“Memang kenapa kalau kita dikatain anjing?. Bakal jadi anjing, nggak juga kan. Bawa santai aja, nggak usah baperan,” begitu kata seseorang pada seorang temannya yang marah-marah dan ingin memukul orang yang mengatainya anjing.

Indonesia, terutama dalam percapakapan di media sosial kelihatan memang baperan. Banyak status atau cuitan yang isinya sumpah serapah, marah-marah karena tersinggung. Bahkan peristiwa yang tidak mengenai atau berkenaan langsung dengan dirinya juga membuat banyak orang tersinggung, marah-marah.

Banyak yang mengaitkan kondisi baperan ini dengan ribut-ribut menjelang pemilu yang sudah lalu.  Susah move on, kejadiannya sudah beberapa tahun lalu tapi masih terus dibawa-bawa. Perasaan buruknya masih terus bertahan.

Melihat perkembangannya yang kemudian bukan hanya membuat orang beringas saat online melainkan juga ketika bertemu pada saat ofline, nampaknya benar jika ada yang mengatakan bahwa kita perlu P4 atau Pertolongan Pertama Pada Perasaan.

Sebelum mengurai apa itu P4, mari kita lihat definisi kesehatan menurut Organisasi Kesehatan Dunia {WHO}. Menurut WHO kesehatan adalah kesejahteraan dimana seseorang mampu menyadari kemampuan dirinya, mengatasi tekanan hidupnya, bekerja secara produktif dan memberikan kontribusi pada lingkungan sekitarnya.

Apakah seseorang yang baperan, susah move on dan lainnya sehat?. Berdasar pada definisi WHO sepertinya tidak sehat. Seorang yang baperan atau susah move on bisa jadi karena tak menyadari kemampuan dirinya, bisa mengakibatkan kerjanya menjadi tidak produktif atau kemudian bahkan menganggu lingkungan sekitarnya, memberi pengaruh negatif bukan kontribusi yang baik.

Tidak sehat bukan berarti sakit. Namun mengalami gangguan lebih tepatnya gangguan mental atau jiwa.

Yang disebut dengan gangguan jiwa adalah ketika perasaan atau perilaku sudah mengakibatkan distress dan disability secara bermakna dalam melakukan aktivitas sehari-hari, bekerja, bersosialisasi dan belajar.

Berarti banyak orang Indonesia stress?.

Bukan banyak melainkan semua stres. Sebab setiap orang pasti mengalami stres atau bahkan perlu stres. Yang membedakan sebuah kejadian menimbulkan tekanan stres yang berbeda untuk tiap orang. Ketika jagoannya kalah pasti semua pendukungnya kecewa, tapi ada yang masih bisa tersenyum, ada yang mengatakan oke nanti kesempatan berikutnya berjuang lagi, namun kemudian ada juga yang pingsan, marah-marah dan uring-uringan.

Kenapa begitu?.

Ada sebuah nasib yang diterima karena apakah kita mudah bahagia atau tidak, 50 persen nya merupakan bawaan lahir atau sifat genetik. Nasib ini tidak bisa dirubah secara permanen, kalau temporal bisa jadi dengan zat-zat tertentu.

Tidak bisa kita rubah bukan berarti tak bisa bahagia, masih ada 50 persen faktor lain yang bisa membuat seseorang bahagia.

Dari 50 persen itu 10 persen diantaranya adalah simptoms atau kejadian di luar diri yang bisa menimbulkan tekanan tapi juga stimulus. Dan 40 persennya adalah respon internal atas sebuah kejadian.

Dengan demikian yang terpenting adalah bukan soal mengatasi stress, atau memperbanyak healing dan piknik melainkan bagaimana kita menata pikiran ketika berhadapan dengan peristiwa tertentu.

Kenapa seseroang yang jagoannya kalah dalam pemilu masih terus brutal sampai sekarang?. Bukan kekalahan itu yang bermasalah, sebab dalam sebuah kompetisi selalu ada yang menang dan kalah, menjadi pendukung seseorang dalam sebuah kompetisi pasti sudah menyadari kemungkinan untuk kalah.

Jadi bukan kalah atau menang yang menjadi masalah, melainkan bagaimana seorang pendukung memandang kekalahan. Karena cara pandang yang salah maka kekalahan kemudian menjadi penderitaan. Pada sisi lain cara pandang pemenang juga bisa bermasalah karena kemenangan kemudian dipandang sebagai kegembiraan yang berlebihan sehingga memunculkan kesombongan atau bahkan kecongkakan.

Cara pandang semacam ini sering disebut sebagai overthingking. Seorang yang overthingking akan menghabiskan banyak waktu untuk memikirkan segala sesuatu dengan cara yang merugikan.

Kecenderungannya adalah terus memikirkan hal-hal yang sudah berlalu atau bahkan yang telah lama sekali berlalu, mengungkit-ungkit. Prediksinya atas kejadian itu selalu negatif sehingga terus menimbulkan kekhawatiran.

Terus menerus berlaku demikian maka seseorang bisa disebut sebagai Overthinker.

BACA JUGA : Tirakat Ala Stoik

Apa penyebab orang Indonesia menjadi baperan?. Sepertinya tak sedikit yang menyalahkan Presiden Joko Widodo sehingga muncul ‘litani’ panjang serba salah dari Jokowi. Sebagian lagi menyalahkan media sosial dan lainnya. Pendek kata kesalahan itu ada di orang lain atau hal-hal diluar diri.

Di media sosial kerap ada tagar #jalanlurus dan #merawatakalsehat. Tagar inilah yang sebenarnya menjawab pertanyaan apa penyebab kita menjadi emosian.

Penyebab atau kontributor emosi negatif adalah cara berpikir yang bengkok, menalar tidak dengan menggunakan akal sehat. Orang beropini bukan dengan nalar rasionalnya melainkan dengan nalar emosionalnya.

Apakah dengan demikian orang tak bisa merasa jengkel, marah, cemas, ingin campur urusan orang lain?.

Tidak juga, perasaan seperti itu ada namun tidak dibiarkan menganggu, terlalu lama bertahan hingga berlarat-larat atau membiarkan diri larut didalamnya. Maka yang disebut bahagian adalah tidak baperan. Soal ketawa, senang-senang, bersuka ria itu urusan nanti. Toh, tidak sedikit orang yang senyam-senyum, tertawa puas justru karena melihat orang lain menderita.

Marcus Aurelius mengatakan “ Jika kamu bersusah hati karena hal-hal eksternal, kesusahan itu bukanlah dari hal tersebut, tetapi dari opinimu sendiri mengenai hal itu. Dan kamu memiliki kemampuan untuk merubah opini itu, kapan saja,”

Kita sering menyangka bahwa sebuah kejadian langsung melahirkan emosi, atau aksi langsung melahirkan reaksi. Padahal yang terjadi sebenarnya adalah ada kejadian {fakta obyektif} lalu kita beropini atau intepretasi kita sendiri dan kemudian memunculkan emosi.

Jadi sebenarnya bukan kejadian yang memicu emosi melainkan opini atau intepretasi kita sendiri atas kejadian itu. Kejadian atau hal-hal eksternal selalu bersifat netral.

Ambil contoh, seseorang yang pacaran lalu diputuskan sepihak. Yang diputuskan kemudian patah hati bahkan sampai ingin bunuh diri.

Kenapa bisa begitu, bukankah putus cinta itu biasa, yang sudah menikah dan punya anak saja masih banyak yang bercerai.

Diputusin artinya hubungan asmara berakhir, ya sudah artinya tidak cocok, bukan jodoh.

Tapi akhir dari hubungan asmara itu kerap diintepretasikan oleh mereka yang diputusin sebagai : ah, saya tidak laku, saya kurang seksi, kurang menarik, sulit membangun komitmen, jadi bekas, dapat karma dan seterusnya.

Intepretasi atau opini dari diri sendiri itu membuat dunia seolah sudah berakhir atau masa depan percintaannya menjadi suram.

Kejadian langsung emosi, itu yang bertahun-tahun atau terjadi berulang-ulang kepada kita sehingga baperan. Bahwa setiap kejadian langsung memicu emosi bisa saja benar tapi yang harus dilakukan adalah ‘mengaudit’ emosi agar jari-jari kita tidak langsung mengetikkan serangkaian sumpah serapah dan kemudian menekan publish di dinding media sosial kita.

Dengan demikian ketika ada reaksi jiwa, segera sadari dan lakukan penilaian sebelum mengambil tindakan lebih lanjut untuk mengekspresikan respon kita atas sebuah kejadian. Apa yang perlu disadari bahwa ada banyak kesalahan nalar yang kerap kita lakukan dalam menanggapi sebuah kejadian atau fakta obyektif.

Berlaku demikian artinya kita berusaha menjadi The Thinker.

BACA JUGA : Stoik Agar Tak Overthinking dan Insecure Di Dunia Yang Ambyar

Menjadi rasional merupakan upaya abadi dari peradaban manusia semenjak menguasai bahasa. Masalahnya otak manusia sebagai pusat penalaran mempunyai bagian rasional dan emosional. Dan 90 persen dalam keseharian yang berpengaruh pada perilaku kita adalah otak emosional.

Yang disebut sebagai otak emosional bukan hanya karena mengurusi rasa melainkan mengerakkan perilaku kita secara otomatis tanpa kita pikir lebih dahulu. Otak emosional mengerakkan kita melalui memori yang telah tersimpan sebelumnya, sehingga seolah keluar begitu saja.

Contohnya ketika kita ingin mandi. Saat melihat jam menunjukkan pukul 5 sore misalnya seseorang memutuskan untuk mandi. Keputusan rasional diambil, namun begitu memutuskan untuk mandi, rangkaian tindakan setelah memutuskan untuk mandi semua berjalan otomatis. Seseorang tidak lagi memikirkan langkah-langkah untuk mandi.

Kuatnya perilaku yang dipengaruhi oleh otak emosional membuat perilaku-perilaku tertentu menetap. Seperti pulang pergi ke kantor atau ke sekolah melalui jalan yang sama, kalau pergi ke warung makan minuman atau snack yang dipesan biasanya juga sama, baju yang dibeli warnanya kebanyakan juga sama dan seterusnya.

Berhadapan dengan peristiwa, informasi atau situasi, sikap atau reaksi kita cenderung juga sama. Salah satu yang umum adalah cepat menyimpulkan, sehingga kesimpulannya sering salah. Kesimpulan sebab akibat misalnya sering kali premisnya tidak berhubungan. Seperti contoh seseorang yang diputus oleh kekasihnya kemudian menyimpulkan “Karena wajah saya jelek maka saya diputuskan oleh kekasih saya,”

Kebiasaan lain yang kerap kali menimbulkan persoalan adalah generasi terlalu luas. Hanya karena satu dua orang dari suku tertentu bersikap kasar maka seseorang kemudian menyimpulkan suku itu sebagai suku yang kasar.

Kesalahan nalar lain yang paling umum adalah berpikir dikotomis. Seolah dalam hidup itu hanya ada pilihan ektrim A atau B, padahal kenyataan itu biasanya merupakan spektrum dari satu ekstrim ke ekstrim lainnya.

Kadang-kadang sesuatu hal sulit untuk diterangkan begitu saja maka diperlukan perumpamaan. Hanya saja perumpamaan yang dipakai sering tidak seimbang. Perbandingannya tidak sesuai, seperti agama dianggap sebagai baju misalnya, jadi pindah agama atau keyakinan dianggap seperti ganti baju.

Dalam kehidupan bersama sering kali terjadi pertikaian atau keributan karena seseorang menilai pekerjaan, tugas atau tanggungjawab orang bukan atas apa yang dilakukan olehnya melainkan berdasarkan siapa dia. Cara penalaran seperti ini kerap membuat orang lain merasa terhina atau dinistakan.

Masih ada banyak salah nalar lainnya yang semua berpangkal dari keenganan kita untuk berpikir menggunakan otak rasional.

Masalahnya menggunakan otak rasional memang memerlukan energi, perlu mengumpulkan banyak data dan informasi, perlu mengkonfirmasi atau memvalidasi sebelum menyimpulkan sehingga kesimpulan membutuhkan waktu.

Hanya saja kita terkadang terlalu gengsi untuk menunda jawaban, atau tidak segera menjawab bila ditanya. Sebab lambat menjawab atau meminta waktu untuk memberi jawaban atau kesimpulan bisa dianggap sebagai manusia lelet.

Padahal di tengah kelimpahan informasi dan data seperti saat ini cepat-cepat memberi jawaban atau menyimpulkan kerap kali malah berakhir dengan rasa malu. Karena jawaban atau kesimpulannya kemudian terbukti tidak tepat.

Maka meski dunia sekarang bergerak lebih cepat janganlah larut. Ketika berhadapan dengan apapun yang perlu diingat adalah mikir. Bukan hanya mikir sekali atau dua kali, kalau perlu pikir sampai 13 kali agar kita tak celaka 12.

note : sumber gambar – Muhmed El-Bank on Unsplash