KESAH.ID – Ditengah menjamurnya kedai kopi, Starbuck tetap terdepan dalam soal branding. Mereknya menjadi jaminan sehingga orang bersedia membayar segelas kopi jauh lebih mahal dari kedai kopi lainnya. Segelas kopi Starbuck memang bukan sekedar soal rasa melainkan juga tentang gaya dan cara ngopi yang berkelas.
Tahukah ada berapa kedai kopi di Jalan Siradj Salman?. Entah berapa persisnya, yang jelas jumlahnya puluhan. Ruas jalan lain yang juga mempunyai banyak kedai kopi adalah Jalan Juanda, jika dihitung juga yang ada di dalam gang-gangnya.
Tapi secara keseluruhan hampir seluruh ruas jalan di Samarinda hampir selalu ada kedai kopinya. Bukan hanya jalan utama saja melainkan juga jalan-jalan yang berada di tengah permukiman. Mencari kedai kopi semudah mencari penjual bensin eceran.
Dalam 5 tahun terakhir ini kedai kopi memang terus bertumbuh. Mungkin mereka yang punya duit nganggur berpikir bahwa bisnis kopi itu mudah karena banyak yang menjual franchise-nya.
Padahal kalau dicermati lebih dalam tidak sedikit kedai yang baru buka, 3 sampai 6 bulan kemudian gulung tikar.
Nampaknya masih banyak yang berpikir bahwa bikin kopi itu hanya menuang air panas ke bubuk kopi, seperti halnya kopi instan. Kopi dianggap sama saja rasanya, kopi ya kopi.
Padahal detailing dalam membuat kopi itu banyak agar kopi yang disajikan mempunyai rasa dan aroma yang berbeda-beda. Komposisinya rumit mulai dari pilihan biji, gramasi, grinding size, waktu seduh, tingkat kepanasan air sampai dengan gerakan dalam menuangkan air panas.
Melihat pertumbuhan dan keramaian di masing-masing kedai kopi, kebiasaan nongkrong di kedai kopi nampaknya bukan lagi trend melainkan sudah menjadi gaya hidup.
Wakil Ketua Asosiasi Ekportir Kopi Indonesia, Pranoto Sunarto menyebutkan konsumsi kopi perkapita Indonesia naik dari kisaran 800 gram per tahun menjadi 1,5 kg per tahun.
Memang belum setinggi Malaysia atau Jepang yang dikenal sebagai peminum teh, apalagi jika dibandingkan dengan negara-negara Eropa yang bukan penghasil kopi. Tapi kenaikan konsumsi kopi per kapita Indonesia yang cukup tinggi menjadi prospek ekonomi yang cerah di masa depan apabila tumbuhnya peminum kopi baru di kalangan anak muda bisa dijaga.
Hanya saja dengan menjamurnya kedai kopi, persaingan antar kedai menjadi tinggi demikian juga untuk memaksimalkan keuntungan kebanyakan dari kedai kopi tidak bisa hanya bersandar pada menu kopi murni.
Dalam kondisi seperti ini menjadi idealis bisa jadi bukan merupakan pilihan. Hanya ada sedikit kedai kopi yang akan bertahan jika hanya mengandalkan kopi.
Karena dalam prakteknya walau bernama kedai kopi namun yang banyak laku atau dijual adalah minuman non kopi dan makanan, mulai dari makanan ringan sampai makanan berat.
Kopi-kopi kekinian misalnya, sekarang ini mulai dilengkapi dengan toast atau burger. Bahkan tak sedikit yang kemudian memadukan kedainya dengan gerai potong rambut, distro dan thrift store.
Sebagai negeri penghasil kopi dan bijinya ternama di berbagai penjuru dunia memang sudah saatnya kopi-kopi terbaik di Indonesia dinikmati dengan cara yang benar oleh warganya sendiri. Adalah sebuah ironi jika anak-anak muda Indonesia kemudian jatuh cinta pada kopi nusantara ketika sedang studi di luar negeri.
BACA JUGA : Memahami Mental Kerumunan, Sembrono Atau Inkompetensi?
Tidak bisa dipungkiri, budaya ngopi di kalangan anak muda sedikit banyak disumbangkan oleh kehadiran Starbuck, gerai kopi asal Seattle, Amerika Serikat.
Starbuck sendiri bermula dari toko yang menjual biji kopi, daun teh dan rempah-rempah namun kemudian bertransformasi menjadi kedai kopi yang kemudian memicu budaya coffee house di seluruh dunia.
Kisah Starbuck tak bisa dilepaskan dari Howard Schultz, pemimpin yang mampu mengerakkan Starbuck menjadi salah satu brand yang paling bernilai di dunia.
Toko kopi, teh dan rempah ini didirikan pada tahun 1971 oleh Zev Siegel, Jerry Baldwin dan Gordon Bowker. Beroperasi seperti retailer, pelanggan datang membeli biji kopi untuk digiling dan diseduh di rumah.
Tahun 1981, Howard Schultz yang saat itu bekerja di perusahaan peralatan dapur datang ke gerai Starbuck dan segera jatuh cinta dengan aroma kopi yang diciumnya. Dia kemudian mencoba kopi sumatera dan terpesona hingga kemudian memutuskan untuk bekerja di Starbuck.
Setelah bekerja di Starbuck, Howard melakukan perjalanan ke Eropa, di Milan, Italia dia terpesona dengan cara barista menyajikan kopi espresso yang khas. Barista seperti mengenal para pelanggannya, memanggil nama ketika kopi yang diseduh siap diminum.
Di kedai kopi, Howard juga menemukan bahwa pelanggan bukan hanya datang untuk minum kopi dengan cepat, melainkan untuk rileks bahkan ada yang datang untuk menikmati kopi sambil bekerja. Howard menemukan hearts and soul dari kedai kopi. Dia kemudian menyimpulkan bahwa kopi harus menjadi sebuah pengalaman.
Sepulang dari Italia, Howard mengajukan usulan bisnis model baru untuk Starbuck, namun ditolak oleh para foundernya. Yakin dengan idenya, namun ditolak kemudian Howard meninggalkan starbuck dan mendirikan kedainya sendiri yang dinamai Il Giornale. Nama yang sangat Itali.
Ketika mencari investor untuk mewujudkan idenya, hampir semuanya tak tertarik untuk bertaruh uang pada kedai kopi espresso yang secangkirnya dijual 3 dollar. Investor tidak percaya orang Amerika mau membayar mahal untuk segelas kopi. Masyarakat Amerika saat itu terbiasa meminum kopi instan yang harga segelanya hanya 50 sen dollar.
Kedai kopi Il Giornale akhirnya berdiri dan memperoleh respon positif. Sebaliknya Starbuck semakin lama semakin payah. Hingga akhirnya para founder menawarkan pada Howard untuk membelinya. Meski tertarik namun Howard tak punya cukup uang untuk mengambil alih Starbuck.
Ada investor besar yang tertarik untuk membiayai pengambilalihan Starbuck namun Howard tidak sreg karena posisinya di Starbuck tidak akan kuat sehingga visinya tentang kedai kopi sulit diwujudkan. Diapun bergerilya mencari investor lain dan akhirnya dapat sehingga Starbuck bisa berada dalam genggamannya.
Dan perjalanan Starbuck sebagai kedai kopi modern seperti kita kenal saat ini dimulai. Di tahun 1990, kedai Starbuck sudah berjumlah 20 di seluruh penjuru Amerika dan terus bertumbuh. Pada tahun 2000, Starbuck sudah mempunyai 10.000 gerai di 33 negara. Konon pada masa puncak pertumbuhannya, Starbuck membuka 7 gerai baru setiap harinya.
Untuk memaksimalkan pendapatan mulai tahun 2003, Starbuck merubah model bisnisnya dengan menambahkan hot food dalam list jualannya. Starbuck menjual sandwich dan berbagai jenis pastry lainnya.
Memerlukan banyak uang untuk menjaga pertumbuhannya, Starbuck kemudian juga menjual produk lain yang jauh dari kopi. Mulai tahun 2005, Starbuck menjual DVD, CD musik dan juga boneka.
Pertumbuhan yang cepat, gerai yang saling berdekatan membuat pelanggan kehilangan pengalaman ngopi di Starbuck. Brand Starbuck diekpoitasi bukan dengan kopi dan pengalaman kopi. Otomatisasi mesin pembuat espresso membuat pelanggan tak lagi bisa menyaksikan keasyikan dan ketrampilan barista. Kopi yang disegel, membuat gerai Starbuck tidak menebarkan aroma kopi yang bisa membuat pelanggan jatuh cinta, mabuk kopi.
Tahun 2008, Starbuck kembali menghidupkan pengalaman ngopi ala Starbuck yang membedakan dengan kedai lainnya. Para barista dilatih ulang untuk menghadirkan pengalaman bagi pelanggan. Hasilnya satu tahun kemudian pelanggan Starbuck tumbuh seratus persen.
Berkaca dari pengalaman sebelumnya, saat kembali melakukan ekpansi, tim Starbuck akan dengan cermat melakukan pemilihan lokasi.
BACA JUGA : Guru Pengukir Peradaban Yang Terpinggirkan
Untuk meningkatkan pengalaman dan menjalin hubungan yang lebih erat dengan pelanggan, pada tahun 2009 Starbuck meluncurkan My Starbuck Reward dan kartu yang terhubung dengan aplikasi pembayaran mobile.
Kartu pembayaran ini kemudian menjadikan Starbuck bukan hanya kedai kopi melainkan beroperasi layaknya sebuah bank. Pelanggan mendeposit sejumlah uang, seperti menyimpan uang atau menabung di bank. Namun simpanan uang itu hanya bisa digunakan untuk berbelanja di Starbuck. Jadi sebelum pelanggan memesan segelas kopi, Starbuck sudah mendapatkan uang terlebih dahulu dari sekian banyak pelanggannya.
Kwartal pertama tahun 2021 dari kartu deposit Starbuck bisa mengumpulkan uang cash sebesar 2,4 juta dollar dari pelanggannya. Jumlahnya bisa melebihi deposit kebanyakan bank pada umumnya. Dan kelebihannya dibanding bank, deposit uangnya tidak bisa diambil kembali melainkan harus dibelanjakan. Starbuck tidak membayar bunga seperti simpanan pelanggan di bank.
Kartu deposit ini juga memungkinkan Starbuck untuk mendapat data pelanggan. Mereka menjadi tahu kebiasaan pelanggan, apa yang disukai pelanggan, berapa yang dibelanjakan dan lainnya. Data ini kemudian menjadi sumber informasi penting untuk pengembangan produk dan layanan.
Starbuck untuk bergunung-gunung, selain informasi dan data, uang besar dari pelanggan juga dipakai untuk mengembangkan gerainya. Starbuck mampu membiayai ekpansinya tanpa perlu dukungan investor dari luar. Kabarnya setiap tahun, jumlah uang yang dideposit dan tidak habis dibelanjakan lalu dibiarkan oleh pelanggan, angkanya juga cukup besar.
Berumur hampir 50 tahun sampai sekarang Starbuck terus berinovasi. Total menu minuman yang mereka punyai sudah lebih dari 87.000 rasa. Jumlah gerainya sudah lebih dari 32 ribu dan tersebar di 88 negara.
Terpukul oleh pandemi Covid 19 yang menyebabkan penjualan menurun 40 persen di seluruh dunia. Dalam waktu satu tahun Starbuck mampu melakukan recovery.
Di Samarinda, recovery Starbuck paska pandemi ditandai dengan pembukaan gerai ke empatnya di Jalan Siradj Salman.
Banyak yang bertanya bagaimana mungkin kopi yang rasa uang ini alias mehong bisa tetap laris manis.
Starbuck mahal bahkan teramat mahal karena branding mereknya bernilai tinggi. Membeli segelas kopi starbuck berarti membeli nilai dari mereknya. Berfoto dengan segelas kopi Starbuck selalu layak untuk diupload di media sosial.
Selain itu penerima pesanan di Starbuck juga jagoan melakukan up selling. Ketika pelanggan memesan minuman, akan ditanya panas atau dingin, setelah itu akan ditawarkan ditambah cream atau tidak, lalu akan diikuti dengan saran penambahan sirup tertentu. Setelah minuman yang diinginkan dipesan segera akan diikuti dengan penawaran makanan. Yang iya-iya, seperti kerbau dicucuk hidungnya bakal kering dompetnya untuk membayar pesanan.
Itulah Starbuck, sebuah kedai kopi yang telah menjelma menjadi gengsi, kelas yang tersendiri karena minum di Starbuck bukan soal minum apa melainkan menjadi siapa. Ngopi di Starbuck akan menjadikan seseorang kelihatan kaya dan bergaya, orang yang berkelas.
Alih-alih berusaha menjadi orang kaya beneran, di negeri kita lebih banyak orang yang hanya ingin kelihatan kaya. Dan segelas kopi atau minuman lainnya dipakai untuk foto bergantian.
note : sumber gambar – JAKARTA.TRIBUNNEWS.COM








