KESAH.ID – Dalam sepakbola ada pertandingan-pertandingan yang sejak semula mengandung resiko besar. Sayangnya para penyelenggara kerap abai pada kenyataan ini sehingga tidak siap dan melengkapi diri dengan kemampuan maksimal untuk menyelenggara pertandingan yang mengutamakan keselamatan penonton dalam kerumunan.

Tidak sampai sepekan tragedi Kanjuruhan pun berulang. Kejadiannya jauh disana, di Argentina walau tidak persis sama.

Bermula dari gerombolan penonton di luar yang memaksa masuk walau stadion sudah penuh, petugas keamanan berusaha menghalau dengan berbagai cara. Ketika sulit dikendalikan mulai dipakai peluru karet dan gas air mata.

Lontaran gas air mata ada yang nyasar. Masuk ke dalam stadion dan menimbulkan kepanikan yang luar biasa. Yang didalam stadionpun kocar-kacir.

Pertandingan yang baru berlangsung sembilan menit dihentikan. Pemain dievakuasi ke ruang ganti. Kabar terakhir belum jelas namun otoritas setempat menyebutkan ada satu orang yang tewas.

Jika dibandingkan dengan jumlah yang tewas di Kanjuruhan, yang terjadi di Stadion Juan Carmelo Zerillo, La Plata, Argentina belum ada apa-apanya. Tapi membandingkan jumlah yang tewas tentu bermasalah, kematian tidak boleh hanya menjadi statistik.

Tindakan yang mengancam kehidupan berapapun korbannya adalah sama fatalnya, sama jahatnya.

Penggunaan gas air mata untuk membubarkan kerumunan oleh otoritas sepakbola dunia disadari sebagai sesuatu yang berbahaya. Oleh karenanya dilarang dan larangan itu diberlakukan untuk semua pertandingan yang berada dalam ekosistem FIFA.

Semua stakeholder sepakbola tentu mengetahui larangan ini, walau ternyata dalam sepekan saja ada dua kejadian yang membuktikan larangan itu tidak ditaati.

Mungkin aparat keamanan yang bertugas merasa tidak percaya diri sehingga harus mempunyai senjata pamungkas untuk menghadapi situasi darurat. Persis seperti negara-negara yang berusaha untuk punya senjata nuklir, walau satu dunia sepakat untuk melarangnya.

Atau sebenarnya justru ada masalah lain yakni kecakapan. Para petugas keamanan sebenarnya tidak cukup mempunyai kecakapan untuk melakukan pengamanan atas kerumunan yang disebut sebagai supporter.

Petugas keamanan lebih terlatih menghadapi demonstran, ketimbang kelompok pengemar. Dalam menghadapi kelompok demonstran, petugas keamanan akan melakukan ‘kekerasan’ terukur untuk membubarkannya. Itupun tidak boleh ujug-ujug dengan gas airmata.

Maka menghadapi kelompok pengemar atau supporter apalagi dalam stadion seperti halnya menghadapi demonstran di jalanan jelas merupakan sebuah kesalahan. Dengan membawa gas air mata secara sengaja ke dalam pengamanan stadion saat pertandingan olahraga sekalipun hanya untuk berjaga-jaga juga jelas merupakan sebuah pelanggaran.

Adalah sembrono menghadapi supporter dengan kekerasan. Sebab dunia sepakbola sendiri merupakan dunia yang penuh kekerasan. Kekerasan dihadapi kekerasan akan menjadi ledakan yang akan menelan banyak korban.

BACA JUGA : Guru Pengukir Peradaban Yang Terpinggirkan

Sejarah sepakbola sebagai sebuah kompetisi memang penuh kekerasan. Inggris negeri kelahiran kompetisi olahraga ini sampai sekarangpun masih terus bermasalah dengan kaum supporter yang doyan melakukan kekerasan. Kelompok supporter yang kerap berlaku bak pasukan perang ini disebut sebagai kaum hooligan.

Kebiasaan yang khas dari hooligan adalah meneror pendukung klub lawan. Teror dilakukan di luar dan di dalam stadion. Dalam tingkatan tertentu mereka bahkan bisa menyerang kelompok yang diidentifikasi sebagai pendukung klub lawan mereka walau tak ada pertandingan.

Selain itu ada kelompok lain yang disebut ultras. Ini juga merupakan kelompok yang fanatik dan ekstrim. Ultras sendiri artinya adalah di luar kebiasaan.

Ciri khas dari kelompok ini akan meneriakkan yel-yel dukungan pada klub dan pemain pujaannya sepanjang pertandingan. Mereka juga menciptakan kareografi yang menarik. Kreatifitas yang ditunjukkan sepanjang pertandingan kerap kali menjadi tontonan yang lebih menarik ketimbang pertandingan.

Kelompok pendukung klub bola yang memakai atribut hitam-hitam ini muncul di Italia. Kelompok ini kerap menyebut diri sebagai curva sud atau tribun selatan. Di Indonesia yang terkenal adalah Brigata Curva Sud {BCS} PSS Sleman.

Dengan slogan No Leader Just Together, kelompok ini punya aturan ketat seperti harus bersepatu saat datang ke stadion, harus membeli tiket, berdiri sepanjang pertandingan dan dilarang membawa terompet.

Kelompok pendukung dengan watak fanatik dan ekstrim adalah kenormalan dalam pertandingan olahraga. Kekerasan bukan anomali.

Sepakbola dimanapun selalu diwarnai oleh potensi kekerasan antar pemain. Ketidakpuasan pada wasit baik dari pelatih, manajemen, pemain maupun penonton.

Pertandingan sepakbola mulai dari sekelas turnamen antar kampung hingga piala dunia potensi kericuhannya selalu sama. Sama-sama ada dan besar. Maka pengabaian pada potensi ini, tanpa antisipasi yang kuat selalu akan melahirkan tragedi.

Eropa sebagai nenek moyangnya kompetisi bola sampai sekarangpun belum mampu memastikan supporternya tidak beringas. Bagaimanapun fanatisme yang tidak masuk akal itu memang sulit untuk dihilangkan.

Maka manajemen pertandingan yang kemudian menjadi penting untuk memastikan sebuah pertandingan terlaksana dengan baik dimana menjaga keselamatan semua yang ada dalam kerumunan menjadi yang paling utama.

Di luar berbagai macam SOP, penyelenggara pertandingan di Eropa umumnya melakukan investasi besar pada infrastruktur teknologi untuk membantu memperoleh data sejak dini dan komprehensif agar tindakan yang diputuskan oleh berbagai pihak dalam sebuah pertandingan tidak memancing reaksi negatif berlebihan dari mereka yang ada dalam kerumununan.

Kamera misalnya tersebar dimana-mana, bukan hanya ke lapangan melainkan juga ke penonton, pemain dan pelatih serta kelengkapan tim di samping lapangan. Dengan demikian jika ditemukan gejala-gejala yang beresiko memancing kericuhan segera bisa diatasi sejak dini.

Komunikasi antar wasit misalnya bisa didengarkan secara terbuka oleh penonton. Jika wasit belum yakin pada keputusannya, pertandingan bisa dihentikan dan wasit berdiskusi dengan wasit pembantu, hakim garis dan official lainnya.

Seluruh proses pertandingan dipantau oleh pengawas pertandingan. Selain banyak monitor di depan dengan gambar yang terekam, mereka juga dilengkapi dengan berbagai data yang bisa diakses dengan cepat. Semua itu demi pengambilan keputusan yang cepat dan akurat.

Apa yang paling dihindari adalah reaksi dari penyelenggara pertandingan yang kemudian bisa menimbulkan reaksi negatif dari penonton, reaksi yang tidak terkendali atau bahkan kepanikan massal.

Pertandingan di Stadion Kanjuruhan sebenarnya sudah diantisipasi potensi kericuhan sejak awal. Misalnya pendukung klub lawan dilarang datang. Tapi tanpa kelompok supporter lawan sekalipun potensi kericuhan tetap masih besar. Sebab supporter bisa kecewa kepada klub yang didukungnya terutama jika kalah atau bermain buruk. Supporterpun yang homogen juga bisa ribut jika kinerja wasit buruk dalam memimpin pertandingan, atau pemain lawan dianggap kasar dan cari perkara dalam pertandingan.

Nampaknya ini yang tidak diantisipasi. Maka ketika ada sebagian kecil supporter yang merangsek masuk ke lapangan usai tim kesayangannya kalah, kemudian petugas keamanan panik. Alih-alih melokalisir kericuhan di lapangan, petugas justru melakukan pencegahan yang berlebihan pada penonton di tribun yang dianggap semuanya hendak menyerbu ke lapangan.

Selain menimbulkan kepanikan, upaya pembubaran di ruang yang tidak leluasa untuk bergerak kemudian dianggap sebagai penyerangan. Sebagian tentu berusaha untuk mencari selamat, namun sebagian lainnya tentu saja marah. Dan kemudian menganggap polisi sebagai musuh yang harus dihadapi.

Kesembronoan dan keputusan yang tidak tepat dalam menghadapi reaksi penonton yang kecewa kemudian menjadi tragedi.

BACA JUGA : Tiada Lagi Ramai Anak Sekolah Naik Angkot

Manusia adalah mahkluk gerombolan, sama seperti kebanyakan binatang lainnya. Mekanisme berkelompok ini tumbuh secara alamiah dan memberi keuntungan secara evolusionis. Berada dalam kelompok seorang individu kemudian merasa aman dan terlindungi. Mereka yang berada dalam satu kelompok saling menjaga satu sama lainnya.

Bermula dari kelompok-kelompok kecil di masa pemburu pengumpul, kecenderungan bergerombol ini kemudian berkembang menjadi kelompok suku, negara, kelompok agama dan banyak kelompok lainnya. Fanatisme pada kelompok kemudan menjadi multi.

Sosialitas kemudian menjadi ciri paling khas dari manusia, dengannya manusia menjadi produktif dan melintasi batas. Dari semua jenis binatang, manusia kemudian menjadi mahkluk yang paling cerdas dalam sosialitasnya.

Salah satu kecerdasan yang paling utama adalah manusia bisa bekerja sama orang lain yang tidak dikenalnya secara pribadi secara luas.

Hanya saja mentalitas kelompok pada sisi lainnya juga bisa berubah menjadi destruktif. Sebuah kelompok atau gerombolan dengan mudah menganggap kelompok lainnya sebagai musuh, lawan yang harus dihabisi.

Ikatan kelompok kemudian membuat manusia fanatik pada kelompoknya dan kemudian bisa berlaku ektrim pada kelompok lainnya.

Dalam perkembangannya yang disebut fanatisme kemudian tidak selalu merupakan ikatan pada kelompoknya, melainkan pada sesuatu yang lain. Fantisme mengatasi hubungan sosial, bukan hubungan timbal balik.

Realitas hubungan yang disebut sebagai parasocial relationship ini muncul dalam bentuk kelompok yang disebut fans atau pengemar. Kelompok ini fanatik pada sesuatu, seseorang atau apapun yang sebenarnya tidak mengenal mereka secara pribadi.

Para sosial relationship pada negara akan disebut sebagai nasionalisme. Warga berani mati membela negara, meski belum tentu negara peduli padanya. Dalam model kerajaan misalnya, warga kerajaan kemudian menganggap raja atau sultan sebagai wakil Tuhan, jelmaan dewa dan lainnya sehingga kata-katanya akan dituruti begitu saja.

Dalam budaya populer, parasocial relationship amat jelas dalam bentuk kelompok pengemar, ada banyak idol, mulai dari musisi, bintang film, penyanyi, grup band hingga klub-klub olahraga. Hubungan semacam ini lintas batas dan terkadang tidak masuk akal.

Seperti banyaknya fans fanatik dari Indonesia pada klub-klub bola di luar negeri. Sesuatu yang sebenarnya tak ada urusannya. Tapi terbukti banyak orang uring-uringan seharian, nggak doyan makan dan darah tinggi kalau Manchester United kalah.

Dalam konteks budaya populer, hubungan satu arah ini memberikan keuntungan ekonomi. Ekonomi berputar lewat pertunjukan. Para idol bukan hanya terkenal tapi kaya raya karena para pengemarnya rela membayar untuk menyaksikannya. Bayangkan, untuk menonton Ariel menyanyi saja ada yang rela membayar puluhan juta.

Parasocial relationship ini memang berpotensi menjadi gangguan. Salah satunya adalah kekerasan. Dan dalam dunia sepakbola parasocial relationship disorder ini kelihatan amat nyata, bentuknya adalah kekerasan.

Supporter bola amat mudah terprovokasi untuk melakukan tindakan kekerasan baik pada supporter lain, maupun merusak fasilitas stadion apabila mereka kecewa. Kecewa klubnya kalah, kecewa pada kinerja buruk wasit dan lainnya.

Terlebih lagi, setiap klub biasanya mempunyai musuh bebuyutan. Berhadapan dengan klub yang merupakan musuh bebuyutan, suasana akan selalu panas mulai dari luar stadion.

Seperti Barcelona dan Real Madrid. Dua klub ini pendukungnya selalu bermusuhan. Pertandingan antara dua klub ini selalu dianggap seperti perang. Pemain Barcelona yang kemudian pindah ke Madrid, atau sebaliknya pasti otomatis akan dimusuhi oleh supporternya. Sehebat apapun dia maka akan dianggap sebagai pengkhianat.

Parasocial relationship disorder ini kemudian berbahaya karena mereka yang berada dalam kelompok ini mudah sekali melepas semua kaidah moral dalam bertindak terhadap kelompok lainnya. Moralitas hanya diberlakukan pada kelompoknya bukan pada kelompok lainnya.

Maka sebuah pertandingan sepakbola sejak semula memang berbahaya. Potensi kericuhan dan kerusuhannya selalu ada. Semua mesti berjaga terutama ketika yang bertanding adalah dua klub yang secara tradisional menganggap lawan sebagai musuh bebuyutan.

Dalam pertandingan semacam ini penonton sekalipun mesti menghitung resiko, salah satunya dengan tidak mengajak mereka yang masih dibawah umur atau mereka yang secara fisik tidak kuat untuk menonton di stadion.

Sementara para penyelenggara terutama yang bertugas untuk mengamankan pertandingan mestinya paham pada yang disebut mental gerombolan. Tidak melakukan tindakan yang menyebabkan massa menjadi panik.

Cara lari sekelompok binatang yang berhadapan dengan kondisi yang tidak dikehendaki sehingga tunggang langgang disebut dengan istilah simpede. Biasanya jika kaget atau terancam binatang akan lari kearah yang sama.

Dalam konteks yang lebih luas dalam sebuah gerombolan sering kali menghasilkan cara pandang atau cara berpikir yang sama. Hasilnya ketika ingin bebas mereka semua berlari kearah pintu yang sama sehingga terjadi desak-desakkan.

Bukan gas air mata yang membunuh melainkan tumpukan orang yang berlarian kearah yang sama untuk mencari selamat. Walau begitu siapapun yang melontarkan atau memerintahkan melepas gas air mata adalah yang harus bertanggungjawab, karena menjadi penyebab kerumunan buyar dan kemudian berdesakan dalam ruang yang sempit. Membuat mereka sesak nafas, terjepit, jatuh dan terinjak-injak.

Sampai hari ini sikap ksatria untuk mengakui hal itu belum juga muncul. Maka pantas jika kemudian ramai muncul tagar yang menganggap kelompok yang tidak ksatria ini sebagai musuh bersama. Anggapan yang tidak sesuai dengan tugasnya sebagai kepanjangan tangan negara yang wajib melindungi, mengayomi dan melayani masyarakat.

note : sumber gambar – QQMAGAZINES.CO.UK