KESAH.ID – Banyak sekolah mendeklarasikan diri sebagai sekolah hijau karena sekolahnya mempunyai taman yang cukup besar, ditanami tumbuhan yang rindang, punya rumah kompos, sumur resapan dan lain-lain. Yang mendeklarasi sebagai sekolah hijau lupa kalau jejak karbon karena mobilitas siswanya makin tinggi akibat ‘keakraban’ siswa dengan angkot tak terjalin lagi.
Kalau tak ada rencana berpergian pada sebuah hari, saya biasanya tak mengeluarkan motor dari garasi. Sebenarnya bukan garasi tapi ruang kosong di bagian pojok rumah, dulunya bekas kios tapi tutup karena tak ada yang mau tekun menjagai.
Hanya saja kalau kehabisan rokok saya mesti keluar rumah, pergi ke warung yang jaraknya tak sampai 200 meter dari rumah.
Disitu terkadang saya bimbang, mau jalan kaki atau mengeluarkan motor. Sebab meski dekat, saya memang jarang sekali pergi ke warung berjalan kaki.
Bukan karena malas jalan, tapi karena tak terbiasa saja.
Sesekali karena benar-benar malas mengeluarkan motor, maka saya jalan kaki.
Dan di jalan kalau ada tetangga lihat biasanya mereka bertanya “Kemana mas, motornya rusak kah?”
Nah, kan. Jalan kaki dianggap nggak biasa, dikira sebagai keterpaksaan karena motornya rusak.
Motor sekarang ini mungkin sudah dianggap sebagai pengganti kaki jalan kaki. Anak-anakpun akan senang disuruh ini itu oleh bapak ibunya asalkan diperkenankan membawa motor.
Alhasil jalanan di gang ramai dengan anak-anak mengendarai motor dengan keberanian tinggi plus kewaspadaan rendah.
Pendek kata motor membuat orang makin lama makin malas jalan kaki. Kalau bisa naik motor kenapa mesti jalan kaki, mungkin begitu kilah umumnya.
Perkembangan dari masyarakat pejalan kaki menjadi masyarakat bermotor menimbulkan konsekwensi lain yakni konsumsi energi. Ketergantungan dan kecanduan kepada minyak menjadi tinggi.
Anjuran untuk hemat energi menjadi sia-sia, karena mobilitas masyarakat bahkan yang paling dekat sekalipun sudah membutuhkan BBM.
Idealnya harus ada BBM murah. Tapi di negeri ini yang disebut energi murah artinya bersubsidi. Maka makin banyak orang mengkonsumsi energi murah makin berat bagi pemerintah untuk menanggung besaran uang subsidi.
Kebiasaan naik motor untuk pergi ke warung terdekat membuat APBN berdarah-darah. Maka mesti dibatasi, ditetapkan kuota. Dan biasanya kuota itu akan habis jauh sebelum tahun anggaran berakhir. Hal itulah yang kemudian kerap dijadikan alasan pemerintah untuk menaikkan harga BBM.
Harga minyak bumi sebagai bahan baku BBM seperti komoditas lainnya bisa naik turun. Namun jarang sekali masyarakat menikmati pasang surut harganya. Sebab ketika harga di pasaran dunia, selisih harga ketika turun akan diambil oleh pemerintah sebagai untung. Tapi untung itu tidak dibagi dalam bentuk menurunkan harga BBM untuk masyarakat, melainkan dipakai untuk membayar kerugian-kerugian sebelumnya, atau dicadangkan untuk menutupi kerugian di masa mendatang.
Mungkin nanti ketika tidak ada lagi subsidi untuk BBM, saat semua harga BBM sudah berdasarkan harga keekonomian maka pasang surut harga minyak dunia akan menjadi pasang surut harga minyak di SPBU.
BACA JUGA : Air Sungai Mahakam Masihkah Memanggil Pulang?
Jika ada yang bertanya soal rutinitas harian, saya akan menjawab ternak. Bukan memelihara ayam atau kambing apalagi sapi. Yang saya maksud dengan ternak adalah mengantar anak.
Setelah hampir satu tahun mengantar anak saya ke sekolah, SMA di bilangan Jalan Juanda Samarinda, baru beberapa hari lalu saya sadar kalau tidak ada lagi anak-anak yang pergi ke sekolah naik angkot.
Pulangnya pun demikian. Tak ada lagi jejeran angkot parkir di jalanan depan sekolah menunggu siswa pulang.
Saya tak tahu kapan persisnya hal ini mulai terjadi. Namun begitu menyadari hal itu dalam diri saya muncul rasa kehilangan. Romantisme anak sekolah yang ada dalam benak saya kemudian lenyap.
Dalam memori diri saya, anak sekolah adalah kelompok masyarakat yang akrab dengan angkot.
Syukurlah rasa syahdu melihat anak-anak sekolah ada di kendaraan angkutan massal sesekali terobati. Tatkala menjemput anak saya pulang, terkadang saya melihat anak-anak sekolah pulang naik bus. Mereka adalah siswa SMA Negeri 10 dari Samarinda Seberang yang kini harus bersekolah di kompleks Education Centre, Jalan PM. Noor.
Tapi kemungkinan besar pemandangan anak sekolah pulang pergi naik bus melewati Jalan Juanda tak akan bertahan lama, sebab jika tak ada anggaran di APBD Provinsi maka operasional ‘Bus Sekolah’ itu tak ada lagi.
Sayapun harus bersiap untuk menghadapi kenyataan bahwa memori anak sekolah dengan kendaraan angkutan umum segera akan menjadi memori arkaik.
Pada titik ini saya benar menyadari bahwa generasi saya sewaktu SMA sungguh berbeda dengan generasi anak saya yang kini tengah duduk di bangku SMA. Perbedaannya sudah jauh sekali, sehingga tidak cocok lagi hanya disebut generation gap, atau kesenjangan antar generasi.
Faktanya pengalaman saya dan anak saya ketika di SMA bukan lagi senjang melainkan bertolak belakang.
Ambil contoh ketika saya SMA, sepanjang masa pendidikan pulang pergi sekolah saya naik kendaraan umum, angkot. Dan anak saya belum pernah sekalipun pergi atau pulang sekolah naik angkot, bahkan mungkin tak akan pernah.
Di sekolah saya dulu yang sudah bertingkat, tempat parkir motornya hanya di belakang salah satu ruang kelas. Yang terparkir umumnya motor para guru, jumlah siswa yang naik motor bisa dihitung dengan jari.
Tapi kini hampir seluruh bagian dari halaman sekolah habis untuk tempat parkir motor siswanya, sedangkan guru umumnya sudah membawa mobil.
Keberadaan siswa sebagai salah satu kelompok penjaga relevansi keberadaan kendaraan angkutan umum perkotaan perlahan mulai punah. Kalaupun kini masih ada yang menaiki kendaraan umum, sifatnya juga privat. Yang umumnya dipakai para siswa kini adalah transportasi online, kendaraan umum yang tidak berwatak angkutan massal.
Pemandangan angkot berjajar saat bubaran sekolah kini sudah diganti oleh deretan motor dan mobil transportasi online.
BACA JUGA : Sugar Carving, Ngidam Atau Kecanduan Gula
Dalam konteks yang lebih dalam, hilangnya keakraban antara anak-anak sekolah dengan kendaraan angkutan umum. Dari masyarakat komuter kemudian menjadi masyarakat kendaraan pribadi atau privat menjadi ironi lain dalam arus kepedulian terhadap lingkungan dan pemanasan global.
Anak-anak sekolah yang kemudian juga menjadi pengkonsumsi BBM, masyarakat minyak membuat konsumsi BBM perkapita menjadi semakin meninggi.
Bukan hanya untuk pulang pergi ke sekolah. E-commerce, jual beli online termasuk didalamnya makanan membuat anak-anak sekolah juga bisa memesan makanan dan minuman dari luar kantin sekolah. Pesanan diantar dengan kendaraan.
Ini bukan cerita karangan sebab sering kali ketika saya jemput bawaan anak saya bertambah. Selain tas bekal yang dibawa dari rumah, saya melihat ada tas atau kemasan lain yang dibawa pulang.
“Ada promo di McD” ujarnya sebelum saya tanya.
Skema untuk mengurangi ketergantungan pada BBM berbasis fosil selalu merupakan skema-skema besar. Selalu bertumpu pada road map dan dokumen-dokumen yang dihasilkan oleh konperensi atau pertemuan-pertemuan tingkat tinggi.
Tapi semua itu gagal diimplementasi dalam aktivitas-aktivitas biasa, hal-hal keseharian yang mungkin saja luput dari perhatian.
Sehingga dengan percaya diri kita kerap mendeklarasi dan berselebrasi. Sekolah dengan bangga menyebut sebagai sekolah hijau, hanya karena sekolahnya punya taman, punya sumur resapan, punya bak sampah terpilah.
Tapi lupa menghitung jejak karbon yang ditimbulkan oleh siswa, guru dan tenaga kependidikan lainnya dari rumah ke sekolah, pulang pergi. Juga pesan antar makanan dan COD-COD lainnya.
Politik hijau, gaya hidup hijau, kota hijau dan semua yang berlabel hijau lainnya sering hanya merupakan kontradiksi. Sebab hidup kita semua ternyata berlumur minyak, digerakkan oleh BBM yang berbasis fosil.
Hampir tak ada satupun yang kita perlukan dalam kehidupan yang terbebas dari campur tangan BBM. Kalaupun masih ada satu yang tersisa ya hanya udara. Udara bisa hirup tanpa bantuan BBM.
Tapi udara yang gratis dan kita hirup sepuasnya tanpa bantuan BBM ternyata terus kita kotori dengan gas buangan pembakaran BBM.
Itulah kita, mahkluk yang selalu gagal merawat dan menjaga apa saja yang diberikan secara berlimpah serta gratis oleh alam.
note : sumber foto – MERDEKA.COM








