KESAH.ID – Sebutan Pahlawan Tanpa Tanda Jasa bisa jadi merupakan hasil refleksi ironi seorang guru. Berjasa besar dalam menghasilkan ‘orang-orang besar’ ternyata nasib guru tidak semakin baik dari waktu ke waktu. Disebut sebagai sosok yang ‘digugu dan ditiru’ hasil keringat dan kerja keras seorang guru tidak dihargai secara sepadan secara ekonomi.

Jepang dikenal sebagai negeri ultra nasionalis, masyarakatnya sangat tunduk kepada kaisar yang dipercaya sebagai keturunan Dewa Matahari.

Hirohito yang berkuasa sejak tahun 1926 menjadi Kaisar Jepang modern yang paling terkenal. Di masa kepemimpinannya, Hirohito berhasil membawa Jepang menjadi salah satu kekuatan militer terkuat di Asia.

Jepang menginvasi negara-negara atau kawasan di Asia Pasifik yakni Manchuria, Tiongkok, Hongkong, Malaysia, Philiphina, Singapura, Indonesia, Guam, Kepulauan Solomon dan lainnya.

Keberhasilan Jepang, negeri kecil dengan kekuatan besar tak lepas dari model pendidikan untuk rakyatnya. Pendidikan moral dan sejarah dipakai sebagai sarana untuk menanamkan kepatuhan dan kesetiaan pada kaisar. Masyarakat Jepang rela mati untuk kaisar. Masyarakat Jepang juga percaya bahwa negeri mereka adalah negeri para dewa.

Pelajaran geografi sekalipun juga tak lepas dari propaganda. Pengenalan pada negeri lainnya dipakai sebagai landasan untuk menanamkan keyakinan bahwa Jepang adalah pemimpin Asia. Dengan begitu Jepang berhak untuk menguasai kawasan itu.

Pendidikan di Jepang kemudian berwatak militeristik, sangat menekankan kedisiplinan dan keseragaman. Semua ditujukan untuk menumbuhkan fanatisme nasional, ultra nasionalis untuk menghasilkan sumberdaya manusia yang patriotis, berani mati untuk negeri dan kaisar.

Di medan perang pasukan Jepang sulit dikalahkan. Namun kobaran semangat pasukan Negeri Matahari Terbit itu kemudian berhasil dipadamkan lewat serangan bom atom di Hiroshima dan Nagasaki oleh Amerika Serikat.

Jepang diluluhlantakan di jantung negerinya sendiri.

Segera setelah serangan itu, Hirohito mengumpulkan para petinggi militer dan sipil. Alih-alih membahas serangan balik dan bertanya berapa kekuatan militer yang tersisa, Hirohito justu menanyakan keadaan para guru.

Kaisar Hirohito merasa Jepang dikalahkan bukan oleh kekuatan militer dan persenjataan melainkan oleh kekuatan pengetahuan. Soal berperang jelas Sumber Daya Manusia Jepang tidak kalah. Jepang kalah karena tidak mempunyai kemampuan mengembangkan senjata yang berdaya rusak besar.

Jepang kemudian menyatakan diri menyerah, mengaku kalah dalam perang dan tidak ingin melanjutkan peperangan lagi. Jepang akan berperang dengan cara lainnya. Menjadi terkemuka dalam pengetahuan dan teknologi.

Jepang kemudian melakukan demiliterisasi, membentuk dewan pendidikan untuk melakukan reformasi pendidikan di Jepang. Musuh terbesarnya yakni Amerika Serikat diundang untuk terlibat memberi bantuan.

Awal tahun 1946 datang Tim Misi Pendidikan Amerika Serikat untuk Jepang. Tim ini kemudian bekerja bersama dengan Dewan Pakar Pendidikan Jepang untuk menghasilkan rekomandasi dasar-dasar reformasi pendidikan di Jepang.

Dari rekomandasi itu kemudian disusun UU Pendidikan Baru di Jepang yang mencantumkan dua model pendidikan yakni Pendidikan Sekolah dan Pendidikan Luar Sekolah.

Pendidikan di sekolah mempunyai tujuan membekali para siswa dengan kompetensi untuk menjalani kehidupan bermasyarakat, mandiri dalam menjalani kehidupan sehari-hari, termasuk bekerja dan mandiri secara ekonomi.

Sedangkan pendidikan di luar sekolah mengamanatkan tiap pemda berkewajiban membentuk Dewan Pendidikan Luar Sekolah, untuk membangun dan mengelola fasilitas umum pendidikan luar sekolah, seperti perpustakaan umum, museum dan gelanggang remaja, menyelenggarakan acara diskusi, kuliah umum, pameran dan sebagainya guna sosialisasi ilmu pengetahuan populer, memberi pelatihan ketrampilan profesi kepada masyarakat setempat, serta menyelenggarakan pertunjukan musik dan musik, pameran lukisan dan sebagainya.

BACA JUGA : Tiada Lagi Ramai Anak Sekolah Naik Angkot

Reformasi modern Jepang dimulai dengan merubah watak dari negeri pecinta perang menjadi negeri pecinta damai. Yang di depan bukan lagi para ksatria melainkan pendidik atau guru. Tiang bangsa bukan lagi militer tapi para guru.

Langkah pertama Kaisar Hirohito adalah mendidik ulang para guru untuk menyeimbangkan antara pendidikan moral dan ilmu pengetahuan. Jepang tetap mengutamakan moralitas, namun tidak lagi pada nasionalisme buta melainkan penghargaan dan penghormatan pada sesama. Disiplin juga menjadi tekanan, terutama soal menghargai waktu.

Reformasi pendidikan kemudian berhasil membuat masyarakat Jepang menjadi masyarakat belajar, bekerja keras untuk menguasai pengetahuan dan menerapkannya dalam pekerjaan. Masyarakat Jepang yang tadinya bekerja keras untuk perang kemudian menjadi masyarakat keras belajar dan bekerja.

Beberapa dekade kemudian Jepang menuai buahnya. Hasil dari reformasi pendidikan mulai terasa, masyarakat Jepang yang tadinya bersenjata samurai kemudian menemukan senjata barunya yakni mesin dan teknologi untuk mengerakkan industri.

Negeri Matahari Terbit kembali bersinar bukan karena senjata yang terbaik melainkan produk mesin dan elektroniknya. Negeri kecil itu kemudian menjadi kekuatan ekonomi baru dunia yang tidak hanya handal dalam ilmu pengetahuan dan teknologi melainkan juga olahraga, seni dan budaya populer lainnya.

Bicara soal pendidikan dan peradaban, Jepang nampaknya bisa kembali mengulang peran pendidikan {belajar dan pengetahuan} untuk menciptakan peradaban sebagaimana yang dulu pernah dicapai oleh masyarakat Yunani.

Puncak peradaban Yunani yang kemudian menjadi landasan peradaban Eropa pada umumnya dicapai ketika masyarakat Yunani menempatkan para guru dalam posisi yang terhormat. Guru menjadi pengerak belajar.

Guru yang waktu itu disebut filsuf berhasil mengairahkan pembelajaran dalam masyarakat Yunani. Tiada hari tanpa belajar, proses belajar ada dimana-mana melalui para filsuf yang bertindak sebagai pengajar publik.

Gairah belajar yang tinggi membuat ilmu berkembang, bukan hanya filsafat melainkan juga sastra, astronomi, hukum, matematika dan lainnya.

Yunani menghasilkan banyak ilmuwan yang mengajarkan ilmunya kepada masyarakat di berbagai tempat.

Guru mendapat tempat yang terhormat. Sama halnya di Jepang, sampai sekarang setiap orang akan memberi hormat dengan membungkuk lebih dalam tatkala bertemu dengan guru.

Masyarakat Jepang tahu persis bahwa guru adalah jembatan masa depan. Para gurulah yang membawa perubahan dari negara kalah dan bangkrut kemudian menjadi negeri yang kuat kembali secara ekonomi karena produk-produk industri dalam artian seluas-luasnya.

BACA JUGA : Air Sungai Mahakam Masihkah Memanggil Pulang

Sejarah peradaban nusantara menempatkan guru dalam posisi yang tinggi. Guru bukan hanya dianggap sebagai orang pintar, melainkan juga bijaksana bahkan sakral dan suci. Status sosial seorang guru bahkan diatas raja, diatas kaum bangsawan. Karena para raja selalu mempunyai guru.

Guru ditempatkan dalam posisi yang tinggi karena guru merupakan sumber ilmu. Sementara ilmu disebut dengan sumber kehidupan. Dengan demikian guru dianggap sebagai sumber dari segala sumber kehidupan.

Jika di masa kejayaan Yunani, guru yang adalah ilmuwan, cerdik cendekia atau kaum bijak disebut sebagai filsuf maka sebutan di dalam kebudayaan nusantara adalah kawi. Cerdik pandai atau kaum bijaksana nusantara lebih dikaitkan dengan sastra karena mereka menuliskan ajaran ilmunya dalam bentuk cerita {kakawin}.

Walau mempunyai kedudukan terhormat, sangat dihargai oleh penguasa dan masyarakat namun sosok guru selalu digambarkan sebagai seorang yang sederhana, sosok tanpa pamrih. Dan kenyataannya memang demikian, guru memang tak mendapatkan imbal jasa yang besar atas pengabdiannya.  Imbalan duniawi {uang} yang diperoleh guru jauh lebih sedikit dengan apa yang didapat raja dari kedudukannya.

Kehidupan guru sangat sederhana walaupun punya akses pada kekuasaan atau kekayaan.

Unsur pengabdian kemudian menjadi dominan dalam sosok seorang guru. Hingga karena keserhanaannya, sikap yang tidak mengejar kekayaan membuat guru kemudian dijuluki sebagai pahlawan tanpa tanda jasa.

Namun jaman berubah, pendidikan modern menjadikan guru sebagai profesi. Guru adalah seorang profesional karena mempunyai kompetensi tertentu dalam pendidikan. Sebagai seorang profesional maka menjadi guru adalah menjadi seorang pekerja dengan kompetensi yang menghasilkan gaji.

Ada lompatan dari pengabdian {moral/spiritual} ke profesi.

Namun lompatan pengabdian ke profesi di Indonesia tidak diiringi dengan pemberian gaji yang memadai. Sebagai kedudukan guru masih terhormat namun sebagai profesi, guru tidak menarik dari imbal gajinya.

Posisi guru menjadi sulit, kakinya berdiri diantara dua hal yang berbeda, ruang kepahlawanan dan ruang pendapatan.

Adalah biasa bagi seorang buruh setiap tahun berdemo menuntut pendapatan dan kesejahteraan yang lebih baik. Tapi bagi guru, terlibat dalam demonstrasi untuk menuntut pendapatan dan penghargaan uang yang lebih layak kemudian tercela di mata masyarakat dan penguasa.

Mogok bekerja menjadi cara efektif bagi kelompok pekerja untuk menyampaikan tuntutannya. Tapi mogok mengajar jika dipilih oleh para guru sebagai jalan untuk melakukan tuntutan akan membawa guru dalam situasi sulit.

Alih-alih dimaklumi dan dipahami kesulitannya, mogok mengajar akan membuat guru ‘dihajar’ oleh masyarakat dan penguasa.

Mestinya kita, masyarakat dan penguasa memang tak boleh membiarkan guru sampai mogok, meliburkan sekolah untuk berdemonstasi menuntut perbaikan kesejahteraan. Sungguh itu sebuah aib bagi negeri yang menyakini bahwa pendidikan adalah jalan perubahan.

Tanpa menuntut sekalipun seharusnya kebutuhan hidup seorang guru mesti dijamin, tidak mesti harus sampai kaya raya namun bisa mengajar dengan tenang, konsentrasi dan terus memperbaharui pengetahuannya.

Jika kebanyakan hidup guru berada dalam kegelisahan, merasa diri terus dipinggirkan niscaya peradaban baru akan gagal diukir. Sebab guru sebagai tiang peradaban, pijakan kaki pengetahuannya tidak kokoh.

note : sumber gambar – CNNINDONESIA.COM