KESAH.ID – Kisah asmara tidak selalu seindah dongeng Pangeran dan Puteri dalam kisah-kisah Walt Disney. Provokasi, desas-desus, kabar burung bisa membuat cinta menjadi luka, baik pada diri sendiri maupun orang lain yang sama sekali tak ada urusannya. Dalam cinta harga diri kerap menjadi kelemahan yang menghancurkan.
Walt Disney semenjak kecil punya minat besar untuk menjadi seniman. Berusaha mewujudkan kecintaannya pada animasi, Walt berkali-kali gagal, jatuh bangun dalam berkarya.
Belajar sendiri, mencoba lewat serangkaian trial and error, Walt Disney akhirnya mencatat sukses lewat animasi dengan karakter tikus yang dinamai Mickey Mouse. Karya kreatif animasi dan musik terus dilanjutkan dalam berbagai proyek serial bertajuk Silly Symphony.
Fokus dalam pengembangan cerita dan mendidik animator-animator baru untuk mewujudkan idenya, Walt Disney kemudian tercatat sebagai orang yang paling sukses mengekploitasi dongeng kanak-kanak di layar kaca.
Snow White, Cinderella, Sleeping Beauty, Little Mermaid, Beauty and The Beast, Tangled dan Frozen adalah karya-karya dongeng animasi yang kemudian membuat Walt Disney Corporation berhasil menjadi perusahaan media hiburan raksasa yang bukan hanya melahirkan film melainkan juga membangun theme park paling ramai dan terkemuka di dunia.
Dongeng, kisah sebelum tidur yang diceritakan oleh orang tua kepada anak-anaknya di berbagai belahan dunia, ditangan Disney kemudian menjadi mimpi anak-anak sedunia.
Menjadi Prince dan Princess adalah cita-cita anak-anak sedunia. Walau kisah no body kemudian menjadi some body adalah kisah yang sungguh langka.
Maka mereka yang kemudian merasa telah merengkuh kisah dongeng itu kemudian kerap kali terkena Syndrome Prince and Princess, tak sudi tersakiti. Egonya sebagai pangeran dan puteri akan terasa dijatuhkan apabila ada yang mengusiknya. Harga diri menjadi kelemahan.
Kisah drama pembunuhan berencana yang diotaki Ferdy Sambo membuktikan bahwa sindroma 2 P tak hanya lekat dengan anak-anak dan remaja. Sebab mimpi untuk menjadi pangeran dan puteri yang dipupuk dari kecil barangkali akan digapai saat usia dewasa.
Ferdy Sambo adalah bintang yang melejit di Kepolisian Republik Indonesia, pangeran masa depan yang kebetulan beristrikan seorang putri, Putri Candrawathi.
Pangeran terusik karena mendapat kabar Sang Putri disakiti. Harga dirinya yang tinggi merasa tidak dihormati hingga kemudian lepas kendali dan menghukum yang dianggap menyakiti dengan hukuman mati.
Mencabut nyawa orang lain apapun alasannya jelas merupakan perilaku kotor dan Pangeran tidak boleh mengotori tangannya.
Maka tumpahnya darah sang ajudan itu harus dinarasikan sebagai percekcokan antar sesama polisi yang berpangkat rendah. Baku tembak dua insan muda yang mudah panas saat diingatkan.
Dan kisah Ferdy Sambo kemudian menjadi drama terpanjang yang menyita perhatian masyarakat Indonesia hampir setahun lamanya.
Kisah yang berhubungan dengan cairan tubuh memang selalu menarik, membuat orang ingin tahu dan makin ingin karena terus disamarkan.
Hingga kemudian berakhir kisahnya, lewat keputusan hakim yang mengganjar Ferdy Sambo dengan hukuman mati, motif yang mendasari pembunuhan sang ajudan tetap tersembunyi.
BACA JUGA : Api, Senjata Pertama Manusia Menguasai Bumi
Sinetron Pangeran Ferdy dan Puteri Putri belum lama tamat sudah disusul oleh drama baru Puteri A dan Pangeran M.
Bermula dari video aksi kekerasan yang viral, seorang muda remaja menganiaya remaja lainnya hingga tersungkur tak berdaya. Bukannya lari karena takut melihat sang lawan tumbang, si penganiaya justru berselebrasi layaknya bintang sepakbola ternama, tak ada rasa khawatir dan sesal.
Dan bukan netizen Indonesia kalau nggak kelewat keponya. Video penganiayaan segera terbongkar motif dibelakangnya. Bakat netizen Indonesia untuk membongkar kasus memang diatas rata-rata, mungkin melebihi kakak beradik Sherlock dan Enola Holmes.
Dengan segera diketahui bahwa aksi penganiayaan itu dipicu oleh provokasi A pada pangeran pujaan hatinya. Sang Putri yang selama ini dikenal piawai memikat hati lawan jenisnya murka, karena diputus secara sepihak.
Sang Puteri merasa harus memutuskan hubungan jika tidak suka bukan diputusin.
Siapa yang menyakiti hatinya harus dihukum. Dan sang puteri meminjam tangan, tangan yang lebih perkasa yakni pangerannya sekarang ini. Pangeran yang bukan hanya mantap body-nya melainkan juga berharta.
Puteri tahu bahwa harta dan kuasa bisa membuat persoalan menjadi lebih mudah diselesaikan.
M sang pangeran butuh pengakuan dari sang puteri. Meski berlimpah harta di istana bapak ibunya, tapi eksistensinya mungkin belum diakui. Jadi dari sang puteri dia akan mendapatkan validasi dengan cara membela harga diri sang puteri habis-habisan.
Memenangkan hati sang puteri artinya menahklukkan lawan yang sama-sama menggilai sang puteri. Menang harus ekplisit, bukan beradu tampan, pintar atau harta melainkan fisik, baku pukul. Lebih hebat lagi kalau nuansanya memberi pelajaran, memukuli tanpa dibalas oleh lawan.
Dan valid, pangeran M membuktikan dirinya bisa memberi pelajaran, memukuli yang menyakiti hati puteri hingga setengah mati, tidak sadarkan diri.
Sang puteri pun dengan percaya diri merekam aksi jagoan sang pangeran, mungkin sebagai bukti untuk membanggakan diri.
Dia lupa “pertarungan’ yang tidak seimbang akan mengerakkan advokasi. Publik selalu tak suka melihat perlakuan semena-mena, melihat yang kuat menghajar yang lemah. Sombong, sok jagoan, mentang-mentang adalah musuh publik.
Prince M dan Princess A kemudian dikuliti habis-habisan. Hingga yang lain kemudian terseret-seret meski tak urusan langsung dengan persoalannya.
Dari sengketa asmara yang teramat personal kemudian menjadi ‘perang’ diarea publik.
Provokasi A yang membuat M hilang kendali dan bertindak keterlaluan menyeret-nyeret orang tuanya dalam jebakan isu yang sudah lama menjengkelkan publik.
Pejabat yang kekayaannya segunung sudah lama menjadi pertanyaan yang tidak terjawab. Darimana asal hartanya yang berkali-kali lipat dari gaji, tunjangan dan lainnya.
Tentu saja bukan hanya bapaknya M pejabat yang tajir melintir. Tapi kelakuan M membuat publik punya peluru untuk menembak.
Bekerja di kementerian yang paling sensitif dalam urusan uang, bapaknya M kemudian mesti menebus kesalahan anaknya.
Inilah drama kehidupan, sindroma 2 P yang diidap oleh A dan M, membuat petaka bukan hanya untuk D yang terbaring dalam kondisi koma di rumah sakit. Dua kementerian ikut terusik, yang satu juga jadi jenggah karena kepercayaan publik terhadap kementeriannya bisa terpengaruh. Bisa-bisa orang tak lagi taat membayar pajak karena merasa pajak tidak dikelola dengan bijak.
BACA JUGA : Fiera Quarta Cinerum Atau Hari Rabu Abu
“Bad news is good news” sekuat apapun disangkal terbukti memang masih ampuh. Media luar negeri sekalipun ternyata tertarik untuk mengangkat drama sindroma 2 P ini. Mungkin beritanya sebagian ditulis berdasarkan platform kecerdasan buatan sehingga David yang muncul di ilustrasi beberapa berita luar negeri adalah David Gadgetin.
Yang suka nonton video review gadget pasti tahu siapa David Gadgetin, orangnya slow, lucu-lucu gimana. Jadi ketika fotonya dicomot untuk urusan yang salah, dia tetap tenang-tenang saja, bahkan mungkin tertawa.
David yang ini tak gampang disenggol urusan harga diri, tidak seperti Nikita Mirzan yang doyan ribut dan memperbesar urusan untuk masalah yang mudah diselesaikan. David Gadgetin hanya akan ribut kalau ada smarphone baru dengan spek yang gahar lalu dijual murahnya keterlaluan, harga yang membuat kaum mendang-mending terbungkam.
Untungnya pemberitaan media luar negeri lebih berfokus pada korban sehingga yang muncul adalah David Gadgetin. Kalau saja media lebih menyorot aktor intelektual atau provokatornya barangkali yang muncul dalam gambar ilustrasi adalah Agnes Monika.
Andai itu terjadi, misinformasinya jadi terasa fatal dan nggak lucu lagi. Mau disebut clickbait juga terasa kurang pas.
Agnezmo bukanlah putri-putrian, dia puteri beneran dalam dunia musik Indonesia. Harga dirinya juga mahal karena Agnes Monica bukan hanya piawai bernyanyi, dia juga jago berakting dan menari, multi talent istilah kerennya.
Walau dikenal berkali-kali ganti pacar, hubungan Agnes Monica dengan mantan-mantannya baik-baik saja. Seperti misalnya dengan Daniel Mananta dan Dedi Corbuzier. Tak ada satu petikan beritapun yang menunjukkan Agnes Monica ingin bersilaturahmi dengan pukulan lewat tangan orang lain.
Agnes Monica jelas percaya diri dan menghargai dirinya sendiri dengan tidak membawa-bawa urusan pribadi dengan melibatkan orang lain apalagi di ruang publik. Dia punya harga diri, menilai dirinya tinggi sehingga tak mau melakukan hal-hal yang membuat harga dirinya terdegradasi.
Perihal harga diri, para motivator kerap memberi nasehat agar memberi harga yang tinggi untuk diri kita sendiri. Namun perlu diingat memberi harga yang terlalu tinggi dengan cara merendahkan harga diri orang lain akan membuat harga diri menjadi kelemahan yang paling menghancurkan.
note : sumber gambar – DALL-E








