KESAH.ID – Air memegang peranan penting dalam budaya dan perilaku masyarakat di masa lampau. Jejaknya masih mudah ditemukan dalam berbagai bentuk ritual baik tradisional maupun keagamaan. Sayang ritus yang memuliakan air tidak mudah ditemui dalam perilaku keseharian. Sehari-hari selain boros air, kita cenderung abai pada upaya untuk merawat dan menjaga air.
Beda antara pengusaha dan birokrat yang paling kentara ada pada soal efisiensi. Di otak pengusaha, efisien adalah perilaku umum dan utama, tujuan harus dicapai dengan pengeluaran sesedikit mungkin dan dalam tempo yang secepat-cepatnya. Sementara birokrat kebalikannya, kalau bisa dipersulit kenapa harus dipermudah.
Di Samarinda, prinsip efisiensi itu ditunjukkan dengan sangat jelas oleh pengusaha tambang, terutama batubara. Efisiensi pertama adalah penggunaan metode pertambangan open pit, atau tambang terbuka. Tanah atau lahan langsung disingkap dan digali.
Selain lebih aman, pertimbangan lainnya adalah ongkos. Melakukan pertambangan tertutup, bawah tanah atau underground minning butuh ongkos yang besar.
Efisiensi berikutnya dalam pertambangan batubara di Kota Samarinda ada pada pengangkutan. Batubara diangkut lewat jalanan umum. Pengusaha tidak membuat jalan hauling-nya sendiri melainkan menumpang pada jalan yang sudah ada. Yang agak tahu diri akan melakukan hauling di malam hari ketika jalan sepi, namun tak sedikit yang amat percaya diri karena melewati bersamaan dengan jam sibuk masyarakat.
Dan efisiensi yang paling paripurna adalah meninggalkan void bekas tambang begitu saja setelah selesai mengeruk batubaranya. Dan lubang-lubang bekas tambang tersebar dimana-mana, tanpa papan peringatan soal kedalaman dan bahayanya.
Sebagian orang kemudian menganggap void tambang itu sebagai danau. Airnya yang tenang dan dari kejauhan kerap terlihat berwarna biru kemudian menarik hati. Air memang selalu memanggil.
Beberapa void tambang itu kemudian ramai dikunjungi, tidak dikenali lagi sebagai bekas lubang tambang karena dinamai dengan sebutan Danau Biru, bahkan ada pula yang dikenal dengan sebutan Derawan, karena merujuk pada tampakan dari taman laut di Pulau Derawan.
Dan kita semua tahu, ada puluhan anak {remaja dan pemuda} yang kemudian kehilangan nyawa karena menjadikan void tambang sebagai tempat piknik. Mereka mati karena kilau jernih air tambang memanggil untuk mencebur, berendam dan berenang hingga membuat mereka tenggelam.
Padahal standar universal precaution untuk void tambang sudah jelas yakni mesti ada pengawasan, atau sekurangnya ada papan peringatan yang dengan tegas menyatakan “Dilarang Berenang”.
Hanya saja tambang batubara di Kota Samarinda memang khas. Jadi harap maklum kalau tidak ada yang mengawasi dan nir papan peringatan bahayanya. Sebab sebagian lubang itu digali oleh para maling. Ya maling karena datang diam-diam dan pergi tanpa pamit. Maka lubang kemudian menjadi satu-satunya jejak, bahwa disitu pernah ada tambang batubara tapi siapa yang menambang, seberapa banyak hasil dan bagaimana setelah ditambang semua serba gelap atau lebih tepat digelapkan.
Digelapkan karena sebenarnya banyak orang tahu siapa mereka itu. Pengetahuan yang jadi rahasia umum saja sehingga mereka tak harus bertanggungjawab andai ada yang celaka atau sengsara karena kelakuan mereka.
Bahkan ketika hampir sebagian warga Kota Samarinda terkena dampaknya saat hujan lebat dan genangan terjadi dimana-mana, mereka itu masih tenang-tenang saja. Bahkan bisa jadi malah dianggap sebagai orang mulia karena rajin ‘bersedekah’ memberi bantuan bagi mereka yang menjadi korban banjir.
BACA JUGA : Kedai Kopi Starbuck, Bank Berbau Kopi
Air memang merupakan salah satu material alam yang paling atraktif untuk semua orang. Sistem kebudayaan dan religi kita menempatkan air sebagai salah satu unsur utama dan terpenting dalam kehidupan.
Sebagai pembersih, air dipandang bukan hanya mampu meluruhkan kotoran fisik melainkan juga kotoran hati, maka air identik dengan kebersihan badan dan kesucian hati/jiwa.
Para pujangga kerap memandang air sebagai sumber kehidupan. Mata air oleh mereka dinamai sebagai banyu urip. Karena jernih, menyegarkan dan sungguh berharga, air kemudian juga disebut sebagai tirta kencana, air emas.
Dalam kebudayaan kita, badan air seperti mata air, sungai, danau dan lainnya memang lazim disebut sebagai air kehidupan.
Dalam soal air, bahkan dukun dan agamawan sepakat. Keduanya sepakat air yang dikatai-katai dengan mantra oleh dukun dan doa oleh agamawan akan mempunyai khasiat. Bisa menyembuhkan hingga mengusir roh jahat.
Salah satu oleh-oleh yang paling sering dibawa setelah ziarah adalah air. Dari Tanah Suci, sepulang naik haji yang dibawa adalah Air Zam Zam. Pun juga mereka yang pulang dari ziarah di Gua Maria, pulangnya juga membawa air suci yang berasal dari sendang, sumur atau pancuran.
Dalam skala yang lebih luas, kaum yahudi sebelum berdoa akan membersihkan diri dengan air, umat muslim juga demikian, melakukan wudhu sebelum sholat. Jemaat katolik juga akan mencelupkan jari dalam air suci di samping pintu masuk gereja untuk membuat tanda salib sebelum mengikuti misa.
Pada tradisi yang lebih tua, berbagai macam upacara tradisional yang berbasis pada sistem kepercayaan lokal juga diwarnai dengan air. Ada banyak upacara adat yang dimulai dari pengambilan air di mata-mata air tertentu. Lalu diakhiri dengan saling percik atau bahkan saling siram air.
Buku primbon Jawa mempunyai banyak petunjuk laku yang dihubungkan dengan air. Laku spiritual yang bisa membuat orang menjadi linuwih karena bertapa dalam air, seperti tapa kungkum. Berendam dalam hening, bersemedi di pertemuan air dua sungai misalnya dipercaya akan memberi kesaktian.
Berendam atau menyiram tubuh dengan air sebanyak-banyak memang menyenangkan. Anak-anak bahkan tak perduli walaupun airnya kotor. Air selalu akan memancing munculnya naluri bermain, bersenang-senang.
Pada setiap kejadian banjir, asal bukan banjir bandang selalu ada pemandangan anak-anak bermain dalam genangan. Air yang berlimpah selalu menyenangkan untuk anak-anak walau ada bahaya yang tersembunyi. Seperti kubangan di jalanan yang membuat got atau parit menjadi tak kelihatan. Tak sedikit anak yang terperosok dalam got dan kemudian terseret lalu tenggelam dalam alirannya.
Soal air berlimpah, kebanyakan dari kita memang bersuka apabila menemui rumah yang bak kamar mandinya besar. Jadi betah berlama-lama membersihkan diri. Pun juga kalau menginap di hotel yang dilengkapi dengan bath up dan kolam renang.
Tempat-tempat rekreasi yang favorit juga selalu berlimpah dengan air. Mulai dari pantai, water boom, water park, air terjun, danau, waduk hingga bendungan.
Samarinda sebagai kota tepian, tepat nongkrong yang ramai juga berada di tepian sungai. Lihat saja di Muso Salim, tepian Sungai Karang Mumus dan depan Kantor Gubernur Kaltim, tepian Sungai Mahakam.
Biarpun tempat duduknya seadanya, makanan dan minuman juga ala kadarnya serta gangguan yang terus menerus dari pengamen dan peminta-minta yang tak jelas juntrungannya toh tetap ramai setiap malamnya.
Air memang menyenangkan dan menenangkan.
BACA JUGA : Memahami Mental Kerumunan, Sembrono Atau Inkompentensi?
Sejak puluhan tahun lalu PDAM bercita-cita air dari kran langsung bisa diminum oleh pelanggannya. Tapi nampaknya cita-cita itu buyar lantaran gerai air isi ulang atau air galonan lebih mendapat kepercayaan dari masyarakat.
Air bersih memang identik dengan PDAM, tapi masyarakat sekarang tak hanya berpikir soal jernih dan bersih, melainkan juga sehat. Dan nampaknya dalam persepsi masyarakat, air PDAM belum identik dengan air sehat.
Maka andai air PDAM nantinya bisa langsung bisa diminum seperti di Singapura, Australia dan banyak negara lain sebagaimana ditunjukkan dalam film-film, belum tentu masyarakat kita mau meminumnya.
Buktinya kran air yang bisa diminum langsung di bandara-bandara malah dipakai untuk cuci tangan para penumpang pesawat. Yang haus pun mungkin tak terlalu percaya diri untuk mencecap airnya, takut dikira jorok oleh orang yang melihatnya.
Soal minum air langsung dari kran mungkin sama dengan berak lalu cebok hanya dengan tissue. Umumnya masyarakat kita pasti tak percaya diri memakai WC kering. Biar sudah digosok dengan tissue segepok tetap saja masih merasa belum bersih jika tak dikobok-kobok dengan air.
Hubungan kita yang lekat dan erat dengan air tak lepas dari keberlimpahan air disekitar kita, ada air dalam, ada pula air permukaan dan terus disiram oleh air hujan.
Sayangnya kelimpahan selalu mempunyai dua sisi pedang. Disatu sisi bisa merupakan anugerah, namun pada sisi lainnya bisa jadi kutukan, petaka dan musibah.
Anugerah karena banyak air sudah jelas. Sedangkan kutukan karena keberlimpahan air mewujud dalam bentuk boros air. Lebih jauh lagi merasa banyak air, membuat kita minim kesadaran untuk menjaga dan merawat sumber-sumber air.
Air hujan sebagai sumber utama air bagi badan-badan air yang kita manfaatkan untuk keperluan sehari-hari, kini lebih banyak yang terbuang. Air hujan lebih banyak yang menjadi air permukaan hingga menimbulkan genangan di lokasi yang tidak kita inginkan. Kita menyebutnya sebagai banjir.
Karena banjir maka badan air terutama sungai bersama dengan saluran buatan kemudian lebih diberlakukan sebagai sistem pengaliran. Tujuannya adalah mengirim air secepat mungkin ke laut. Sungai alami sekalipun kemudian dipaksa menjadi bagian dari sistem drainase, sistem pengaliran yang bertujuan mengeringkan area dari air permukaan.
Memandang badan air hanya sebagai sistem pengaliran sama artinya dengan menyia-nyiakan air sekaligus mengundang bencana baru. Air hujan yang lebih banyak dibuang, dialirkan sesegera mungkin ke laut membuat kantong-kantong air didalam tanah tidak terisi. Cadangannya menjadi berkurang.
Ketika musim kemarau, saat hujan tidak lagi turun permukaan tanah menjadi cepat mengering, debit sungai menurun jauh, rawa, danau dan waduk mengering. Masyarakat menjadi kesusahan untuk memperoleh air.
Sejak sekolah dasar, kita semua dibekali bagaimana menjaga keseimbangan air. Namun setelah lulus dan memperoleh gelar berderet serta menduduki jabatan tinggi yang mempunyai kuasa untuk mengatur kehidupan bersama kemudian lupa dengan pelajaran dasar soal air.
Yang rajin dipikirkan hanya soal mengatasi banjir, namun abai pada mencegah kekeringan. Hasilnya sungguh fatal, yakni perubahan musim. Musim hujan menjadi musim banjir dan musim kemarau menjadi musim kekeringan serta kebakaran.
Inilah petaka kita perihal air karena kita gagal mempertahankan budaya dan perilaku yang memuliakan air.
Oh, iya membubarkan kerumunan supporter bola dengan gas air mata daripada memakai semprotan air sama sekali bukan cerminan memuliakan air, atau sikap tak mau memboroskan air. Itu adalah kesalahan prosedur. Andai saja yang dilontarkan adalah butiran air mungkin air mata yang mesti kita kucurkan tidak akan sederas air hujan.
note : sumber gambar – KALTIM.TRIBUNNEWS.COM








