KESAH.ID – Istana Garuda di IKN bukanlah satu-satunya bangunan yang memakai burung garuda sebagai inspirasi. Gedung DPR/MPR RI konon dimaksudkan juga untuk mengambarkan burung garuda, walau nyatanya orang mengira itu bentuk kura-kura. Antara rancangan dan bentuk jadinya memang kerap tak senada, terlebih jika dirancang dengan permodelan komputer yang kerap kali menampilkan keindahan yang jauh diatas realitas.
Konsep desain kawasan Ibu Kota Negara baru yang diusung oleh tim Urban+ ditetapkan sebagai pemenang pertama sayembara gagasan desain kawasan IKN. Konsep dengan judul “Nagara Rimba Nusantara” oleh panitia dianggap memenuhi tiga kriteria yang ditetapkan.
Tiga kriteria yang diminta oleh panitia adalah IKN sebagai identitas bangsa, keberlanjutan kota yang ramah lingkungan dan kota untuk generasi masa datang.
Sibarani Sofian, principal dari Urban+ mengatakan “Nagara Rimba Nusa” merupakan kerja kolektif dari para ahli dari disiplin ilmu yang berbeda yang dimiliki oleh perusahaannya. Mereka bukan hanya ahli arsitektur, tapi juga ahli transportasi, perancangan kota, infrastruktur dan lainnya. Sibarani juga mengatakan konsepnya telah dikonsultasikan dengan ahli-ahli lain dari mancanegara.
Urban+ menjamin konsep “Nagara Rimba Nusa” adalah konsep terbaik karena berasal dari idide yang disatukan lewat proses kolaboratif semenjak sayembara desain IKN diumumkan pada 2 Oktober 2019.
Dalam penjelasannya Sibarani menyatakan bahwa ide dasar desain ini adalah menghubungan antara masyaraakt dengan alam dan lingkungan. Sebagai perancang Urban+ menyadari kawasan Sepaku sebagai IKN baru tak lepas dari kehidupan air atau bahari. Dengan demikian konsep desainnya juga diupayakan mendekati tepi air.
Desain “Nagara Rimba Nusa” adalah wujud keseimbangan antara pembangunan fisik, pembangunan manusia, sifat manusia dan adaptasinya pada alam. Sibarani Sofian menyatakan keseimbangan yang direpresentasikan oleh desainnya diinspirasi oleh bio mimicri.
Bio mimicri sendiri adalah sebuah konsep yang menawarkan pemahaman yang empatik dan saling terkait tentang cara kerja kehidupan. Ini merupakan sebuah praktek yang belajar dari dan meniru strategi yang dipergunakan oleh berbagai spesies yang hidup hingga saat ini.
Tujuan dari bio mimicri adalah menciptakan proses produk, proses dan sistem atau cara hidup baru yang memecahkan tantangan desain terbesar secara berkelanjutan dan dalam solidaritas dengan seluruh kehidupan di bumi.
Ada sebuah kearifan dalam konsep desain “Nagara Rimba Nusa” karena meniru pola yang sudah diuji oleh alam dan adaptasi dari mahkluk hidup termasuk manusia yang terbukti mempunyai peradaban dan tradisi.
Yang dijelaskan oleh pemenang sayembara desain kawasan IKN ini sungguh membahagiakan dan bisa menjawab kenapa Ibu Kota Negara harus dipindahkan dari Jakarta.
Jakarta sebagai Ibu Kota Negara warisan kolonial memang sudah tak mampu menanggung beban lingkungan. Masa depannya digambarkan terancam oleh fenomena pemanasan global. Jakarta diramalkan akan tenggelam.
Memindahkan Ibu Kota Negara dari sana diharapkan akan membantu Kota Jakarta mengurangi beban lingkungan. Dengan berkurangnya beban lingkungan pemulihan dan penataan Kota Jakarta di kemudian hari akan lebih mudah dilakukan.
Pindah dari Kota Jakarta ke Kecamatan Sepaku, Kabupaten Penajam Paser Utara menjadi tepat karena Provinsi Kalimantan Timur adalah provinsi pertama di Indonesia yang menyatakan diri sebagai Provinsi Hijau.
Dengan menyatakan diri sebagai Provinsi Hijau, Kalimantan Timur berkomitmen untuk melaksanakan pembangunan yang rendah karbon.
Kehadiran IKN dengan konsepsi Kota Rimba akan mempercepat dan memperkuat pembangunan hijau di Kalimantan Timur.
BACA JUGA : Napak IKN
Sayangnya berdasarkan keterangan yang disampaikan oleh Basuki, Menteri PUPR desain “Negara Rimba Nusa” ini merupakan pemenang sayembara di tingkat gagasan. Gagasan ini akan dikembangkan lagi ke tingkat yang lebih representatif dengan lomba-lomba lainnya yang lebih spesifik menyangkut gedung atau kawasan tertentu.
Lebih jauh, Basuki juga menerangkan lomba atau sayembara berikutnya bisa bersifat terbuka maupun terbatas. Selain itu bisa juga berupa penunjukkan langsung.
Dan nampaknya ini yang terjadi pada Istana Presiden yang kemudian disebut sebagai “Istana Garuda”.
Gedung atau monumen ini merepresentasikan keinginan Presiden Joko Widodo yang merasa sreg dengan rancangan Nyoman Nuarta, seniman patung yang punya banyak mahakarya.
Rancangan gedung Istana Negara mempunyai bentuk burung garuda yang sedang mengepakkan sayapnya. Kawasan gedung ini akan berada dalam lahan seluas 55,7 hektar dengan luas tapak terbangun sebesar 334,200 meter persegi.
Istana ini dirancang dari kejauhan akan kelihatan seperti burung garuda. Garuda dan kepaknya tidak hanya dimaksudkan sebagai landmark belaka namun melambangkan pencapaian sinergitas antara seni, sains, teknologi dan lingkungan. Paduan semacam ini memang lazim dalam gedung-gedung ikonik di seluruh dunia.
Sebagai perancangnya, Nyoman Nuarta menjelaskan desain Istana Garuda benar-benar ditransformasikan dan diwujudkan dalam bentuk pola arsitektur yang mempertimbangkan aspek-aspek estetik, nilai guna dan manfaat bagi kemajuan dunia pariwisata di tanah air.
Konsepsi ini bukan omong kosong, karya Nyoman Nuarta di Bali yakni Garuda Wisnu Kencana merupakan salah satu destinasi populer di Pulau Dewata.
Dengan berkantor di Istana Garuda, Presiden akan memposisikan diri sebagai yang didepan memimpin bangsa untuk menggapai cita-cita bersama, mewujudkan keadilan sosial dan kemakmuran untuk seluruh warga negara.
Berdasarkan berita dan berbagai postingan di media sosial sepertinya Istana Garuda ini sudah jadi. Lebih didahulukan sebagai penanda IKN Nusantara siap ditempati oleh Kepala Negara.
Kemampuan dan rekam jejak Nyoman Nuarta memang tak perlu validasi lagi, tak perlu diragukan. Karya-karya memang selalu menghadirkan unsur wow.
Hanya saja sebuah postingan dari Marco Kusumawijaya seorang arsitek dan aktivis perencanaan perkotaan menjadi cukup mengejutkan.
Di laman Facebooknya, Marco mengunggah potongan video yang mengambarkan Istana Garuda dengan sudut pengambilan gambar diatasnya. Visual yang mungkin diperoleh lewat sebuah drone. Dalam potongan video itu ada watermark WPS Channel.
Dalam postingannya, Marco hanya memberi caption singkat “Sarang Batman”.
Postingan Marco Kusumawijaya ini kemudian dikomentari oleh banyak orang. Dari komentar-komentar yang muncul ada banyak hal yang selama ini tidak muncul di permukaan perihal desain dan wujud Istana Garuda ini.
Apapun komentarnya tidak ada yang meragukan kemampuan Nyoman Nuarta dalam membuat patung terutama patung-patung besar yang berbahan metal.
Nyoman Nuarta memang seniman besar dan pada dasarnya arsitektur juga merupakan seni. Namun tidak mudah untuk mengintegrasikan sebuah karya seni menjadi bangunan.
BACA JUGA : Tulisan Termudah
Gara-gara caption di Facebook Marco itu, pikiran saya melayang pada salah satu serial Batman berjudul Batman Begin.
Pada episode ini identitas Batman terungkap karena mansion atau rumah besarnya dibakar oleh Rash Al Gul.
Batman yang selama ini dikenal sebagai Pahlawan Gotham ternyata putra dari seorang yang kaya raya, industriawan besar di Kota Gotham.
Di balik mansion yang megah dan klasik yang didiami oleh Bruce Wayne itu ternyata ada gua bawah tanah yang menjadi sarang dari Batman.
Di akhir film itu, rumah warisan dari orang tuanya itu hancur lebih, rata dengan tanah dilalap oleh api.
Sayapun membayangkan Batman yang sudah terkuak indentitasnya kemudian akan mendeklarasikan diri sebagai pelindung Kota Gotham secara terang-terangan.
Dan itu akan ditunjukkan lewat rumahnya, rumah yang tak lagi menyembunyikan ‘Goa Batman’-nya di bawah gedung.
Karena Bruce Wayne belum membangun rumahnya, maka Istana Garuda kemudian menjadi gambaran yang mewujud di kepala saya.
Dalam bentuk animasi, Istana Garuda memang indah, unik dan megah. Tapi dalam rupa yang sesungguhnya terasa ada nuansa agak-agak kelam bahkan seram.
Konon memang butuh waktu yang lama bagi materialnya untuk teroksidasi agar warnanya menjadi seperti yang diinginkan.
Antara yang direncanakan dan kemudian persepsi orang setelah terwujud memang kerap bias.
Gedung DPR/MPRRI juga didesain dengan inspirasi garuda. Tapi bagi banyak orang kemudian lebih mirip kura-kura. Hasilnya yang di dalam gedung jadi kura-kura dalam perahu, pura-pura tak tahu derita rakyat karena lebih memilih berakrab-akrab lewat koalisi untuk membuat presiden makin kuat.
Saya tak tahu apakah ada Undang Undang tentang bangunan negara atau pemerintah seperti Istana, Kantor Presiden, Gubernur, Walikota dan Bupati. Apa filosofi, syarat dan detail-detail lainnya.
Ini penting, walau sebuah kawasan bisa berkembang menjadi destinasi wisata namun Istana Negara, Kantor Presiden dan lainnya bukanlah tempat rekreasi. Sehingga tampilannya tak boleh seperti wahana dreamland.
Hanya saja semua sudah terbangun dan mungkin saja tampilannya akan berubah seiring dengan waktu. Tapi saya yakin yang paling senang dengan bentuk Istana Garuda adalah Perhimpunan Usaha Taman Rekreasi Indonesia, karena Presiden Republik Indonesia mungkin akan bergabung menjadi salah satu anggotanya.
note : sumber gambar – SUARAISLAM








