KESAH.ID – Pertemuan antara mantan intelijen/sandiyudha dan aktivis biasanya memang menarik. Dalam sebuah regim biasanya kedua belah pihak saling berhadapan. Namun selalu tak tertutup kemungkinan keduanya kemudian bersinergi secara strategis. Gerindra mempertemukan Prabowo dan Desmond J Mahendra. Desmond adalah aktivis yang sempat diculik dan hilang selama dua bulan. Maka pertemuan antara Budiman Sujatmiko dan Prabowo semestinya tak harus jadi berita besar.
Julukan anak muda pemberani pantas diberikan kepada Budiman Sujatmiko pada waktu itu. Berapa tidak, dia dan kawan-kawannya mendirikan organisasi payung ekstra parlementer bernama Persatuan Rakyat Demokratik, yang kelak berubah menjadi Partai Rakyat Demokratik.
Manifesto partainya jelas-jelas melawan praktek pemerintahan regim orde baru, regim Suharto yang sangat alergi pada kritik serta pemikiran dan gerakan yang kekiri-kirian.
Peristiwa 27 Juli 1996 atau lebih dikenal dengan nama ‘Kudatuli’, sebuah kerusuhan di kantor DPP PDI dan beberapa tempat lain akibat tidak terimanya pendukung Surjadi atas diangkatnya Megawati sebagai Ketua PDI, membuat Budiman menjadi sosok paling dicari untuk dipenjarakan.
Bentrokan terjadi bukan hanya antara pendukung Megawati dan Suryadi melainkan juga dengan aparat keamanan.
Partai Rakyat Demokratik dituduh menjadi dalang kerusuhan itu, istilahnya waktu itu aktor intelektual.
PRD memang merupakan basis masa pro demokrasi dan penentang kekuasaan orde baru yang dipimpin Suharto.
Budiman dan kawan-kawannya menjadi target operasi penangkapan. Dan akhirnya tempat persembunyiannya diendus oleh Intel TNI.
Dibawa ke depan peradilan dengan tuduhan makar, Budiman dijatuhi hukuman 13 tahun penjara pada tahun 1997.
Ketika gerakan reformasi yang dipicu olehnya manifest, Budiman Sujatmiko dan beberapa kawannya justru sedang dalam penjara sebagai tahanan politik orde baru.
Budiman Sujatmiko kemudian dibebaskan pada masa kepresidenan Abdurahman Wahid atau Gus Dur. Amnesti diberikan setelah Budiman menjalani hukuman kurang lebih 3,5 tahun.
Setelah bebas dari penjara, Budiman Sujatmiko melanjutkan pendidikan Ilmu Politik di Universitas London dan Hubungan Internasional di Universitas Cambridge, Inggris.
Sekembalinya dari Inggris, pada akhir 2004 Budiman Sujatmiko bergabung dengan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan pimpinan Megawati. Dan kemudian mendirikan Relawan Perjuangan Demokrasi atau Repdem sebuah organisasi sayap partai.
Pada pemilu 2009, Budiman Sujatmiko terpilih sebagai anggota DPR RI mewakili Dapil VIII Jawa Tengah yang meliputi Kabupaten Banyumas dan Cilacap.
Budiman duduk di Komisi II yang membidangi pemerintahan dalam negeri, otonomi daerah, aparatur negara dan agraria.
Dia mempunyai jasa besar dalam melahirkan Undang Undang Desa ketika duduk sebagai wakil ketua pansus RUU Desa.
Sewaktu menjadi anggota DPR RI Budiman memang getol mengorganisir perangkat desa. Mulainya dari wilayah yang bersentuhan dengan dapilnya, para kepala desa Jadul atau Jawa Kidul.
Bersama para perangkat desa ini Budiman Sujatmiko mengadvokasi pentingnya UU Desa hingga kemudian disahkan menjadi undang-undang. Desapun kemudian mempunyai daya tawar baru dan kedudukan dalam politik dan pemerintahan.
BACA JUGA : Pertobatan Ekologis Lewat Gaya Hidup Berkelanjutan
Kepedulian pada desa juga diwujudkan oleh Budiman Sujatmiko dan teman-temannya dalam sebuah lembaga bernama Badan Prakarsa Pengembangan Desa dan Kawasan (BP2DK).
Dalam organisasi ini bergabung antara lain Hilmar Farid, Semmy Pangerapan, Noer Fauzi, Dadang Juliantara,Irman Meilandi dan lain-lain.
BP2DK dikenal getol mengembangkan sistem informasi desa dan kawasan bernama Sideka.
Pemerintah dan masyarakat desa kemudian melek dengan internet dan teknologi informasi lewat Pandu Desa yang menjadi kepanjangan tangan BP2DK di perdesaan.
Sebagai bekas aktivis anti orde baru, Budiman mampu memberi warna tersendiri di gedung DPR RI. Namun pada pemilu 2019, Budiman Sujatmiko gagal terpilih kembali saat mencalonkan diri melalui Dapil 7 Jawa Timur.
Dapil yang meliputi wilayah Pacitan, Trenggalek,Ponorogo, Magetan dan Ngawi ini disebut ‘Dapil Neraka’ karena Budiman mesti bersaing dengan Edi Baskoro, Johan Budi dan Jessica Herliani Tanoesodibdjo.
Tak terpilih kembali menjadi anggota DPR tidak membuat Budiman hilang dari peredaran. Selain aktif bermedia sosial, Budiman juga kerap tampil di forum-forum diskusi dan talkshow menjadi representasi PDIP dan juga pemerintah.
Tanpa jabatan khusus Budiman kerap memposisikan diri me jadi juru bicara, berhadapan dengan oposisi atau pengkritik pemerintah.
Dalam beberapa kesempatan Budiman kerap berdebat keras dengan Rocky Gerung. Bahkan perdebatan antara Budiman Sujatmiko dan Dandy Laksono di Twitter kemudian ‘dipanggungkan’ jadi perdebatan langsung berhadap-hadapan.
Tahun 2021 lalu Budiman Sujatmiko mengejutkan publik dengan rencana membangun Bukit Algoritma. Pada area seluas 888 hektare yang berada di empat desa pada kecamatan Cikadang dan Cibadak Kabupaten Sukabumi itu akan dikembangkan kawasan layaknya silicon valley di Amerika Serikat.
Dengan dukungan investor kurang lebih 18 trilyun, Budiman berencana menjadikan Bukit Algoritma menjadi pusat pengembangan SDM dan Tech Industry 4.0.
Aktivis yang kemudian menjadi politisi mulai banting setir. Pengembang gerakan demokrasi ini kemudian ingin menjadi pengembang teknologi.
Selain teknologi, Budiman juga sering terdengar bicara soal neurosains.
Dalam beberapa video yang ada di YouTube, Budiman kerap berada dalam satu forum dengan ahli neurosains Indonesia, dokter Ryu Hasan.
Dua tahun berlalu, Bukit Algoritma yang digadang-gadang oleh Budiman belum nampak juntrungannya. Sebagian orang yang dulu antusias bahkan juga sudah lupa.
Dan Budiman Sujatmiko kemudian masuk kembali ke pusaran politik, ikut meramaikan dinamika copras-capres menjelang pemilu 2024 ini.
BACA JUGA : Diplomasi Kuliner
Darah aktivis yang mengalir kental dalam tubuh Budiman Sujatmiko membuatnya suka berdiskusi.
Banyak sosok dan tokoh yang ditemui, baik yang lebih tua maupun yang lebih muda.
Gibran Rakabuming Raka termasuk salah satunya.
Namun pertemuan dengan Gibran tak bikin heboh, baru setelah bertemu dengan Prabowo Subianto nama Budiman kemudian kembali menjadi perbincangan.
Ada yang menganggap pertemuan itu offside. Budiman sebagai representasi PDIP ditenggarai melakukan manuver yang berbeda dengan kebijakan partainya.
Pertemuan yang diberitakan secara luas itu dianggap bisa mempengaruhi elektabilitas Ganjar Pranowo, calon presiden dari PDIP.
Pada sisi lain ada yang menganggap Budiman Sujatmiko berkhianat pada idealismenya melawan orde baru dan anasir-anasirnya.
Prabowo adalah bagian dari orde baru. Dan semasa reformasi, Prabowo dikenal sebagai sosok yang dipandang ikut membersihkan dan melenyapkan mereka yang kritis pada orde baru. Prabowo mempunyai pasukan khusus yang menculik dan melenyapkan aktivis.
Dan ketika orde baru tumbang, Prabowo juga ikut ‘ditumbangkan’ keoleh institusinya sendiri. Diadili oleh dewan kehormatan militer dan dinyatakan bersalah hingga kemudian mesti mundur dari TNI.
Menjelang pemilu pertemuan tokoh-tokoh politik memang kerap dijadikan sasaran Anabel, analisa gembel.
Semua dikait-kaitkan dengan pemilu, dihubungkan dengan dukungan dan pengkhianatan.
Ditempatkan dalam konteks reformasi, Prabowo dan Budiman merupakan dua tokoh yang mencolok namun dalam posisi yang berseberangan.
Walau sebenarnya Budiman dan Prabowo tidak berhadap-hadapan secara langsung karena saat Prabowo ‘cawe-cawe’ menghadapi pendongkel Orde Baru, Budiman sedang dalam penjara.
Pada pemilu 2019 lalu, secara eksplisit Budiman Sujatmiko menyebut Prabowo sebagai produk gagal manusia Indonesia.
Dan empat tahun kemudian, Budiman menganggap Prabowo sebagai salah satu sosok yang paling kuat menjaga dan memelihara nasionalisme. Sehingga pantas untuk menimba semangat dan pemikiran darinya.
Sebegitu cepatkah Budiman Sujatmiko berubah?.
Sebenarnya wajar saja orang berubah pandangan pada orang lain. Semudah orang yang mencintai kemudian jadi benci, atau orang benci kemudian malah jatuh cinta.
Konon dengan semakin bertambahnya umur seseorang akan lebih bijaksana. Dalam menilai sesuatu tidak lagi hanya bersandar pada benar dan salah.
Dan bisa jadi langkah menemui Prabowo adalah wujud dari sikap bijaksana Budiman Sujatmiko agar kaum nasionalis tetap bersatu walau bersaing dalam pemilu.
Politik di Indonesia memang kental silaturahmi. Namun silaturahmi juga sering menimbulkan silat lidah dari mereka yang merasa kepentingannya terganggu. Banyak orang di negeri ini tak ingin para tokoh-tokohnya akur.
Jadi nampaknya jika dihubungkan dengan kontestasi pemilu 2024, Budiman Sujatmiko ingin menjadi scenario builder agar pemerintahan paska Joko Widodo tetap menjadi ajang persatuan dan gotong royong kaum nasionalis dalam membawa Indonesia mengarungi tantangan jaman ke depan.
note : sumber gambar – JURNAS.COM








