KESAH.ID – Dalam otak manusia ada otak emosional dan otak rasional. Ini seperti dua pilihan, jalan sulit dan jalan gampang. Dan kita cenderung memilih jalan gampang maka yang lebih banyak digunakan adalah otak emosional. Akibatnya kita sering merasa paling benar sendiri dan gemar menyalahkan orang atau pihak lain.
Kecerdasan bersifat bawaan. Meski demikian hasil kerja otak itu bisa ditingkatkan dari waktu ke waktu, salah satunya melalui sistem pendidikan.
Jenis kecerdasan yang mudah diukur adalah IQ atau kecerdasan intelektual.
Hasil laporan dari World Population Review menempatkan Jepang, Taiwan, Singapura, Hongkong, Tiongkok dan Korea Selatan sebagai penghuni peringkat atas dari daftar 10 negara dengan rata-rata IQ tertinggi di dunia.
Skor rata-rata diatas 102, melebihi skor IQ dari negara Finlandia, Belarusia, Belanda dan Jerman.
Lalu berapa skor rata-rata dan posisi negeri Wakanda yang juga kerap dijuluki Konoha?.
Ternyata skor rata-rata kecerdasan warganya hanya 78,49 dan berada di peringkat 130 dari 199 negara.
Belajar dari negara-negara yang menduduki peringkat atas, capaian itu tak lepas dari sistem pendidikan di negaranya.
Negeri yang menduduki peringkat tinggi dikenal juga sebagai negeri dengan sistem pendidikan terbaik di dunia.
Maka bisa disimpulkan sistem pendidikan cenderung menghasilkan populasi yang cerdas dari waktu ke waktu.
Dengan capaian itu apakah sistem pendidikan negeri Wakanda yang sering digambarkan suka ganti kurikulum setiap ganti menteri telah gagal mencerdaskan kehidupan bangsa dan negara?.
Tidak juga. Hampir mencapai tahun emas kemerdekaan, masyarakat Wakanda makin cerdas karena akses pendidikan yang makin baik. Namun laju kecerdasannya kalah cepat dibanding dengan banyak negara lainnya.
Salah satu kelemahan sistem pendidikan di negeri Wakanda yang membuat masyarakatnya kalah laju perkembangan kecerdasan intelektualnya adalah model pendidikan yang menekankan hafalan.
Sengaja atau tidak peserta didik hanya belajar untuk bisa menjawab pertanyaan dalam ujian. Ketrampilan yang diajarkan adalah trampil menjawab.
Sementara di negeri yang skor IQ-nya tinggi, peserta belajar lebih difokuskan untuk melatih kemampuan berpikir rasional, belajar memecahkan masalah.
Model pembelajaran problem based ini kemudian melatih cara berpikir tingkat tinggi atau berpikir secara mendalam.
Di masa lalu negeri Wakanda memang sering salah-salah dalam menerapkan kebijakan untuk mencerdaskan bangsa.
Alih-alih membuat peserta belajar senang sekolah, negeri Wakanda malah memberi beban berat untuk siswanya.
Seperti agar makin cerdas, jam pelajaran diperpanjang, mata pelajarannya banyak, bukunya tabal-tebal sehingga anak-anak pergi ke sekolah seperti hendak camping.
Saking radikalnya dalam mendidik bahkan ada yang memutuskan para siswa mulai belajar di kelas sejak pagi-pagi buta, saat ayam belum berkokok.
Hasilnya siswa bukannya makin cerdas melainkan malah tertekan saat belajar, tertekan rasa kantuk dan rasa lapar hingga gairah belajar berkurang.
Tapi kebijakan Joko Sembung Makan Kedondong seperti itu silih berganti tetap terjadi. Dan yang menginisiasi selalu bangga dan merasa benar dengan keputusannya, walau tak didasari atas kajian ilmiah.
Rasanya ini masalah paling utama dalam sistem pendidikan di negeri Wakanda. Pendidikan yang seharusnya ilmiah ternyata tidak direncanakan dan dijalankan secara ilmiah.
BACA JUGA : Jokowi, Menteri Korupsi dan Pilpres
Dengan cara bercanda, Cak Lontong sering mengungkapkan ketidakcerdasan warga Wakanda lewat ungkapan “Mikir”
Yang dimaksudkan oleh Cak Lontong adalah berpikir rasional. Sebab semua orang pasti berpikir, sebelum melakukan sesuatu. Namun karena IQ yang peringkatnya 130 itu yang dipakai untuk mikir oleh warga Wakanda adalah otak emosional.
Ibaratnya jika ada pilihan gampang atau sulit dalam urusan mikir maka warga Wakanda akan memilih cara yang gampang.
Cara berpikir gampang itu dengan mengandalkan otak emosional. Berpikir dengan mengandalkan memori internalnya sendiri sehingga lebih mudah, cepat dan tidak melelahkan.
Berpikir emosional tidak butuh referensi, tak butuh bacaan atau pengetahuan dari luar. Yang mesti dicari-cari, diingat,-ingat, divalidasi dan lain-lain.
Dengan mengandalkan otak emosional maka teori yang paling populer di negeri Wakanda adalah teori konspirasi.
Saking terkenalnya teori Darwin, heliosentris dan lainnya ikut-ikutan dianggap sebagai teori konspirasi.
Gemar melakukan gothak gathuk mathuk, masyarakat Wakanda kemudian suka berbual. Labu pun kemudian dinamai waluh.
Masyarakat Wakanda gemar menyimpulkan segala sesuatu dengan cepat. Meski hanya mengandalkan bukti-bukti yang bersifat partial dan kadang nggak berhubungan satu sama lain.
Maka masyarakat Wakanda cenderung berpikir hitam putih atau biner. Pilihannya hanya benar atau salah, tanpa alternatif yang lainnya walau di sekolah diajarkan peribahasa “Ada banyak jalan lain ke Roma”.
Gara-gara perilaku seperti itu, warga Wakanda yang dikenal sangat beragam dan multipartai, namun dalam pemilu kemudian terbelah dalam dua kubu yakni cebong dan kampret.
Yang tidak memilih untuk berada dalam salah satu kubu akan dimusuhi oleh kedua-duanya. Tidak menjatuhkan pilihan menjadi sebuah pilihan berat
Gemar mengandalkan otak emosional untuk menelaah keadaan memang membuat tingkat partisipasi publik menjadi tinggi. Semua hal dibahas oleh masyarakat, seru sekali bahkan cenderung gaduh.
Ada banyak pakar dalam masyarakat. Karena semua ahli, ahli bersilat lidah.
Hanya saja perdebatan publik kemudian kerap berakhir dengan argumentum ad hominem.
Jika salah satu terdesak atau terpojok karena kalah argumennya maka akan menyerang balik dengan cara merendahkan pihak lawan dengan merendahkan secara pribadi.
Misalnya ketika berdebat tentang pernikahan. Mereka yang menikah lalu kalah argumen, lalu akan menyerang pihak lain yang kebetulan belum menikah dengan argumen “Bagaimana kamu bisa mengerti pernikahan kalau kamu sendiri belum menikah,”
Persis sama ketika berdebat tentang Amerika. Yang kalah kemudian tak mau mengakui karena yang menang belum pernah ke Amerika.
Debat yang awalnya ilmiah kemudian bisa berakhir dengan kelahi atau bahkan laporan ke polisi. Salah satu merasa terhina sehingga akan menuduh yang lainnya sebagai penista.
Dan agar tuduhannya menjadi ampuh, maka akan dituduh sebagai penista SARA.
Bagi warga Wakanda tuduhan SARA adalah tuduhan berat. Jika sampai ditersangkakan maka akan menjadi musuh publik, dunia dan akhirat.
Jauh lebih mulia jadi tersangka korupsi karena dalam tahanan bisa dapat privasi karena kekayaan dan pengaruh kekuasaan.
Namun mereka yang dijadikan tersangka kasus SARA bisa-bisa mulutnya bakal dijejali tai oleh tahanan lainnya yang ikut-ikut merasa dinistakan.
BACA JUGA : Surat Cinta Untuk Starla, Cinta Itu Hanya Narasi
Sejauh mana tingkat kecerdasan masyarakat bisa dengan mudah dilihat di media sosial.
Dalam ruang bebas ini,ekpresi dari kerja otak tidak mudah ditutupi. Mentalitas aslinya akan kelihatan dalam memperbincangkan atau menanggapi peristiwa publik.
Berapa lucu dan dungunya netizen negeri Konoha tergambar ketika menanggapi peristiwa rombongan Bante atau Bhiksu dari Thailand yang datang untuk merayakan Waisak di Candi Borobudur.
Para Bante ini sedang melaksanakan ritual Tudhong, sebuah perjalanan spiritual yang berawal dari sejarah kehidupan Biksu saat belum mempunyai Vihara.
Lewat ritual Tudhong yang jarak tempuhnya ribuan kilometer itu para Bante menghayati kesederhanaan yang diajarkan oleh Budha sebagai jalan mencapai kebahagiaan.
Hanya berbekal baju biksu di badan dan tas selempang mereka bahkan berjalan tanpa alas kaki.
Hampir tak ada apa apa yang mereka miliki. Karena menurut ajaran Budha, ikatan pada hal-hal yang dimiliki akan membuat seseorang tidak bahagia.
Perjalanan spiritual para Bante ini menghiasi media sosial yang paling ramai di Twitter. Oleh sebagian besar warganet dianggap sebagai tontonan untuk dikomentari.
Muncullah komentar dan pertanyaan-pertanyaan lucu serta dungu menanggapi perjalanan para Bante yang dimulai dari Thailand melewati Malaysia dan Singapura untuk menuju Indonesia.
“Masak bisa jalan kaki dari Thailand sampai Borobudur, kan ada laut?”
Mempertanyakan hal-hal begini memang khas warga Wakanda yang malas mikir untuk mencari jawaban sendiri.
Ya kalau ada laut pasti tidak bisa dilewati dengan jalan kaki. Sama dengan anak Vespa yang berkelana dari Jawa ke Bali, ya pasti Vespanya mesti naik kapal ketika menyeberangi lautan.
Begitu juga dengan para Bante, ketika dari Singapura ke Indonesia akan naik Kapal Ferry ke Pulau Batam. Lalu dari Batam naik pesawat ke Jakarta, untuk kemudian berjalan kaki menuju Borobudur.
Kelucuan dan kedunguan tidak berhenti sampai disitu. Ada lagi yang berkomentar “Terlalu banyak kamera, kesannya jadi pencitraan”
Ajaib, Bante kan bukan politisi. Mereka sama sekali tidak membawa smartphone berkamera. Yang memotret atau merekam orang lain, orang-orang yang membantu perjalanan mereka atau yang menyambut di jalan yang dilewati oleh mereka.
Para Bante bukanlah jenis peziarah kebanyakan, yang lebih banyak mengambil foto dan video ketimbang menghayati dan bermeditasi dalam peziarahannya.
Dan seperti biasa, di media sosial para warganet Wakanda kerap membuat butterfly effect. Melebar-lebarkan pembahasan ke arah yang jauh, membuat hembusan angin karena kepakan kupu-kupu menjadi badai angin ribut.
“Wah, berarti Borobudur itu tempat ibadah. Seharusnya kita yang bukan Budhis tak boleh kesana dong,”
Dan penyataan yang berbau mempertanyakan ini kemudian memancing komentar dan pernyataan lain yang kemudian menjauh dari esensi Thudong. Bukan Bante dan perjalanannya yang dibahas melainkan isu SARA.
Andaikan mau mikir secara rasional mestinya pernyataan atau pertanyaan itu tak perlu dilontarkan.
Semua tahu bahwa Borobudur adalah Cagar Budaya dan kepemilikan atau penguasaannya ada di tangan pemerintah.
Fungsi utamanya adalah konservasi peninggalan budaya kebendaan, museum in situ.
Namun oleh pemerintah juga difungsikan sebagai destinasi wisata, tapi bukan yang utama karena kalau suatu saat dianggap membahayakan konstruksinya, wisata bisa saja dibatasi atau bahkan ditutup.
Pun demikian dengan fungsi lain seperti tempat upacara atau peribadatan. Karena merupakan warisan kebudayaan Budha di Indonesia maka kadang-kadang Borobudur dijadikan tempat untuk perayaan upacara Waisak secara nasional.
Dengan demikian Borobudur bukanlah tempat ibadah resmi yang dimiliki oleh masyarakat Budha Indonesia. Perayaan Waisak disana dilaksanakan atas ijin pemakaian yang diberikan oleh pemerintah.
Lagi pula tak ada yang salah jika kita datang ke tempat ibadah agama lain. Toh banyak tempat-tempat ibadah yang dijadikan destinasi wisata religius.
Warganet Wakanda memang suka membuat hukum sendiri, pengetahuan agama, kemampuan tafsir kita sucinya yang terbatas serta tidak kontekstual membuat semua ayat dalam kitab suci menjadi hukum.
Begitulah warganet Wakanda yang memandang agama merupakan sesuatu yang amat penting dalam kehidupan namun malas mempelajarinya dengan benar. Malas mendalami agama dengan memakai otak rasionalnya.
Makanya tafsir atau cara beragamanya kemudian menjadi amat emosional.
Gemar menuduh yang lain sebagai penista namun tak sadar bahwa cara beragamanya lah yang sesungguhnya menistakan agama mereka sendiri.
Sayang para pemimpin negeri Wakanda kerap sibuk membanggakan diri dengan capaian pembangunan fisik. Para pendukungnya lebih memilih asyik membandingkan seberapa panjang jalan yang dibangun oleh junjungannya dibandingkan junjungan kelompok lainnya.
Padahal pemimpin yang diperlukan adalah yang mampu mentransformasi mental warga Wakanda agar memilih jalan sulit untuk berpikir. Yakni menggunakan otak rasional ketimbang mengikuti otak emosional agar Wakanda mampu bertransformasi menjadi masyarakat yang berpengetahuan, masyarakat berpengetahuan.
Semoga kedepan masyarakat Wakanda akan berani memilih pemimpin yang berani mengambil pilihan yang sulit. Pemimpin yang berani mengakselerasi kecerdasan intelektual masyarakat Wakanda. Pemimpin yang tidak hanya membanggakan pertambahan panjang jalan, pelabuhan, bandar udara, sirkuit moto GP, destinasi wisata premium dan pusat pemerintahan yang berwujud kota hutan.
note : sumber gambar – CXOMEDIA.ID








