Si vis pacem para bellum, jika ingin damai bersiaplah untuk perang. Kepercayaan pada nasehat semacam ini mungkin telah membuat banyak negara berlomba-lomba memperkuat sistem pertahanannya meski tak pernah perang sekalipun.

Perang memang bukan merupakan sesuatu yang dikehendaki namun kemungkinan terlibat perang harus selalu dipersiapkan.  Yang dimaksud dengan perang disini adalah perang bersenjata antar dua negara atau lebih.

Semakin hari sebenarnya perang bersenjata tidak semakin populer, pilihan saling tembak atau saling menghancurkan bukan lagi menjadi pilihan utama. Perang pada jaman ini sudah berwujud perang asimetris.

Meski demikian jika urusan konfliknya sudah menyangkut harga diri, suka dan tidak suka atau hal-hal yang emosional sifatnya, perang bersenjata nampaknya masih jadi pilihan, seperti yang terjadi para Rusia dan Ukraina.

Dan dampaknya luar biasa, meski tak saling serang hancur-hancuran tetap saja perang antara keduanya menghancurkan negara lainnya yang sama sekali tidak ada urusan dengan perang itu.

Perang antara dua negara saat ini bisa membuat dunia menjadi genting. Sampai-sampai Ketua Umum Partai Amanat Nasional, Zulkifli Hasan mengusulkan agar jabatan Presiden Joko Widodo diperpanjang karena perang ini.

Mungkin usulan politik itu sungguh keterlaluan, tapi tak bisa dibantah bahwa perang Rusia melawan Ukraina membuat pemulihan ekonomi dunia yang sebelumnya dihantam pandemi jadi melambat. Ada banyak komoditas penting menjadi naik harganya secara gila-gilaan.

Di Indonesia korbannya mungkin hanya sampai atrian.

Tapi lain cerita dengan di Sri Langka. Akibat kenaikan harga-harga, masyarakat marah sehingga menimbulkan kericuhan politik. Demo besar-besaran terjadi, anggota kabinet serentak mengundurkan diri, presidennya dipaksa mundur.

Sistem pemerintahan di Sri Lanka adalah semi presidential. Presiden dipilih langsung namun tak punya hak preogratif untuk memilih kabinet secara penuh. Menteri dipilih dari anggota parlemen dan pemerintahan juga harus mempunyai perdana menteri.

Presiden Sri Lanka saat ini adalah adik dari Perdana Menteri. Dan salah satu menterinya adalah anak perdana menteri.

Mahindra Rajapaksa, sebelum menjadi perdana menteri pernah mempunyai reputasi baik sewaktu menduduki jabatan sebagai Presiden Sri Lanka. Dia sukses melakukan pembangunan besar-besaran dan menstabilkan konflik politik maupun agama.

Namun masa jabatan presiden dibatasi hanya dua kali sehingga tak bisa melanjutkan untuk periode berikutnya. Hingga kemudian sang adik yakni Gotabaya Rajapaksa terpilih menjadi presiden, sementara Mahindra kemudian menjadi perdana menteri.

Sialnya, saat sang adik menjadi presiden dihantam oleh pandemi covid 19. Dan ketika pandemi mulai mereda, terjadi konflik antara Rusia dan Ukraina yang kemudian membuat posisi Sri Lanka semakin sulit.

Sri Lanka tak cukup punya minyak dan gandum yang merupakan kebutuhan pokok rakyatnya. Barang itu menjadi langka sementara untuk mengadakannya pemerintah tak cukup punya uang sehingga rakyat meradang.

BACA JUGA : Derita Para Pengantri Minyak 

Sri Lanka tak punya cukup uang namun juga sulit mencari hutangan. Utangnya sudah mengunung saat melakukan pembangunan besar-besaran di masa kepresidenan Mahindra Rajapaksa. Selama ini yang rajin memberi hutang kepada Sri Lanka adalah India dan Tiongkok.

100 % kebutuhan gandum dan minyak Sri Lanka dipenuhi dengan cara import. Cadangan yang tersedia sudah menipis, tidak lebih dari kebutuhan 1 bulan. Mau menambah hutang yang biasa memberi hutang juga sedang ada kesulitan.

Tiongkok mungkin saja mau memberi pinjaman, tapi pinjaman dari Tiongkok biasanya Tiongkok mau memberi pinjaman jika uangnya dipakai untuk membeli barang atau komoditas dari sana. Masalahnya minyak dan gandum Sri Lanka tidak berasal dari Tiongkok.

Sri Lanka mesti mencari pinjaman dari sumber lain, yang bisa meminjami adalah IMF. Namun syarat untuk meminjam uang dari IMF lebih ketat daripada meminjam uang dari negara tetangga. Ada banyak syarat yang harus dipenuhi agar IMF bisa meluncurkan skema pencairan pinjaman secara cepat.

IMF sebenarnya telah melakukan penilaian terhadap kondisi keuangan Sri Lanka dan memberi penilaian bahwa utang Sri Lanka tidak berkelanjutan. Sehingga dipelukan langkah retrukturisasi atau profil ulang utang publik. Proses ini memerlukan kerjasama dengan China sebagai salah satu kreditur bilateral terbesarnya.

China beberapa tahun terakhir ini memang dikenal sebagai negara pemberi utang lewat skema Belt and Road Initiative. Utang dari China biasanya dipergunakan untuk membiayai proyek-proyek pembangunan infratruktur di negara-negara yang diberi pinjaman.

Sayang reputasi China sebagai pemberi utang cukup buruk. Beberapa negara terkena jebakan ‘batman’ utang dari China yang menyebabkan kebangkrutan sehingga asetnya berada dalam ‘penguasaan’ China. Beberapa diantara proyek yang dibangun dengan utang dari China juga berakhir mangkrak.

Uganda membangun beberapa proyek strategis termasuk bandara internasional Entebbe dengan pinjaman dari China sebanyak 200 juta USD lewat Bank EXIM China. Kini mereka tengah berunding dengan China agar gagal bayar tidak berakibat mereka kehilangan aset-asetnya, termasuk bandara internasional Entebbe.

Bandara ini merupakan satu-satunya bandara internasional di Uganda yang melayani penumpang sebanyak 1,9 juta per tahunnya.

Kenya juga meminjam uang dari China untuk membiayai pembangunan proyek kereta ampi antara Mombasa dan Nairobi. Pinjamannya membengkak hingga 5,1 milyard USD karena jalur keretanya diperpanjang hingga ke Naivasha.

Kenya juga terancam gagal bayar dan jika itu terjadi kemungkinan besar akan kehilangan pelabuhan Mobasa, aset paling berharga di negeri itu.

Maladewa awalnya meminjam uang dari China untuk membangun jembatan penghubung antar pulau ibukota Male dengan pulau Hulumale. Jembatan itu dinamai dengan China-Maldives Friendship Bridge.

Namun utang Maldives melebar untuk pengembangan infrastruktur lainnya hingga kemudian mencapai kurang lebih 1,4 milyard USD. Padahal PDB Maladewa hanya sekitar 4,9 milyard USD.

Pakistan juga tengah kesulitan dengan utang dari China yang berbunga tinggi. Berada dalam daftar sebagai penerima proyek tertinggi dari China, Pakistan memanggung beban berat akibat utangnya pada China.

Ada 26 proyek di Pakistan yang dikaitkan dengan China Pakistan Economic Corridor yang bisa membuat aset penting dan strategis di Pakistan, saham mayoritasnya akan dikuasai oleh China.

Dan dari semua negeri peminjam uang China, Sri Lanka yang benar-benar terjerembab. Sri Lanka gagal mengembalikan uang pinjaman sehingga pelabuhan Hambantota kemudian diserahkan pengelolaannya pada perusahaan dari China.

Gagal bayar utang, cadangan devisa yang menipis, tidak mampu mendatangkan kebutuhan pokok dari luar membuat harga-harga kebutuhan pokok di Sri Lanka melonjak. Rakyat marah dan melakukan demo besar-besaran, oposisi mengambil kesempatan untuk menjatuhkan pemerintahan. Sri Lanka berada dalam krisis politik, sosial dan ekonomi yang parah.

BACA JUGA : Lord Luhut Tanpamu Aku Bisa Apa?

Indonesia juga meminjam dari China, namun data Statistik Utang Luar Negeri Indonesia menunjuukan bahwa China bukan pemberi utang terbesar untuk Indonesia.

Utang Indonesia dalam mata uang USD, Euro, Yen dan Yuan kurang lebih 329,27 milyard USD. Pinjaman itu berasal dari Singapore, Jepang, Amerika Serikat dan China.

Sri Mulyani, menteri keuangan menyatakan bahwa perang antara Rusia dan Ukraina memang memberi tekanan kenaikan beberapa bahan pokok. Namun masih terkendali. Keuangan negara tidak dalam kondisi terancam berat.

Dengan demikian kondisi yang dialami oleh Pakistan dan juga Sri Lanka tidak akan terjadi di Indonesia. Hutang Indonesia menurut Sri Mulyani dikelola dengan sangat hati-hati.

Lepas dari keyakinan Sri Mulyani, semestinya tetap ada hal yang patut diwaspadai. Gejolak harga atau kenaikan bahan pokok terbukti bisa menyebabkan kemarahan rakyat yang berujung pada gejolak politik.

Dan kenaikan bahkan kelangkaan beberapa komoditas penting di Indonesia beberapa waktu terakhir ini sambung menyambung. Kondisi ini bisa membuat rakyat frustasi setelah sebelum stress karena tekanan pandemi selama hampir dua tahun lamanya.

Memang baru mahasiswa yang mulai serempak untuk bergerak mempertanyakan kenaikan harga-harga. Hanya saja kalau permasalahan ini tidak segera diatasi rakyat kemudian pasti akan ikut serta.

Percaya diri karena data ekonomi keuangan memang meyakinkan tentu saja boleh, namun sentimen politik selalu tidak bisa diduga.

Dalam politik selalu ada kelakuan patologis ala Sengkuni. Seseorang atau sekelompok orang yang akan memainkan propaganda cerdas, licik dan keji. Kehausan akan kekuasaan akan membuat mereka selalu memanfaatkan setiap celah kesempatan atau mencari kesempatan dalam kesempitan untuk menjatuhkan lawan. Dan yang disebut lawan itu bisa saja kawannya sendiri.

Kita tahu di Indonesia saat ini ada banyak sosok atau kelompok yang ingin berkuasa namun tak punya cukup kemampuan untuk bersaing secara normal dan prosedural. Maka ‘krisis’ akan menjadi pintu masuk bagi mereka untuk mewujudkan cita-citanya.

note : sumber gambar holopis.com