KESAH.ID – Diponegoro adalah seorang penunggang yang handal. Namun profil patung Diponegoro tengah berkuasa dianggap menyalahi pakem karena kedua kakinya terangkat padahal Diponegoro tidak wafat dalam medan perang. Kisah kepahlawanan Diponegoro memang kerap disalahpahami, ada yang melebih-lebihkan namun tak sedikit yang mengkerdilkan.
Salah satu pahlawan nasional yang paling populer dalam ingatan saya adalah Pangeran Diponegoro. Gambar dan patungnya menunjukkan kegagahan beraniannya dalam melawan penjajah.
Diponegoro selalu ditampilkan menunggang kuda putih dengan keris terhunus ke depan.
Tapi sosok lain yang kemudian menjadi related dengan kehidupan saya waktu kecil adalah Jendral Sudirman, tokoh perang gerilya.
Bagi saya dan teman-teman tentu sulit memerankan Pangeran Diponegoro, karena mesti menaiki kuda dan membawa senjata. Keris di lingkungan saya tinggal dianggap pusaka.
Jadi sosok Jendral Sudirman yang kemudian kami pilih untuk didramakan baik saat pelajaran di dalam kelas atau di kegiatan Pramuka.
Terpilih memerankan Jenderal Sudirman sungguh menyenangkan karena akan dipikul dengan tandu yang dirangkai dari tongkat dan tali Pramuka.
Tapi kemudian keadaan berbalik. Mulai tahun 90-an, anak-anak yang khatam 30 juz Al Qur’an merayakan Khataman dengan arak-arakan naik kuda dan yang laki-laki berkostum seperti Pangeran Diponegoro.
Tradisi arak-arakan memang sudah ada sejak dulu. Namun dulu yang khatam biasanya jalan kaki, naik Becak atau Dokar yang dihias. Biasanya malam hari.
Maka arak-arakkannya selalu disertai dengan obor dan atraksi obat abit, tongkat yang dikedua ujungnya menyala lalu dimainkan.
Namun atraksi ini memasuki tahun 90-an dilarang karena bisa menyebabkan aspal rusak.
Dan acara arak-arakan kemudian dilakukan siang hari, yang khatam diarak dengan naik kuda, kuda jumping atau kuda yang dilatih untuk bisa berdiri dengan kedua kaki terangkat.
Diponegoro memang dikenal sebagai santri. Bahkan pernah disebut sebagai Santri Kelana karena berpindah-pindah belajar dari satu kyai atau pesantren satu ke lainnya, di berbagai daerah atau kota.
Selain di Tegalrejo, Pangeran Diponegoro pernah nyantri di Ponorogo, Kertosono, Bagelen dan lain-lain.
Konon salah satu yang mendorong Pangeran Diponegoro memerangi Belanda karena pengaruh Belanda di Keraton membuat nilai kejawaan dan keislaman kraton ternodai.
BACA JUGA : Budiman Sujatmiko Bikin Heboh Lagi
Meski ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional, namun kisah kepahlawanan Diponegoro simpang siur. Ada cerita-cerita atau narasi yang saling berlawanan.
Perang yang dimulai oleh Diponegoro sering dianggap tidak membela kepentingan umum. Diponegoro melawan Belanda karena pembangunan jalan oleh Belanda yang melewati tanahnya.
Kisah peperangan Diponegoro juga sering dianggap sebagai pemberontakan pada keraton, karena Diponegoro meninggalkan kraton dan membuat sebagian pangeran mengikutinya.
Dan kelak kekalahan Diponegoro juga membuat keraton kehilangan banyak wilayahnya. Wilayah keraton Yogyakarta yang tadinya meliputi sebagian. Jawa Timur, Kedu hingga Banyumas kemudian diambil alih oleh Belanda hingga menyisakan wilayah DIY saat ini.
Tapi benarkah Diponegoro berperang hanya karena kehilangan tanahnya?
Sebagai seorang yang lahir dalam keraton, Diponegoro, cucu Hamengku Buana II, pernah tinggal diluar keraton karena diasuh oleh nenek buyutnya.
Saat diasuh di luar keraton, Diponegoro hidup sebagaimana rakyat kebanyakan yang adalah bertani. Diponegoro melihat kehidupan rakyat yang susah karena kelakuan Belanda yang memaksa keraton memungut berbagai macam pajak.
Peristiwa pematokan tanahnya untuk jalan hanyalah pemicu, karena pengikutnya terprovokasi oleh aksi penjajah Belanda.
Sebelumnya Diponegoro sudah merencanakan perang. Namun sebelum rencana dijalankan, pengikutnya sudah marah duluan. Pengikutnya yang marah, mencabuti patok dan mengganti dengan tombak. Tombak yang ditancap adalah tanda untuk memulai peperangan.
Meski tidak seperti yang direncanakan, peperangan antara pasukan Diponegoro dan Belanda kemudian menjadi salah satu perang terbesar antara penjajah Belanda dan masyarakat Nusantara. Belanda mesti mengeluarkan banyak uang hingga nyaris bangkrut. Penghasilannya dari seluruh negeri jajahan dalam satu tahun tidak cukup untuk membiayai perang melawan pasukan Diponegoro.
20 juta gulden dikeluarkan oleh kolonial Belanda lewat proyek Benteng Stelsel untuk mengepung dan memutus rantai komunikasi serta pasokan bagi pasukan Diponegoro. Ada 200-an benteng dibangun oleh kolonial Belanda, tersebar mulai dari Banyumas, Kedu hingga Solo.
Meski kemudian kolonial Belanda berhasil memperdaya Diponegoro, namun kerugian besar yang dialami memaksa Belanda merubah strategi dalam penjajahannya.
Perang yang menelan banyak korban, termasuk 200-an ribu pengikut Diponegoro membuat dirinya gundah.
Diponegoro mau berunding dengan pemerintah kolonial. Bertajuk silaturahmi lebaran, Diponegoro bertemu dengan De Kock. Datang dengan niat baik dan kepercayaan pada De Kock, Diponegoro tidak melengkapi dengan pertahanan dan pengawalan dari pasukannya.
Dan kunjungan itu kemudian berakhir dengan penangkapan. Diponegoro kemudian diasing, pertama ke Manado dan kemudian ke Makassar hingga wafat disana.
Selama di Manado, Diponegoro menulis Babad, tulisan yang menjadi otobiografinya.
Dari babad yang ditulis oleh Diponegoro sendiri terungkap bahwa dirinya ditawari dua kali untuk naik tahta, namun Diponegoro menolak. Dia merasa sebagai penguasa akan menanggung beban besar atas penderitaan rakyatnya yang diperas tenaga dan juga uangnya oleh kaum penjajah. Diponegoro tak mau jadi kepanjangan tangan penjajah untuk menindas rakyatnya sendiri.
Diponegoro memang punya hak mengantikan tahta ayahnya, Hamengku Buana III. Diponegoro hanya pernah menjadi Sultan Wali karena pemegang tahta yang mengantikan adiknya (Hamengku Buana IV) masih bocah.
Namun kedudukan itu ditinggalkannya, Diponegoro keluar dari kraton untuk mempersiapkan perlawanan pada kolonial Belanda.
BACA JUGA : Pertobatan Ekologis Lewat Gaya Hidup Berkelanjutan
Bukti bahwa Diponegoro mempersiapkan perlawanan pada penjajah Belanda bisa ditelusuri sampai saat dirinya menjadi santri kelana.
Selain memperdalam ilmu agama, berguru ke berbagai kyai dan pesantren juga merupakan cara untuk membangun jejaring dan mempersiapkan pasukan untuk berperang.
Memang mulai perangnya prematur, karena pengikutnya terprovokasi oleh pemasangan patok oleh Belanda di tanah Diponegoro.
Persiapan perang oleh Diponegoro bisa dilihat dari struktur organisasi dan kepangkatan pada pasukan perangnya.
Pangeran Diponegoro meniru sistem dan struktur pasukan Turki Usmani yang dikenal dengan sebutan Janissary.
Nama kesatuan dan kepangkatan diadaptasi dari kesatuan militer jaman khilafah Usmaniah itu.
Divisi dalam pasukannya dinamai Bulkiya, Turkiya, Harkiya, Larban, Asseran, Pinilih dan Suparadah.
Juga kepangkatan yang diambil dari istilah Turki yang kemudian dijawakan seperti Sipuding, Jagir Suratandang, Jayengan, Suryagama dan Wanang Prang.
Komandan batalyon, brigade dan kompi juga dinamai berdasarkan istilah yang diadaptasi dari Turki
Alibasah, berasal dari Al Pasha, jabatan komandan divisi, Basah dari Pasha adalah komandan brigade, Dulah komandan Batalion, dan Seh adalah komandan kompi.
Dengan struktur dan sistem seperti ini kolonial Belanda menjadi kaget menghadapi perlawanan Diponegoro. Belanda kemudian melawan habis-habisan dan nyaris bangkrut. Kondisi ekonomi Belanda yang morat-marit dan lemah karena model Benteng Stelsel dimanfaatkan oleh kelompok masyarakat di Belgia untuk merdeka, lepas dari Belanda.
Perang Jawa kemudian membuat Belanda mengevaluasi pendekatan dalam kolonialismenya. Belanda harus memperoleh banyak hasil dari tanah jajahannya untuk menutupi kerugian karena perang.
Graff Johannes Van De Bosch kemudian mengusulkan model Cultur Stelsel. Pemerintah kolonial melakukan penataan tanah dan kemudian memutuskan ditanami komoditas apa yang sedang laku di Eropa.
Rakyat disuruh menanam komoditas yang diperlukan oleh Belanda. Praktek ini berhasil menyehatkan ekonomi Belanda. Dalam satu tahun Belanda mampu menghasilkan 800 juta gulden dari tanah jajahannya.
Namun praktek ini kemudian dikritik. Pengkritiknya antara lain adalah Eduard Douwes Dekker, lewat buku berjudul Max Havelaar, lalu Fransen Van Der Putte lewat buku Sulker Contracten dan kemudian Baron Van Hoevell yang bersama Putte berjuang melakukan tekanan di Parlemen Belanda.
Tekanan ini kemudian melahirkan politik balas budi atau politik etis. Belanda memberi kesempatan kepada kaum ningrat untuk sekolah hingga sekolah tinggi.
Dan mereka yang kemudian sekolah di sekolah kedokteran Belanda baik di Belanda maupun di Batavia akhirnya menjadi tokoh-tokoh gerakan yang menyuarakan kebangsaan dan kemerdekaan Indonesia.
Dengan demikian Diponegoro bisa dikatakan sebagai baru penjuru atau tonggak sejarah arah perjuangan kemerdekaan.
Niatnya membebaskan orang Jawa dari belenggu penjajah kemudian melahirkan rentetan peristiwa dan kebijakan politik kolonial Belanda yang mengantar tumbuhnya kesadaran kebangsaan, hingga kemudian wilayah Hindia Belanda yang terdiri dari kerajaan kerajaan lokal memerdekakan diri dan bergabung dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia.
note : sumber gambar – INFOSEMARANGRAYA.COM








