang dikategorikan uang receh sering diwarnai kontroversi karena kelakuan juru parkir. Ada banyak destinasi dihindari karena kelakuan juru parkirnya yang random, juru parkir yang mengandalkan modal dengkul. Tanpa ketrampilan mengatur kendaraan, mereka hanya bemodal otot, suara besar dan tatapan yang mengintimidasi sehingga pemakai parkir merasa dipalak, uang yang diberikan berasa bukan untuk membayar jasa menitipkan kendaraan.
Dalam bahasa pergaulan, istilah modal dengkul sering dipakai untuk ‘mengolok-olok’ seseorang yang tak bermodalkan apa-apa, selain otot dan tenaga untuk mendapatkan hasil. Istilah modal dengkul bisa bernilai positif untuk mengambarkan kerja keras, memulai sesuatu dari nol. Tapi juga bisa bernuansa negatif karena seseorang dapat memperoleh uang tanpa modal apapun.
Salah satu jenis pekerjaan yang bermodal dengkul adalah juru parkir, parkir liar.
Mereka bisa muncul dimana saja, di titik-titik keramaian. Modalnya hanya badan, tanpa seragam, tanpa karcis bahkan tanpa peluit.
Umumnya juru parkir pasti ikut mengatur parkiran, kadang membantu memarkir mobil dan motor dengan benar. Sementara juru parkir liar lebih sering berlaku seperti siluman. Ketika seseorang datang, batang hidungnya tak kelihatan, nanti ketika seseorang ingin pergi tiba-tiba muncul dihadapan.
Bukan untuk membantu mengeluarkan kendaraan dengan aman ke jalan tapi hanya menagih uang parkir dan kemudian ngeloyor menghilang.
Juru parkir model begini sering kelihatan di minimart-minimart yang dihalamannya memasang tulisan “Parkir Gratis”.
Kelakuan begini bikin repot karena kini tak semua orang yang pergi ke minimarket punya uang kecil untuk parkir. Mereka belanja ke minimarket karena transaksinya bisa cashless.
Jika tampilan tak meyakinkan atau lebih kekar dari juru parkir pasti bisa bikin ribut. Tidak semua juru parkir liar itu pemaklum, uang 2 ribu saja bisa bikin perkara.
Banyak orang ke minimarket karena ingin ambil uang, kalau tak 50 ya 100 ribuan. Saat ditagih oleh juru parkir dan membayar dengan uang pecahan itu, juru parkirnya bakal ngomel, mereka bilang “Uang pas saja,”.
Yang bayar mungkin memang tak punya uang kecil.
Lagi-lagi bisa ribut, terlebih juru parkir sering menganggap pecahan uang besar adalah modus agar tak membayar parkir. Sebab belum tentu juru parkir punya uang kembalian.
Ngeselin memang.
Gara-gara kelakuan acak juru parkir liar banyak pengendara trauma pergi ke tempat tertentu. Kalau bisa menghindar lebih baik tidak kesana.
Di beberapa tempat kelakuan juru parkir liar bukan hanya bikin kesal tetapi juga bikin rugi. Yang tak membayar dengan ongkos yang ditagih bisa saja motor atau kendaraan dirusak. Kalau yang memarkir kendaraan berontak, juru parkir liar bisa main keroyok.
Dalam banyak kasus, juru parkir liar memang menerapkan ongkos parkir diatas yang ditetapkan oleh pemerintah. Mereka mematok harga seenaknya tanpa fasilitas yang memadai, parkirannya seadanya.
Mereka juga kerap meminta uang duluan, bayaran di depan. Yang artinya mereka tidak bakal menjaga kendaraan yang diparkir karena sudah mendapatkan uang.
Jukir liar mungkin menggangap uang 5 ribu hanya receh untuk para pemakai kendaraan roda dua, atau 20 ribu tak berarti apa-apa untuk yang punya mobil.
Tapi buat para pengendara roda dua dan roda empat, urusannya bukan soal uang receh melainkan mereka tak rela mengeluarkan uang untuk memenuhi kantong celana orang yang tak berkontribusi apa-apa untuk menjaga kendaraan yang ditinggalkannya.
BACA JUGA : Sungai Gitan
Pemerintah Kota Samarinda berusaha menertibkan keberadaan para juru parkir liar yang kerap bikin resah. Salah satu daerah yang terkenal dengan jukir liar yang brutal adalah kawasan tepian Mahakam. Disana kerap terjadi keributan gara-gara ongkos parkir.
Di beberapa titik, pemerintah Kota Samarinda menguji coba parkir elektronik, parkir non tunai.
Tapi para juru parkir liar tetap tak kehilangan akal.
Di kawasan Teras Samarinda yang sudah disediakan ruang parkir khusus, banyak pengunjung merasa jaraknya terlalu jauh dengan tamannya.
Juru Parkir liar kemudian beroperasi di seberangnya.
Para pemakai kendaraan terkadang juga belum siap dengan pembayaran parkir non tunai. Masuk atau keluar tempat parkir sering menjadi tak lancar.
Dengan alasan praktis, lokasi yang disediakan juru parkir liar jadi pilihan. Penataan parkir yang diupayakan oleh pemerintah kemudian tidak berhasil. Jukir liar tetap ada di mana-mana.
Selain sering bikin masalah sosial, keberadaan juru parkir liar juga membuat pendapatan atau sumbangsih pada Pendapatan Asli Daerah menjadi berkurang atau tak sesuai target.
PAD dari parkir sering dipatok tinggi tapi realisasinya tak selalu menyenangkan, kurang banyak.
Pendapatan parkir resmi memang rawan dikorupsi, korupsinya juga berlapis.
Kasus penyelewengan dana atau setoran parkir resmi ini belum lama diungkap di Kota Tepian. Walikota yang sidak kemudian memerintahkan inspektorat melakukan audit. Hasilnya ada kong kalikong antara petugas parkir dan pegawai dinas perhubungan. Sang pegawai konon membuka rekening sendiri untuk menampung uang hasil setoran petugas parkir.
Kasus ini semakin membuat warga Kota Samarinda makin tak percaya pada tata kelola parkir di Kota Tepian ini. Baik parkir resmi maupun parkir liar sama-sama bermasalah. Yang liar sering menarik uang parkir dengan jumlah tak wajar, yang resmi ternyata membuat saluran bocor sehingga uang parkir tidak masuk ke rekening pemerintah, tidak menambah Pendapatan Asli Daerah.
Padahal mestinya sumbangan uang parkir pada PAD tinggi sebab di Samarinda kendaraan bermotor sama larisnya dengan pentol dan gorengan lainnya. Di sembarang tempat selalu ramai dengan kendaraan diparkir, populasi kendaraan mungkin hampir sama dengan jumlah warganya.
Tapi potensi pendapatan parkir sepertinya disepelekan. Terbukti sarana atau lahan parkir dibuat seadanya, yang paling penting hanyalah “Bayar Parkir”.
Artinya baik pengelola parkir liar maupun parkir resmi kebanyakan hanya bermodal dengkul, ketrampilannya hanya satu, menarik uang parkir.
Padahal di gedung atau institusi swasta dan komersil, pendapatan parkir turut menopang pendapatan usahanya, memberi sumbangan yang cukup besar untuk kas perusahaan.
Keamanan dan kenyamanan tempat parkir bahkan menjadi salah satu daya tarik atau pertimbangan bagi konsumen untuk mengunjungi destinasi komersial itu.
BACA JUGA : Jurnalisme Sastrawi
Banyak tempat yang ramai dan menjadi tujuan kunjungan orang banyak kemudian menjadi kontroversial karena urusan parkir. Peluang atau potensi pendapatan tiba-tiba sering menggoda orang atau kelompok tertentu untuk memakai “Aji Mumpung”.
Yang kecewa karena sambutan juru parkir kemudian urung melakukan kunjungan. Dengan rasa kecewa yang membuncah kemudian mengeluh atau curhat di media sosial. Destinasi itu kemudian menjadi buruk nama.
Parkir termasuk layanan jasa. Jenis layanan yang sensitif karena berhubungan dengan mood para pemakainya. Jika layanan parkir bikin mood baik, urusan ongkos parkir tak jadi masalah. Tapi sebaliknya jika bikin mood buruk, sereceh apapun duitnya bikin orang tak rela hati untuk membayarnya.
Samarinda gencar membangun destinasi kunjungan, tempat warga bisa menikmati hari atau melepas penat dan memanen energi. Sudah sepantasnya urusan parkir menjadi perhatian karena parkir adalah garda terdepan keberlanjutan sebuah destinasi.
Tak perlu memperlakukan pengunjung sebagai raja, cukup diperlakukan sewajarnya saja.
Atur tempat parkir dan perilaku juru parkirnya baik-baik, agar urusan parkir tak terasa seperti bermodal dengkul saja, modal otot sama teriakan keras dan tatapan yang mengintimidasi.
Ada beberapa kota yang mampu mendidik juru parkirnya yang hanya menarik uang 2 ribu rupiah namun bisa menunjukkan sikap dan perilaku yang manusiawi.
Mereka bekerja sungguh-sungguh dan menghargai mereka yang memarkir kendaraan tanpa melihat merek, cc dan tahun produksi. Semua diperlakukan sama, ditata rapi, dan joknya ditutupi agar tak terkena panas langsung. Bahkan ada yang memberi ektra perlakuan pada helm yang ditinggal, helmnya disarungi plastik agar tak berdebu ketika panas atau tak basah ketika hujan.
Tak semua juru parkir, baik resmi maupun liar di Kota Samarinda kelakuannya acak kadut.
Ada titik-titik dimana juru parkirnya memberi perlakuan yang baik pada pelanggan. Yang datang tak perlu mengatur motor dalam deret parkiran. “Tinggal saja, jangan dikunci stang” biasanya mereka akan mengatakan begitu, dan setelah itu akan mengatur motor.
Saat mau pulang, tinggal tunjuk saja motornya.
Tukang parkir biasanya bertanya “Arah mana,”
Dan setelah mengatur motor sesuai arah keluar, tak ada gelagat dia meminta uang. Dia tahu yang parkir pasti akan membayar.
Begitu menerima uang, dia akan mengucapkan terimakasih sambil mengarahkan motor keluar sambil melihat kendaraan lain yang datang dan melambaikan tangan agar kecepatan dikurangi. Kendaraan keluar dari parkiran dengan pengendara yang hatinya senang.
Penjaga parkir yang manusiawi itu salah satunya berada di Pasar Subuh. Sayang pasar itu telah rubuh, tak ada lagi. Samarinda kehilangan satu cerita tentang juru parkir yang baik hati.
note : sumber gambar – BBC








