KESAH.ID – Sejak hari Rabu lalu umat Katolik sedunia memasuki masa prapaskah, masa pantang dan puasa sebagai jalan pertobatan. Awal dari masa puasa atau prapaskah ditandai dengan upacara pemberian abu di dahi yang disertai dengan ucapan “Bertobat dan kembalilah kepada Injil.”. Ritual ini dinamakan sebagai Hari Rabu Abu.
Sekarang kita lebih akrab dengan istilah open mic daripada lawak atau dagelan. Open mic adalah kegiatan dalam stand up comedy dimana seseorang tampil untuk membawa kisah yang lucu dihadapan orang lain.
Aksi seperti ini sebenarnya bukan khas pada stand up comedian saja karena seseorang ber-storry telling dihadapan orang lainnya biasa ditemui dalam berbagai budaya masyarakat kita.
Di Papua misalnya dikenal istilah mop yang formatnya mirip dengan open mic dalam stand up comedy. Mop adalah wacana humor khas Papua yang isinya kisah atau cerita untuk menyindir atau mentertawakan hidup dan kehidupan masyarakat Papua dari berbagai sudut pandang.
Istilah mop sendiri tidak jelas asal usulnya, mungkin terpengaruh oleh kebiasaan orang Belanda yang suka bikin lelucon diawal bulan April, April Mop. Namun ada pula yang mengartikan mop sebagai singkatan dari Mati ketawa ala Orang Papua, mirip-mirip dengan buku berjudul Mati Ketawa Ala Orang Rusia yang dulu pernah populer.
Mop biasanya dilakukan dalam sebuah kumpulan, seseorang akan mulai bercerita dan kemudian disambut dengan gelak tawa. Lalu disusul oleh orang lainnya sampai tak ada lagi yang punya cerita.
Tidak hanya dalam kumpulan informal seperti nongkrong atau ngobrol di warung, mop juga kerap dipakai sebagai pembuka atau ice breaker dalam acara-acara formal. Pejabat misalnya memakai mop untuk membuka pidatonya, pastor, pendeta dan ustadz juga kerap memakai mop sebagai pengantar khotbahnya.
Di Manado juga ada kebiasaan serupa, saat kumpul-kumpul biasanya akan ada obrolan seru-seruan sekaligus lucu. Namanya cigulu-cigulu, semacam tebak-tebakan atau teka-teki yang menantang seseorang berpikir namun kemudian terhibur dengan jawabannya.
Sebagian cigulu-cigulu bisa saja punya makna, namun sebagian lainnya hanya cerita konga atau omong kosong.
Salah satu cigulu cigulu yang saya ingat berhubungan dengan ucapan pada perayaan Hari Rabu Abu. Saat mengoles dahi dengan abu, Pastor atau petugas liturgi lainnya akan mengucapkan “Kamu dari debu dan akan kembali menjadi debu.”
Cigulu cigulunya begini “Pa torang kalau pastor kase abu pasti bilang kamu dari debu dan akan kembali debu. Maar kalau di Afrika sana kira-kira pastor mau bilang apa?”
Yang tidak suka bergurau pasti akan menjawab yang diucapkan oleh pastor di Afrika tidak beda dengan di Indonesia, karena ucapannya berasal dari ayat Kitab Suci yang sama.
Tapi yang bertanya akan bilang tidak. Dan ketika tidak ada yang menjawab, yang bikin cigulu cigulu kemudian bilang “Pastor di Afrika sana akan bilang kamu dari arang dan akan kembali menjadi arang.”
Setelah sempat berpikir kemudian yang lainnya tertawa karena sadar kalau di Indonesia ayatnya akan menyebut debu sebab orang Indonesia umumnya berkulit sawo matang, sedang di Afrika akan menyebut arang karena orangnya berkulit hitam.
Karena ayatnya ditafsir berdasarkan kulit kemudian ada yang bertanya “Kalau di China kira-kira depe pastor mo bilang apa.”
Sebagian sudah paham jadi menjawab ramai-ramai “Kamu dari batu kapur dan akan kembali menjadi batu kapur.”
Dan semua yang ada di kumpulan itu tertawa riang gembira. Tak nampak ada gurat kekhawatiran di wajah kalau apa yang mereka omongkan bisa membuat mereka dituduh sebagai penghina atau penista Kitab Suci dan agama.
Saya ada di kumpulan itu, gerombolan orang-orang Kristen Napas yang datang ke gereja hanya di hari Natal dan Paskah, itupun duduk di belakang. Burung tahun, begitu sebutannya karena hanya sesekali dalam setahun datang ke gereja.
BACA JUGA : Konglomerasi Perut Ala Salim Group
Rabu, 22 Februari 2023 lalu saya pergi ke gereja karena pada tanggal itu kalender liturgi menentukannya sebagai Hari Rabu Abu. Bagi orang Katolik, Rabu Abu merupakan perayaan penting karena menandai dimulainya masa puasa {dan pantang} atau prapaskah.
Pengolesan abu di dahi pada Rabu Abu bermula dari tradisi lama gereja sejak Konsili Nicea. Pada masa itu di wilayah Mesopotamia hingga Israel merupakan praktek umum untuk menandai pertobatan.
Oleh Konsili Nicea kebiasaan ini kemudian ditetapkan sebagai awal dari masa pantang dan puasa, namun belum dinamai sebagai hari Rabu Abu.
Pada tahun 601, Paus Gregorius kemudian menetapkan masa pantang dan puasa dimulai dari hari Rabu sesudah minggu ke 4 dari tahun baru. Dan sejak itu Hari Rabu Abu dipraktekkan oleh Gereja Katolik sebagai permulaan masa pantang dan puasa atau prapaskah.
Dalam ritus latin Hari Rabu Abu disebut sebagai Feria Quarta Cinerum.
Tradisi ini diikuti terus oleh Gereja Katolik hingga hari ini. Masa pantang puasa berlangsung selama 46 hari, yang terdiri atas 40 hari pantang dan puasa dan 6 hari non pantang dan puasa, yakni hari Minggu.
Hari Rabu Abu dalam kalender liturgi Gereja Katolik, paling awal akan jatuh pada 4 Februari atau paling lambat 10 Maret.
Dalam perayaan Hari Rabu Abu, abu akan diberikan kepada semua orang yang hadir dalam perayaan, bahkan mereka yang non Katolik sekalipun akan diijinkan untuk menerimanya.
Sampai dengan abad ke 10, pemberian abu dilakukan dengan cara menabur untuk membentuk tanda salib diatas ubun-ubun. Namun pada abad ke 10 muncul kebiasaan kaum wanita pergi ke gereja dengan memakai kerudung kepala. Pemberian abu kemudian berubah dengan cara mengoleskan abu membentuk tanda salib di dahi.
Dulu ketika mengoleskan abu di dahi, pastor atau petugas gereja lainnya akan mengucapkan “Sebab engkau debu dan akan kembali menjadi debu.”
Namun kemudian tata liturgi romawi diperbaharui sehingga yang sekarang ini ucapan yang menyertai pemberian abu ialah “Bertobat dan percayalah kepada Injil.”
Karena hanya sehari, perayaan Rabu Abu akan membuat lingkungan gereja Katolik sibuk sepanjang hari. Perayaan misa bisa dilakukan sebanyak 3 sampai 5 kali bahkan lebih tergantung pada banyak sedikitnya umat.
Mulai dari misa subuh, misa pagi, misa sore, misa senja dan misa malam.
Mereka yang rajin mengikuti misa setiap hari Minggu akan melihat wajah-wajah asing dalam misa Hari Rabu Abu. Bukan alien atau penyusup melainkan kaum Katolik Napas, yang hanya datang ke Gereja menjelang hari Natal dan Paskah.
BACA JUGA : Dangdut Koplo Dari Mbak Inul Hingga Bunda Corla
Meski berlangsung selama 40 hari, puasa umat Katolik tidak seketat dan seberat umat muslim.
Puasa dalam Islam dijalani dengan menahan lapar selama setengah hari. Hari puasa menjadi sangat istimewa dan kentara. Sedangkan dalam agama Katolik masa puasa terdiri dari dua yakni pantang dan puasa.
Puasa artinya hanya makan kenyang satu kali satu hari dan puasa wajibnya hanya pada hari Rabu Abu, Jum’at dan Jum’at Agung. Di luar itu terserah, mau puasa boleh, mau tidak juga tak apa-apa. Mereka yang mau menurunkan berat badan barangkali yang akan puasa penuh selama 40 hari.
Bagian lain dari mati raga adalah pantang. Yakni sebuah intensi atau niat untuk mengurangi atau tidak melakukan hal-hal yang menyenangkan, yang membuat kecanduan, atau sesuatu yang sangat disukai. Pantang bisa meliputi makanan, minuman atau kegiatan lainnya.
Misalnya ada yang berpantang untuk mengurangi minum gula, tidak lagi minum teh dan kopi atau mutih, mengurangi atau menghilangkan garam dalam masakan. Namun ada juga yang memilih pantangannya adalah tindakan, misalnya tak menonton film di bioskop, tidak nongkrong malam-malam, tidak pergi memancing di laut, tidak touring dengan motor dan lain-lain.
Kalau ada yang bertanya saya puasa atau tidak, jawaban saya hanya tersenyum. Sedangkan soal pantang, sudah lama saya memilih pantangan yakni pantang mundur.
Karena jawaban itu sudah sangat template maka saya ingin merubahnya. Biar saya nggak ketinggalan dengan semangat Kota Samarinda yang ingin menjadi pusat peradaban lewat slogan Samarinda Berani Berubah.
Maka setelah dahi ditandai dengan tanda salib lewat olesan abu, saya berjanji untuk pantang dan puasa mengeluarkan kata-kata nyinyir atau menyerang pribadi orang lain. Selain itu saya juga akan berpuasa dan pantang merasa kecewa terhadap janji-janji pemimpin dan para politisi.
Saya juga akan pantang marah dan pesimis melihat keadaan, ketika pemerintah hanya rajin memuji dirinya sendiri berkaitan dengan pembangunan, walau hasil pembangunannya belum teruji.
Apapun berita dari media massa dan juga proyeksi dari para Youtuber tentang hari-hari gelap yang akan segera datang tidak akan membuat saya khawatir dan mengeluh, saya akan tetap menikmati hal-hal sederhana dalam kehidupan.
Oh, iya saya juga akan pantang dan puasa stress, meratap sedih dan menganggap hidup ini pahit. Sebab saya suka kopi pahit, kopi tanpa gula. Sebagaimana daun pepaya muda, pahitpun akan terasa nikmat dan enak jika diterima.
Dan terakhir saya akan puasa dan pantang banyak omong karena memang saya lebih banyak menulis, menyampaikan omongan saya lewat tulisan sehingga lingkungan saya akan lebih hening.
Semoga siapa saja yang membaca niat atau intensi saya ini akan memberi dukungan sehingga saya bisa pantang dan puasa selama 40 hari penuh tanpa cacat cela. Dengan catatan anda semua jangan terlalu berharap bahwa setelah lewat 40 hari kedepan saya akan menjadi manusia dengan adab yang baru. Harapan semacam itu adalah harapan yang amat berlebihan.
note : sumber gambar – FLORESKU.COM dan diedit dengan model AI stable diffusion lewat PLAYGROUNDAI.COM








