Adalah biasa setiap tahun baru  seseorang akan membuat resolusi awal tahun untuk mencanangkan perubahan. Resolusi yang terus diulang namun selalu menjadi janji manis yang tak pernah dipenuhi, mirip dengan janji-janji kampanye para politisi.

Kebanyakan orang pada fase tertentu selalu menyadari bahwa perlu ada perubahan yang radikal dalam dirinya. Dan motivasi untuk berubah itu begitu kuat. Untuk memperkuatnya tidak sedikit yang kemudian berani membayar, bahkan berkali-kali untuk mengikuti seminar dari para motivator terkenal.

Tapi berapa yang berhasil?. Entahlah karena tidak ada audit wajib atas nasehat-nasehat para motivator apakah berhasil atau tidak. Iklan para motivator bukan deretan orang yang berhasil melainkan tiket sold out jauh sebelum hari H.

Tapi tak perlu menyalahkan motivator, sebab kebanyakan orang yang ingin berubah selalu menginginkan perubahan besar, padahal perubahan besar, sesuatu yang radikal. Otomatis untuk berhasil diperlukan upaya yang juga besar dan radikal, itu yang sulit untuk dipenuhi. Keinginan besar saja tidak cukup.

Sejarah kemerdekaan akrab sekali dengan kata revolusi, namun revolusi sebenarnya adalah rangkaian dari evolusi. Pun demikian dengan perubahan besar, perubahan itu dicapai lewat rangkaian perubahan-perubahan kecil yang ajeg.

Memang ada perubahan besar yang dengan cepat terjadi namun jarang atau bisa disebut sebagai keistimewaan.

Dalam teori perubahan perilaku, motivasi tidak ditempatkan sebagai faktor paling depan. Perubahan bisa dicapai justru karena pembiasaan, lewat tindakan biasa yang terus menerus dilakukan. Perilaku adalah hasil dari kebiasaan.

Jadi orang tidak berubah bukan karena tak punya motivasi melainkan karena tidak punya pengetahuan, tak punya ketrampilan dan tidak berlatih dengan tekun.

Ketidakmampuan untuk bertindak konsisten bukan karena motivasinya kecil. Seseorang perlu untuk terus diingatkan, tapi berharap orang lain untuk terus mengingatkan juga sulit. Dua tiga kali bisa saja kita meminta bantuan orang, tapi kalau terus menerus yang mengingatkan lama-lama juga akan jengkel dan malah bisa melemahkan motivasi.

Seseorang perlu membuat pengingat pada dirinya sendiri. Pengingat atau reminder itu disebut dengan anchor.

MIsalnya seseorang yang mempunyai resolusi untuk menyusutkan perut yang buncit, dimana hal itu bisa dicapai dengan cara rajin sit up, maka bisa menjadi kencing sebagai anchor. Setiap kali habis kencing maka akan segera melakukan sit up sebanyak 10 kali misalnya.

Atau seseorang yang mudah marah dengan orang lain dan tidak ingin jadi pemarahan lagi. Maka jadikan orang yang ‘menjengkelkan’ sebagai anchor. Rancang sebuah tindakan, setiap kali bertemu dengan orang yang menjengkelkan, jadikan itu pengingat untuk bersenandung dalam hati.

Lalukan itu setiap hari dan jadikan rumus : Setelah saya …. {anchor}, maka saya akan ….. {tindakan kecil} sebagai latihan rutin.

BACA JUGA : Stoik Agar Tak Overthinking dan Insecure di Dunia Yang Ambyar

Yang namanya hidup itu selalu berhadapan dengan masalah. Konflik ada dimana-mana tidak usah dicari. Maka agak mengherankan jika sekarang ini banyak orang yang hidupnya relatif baik-baik saja kok malah cari-cari masalah. Mungkin dari masalah itu mereka beroleh kehidupan.

Karena banyak masalah maka banyak orang ingin mencari kesenangan untuk sejenak melupakan masalahnya. Padahal masalah mesti diselesaikan, bisa cepat tapi juga bisa lambat. Berhasil menyelesaikan masalah akan membuat orang bahagia, hidupnya terasa aman dan tentram, tidak ada ancaman.

Namun kebahagiaan pasti tak bertahan lama, karena segera akan ada masalah baru lagi. Dan memang kebahagiaan tidak boleh lama-lama, orang yang bahagia terus akan kehilangan dinamisitas. Karena segalanya telah terpenuhi {bukan hanya dalam artian harta atau kebutuhan hidup} hasilnya jadi malas ngapa-ngapain.

Yang disebut dengan masalah sebagian besar berasal dari dalam diri terutama pikiran. Pengetahuan tentang hal ini sudah disadari oleh umat manusia sejak lama. Lalu spiritual menjadi salah satu jalan untuk mengatasinya.

Tujuan dari laku spiritual adalah untuk menahklukkan diri, mengendalikan diri agar seseorang menjalani hidup tidak disetir oleh keinginan, hawa nafsu dan prasangka melainkan oleh kesadaran diri. Otak rasionalnya tidak dibajak oleh otak emosionalnya.

Maka berbagai kebudayaan dan agama mengajarkan tirakat, sebuah latihan rohani untuk mencapai tujuan tertentu. Dalam konteks agama tentu bertujuan untuk mendekatkan diri pada Yang Maha Kuasa dan hidup menurut kehendak dan jalan yang diinginkanNYA.

Salah satu bentuk tirakat yang paling populer adalah puasa atau mati raga.

Puasa pada dasarnya merupakan bentuk latihan untuk tidak tahkluk begitu saja pada keinginan badani. Dengan puasa seseorang berlatih untuk mengontrol semua kecenderungan tubuh dengan penuh kesadaran. Bukan sekedar mengendalikan rasa lapar melainkan juga emosi-emosi lain yang tidak perlu, menjaga tutur kata dan perilaku.

Tapi latihan rohani atau tirakat tidak selalu berkaitan dengan agama atau kebudayaan. Banyak pemikiran atau aliran filosofi yang juga mengajarkan soal tirakat. Atau tirakat bisa dikembangkan berdasarkan aliran pemikiran tertentu.

Salah satu aliran pemikiran yang cocok dengan laku tirakat adalah Stoa. Seorang tokohnya yakni Marcus Aurelius bahkan mengumpulkan catatan harian {jurnal} dan pemikiran-pemikirannya yang kemudian dibukukan dengan judul Meditasi.

Salah satu pokok ajarannya adalah melihat realitas dengan jarak. Melihat dengan mata burung, agar kita yang berada dalam realitas itu tidak lebur didalamnya.

Menjadi ‘penonton’  akan memungkinkan seseorang untuk kemudian melihat realitas secara lebih jernih.

Dengan melihat realitas secara jernih maka realitas bisa dinilai untuk kemudian diputuskan mana yang boleh mempengaruhi dan mana yang tidak, mana yang penting dan mana yang tak penting. Tidak semua realitas penting dan relevan untuk kita. Terlalu terpengaruh atau membuang energi untuk realitas yang tak penting dan tak bisa kita intervensi sama artinya membuang umur dan tenaga, sia-sia saja.

Terlalu banyak orang hidupnya menjadi tak bahagia karena tercerap oleh realitas diluar dirinya. Terlalu memikirkan apa yang sebenarnya tidak bisa dikendalikan olehnya, menjadi khawatir dan cemas hingga menganggu kesehatan mentalnya.

Menghukum diri terlalu berat, mempunyai harapan yang terlalu tinggi akhirnya membuat orang kurang bersyukur atas pencapaian dan kerap menyalahkan orang lain, lingkungan serta keadaan.

Banyak orang menjadi stress berat menghadapi masalah yang bagi orang lainnya terasa biasa-biasa saja.

Dan yang disebut stres atau tekanan hidup tidak akan hilang hanya dengan nasehat. Sebab stress berkaitan dengan cara pikir seseorang yang hanya bisa berubah oleh dirinya sendiri.

Tidak usah bercita-cita menahklukkan dunia, dunia akan ada dalam genggaman jika kitab isa menahklukkan diri kita sendiri.

Dalam dunia yang tunggang langgang ini, nampaknya Stoikisme, sebuah ajaran pemikiran yang sangat lama kembali digemari sebagai salah satu jalan ‘spiritual’ untuk menahklukkan dunia.

BACA JUGA : Filsafat, Filosofi dan Filsafat

Bagaimana laku menjadi seorang Stoik?.

Ada beberapa laku yang bisa dilakukan oleh seseorang untuk menerapkan prinsip-prinsip yang disarikan dari para pemikir Stoikisme. Laku ini bisa diterapkan oleh siapa saja yang resah menghadapi dinamika dunia yang bergerak makin cepat ini.

Tujuannya adalah agar kita bisa menjadi bijak ketika berada atau berpijak dalam realitas dunia. Tak perlu menjadi filsuf untuk berfilsafat.  Mencintai kebijakan untuk mencari kebahagiaan berarti kita sudah berfilsafat.

Langkah pertama yang mesti dilakukan adalah menyadari ada hal-hal yang bisa kita kendalikan dan ada pula yang tidak.  Semakin seseorang menyadari apa yang bisa dikontrol dan apa yang tidak maka seseorang akan menyadari batasan dalam hidupnya. Mengetahui batas akan membuat seseorang menjadi dirinya sendiri.

Salah satu batasan itu adalah ketidakkekalan. Segala sesuatu itu tidak baku. Kesedihan misalnya tidak akan bertahan selamanya. Kesehihan hanya akan terjadi di satu saat, namun kesedihan kemudian kerap bertahan lama karena kita kerap mengabadikan dengan menghubungkannya pada hari kemarin dan hari esok. Kesedihan itu kita simpan dalam pikiran dan kita mainkan berdasarkan pikiran kita.

Kita sering berucap “Manusia berencana dan Tuhan Menentukan”, artinya rencana sebaik apapun terkadang hasilnya tidak sesuai dengan keinginan kita. Maka ketika berencana harus disadari ada kemungkinan buruk. Rencana harus dibuat dalam dua skenario, yakni skenario terbaik dan skenario terburuk. Sehingga kalau gagal tidak akan membuat kita terpuruk, karena sejak awal sudah kita siapkan.

Batasan lain yang perlu disadari adalah batasan alam atau hukum alam. Seseorang bisa lelah, letih, merasa tertekan dan seterusnya. Tubuh selalu memberi alarm untuk istirahat. Kalau segala sesuatu yang kita alami sudah diluar kontrol, diluar batas wajar, istirahatlah, jangan terus melawan.

Pasrah dong?. Tidak juga tapi realistis. Kalau sesuatu itu tidak bisa kita ubah, kenapa juga harus terus ngotot untuk merubahnya. Tidur terkadang merupakan obat terbaik untuk lepas dari semua tekanan karena pikiran.

Jumawa, terkadang kita terlalu percaya diri bahwa apa yang menimpa orang lain tidak mungkin menimpa diri kita. Tidak ada yang tak mungkin, sesuatu yang bisa menimpa orang lain juga akan bisa menimpa kita. Kesalahan yang dilakukan oleh orang bodoh misalnya juga bisa dilakukan oleh orang pintar.

Bisa jadi kita yang pintar akan mentertawakan mereka yang bodoh, sehingga kehilangan kekayaannya karena tertipu dukun yang bisa mengandakan uang. Tapi atas salah satu cara yang tertipu oleh dukun kemudian juga akan tertawa karena kita yang pintar ternyata kehilangan uang akibat robot trading.

Media sosial membuat dunia riuh, dunia menjadi terlalu banyak omong. Padahal banyak diantaranya adalah omong kosong. Maka jangan terlalu banyak bicara, minimalis saja atau bahkan perkuat kemampuan untuk bisa mendengar lebih banyak dari orang lain. Kalaupun kita akan bicara maka artikulasikan dengan cara yang baik dan benar.

Circle atau lingkungan pergaulan memang penting. Dunia sekarang dipenuhi dengan selebritas. Semua berlomba menjadi influencer, seseorang yang populer, dikenal dan dikelilingi oleh banyak orang.  Padahal mereka yang viral ternyata kerap terkena ‘cancel culture’ dihempas dan dibuli oleh para follower atau pengemarnya sendiri.

Lingkaran pergaulan yang diperlukan sebenarnya bukanlah kerumunan besar, melainkan lingkaran kecil saja namun tidak toxic. Kelilingilah diri kita dengan orang yang ‘keren’ mereka yang bijak atau bahkan lebih bijak dari kita.

Sering kali terdengar kabar, seorang pesohor mempunyai segala-gala tapi kemudian bunuh diri. Ternyata karena dibully. Direndahkan, dihina atau tidak dianggap oleh orang lain meruntuhkan dunianya.

Baperan atau mudah tersinggung menjadi salah satu penyakit paling berbahaya saat ini. Orang begitu mudah marah, tersinggung atau emosi atas apa yang tidak berada dalam kontrolnya. Kita kerap menyangka bahwa perbuatan baik pasti akan diterima baik oleh orang lain, nyatanya tidak. Maka begitu ada yang bersuara miring segera setelah kita berbagi, kita langsung uring-uringan. Padahal hadapi saja dengan senyum, tertawa atau bergurau, semua itu tidak akan jadi soal.

Bayangkan andai saja Presiden Jokowi orang baperan, berapa banyak orang  yang akan dilaporkan, ditangkap polisi dan kemudian dimasukkan penjara?.

Setidak hebat-hebatnya Jokowi dengan membuktikan diri terpilih sebagai presiden dua kali adalah hebat. Tapi Jokowi tetap tersenyum meski dikatakan lelet, cenggar-cenggir, kayak lelek pentol dan seterusnya. Dituduh sebagai antek PKI, Aseng dan murtad sekalipun Jokowi tetap tersenyum.  Apakah Jokowi tidak jengkel?. Ya pastilah jengkel dan sedih. Tapi itu tak membuatnya bertindak berlebih.

Pada dasarnya sebagian perilaku ngawur, omong sembarangan dan lainnya yang marak saat ini bukan karena mereka jahat. Mereka sebenarnya tengah berusaha untuk merebut perhatian dari publik. Mereka hanya ingin dikenal dengan cara yang salah.

Internet telah menjadi lumbung besar informasi dan pengetahuan. Segala sesuatunya ada disana. Dengan teknologi cloud {awan} semua pengetahuan itu mudah diturunkan dari langit, bisa diakses oleh siapa saja.

Menjadi bijak adalah tidak dengan segera membuat kesimpulan atau bahkan menghakimi. Dengan cepat membuat kesimpulan akan membuat kita segera tertangkap sebagai orang yang berpikir dangkal.

Ditengah semua keriuhan dunia ini latihan menjadi bijak atau tirakat agar kita semakin bijak adalah mengambil jarak atas apa yang telah kita lewati. Catat dan refleksikan hal-hal yan gtelah kita lewati, nilailah sendiri dengan jujur sehingga kita tidak menjadi orang yang mencitrakan diri lewat anggapan orang lain.

Menjadi reflektif artinya kita tidak membiarkan rasionalitas kita dibajak oleh emosi, tetap mempunyai harapan namun apa yang diharap adalah yang perwujudannya ada dalam kendali kita.

note : sumber gambar Marco Bianchetti on Unsplash