KESAH.ID – Di masa mudanya Ulil Absar Abdalla dikenal sebagai pengerak forum diskusi dan gerakan yang bertujuan menyebarluaskan pemikiran Islam yang liberal di Indonesia. JIL atau Jaringan Islam Liberal menekankan pada pemahaman Islam yang terbuka, toleran, inklusif dan kontekstual. Namun pemikiran Ulil yang liberal kemudian berbalik arah ketika membahas soal lingkungan terutama industri ekstraktif dalam konteks hilirisasi nikel. Ucapan Ulil sungguh diluar nalar karena menyebut aktivis peduli lingkungan layaknya kelompok Wahabi yang dikritisinya saat aktif di JIL.
Muda, cerdas, berani dan berbahaya, berbahaya bagi lawan atau musuhnya. Julukan itu dulu pantas disematkan kepada Ulil Ashar Abdalla, tokoh agama muda yang menyegarkan jagad diskursus antar iman lewat Jaringan Islam Liberal.
JIL begitu sebutannya, kehadirannya menguncang. Ada yang bergembira dan menaruh harapan tapi tak sedikit yang terguncang dan terganggu olehnya. Hingga kemudian ada yang memfatwa kalau darah Ulil halal hukumnya.
Meski sama-sama bergerak dalam lapangan dialog antar iman, saya tak pernah bertemu dengan Ulil. Tapi saya tentu respek terhadapnya dan segala diskursus serta pemikiran yang diangkat oleh JIL.
Apa yang dilakukan oleh Ulil dan teman-temannya menguntungkan untuk gerakan pluralisme dan multikulturalisme yang waktu itu semarak karena Indonesia diguncang oleh isu-isu sektarian, fanatisme dan radikalisme.
JIL kemudian memunculkan gerakan serupa yang dibalut dengan tagline partisipatoris, moderat, inklusif dan lain-lain.
Setelah berjuang melalui gerakan masyarakat sipil, Ulil Absar Abdalla kemudian memasuki jalur partai. Kalau tidak salah Ulil aktif di Partai Demokrat namun tak lama. Dan setelah itu sepertinya Ulil kembali ke jalur Nahdatul Ulama, memilih menjadi aktivis keagamaan jalur mainstreams, tentu saja sebagai agamawan cendekiawan.
Sayangnya pemikiran Ulil kemudian menjadi agak aneh-aneh, bukan soal agama, negara, hubungan antara agama dan hal-hal sejenis. Saya yakin dalam persoalan itu pemikiran dan sikap Ulil sudah jelas tak perlu diragukan lagi.
Pemikiran Ulil menjadi agak aneh-aneh ketika mulai bicara tambang. Gugatan terhadap apa yang disampaikan olehnya sebenarnya mulai muncul saat ada kontroversi tentang pemberian konsesi tambang pada Ormas Keagamaan. NU menjadi salah satu ormas keagamaan yang menerima pemberian itu.
Disini Ulil mulai membela tambang, padahal mungkin dulu-dulu ikut menyusun fiqih anti tambang.
Ektraksi untuk Ulil tidak haram lagi, bahkan mungkin perlu bagi Ormas Keagamaan agar beroleh sumberdaya untuk menjadikan layanan atau pembelaan pada umat menjadi semakin kuat.
Kelakuan Ulil makin menjadi-jadi ketika muncul kontroversi pertambangan nikel di Raja Ampat. Ditengah penolakan terhadap pertambangan nikel di Raja Ampat yang merupakan kabupaten kepulauan dengan pulaunya yang kecil-kecil. Ulil menjadi garda depan bagi para penentang pertambangan nikel disana.
Padahal yang menentang punya alasan kuat, penambangan nikel di Raja Ampat jelas melawan undang-undang. Dan secara fakta penambangan nikel di Raja Ampat menantang realita bahwa Raja Ampat adalah surga taman laut, yang ekosistemnya dengan sangat mudah akan terganggu oleh aktivitas pembukaan lahan yang tak terkendali di pulau-pulaunya.
Masyarakat Raja Ampat telah bertekun menjaga kekayaan sumberdaya hayati lautnya. Disana nelayan bahkan hanya memakai pancing untuk menangkap ikan. Masyarakat Raja Ampat membatasi dirinya untuk tidak mengekploitasi sumberdaya laut secara berlebihan agar lautnya lestari sehingga mereka bisa beroleh penghasilan dari pariwisata.
Tentu ekonomi pariwisata dan ekonomi kreatif yang akan tumbuh karena perkembangan pariwisata tidak bisa terwujud dengan sangat cepat. Dan pemerintah serta masyarakat Raja Ampat menyadari hal itu.
Mungkin ada yang tak sabar sehingga ketika iming-iming industrialisasi yang dibalut oleh istilah hilirisasi lalu mengoda untuk menumbuhkan ekonomi yang lebih cepat. Dan kemudian Raja Ampat ditambang walau menabrak banyak aturan dan menghapus upaya yang selama ini dilakukan oleh masyarakat dan pemerintah daerah Raja Ampat dalam perlindungan dan pelestarian kawasan lautnya.
Ulil dalam banyak penampilan di publik menafikan hal ini. Dia yang mulanya merupakan pengusung bendera Jaringan Islam Liberal kemudian menjadi pendukung jaringan Nikel Liberal.
BACA JUGA : IKN Semalam
Ketika beraktivitas di Jaringan Islam Liberal, Ulil mengkritisi praktek dan kepercayaan kaum yang disebutnya Wahabi. Kaum ini merupakan kelompok agama puritan, yang dalam praktek pemurnian kerap menghancurkan karya-karya peradaban yang meski bernilai sejarah tinggi tapi dianggap tak sesuai dengan keyakinan mereka. Tanpa ragu apapun itu akan dihancurkannya.
Melawan para penentang tambang nikel di Raja Ampat, Ulil Absar Abdalla lagi-lagi memakai istilah yang sama. Para pecinta lingkungan disebut olehnya sebagai Wahabi Lingkungan.
Buat saya ini mengejutkan, kok tega Ulil memakai istilah itu, sebab dia tahu persis apa itu Wahabi.
Kita tahu mereka yang peduli, gelisah dan resah pada pertambangan nikel di Raja Ampat bukanlah orang-orang yang punya kepentingan langsung atas ekonomi atau apapun di Raja Ampat. Mereka bukan investor resort, angkutan wisata, biro travel dan lainnya. Sebagian besar murni peduli terhadap bio diversivitas laut Raja Ampat dan menganggap itu sebagai kekayaan nusantara yang patut dipertahankan.
Rasanya kita tidak pernah mendengar Ulil mengalami gegar otak hingga menganggu kinerja pemikiran atau memorinya. Tapi ungkapan Wahabi Lingkungan jelas pertanda ada yang salah dengan otak Ulil, logikanya rusak berat.
Ulil jelas salah menempatkan istilah Wahabi kepada para pecinta lingkungan, aktivis pelestari alam. Yang lebih cocok disebut Wahabi ya para penambang nikel di Raja Ampat. Demi kepentingan ekonomi segelintir orang mereka berani dan tega merusak alam. Meratakan gunung, menggali tanah, mengalirkan sedimentasi ke laut, merusak karang untuk membuat jeti dan seterusnya.
Dan yang lebih parah mereka berani berbohong, bahwa tak ada pencemaran atau perusakan lingkungan di Raja Ampat. Anak SD yang tertolol sekalipun juga tahu kalau tak ada tambang yang tak merusak, apalagi menambang di pulau kecil yang dikelilingi lautan.
Entah kenapa demi membela penambang di Raja Ampat, Ulil sampai membabi buta. Saya yakin Ulil pernah ke Raja Ampat, melihat keindahan disana. Namun sebagai pemikir dan cendekiawan, Ulil pasti tahu dibalik keindahan itu ada kerapuhan. Salah sedikit saja hancur keindahan Raja Ampat itu.
Hutan yang dibabat masih bisa dipulihkan. Tapi karang yang mati, butuh waktu lama dan panjang untuk memulihkannya kembali.
Ulil pasti tahu ada ketidakadilan disini.
Di Borneo, peladang berpindah dilarang dan dikriminalisasi karena model perladangannya. Padahal model rotasi, tebas bakar terbukti tidak merusak hutan. Hutan yang dipakai berladang ibarat hanya dipinjam, bukan pinjam pakai ala pemerintah yang memberi konsesi hingga puluhan tahun.
Peladang berpindah hanya memakai hutan satu dua kali tanam, setelah itu ditinggal dan dibiarkan dan ladang kembali menghutan. Praktek ini jelas membuat hutan tetap lestari sekaligus mendatangkan keuntungan ekonomi.
Tapi sama seperti halnya tambang, pemerintah lebih suka membela investasi. Investor diberi keleluasaan untuk merusak hutan. Seperti ijin pinjam pakai hutan untuk pertambangan, pemberian ijin seperti ini jelas mencerminkan logika yang hancur lebur.
Ulil sepertinya tertular penyakit logika seperti ini. Maka pembelaannya pada penambang nikel di Raja Ampat tak kurang hancur leburnya.
BACA JUGA : Susur Gang
Tanpa sebuah perisitwa yang luar biasa sulit bagi seseorang untuk demikian berubah pikirannya. Bagaimanapun juga Ulil pasti merupakan seseorang yang mewakili pemikir agama yang rasionalis moderat. Apapun ucapannya pasti dipikirkan berdasarkan ilmu, data dan keberpihakan terutama pada yang lemah.
Sebagai orang yang mendalami agama, sejarah dan segala dinamikanya, pasti Ulil paham kalau agama apapun lahir dari sebuah keberpihakan. Opsi dari agama adalah membela kaum lemah, masyarakat kebanyakan, orang-orang yang tersingkir.
Dalam kitab agama terutama agama keturunan Abrahamis, orang-orang kaya terlebih yang mencari kekayaan tidak dengan cara yang benar, tamak, serakah termasuk menghalalkan segala cara untuk kaya adalah orang yang jauh dari surga. Mereka digambarkan sebagai onta yang harus masuk lubang jarum, tentu susah bahkan tak mungkin.
Di jaman ini siapa yang kaya raya seperti itu?. Ya kaum investor, industrialis tambang yang dengan selembar kertas kemudian meampas ruang hidup rakyat, masyarakat yang hidupnya tergantung dari alam.
Di Raja Ampat sebagian masyarakatnya mengantungkan hidupnya dari alam, dari laut dan pesisir yang akan terus menghasilkan ikan dan tangkapan lain yang berlimpah jika hutan di pulau-pulau kecilnya terjaga. Kelestarian alamnya juga membuka peluang kehidupan baru, keindahannya akan dinikmati oleh wisatawan. Kedatangan para wisatawan akan membuka peluang dan ruang usaha serta kerja baru.
Tambang bisa saja merubah kehidupan masyarakat Raja Ampat dengan cepat, tetapi umurnya juga pendek. Menambang di pulau kecil bisa saja membuka peluang kerja untuk seluruh warganya yang sedikit itu, tapi berapa lama dan nanti anak cucunya mau hidup dari mana, jika gunung rata, hutan tiada dan laut tercemar?.
Kehidupan masyarakat kini dan masa depan yang harus dibela, dan jelas tambang tidak bisa menjadi tumpuan masyarakat Raja Ampat. Memaksakan tambang nikel di Raja Ampat jelas membuat surga kecil di tanah Papua itu tak lama berubah menjadi neraka.
Entah apa alasan Ulil begitu getol membela tambang nikel di Raja Ampat tanpa peduli reputasi dirinya. Apakah Ulil pingin jadi menteri sehingga mau pasang badan untuk membantu Bahlil yang tak kurang konyolnya itu.
Ya Bahlil konyol karena sengaja datang ke Raja Ampat dengan membawa reporter dari berbagai stasiun televisi. Reporter yang tak boleh menyiarkan demonstrasi yang menyambutnya saat mendarat. Reporter yang hanya mewawancarai masyarakat yang bekerja di tambang, mendapat untung dari tambang. Tentu mereka mendukung.
Padahal tambang bukan pemilu, urusan tambang tidak bisa di vote dengan pendukung atau penentang. Seolah kalau banyak yang mendukung maka tambang baik-baik saja.
Kalau begitu apa bedanya Ulil dan Bahlil?. Sepertinya tak berbeda, keduanya sama-sama bahlul.
note : sumber gambar – ISLAMI








