KESAH.IDKonflik Israel-Iran adalah ketegangan jangka panjang yang dipicu oleh kekhawatiran Israel terhadap program nuklir Iran dan dukungan Iran terhadap kelompok militan anti-Israel, yang memuncak pada serangan militer pada 2025 dan membahayakan stabilitas kawasan. Andai benar nanti memicu perang nuklir, dunia akan mengalami bencana kemanusiaan dan lingkungan.

Dulu, perang dilakukan dengan saling berhadap-hadapan di ruang terbuka. Perang seperti ini membutuhkan jumlah pasukan yang besar dan terlatih untuk menyerang serta bertahan dengan efektif.

Dalam perang terbuka, sekelompok pasukan rentan terhadap serangan kejutan, seperti serangan dari samping, belakang atau serangan jarak jauh oleh pasukan panah.

Oleh karenanya perang butuh strategi, perang tidak hanya dipimpin oleh panglima yang gagah berani memimpin dan menyemangati di depan, tetapi juga oleh ahli-ahli strategi untuk menyusun skenario atau formasi pasukan.

Dalam cerita epos Mahabarata, pada saat perang Baratayudha, pertempuran besar antara keluarga Pandawa dan Astina yang masih bersaudara diceritakan tentang strategi atau formasi perang antara keduanya.

Dalam perang besar yang berlangsung selama 18 hari di Padang Kurusetra itu, keluarga Pandawa memakai formasi Garuda Glayang.

Formasi ini terinspirasi dari gerakan burung Garuda saat terbang, menukik dan kemudian menyergap mangsa. Strategi perang ini melibatkan pembagian pasukan menjadi beberapa bagian. Setiap bagian berperan seperti halnya bagian tubuh Garuda yakni paruh, kepala, sayap dan ekor.

Strategi perang yang terinspirasi dari gerakan burung Garuda saat terbang, menukik, dan menyergap mangsa. Formasi ini melibatkan pembagian pasukan menjadi beberapa bagian yang masing-masing berperan seperti bagian tubuh Garuda, yaitu paruh, kepala, sayap, dan ekor.

Pasukan yang menjadi bagian paruh bertugas mematuk, menyerang dan menusuk jantung kekuatan musuh. Sedangkan pasukan yang bertugas laksana kepala, bertugas untuk memberi arah serangan dan berlaku sebagai komando.

Sementara pasukan yang bertugas sebagai sayap akan melindungi pasukan penyerang dari kedua sisinya. Selain itu juga bisa berfungsi sebagai penyerang dari sisi samping.

Dan pasukan yang ditempatkan dalam formasi ekor bertugas sebagai penopang dan juga difungsikan sebagai pasukan untuk melakukan serangan dadakan.

Formasi Garuda Nglayang, dianggap sebagai salah satu strategi penyerangan yang efektif. Mengambil inspirasi dari gerakan Garuda saat berburu, formasi perang ini menekankan pada kecepatan, kelincahan dan daya serang yang tinggi.

Tapi perang berkembang, strategi dan formasi perang juga makin bermacam-macam. Strategi dan formasi pasukan perang juga dipengaruhi oleh perkembangan teknologi perang. Lama kelamaan pasukan perang tak lagi selalu berhadap-hadapan.

Negara yang terlibat perang melakukan riset dan pengembangan senjata. Tujuannya untuk memenangkan perang secepat dan seefektif mungkin dengan senjata. Nama senjatanya adalah senjata pemusnah massal.

Senjata ini mempunyai kemampuan untuk menimbulkan kerusakan yang massif. Mulai dari penggunaan alat peledak yang ledakannya luar biasa, sampai zat-zat beracun yang bisa membunuh diam-diam.

Masalahnya senjata pemusnah massal jenis apapun akan menyebabkan korban yang besar, kelompok masyarakat sipil yang tidak ikut-ikutan berperang akan menjadi korban, lingkungan hidup akan rusak dan tercemar.

BACA JUGA : Jurnalisme Sastrawi

Dalam perang dunia kedua, Amerika Serikat yang berada dalam blok sekutu, memakai Bom Atom. Bom dengan daya rusak tinggi dan radiasi yang bertahan lama ini dijatuhkan di Hiroshima dan Nagasaki.

Little Boy, bom atom seberat 4000 kilogram dengan panjang 3 meter. Bom yang dijatuhkan di Hiroshima ini memakai uranium – 235 sebagai bahan peledaknya. Sementara Fat Man, yang mempunyai berat 4600 kilogram dijatuhkan di Nagasaki. Bom ini memakai plutonium – 239 sebagai bahan utamanya.

Bom atom dikembangkan oleh Amerika Serikat lewat proyek rahasia yang dinamakan Project Manhattan. Terdesak oleh serangan Jepang yang menjadikan pesawat dan penerbang sebagai senjata, pangkalan perang Amerika di Pearl Harbor hancur lebur.

Penemuan senjata pemusnah massal yang belum diuji nyata dalam peperangan, dibumbui dengan keinginan balas dendam atas serangan mendadak di Pearl Harbor, Amerika Serikat mempunyai momentum.

Kota Hiroshima dan Nagasaki yang merupakan kota industri serta militer relatif utuh dari serangan sebelumnya. Serangan terhadap kota ini akan menyebabkan kehancuran yang massif sehingga akan menimbulkan efek psikologis yang besar , menyebabkan moral perang Jepang runtuh.

Jepang sangat gigih melawan sekutu, menggunakan semua strategi termasuk pasukan bunuh diri yang membuat Amerika Serikat dan sekutu terdesak. Jepang harus dibuat menyerah tanpa syarat, namun serangan darat dengan mengirim pasukan tempur ke Jepang akan memerlukan mobilisasi sumberdaya yang besar juga korban yang besar.

Bom atom menjadi pilihan. Dan benar ketika bom atom dijatuhkan di Hiroshima dan Nagasaki, Jepang kemudian menyerah tanpa syarat. Amerika kemudian mendikte Jepang dengan berbagai perjanjian. Salah satu yang masih bertahan sampai sekarang adalah Jepang tak terlalu aktif atau membatasi diri untuk mengembangkan pesawat dan senjata.

Riset panjang yang dilakukan untuk mengembangkan bom atom dan ternyata hanya dipakai satu kali. Jatuhnya bom atom pertama dan terakhir kali di Jepang, bisa dikatakan sebagai salah satu faktor yang kemudian mengakhiri Perang Dunia Ke II.

Ada yang mengatakan bom atom menghasilkan perdamaian.

Perang memang berakhir, namun perdamaian diragukan. Sebab setelah perang dunia berakhir, dunia memasuki masa yang disebut sebagai perang dingin. Ada persaingan dan semangat siap perang antara blok Sekutu yang dipimpin oleh Amerika Serikat, dengan blok Timur yang dipimpin oleh Uni Soviet.

Blok yang kemudian berkembang menjadi Nato dan Pakta Warsawa ini terus memelihara tensi permusuhan serta persaingan dalam persenjataan dan alat tempur. Keduanya mampu mengembangkan senjata nuklir, senjata yang jauh lebih efektif dari bom atom.

Sistem atau teknologi tempur serta perang makin berkembang, ada banyak sistem dan model pertahanan yang ditujukan untuk menangkis serangan termasuk serangan dari jarak jauh. Kedua blok saling menghambat perkembangan dan pengembangan senjata nuklir. Dalam berbagai kasus Amerika Serikat bertindak sebagai polisi dunia, siapa yang boleh atau tak boleh mengembangkan teknilogi nuklir ditentukan oleh mereka. Yang tak menaati ‘ketentuan’ yang dirumuskan oleh Amerika Serikat bakal diserang.

Salah satu yang paling menderita dari kelakuan Amerika Serikat yang ingin menjadi penentu soal nuklir adalah Iran. Iran diserang dan diembargo secara ketat oleh Amerika Serikat dengan tuduhan mempunyai instalasi pengembangan senjata nuklir.

BACA JUGA : Jukir Liar

Embargo Amerika Serikat memang membuat Iran susah namun tidak runtuh. Moral nasional justru bangkit dan Iran terus berupaya dengan semua keterbatasan. Iran secara mandiri misalnya bisa mengembangkan kilang gas, melakukan ekploitasi gas alam di lepas pantai sebagaimana Qatar.

Dan dalam teknologi perang, Iran tak kalah maju. Iran mempunyai kemampuan mengembangkan rudal balistik yang punya daya jelajah tinggi. Iran juga dicurigai sudah mampu mengembangkan rudal atau senjata nuklir.

Yang menjadi khawatir dengan semua capaian Iran adalah Israel. Israel pantas khawatir karena Iran termasuk salah satu negara yang secara tegas menolak Israel dan ingin menghapus negara Israel dari peta.

Israel mengembangkan operasi khusus untuk menghambat dan menghabisi proyek-proyek nuklir Iran. Yang pertama dihabisi adalah para ilmuwan nuklir yang dimiliki Iran. Operasi intelejen khusus dilakukan oleh Israel untuk membunuh para ilmuwan ini.

Setelah beberapa kali terjadi ketegangan antara Israel dan Iran, pertempuran yang dilakukan lewat proxy, 13 Juni 2025, Israel melakukan serangan langsung besar-besaran dengan alasan menghentikan ancaman nuklir yang makin dekat dan berbahaya untuk eksistensi Israel.

Secara resmi Israel menuduh Iran telah mampu memperkaya uranium sehingga sudah cukup untuk membuat senjata nuklir. Dalam pandangan Israel, jika tak dihentikan Iran akan mampu menghasilkan 9 bom nuklir.

Iran membalas serangan Israel dengan mengirim rudah-rudal yang mempu melintasi beberapa negara dan meledakkan wilayah Israel. Serangan Iran tidak lagi ditujukan untuk sasaran militer di Israel, melainkan serangan kejutan ke kota atau pusat ekonomi serta permukiman. Israel kewalahan karena Iron Dome atau perisai pertahanan udaranya berhasil ditembus.

Sampai-sampai ada yang berkomentar kalau kecanggihan perisai pertahanan Israel hanya efektif menangkal rudal hasil kerajinan tangan para pejuang Gaza.

Posisi Israel agak terhimpit karena Amerika Serikat sang sekutu dekat tak mau ikut campur. Donald Trump lebih memilih untuk meneruskan perundingan nuklir dengan Iran ketimbang membantu Israel menghadapi Iran.

Tapi tiba-tiba saja Donald Trump menyerukan agar warga Teheran mengungsi. Ini menjadi isyarat bahwa Amerika Serikat setuju Israel melakukan serangan besar-besar, Amerika Serikat akan ada di belakangnya. Artinya Iran akan melawan Israel plus Amerika Serikat.

Seruan ini tentu mengerikan. Namun juga agak meragukan karena Donald Trump sering kali omong besar, untuk main gertak. Bisa jadi Trump memang mengertak, memanfaatkan agresifitas Israel untuk menekan Iran yang sedang berunding dengan Amerika Serikat agar segera tuntas. Belum lama menduduki kembali kursi presiden Amerika Serikat, banyak omongan besar Donald Trump tak terbukti.

Entah apakah Iran benar-benar sudah punya senjata nuklir. Andai saja benar-benar sudah punya mungkin Amerika Serikat tak akan terlalu kelewatan dalam menekan, seperti halnya terhadap Korea Utara yang kalau marah bisa khilaf menekan tombol peluncur rudal nuklir jarak jauhnya.

Dunia masih jauh dari damai karena banyak negara mempunyai alat penghancur massal yang belum pernah diuji coba. Kita tak pernah tahu apakah rudal nuklir jarak jauh yang disiapkan akan bisa menjangkau negara yang dituju. Bisa jadi justru jatuh di negara lain, atau kalaupun bisa ditangkis oleh sistem keamanan negara yang menjadi sasaran, ledakannya bakal menimbulkan radiasi besar yang akan menimbulkan bencana dan tragedi kemanusiaan.

Ditengah konflik antara Israel dan Iran, ucapan Donald Trump menjadi teror tersendiri. Bukan hanya menakutkan untuk warga Iran, terutama Teheran melainkan juga negeri-negeri tetangga Iran dan warga dunia pada umumnya.

Kita tahu kekuatan bom nuklir ribuan kali lebih besar dari Little Boy dan Fat Man yang dijatuhkan di Hiroshima dan Nagasaki. Bom ini akan menghancurkan apa saja, tak membedakan antara sipil dan militer dan radiasinya bakal bertahan seumur hidup.

Dengan nuklir, dunia tak perlu dikoyak oleh Perang Dunia Ke III. Tanpa perang sekalipun dunia bisa hancur lebur.

note : sumber gambar – DETIK