KESAH.ID – Nutung uma atau berladang untuk menanam padi menjadi kebiasaan masyarakat Kenyah Lepo Jalan sejak lama. Kini kebiasaan itu susah untuk dipraktekkan karena ladang mereka terhimpit oleh konsesi tambang, HTI dan perkebunan sawit. Model perladangan rotasi dengan cara tebas bakar tak disukai oleh pemegang konsesi. Masyarakat sering dikriminalisasi dengan tuduhan sebagai perambah atau pembakar lahan. Berladang padi sebagai salah satu pilar utama pengetahuan dan ekpresi budaya Kenyah Lepo Jalan makin sulit untuk dipertahankan walau setiap tahun mereka masih mengadakan upacara panen, Mecaq Undat.
“Sudah buka kah Laminnya?” tanya seorang Amay sambil menarik pintu lamin yang tertutup.
Lelaki tua itu berpikir saya adalah rombongan relawan yang akan memberi layanan kesehatan kepada warga manula Lung Anai.
Amay itu salah sangka.
Saya bukan petugas kesehatan yang ditunggu, sama dengannya saya juga sedang menunggu di depan lamin.
Yang saya tunggu adalah Yurni dan Tian, suami istri yang ladangnya akan saya datangi.
Siang itu saya dan beberapa teman lainnya memang agak memaksa untuk pergi ke ladang mereka berdua. Agak memaksa karena kalau dilihat dari waktu terhitung mepet sebab Yurni dan beberapa teman lain punya agenda untuk petang hari.
Berdasarkan informasi dari Yurni, perjalanan dari Lung Anai ke ladangnya kurang lebih 1,5 jam. Tetapi saya tahu itu hitungan yang dikira-kira saja, faktanya bisa dua kali lipat karena bakal ada saja kesulitan di tengah jalan.
Lung Anai, adalah Desa Budaya, ditetapkan pada tahun 2005. Pemerintah Kutai Kartanegara dijaman kepemimpinan Syaukani HR, menetapkan sekitar 16 Desa Budaya.
Sebelum mekar menjadi desa sendiri, Lung Anai adalah salah satu dusun dari Desa Sungai Payang. Disebut Dusun Tanah Merah. Sebutan untuk penumpukan kayu atau log pond milik PT ITCI Kartika Utama, perusahaan HPH di jaman pemerintahan Orde Baru.
Ketika era kayu gelondongan atau tebangan surut, komunitas masyarakat Dayak Kenyah Lepo’ Jalan mulai membangun perkampungan disitu.
Kawasan administratif Desa Lung Anai terbilang kecil untuk ukuran desa di Kutai Kartanegara. Wilayahnya tidak lebih dari 200 hektar. Desa Lung Anai hanya meliputi kawasan permukiman sehingga mereka harus berladang di luar wilayah administrasi desanya.
Secara tradisional wilayah perladangan masyarakat Lung Anai ada di sekitar Sungai Gitan, anak sungai Jembayan.
Dulu wilayah Sungai Gitan merupakan tempat untuk mencari bahan untuk membangun rumah dan bahan kebutuhan lain seperti rotan. Untuk mencapai kawasan ini, jalan satu-satunya adalah melalui sungai dengan perahu.
Entah berapa lama perjalanan naik perahu dari Lung Anai ke Gitan jika memakai perahu yang didayung. Tapi menurut warga, jika memakai mesin ketinting, perjalanannya sekitar 1,5 jam.
Berdasarkan toponimi etnis, orang Lung Anai disebut sebagai orang darat, orang benua atau benawa yang secara geografis dikategorikan sebagai orang yang berasal usul dari hulu, orang Dayak.
Mereka berasal dari dataran tinggi Apokayan. Mulai sekitar tahun 60, sebagian melakukan migrasi.
Menurut cerita yang dituturkan turun temurun, penyebab migrasi adalah upaya untuk mencari penghidupan yang lebih baik. Lebih baik dalam pendidikan dan kesehatan, tetapi juga kebutuhan dasar lain.
Salah satu yang disebut-sebut adalah garam.
Berada di dataran tinggi, jauh dari laut, kebutuhan garam sulit untuk dipenuhi.
Sebelum mengenal garam dari luar, masyarakat Apokayan membuat garam sendiri dari sumber air panas, air mendidih yang keluar dari sela tanah. Air itu dimasak hingga mengering di wadah yang akan meninggalkan kerak.
Kerak didasar wadah itu dikerik, itulah garam tradisional mereka. Satu wadah air yang dipanaskan terus menerus bisa menghasilkan segenggam garam.
Garam itu dinamakan sungan. Nama ini merujuk pada orang yang membuatnya untuk pertama kali.

BACA JUGA : Susur Gang

Apokayan merupakan bentang alam dataran tinggi antara 450 hingga 1700 mdpl yang terletak di perbatasan Kalimantan Utara dan Malaysia Timur. Wilayah yang kaya dengan sumberdaya alam namun terpencil.
Wilayah ini didiami oleh masyarakat Dayak rumpun Apokayan. Yang termasuk di dalamnya adalah Dayak Kayan, Dayak Kenyah dan Dayak Bahau. Salah satu keunikan masyarakat rumpun Apokayan, baik laki-laki maupun perempuan memakai anting gelang dan mempunyai tatto di kaki serta tangan.
Dayak Kayan, Kenyah dan Bahau kemudian terbagi lagi menjadi puluhan sub suku.
Migrasi warga Kenyah Lepo Jalan terjadi setelah masa pergolakan konfrontasi Indonesia – Malaysia. Sukarno memerintahkan ‘Ganyang Malaysia’. Sukarno geram atas rencana pembentukan Federasi Malaysia yang diinisiasi untuk kepentingan Inggris. Federasi Malaysia terdiri dari Malaysia, Sabah, Serawak, Brunei dan Singapura.
Tentara di kirim ke perbatasan. Dan kemudian mereka melatih warga setempat untuk menjadi pasukan cadangan atau tim pendukung.
Ditengah operasi Ganyang Malaysia terjadi huru hara politik di Jakarta. Sukarno melemah dan operasi Ganyang Malaysia terhenti begitu saja.
Para tetua Kenyah Lepo’ Jalan ingat persis nama-nama komandan tentara yang dikirim dari Jawa. Ada Letnan Herman Musakabe, Letnan Manopo dan Letnan Palaguna.
Para Letnan inilah yang mendorong warga untuk berpindah, mendekat ke fasilitas sekolah, fasilitas kesehatan, layanan pemerintah dan juga garam. Anjuran lain yang diberikan oleh para Letnan Tentara ini adalah memilih salah satu agama resmi.
Tidak semua warga sepakat dengan anjuran Letnan Tentara ini. Warga terbelah, namun pemerintah setempat, Camat Long Nawang mendukung. Dia mendukung upaya hilirisasi, pergi ke hilir untuk mencapai kemajuan.
Meski sedih meninggalkan wilayah adat dan lamin tempat tinggal komunal mereka, tahun 1967 warga Kenyah Lepo Jalan memulai perjalanan migrasi menuju hilir. Mereka berjalan kaki berhari-hari hingga ke anak sungai yang akan menghantar mereka ke hilir.
Warga tidak langsung ke Lung Anai, melainkan singgah dan menetap sementara di beberapa wilayah. Rombongan akan singgah di sebuah wilayah untuk bertanam padi sebagai bekal perjalanan.
Nama-nama kampung yang terbentuk dari perjalanan migrasi ini antara lain Tepian Buah, Batu Rajang, Long Segar, Gemar Baru, Rantau Sentosa, Datah Bilang dan lain-lain. Dari sana kemudian sebagian bermigrasi lagi ke Berambai, Lung Anai dan Sungai Bawang. Terakhir ini dicatat ada migrasi lagi ke Bukit Tengkorak, Sepaku.
Di Kalimantan Timur, kini ada puluhan kampung yang terbentuk karena migrasi Dayak Rumpun Apokayan ini. Tersebar di Berau, Kutai Timur, Kutai Barat, Mahakam Hulu, Kutai Kartanegara dan Samarinda.
Sebagai masyarakat asli Kalimantan Timur, namun karena perjalanan migrasi yang jauh masyarakat Kenyah, utamanya Lung Anai kemudian harus berladang di luar batas administratif desanya. Mereka berladang di lahan hutan yang berada di desa tetangga.
Masayarakat Lung Anai tetap berusaha mempertahankan tradisi berladang, mempraktekkan adat istriadat yang berkaitan dengan perladangan namun ruang kelolanya makin terhimpit.
Ladang masyarakat Lung Anai di Sungai Payang, terhimpit konsesi tambang, HTI dan Perkebunan Sawit.

BACA JUGA : Ulil Bahlul

“Kami tak berani lagi menanam padi ladang. Begitu membakar lahan dan berasap, drone perusahaan naik. Jika kami terus membakar akan dilaporkan polisi,” ujar Ismail sambil menunjukkan bekas banjir Sungai Gitan yang menyisakan batang pohon yang hanyut dari hulu terdampar di bibir sungai.
Tak lagi bisa bertanam pada ladang dan tergenang banjir di musim hujan, menjadi gambaran terkini huma masyarakat Lung Anai di Sungai Gitan.
“Operasi pertambangan batubara memindahkan aliran sungai,” tambah Tian, yang ladangnya berjarak kurang lebih satu setengah kilometer ke arah hilir.
Karena banjirnya tinggi, Ismail menyiapkan perahu di ladangnya.
Banjir bisa berlangsung selama berhari-hari, cukup untuk merendam buah coklat di batang pohon. Penghasilan mereka dari memanen buah coklat berkurang.
Kakao atau coklat kini menjadi andalan peladang Lung Anai. Mereka terampil melakukan budidaya coklat, ketrampilan yang dipelajari oleh warga Lung Anai yang sebagian pernah merantau ke Malaysia Timur.
Selain coklat, kebun juga menghasilkan pisang dan aneka buah lainnya.
“Setiap kebun pasti punya pohon durian, rambutan, nangka dan cempedak,” ujar Ismail.
Pohon-pohon buah itu merupakan penanda untuk kebun masing-masing warga. Pohon durian diibaratkan sebagai materei tanahnya.
Pohon buah lain yang selalu ada di ladang masyarakat Kenyah Lepo Jalan adalah pohon buat tarap atau terap dan mata kucing atau ihau.
Terlihat pohon kakao di ladang masyarakat Lung Anai sudah menua, produktifitasnya mulai menurun. Sebagian warga mulai merintis untuk bertanam sawit.
Pohon komoditas yang ditanam di ladang memang sering berganti. Dulu pernah sebagian ladang ditanami kopi, lalu karet dan kemudian diganti dengan kakao, lalu kini cenderung akan beralih ke sawit.
Setiap tahun warga Lung Anai selalu merayakan pesta panen, Mecaq Undat yang ditandai dengan menumbuk beras baru menjadi tepung untuk dibuat kue yang dibakar dalam bambu. Upacara panen merupakan salah satu upacara penting dalam kehidupan masyarakat Kenyah tradisional. Upacara ini menjadi tanda bersyukur atas hasil panenan yang berlimpah.
Mecaq Undat terus dilakukan, bahkan dijadikan sebagai salah satu kalender event pariwisata. Namun nutung uma atau berladang untuk menanam padi gunung, gogo atau ladang makin sulit dilakukan. Selain lahan makin menyempit, para pemegang ijin HTI dan perkebunan yang menghimpit ladang masyarakat Lung Anai juga keberatan dengan model perladangan tebas bakar itu. Mereka akan menuduh warga Lung Anai sebagai pembakar lahan.
Dulu dikenal sebagai penghasil beras, kini harus membeli beras.
Di dekat Lamin atau rumah adat Lung Anai ada lumbung padi. Masyarakat Lung Anai harus berjuang agar lumbung itu tetap terisi. Padahal dulu lumbung padi juga ada di tiap rumah, kini tak ada lagi.
Ismail mengingat-ingat lagi masa kecilnya. Menurutnya dulu orang tuanya bisa menebar bibit padi sebanyak 7 kaleng. Betapa luas ladang mereka untuk bertanam padi.
Menanam padi ladang adalah salah satu pilar tradisi masyarakat Kenyah Lepo Jalan, Lung Anai. Pengetahuan dan praktek budidaya padi ladang dengan semua upacara daur musimnya membuat masyarakat Lung Anai tetap menghidupi tradisi dan kebudayaannya. Namun kini sulit untuk dilakukan terlebih pemerintah kerap kali menyempitkan kebudayaan hanya dalam tari-tarian dan pakaian adat.
Masyarakat Lung Anai hanya ingin kepastian, pengakuan atas pola dan tradisi mereka dalam berladang. Mereka ingin diberi keluasan dalam mengelola lahan penghidupan mereka agar tradisi atau adat istiadat tidak hanya dipertontonkan di panggung pertunjukan atau di lamin.
Sungguh aneh jika mereka mengadakan upacara Mecaq Undat tapi tak ada padi di ladang. Upacara panen padahal ladang tak lagi menghasilkan beras.
note : sumber gambar – KESAH.ID








