KESAH.ID – Pasar Subuh di Samarinda, yang selama lebih dari 50 tahun menjadi ruang sosial dan ekonomi bagi komunitas Tionghoa serta warga lainnya, kini telah ditutup akibat relokasi oleh pemerintah kota. Pasar yang dulu hidup dalam kehangatan interaksi, aroma jajanan khas, dan keberagaman dagangan, kini tercerai-berai, meninggalkan jejak nostalgia di lorong-lorong yang sunyi. Para pedagang berjuang mempertahankan pelanggan dan identitas mereka di berbagai lokasi baru, tetapi kehilangan ruang yang sudah seperti rumah. Meski Samarinda terus berkembang, harapan akan tempat yang bisa menampung kembali semangat dan warisan Pasar Subuh masih mengemuka, menunggu kesempatan untuk kembali hidup dalam bentuk yang lebih sesuai dengan nalar para perencana kota.
Subuh menyelimuti Samarinda dengan keheningan yang berbeda. Di ujung Jalan Yos Sudarso, seratusan meter menjelang Jembatan Satu, tak ada lagi hiruk-pikuk yang biasanya menyambut fajar. Pintu besi yang kokoh menghalangi lorong gang yang dulu menjadi denyut nadi sebuah komunitas—Pasar Subuh kini tinggal kenangan. Gapura Pasar Subuh sudah rubuh.
Setelah 50 tahunan Pasar Subuh menjadi bagian dari perjalanan Kota Samarinda di kawasan yang secara de facto bisa disebut sebagai China Town-nya Samarinda, kesetiaannya menyertai warga Samarinda ketika sebagian masih meringkuk manis di kasur harus terhenti.
Adalah surat perintah relokasi tertanggal 25 April 2025 dari pemerintah Kota Samarinda yang kemudian mengakhiri sejarah Pasar Subuh.
Dulu Pasar Subuh sering disebut Pasar Babi. Sebutan yang sebetulnya men-simplifikasi namun juga bernuansa khas. Ya Pasar Subuh adalah pasar informal yang tumbuh di Pecinan Samarinda tepatnya di jalan Yos Sudarso, area sekitar pelabuhan.
Dulunya pasar ini berupa kios-kios seadanya, dagangan digelar di pinggir jalan hingga mendekati Jembatan Satu. Masyarakat Thionghoa berjualan segala sesuatu yang diperlukan oleh mereka baik untuk kuliner maupun kebutuhan spiritual yang jarang diperdagangkan dipasar lainnya.
Buka subuh hari merupakan siasat agar pasarnya tidak menganggu atau bertabrakan kepentingan dengan pasar lain. Utamanya pasar masyarakat lokal atau pribumi yang ada di Pasar Pagi.
Namun Pasar Subuh menjelang tahun 80-an kemudian bergeser, masuk ke sebuah gang, tepatnya Gang 3 Yos Sudarso pada lahan privat. Pedagang kemudian leluasa berjualan disana, jumlahnya tak banyak karena Gang 3 yang buntu itu memang tak panjang.
Lama kelamaan memang ada ‘tumpahan’ hingga pinggiran ruas Jalan Yos Sudarso. Di bagian luar gang ada deretan pedagang yang membuka lapak kuliner, aneka kue-kuean dan makanan untuk sarapan.
Walau yang berjualan tidak semuanya keturunan Thionghoa, Pasar Subuh tetap punya nuansa kuat Pecinan.
Yang khas tentu bukan hanya daging babi, anjing atau jenis hewan lain seperti bidawang, ular dan lain-lain. Di Pasar Subuh juga ada teripang, aneka mie basah, jamur-jamuran dan sayur asinan. Di ujung dalam Pasar Subuh juga ada toko yang menjual aneka bumbu, saos atau bahan pendukung lainnya untuk masakan atau olahan makanan warisan budaya Thionghoa atau Chinese Food.
Ciri Pecinan juga ditemukan dalam lapak kuliner yang berjualan di luar gang. Disana bisa ditemukan kue kering dan basah, juga manisan yang terpengaruh atau mewarisi budaya kuliner Thionghoa yang jarang ditemui di pasar-pasar lainnya.
Ada Ba’cang, Kue Moho, Loenpia, Bakpao, Kue Ku, Kue Mangkok, Chakue, Pangsit dan banyak lainnya. Menjelang Imlek biasanya juga ada Kue Kranjang dan Kue Bulan.
Lapak kuliner di Pasar Subuh setiap hari menyajikan aneka jajanan dan pangganan yang biasanya hanya ditemui di Food Festival yang diselenggarakan oleh Kelenteng atau Budhis Centre.
Maka tak salah jika kemudian Pasar Subuh dianggap sebagai salah satu ikon kebudayaan dan ekonomi lokal Kota Samarinda. Pasar ini ikonik karena kesejarahannya dan ragam sumbangannya dalam bidang budaya kuliner atau gastronomi Kota Samarinda.
Dan secara sosial, Pasar Subuh telah turut menyumbang perekatan sosial antar bangsa dan suku di Kota Samarinda. Pasar ini menjadi ruang perjumpaan berbagai kelompok masyarakat dalam suasana yang harmoni dan saling menghormati.

BACA JUGA : Dari Gerilya Ke Pampang, Mencari Harapan Di Tengah Transisi Energi
Tak biasanya Minggu pagi, Susur Gang Samarinda berkegiatan jalan-jalan. Minggu akhir Mei jadwal regularnya memang berantakan.
Hampir saja tak jadi karena menjelang jam enam hujan masih turun rintik-rintik.
Molor sedikit tapi akhirnya terkumpul sekitar sepuluhan ‘Kawan Susur’ di parkiran Citra Niaga Utara, depan Kedai Kopi Starbud.
Dari Citra Niaga, kaki diarahkan menuju Mambo, sebutan populer untuk jalan Imam Bonjol. Beriringan melewati jalan besar yang masih sepi dan sunyi.
Ciri Susur Gang Samarinda adalah melewati gang-gang sempit permukiman, bukan jalan raya atau jalan penghubung. Dan gang yang pernah viral karena Pedagang Es Kelapa digusur menjadi pintu masuk untuk menyusuri liuk-liuk gang di dalam permukiman sepanjang jalan Imam Bonjol.
Terdengar musik jedag-jedug, ternyata sekumpulan ibu-ibu di dalam gang tengah melakukan senam dengan semangat. Salah satu yang paling menonjol dalam Program Probebaya adalah sekelompok ibu-ibu yang masih rajin senam.
Karena gang tertutup oleh ibu-ibu yang lagi senam, Kawan Susur berbelok. Tak perlu khawatir, asal arah yang dituju jelas, gang akan terbubung. Jarang-jarang ada gang buntu.
Di dalam gang tenyata banyak rumah kosong, satu dua sudah ditumbuhi semak belukar hingga mirip rumah horor. Sepertinya di balik jalan besar dan pertokoan, permukiman di belakangnya sering calap, terendam banjir.
Rumah-rumah yang tak mampu meninggikan lantai atau pondasi, seperti terbenam. Apalagi jalanan gang sudah disemen, dinaikkan ketinggiannya. Giliran jalan atau gang terbebas dari banjir, airnya mengalir ke rumah-rumah.
Permukiman di dalam gang seolah berlomba, semacam balapan liar menaikkan lantai atau pondasi tanpa peduli kalau itu semakin menenggelamkan rumah tetangga. Masing-masing cari selamat sendiri, yang penting rumahnya tak kemasukan air.
Jika satu rumah dikelilingi rumah lain yang berpondasi tinggi, bisa dipastikan rumahnya akan jadi kolam renang, yang airnya tak surut-surut walau banjir di tempat lain telah lewat.
Lama kelamaan rumah akan ditinggalkan dan dipasangi tulisan ‘Dijual’. Sayangnya menjual rumah di daerah yang kebanjiran tidaklah mudah. Yang membeli akan berpikir tiga belas kali, terkecuali dijual murah sekali.
Biasanya kalau ada tulisan rumah dijual, kawan susur akan memotretnya untuk dikirimkan ke seorang kawan yang sedang mencari-cari rumah. Tapi karena terlalu banyak rumah yang akan dijual, tulisan ‘Rumah Dijual’ tak terlalu menarik lagi.
Ternyata ada Gang Buntu, tepatnya ujung gang yang diberi palang pintu dan belum dibuka. Gang seperti ini biasanya ada di perumahan, bukan di permukiman organik. Ternyata gang itu diberi palang pintu karena warganya mungkin jengah dengan lalu lalang orang. Di tembok depan samping gang ditulis “Tidak Ada Michat Disini”.
Bisa dipastikan warga di dalam gang itu bosan dengan pertanyaan “Dimana kos ini?”, di waktu yang tidak tepat untuk menanyakan kos-kosan.

BACA JUGA : Mendem Jero
Matahari belum juga menampakkan sinarnya, sepertinya panas tak akan datang. Kawan Susur akhirnya sampai di Jembatan Arief Rahman Hakim. Di sekitar jalan itu ada satu kios yang bertuliskan eks pedagang Pasar Subuh.
Melewati jembatan Arief Rahman Hakim, Kawan Susur menapaki Jalan Jelawat, pinggiran Sungai Karangmumus. Di sepanjang jalan banyak orang berjualan, makanan untuk sarapan dan lapak-lapak sayuran serta bahan makanan lainnya.
Sayur hijauan ada di sepanjang jalan, bukan hanya kangkung, selada, pakcoy atau kacang panjang, ada juga sayur genjer dan daun paku.
Menyeberangi Jembatan Sungai Damai, kaki tetap menyusuri pinggir Sungai Karang Mumus di sisi sebelahnya. Di Jalan Pangeran Surianyah ternyata ada kios pedagang sayur yang dulu berdagang di Pasar Subuh. Salah seorang Kawan Susur menegur pasangan suami istri yang berdagang. Sejenak singgah bertegur sapa.
Nampak satu kekhasan diantara jualannya. Segepok daun bambu yang diikat. Daun bambu biasa dibeli oleh pembuat Bak’cang.
Kaki terus melangkah hingga kelenteng. Masuk dari pintu samping belakang dan keluar di pintu depan. Para satpam di kelenteng mahfum saja, kelenteng memang sering dikunjungi oleh mereka yang datang bukan untuk sembahyang melainkan melihat-lihat saja.
Jalan Yos Sudarso masih sepi, keramaian hanya ada di sekitar pelabuhan. Entah kapal penumpang baru datang atau hendak pergi. Ujung Jalan Yos Sudarso sebelum kelenteng memang sepi setelah Pasar Subuh ditutup. Rencana relokasinya tidak semuanya cocok untuk para pedagangnya. Alhasil mereka yang tadinya berjualan di Pasar Subuh kemudian terpencar-pencar.
Dan di Jalan Dermaga, ternyata ada 3 lapak berjualan di pinggir jalan tak jauh dari Gereja Pantekosta. Mudah dikenali, karena salah satunya adalah Cece yang lapaknya paling besar ketika berjualan di komplek Pasar Subuh sisi jalan Yos Sudarso.
Di seberang lapak penjual aneka kudapan dan makanan sarapan, ada satu lapak penjual telur bebek, entah telur mentah atau telur asin.
Terlanjur mempunyai pelanggan, penjual kue dan aneka pangganan ini sepertinya sulit untuk pindah jauh ke Jalan PM Noor sana yang pasarnya belum tentu ramai di pagi-pagi sekali. Lokasi relokasi lainnya juga belum tentu cocok, karena berada di sisi seberang Karangmumus yang punya karakter sosial dan demografi yang berbeda.
Entah bagaimana nasib mereka ke depan. Yang pasti sepagi ini Kawan Susur bisa melihat bagaimana para pedagang Pasar Subuh Gang 3 Yos Sudarso masih berusaha mempertahankan branding Pasar Subuh-nya untuk bertahan.
Bagaimanapun juga mereka paham, bahwa Pasar Subuh punya ikatan yang kuat dengan Pecinan.
Dengan rencana pengembangan kawasan China Town, Kota Samarinda, mestinya ada tempat untuk Pasar Subuh yang baru, yang lebih sesuai dengan Rencana Tata Ruang dan Wilayah Kota Samarinda. Yang bisa membuat pedagang berusaha mencari penghidupan dengan tenang dan nyaman sambil tetap menjaga ikon sejarah perkembangan Kota Samarinda.
note : sumber gambar – SUSUR GANG SAMARINDA








