Perang telah mendorong munculnya teknologi-teknologi yang canggih terutama dalam menghasilkan persenjataan untuk mengalahkan musuh atau memberi perlindungan diri lebih baik.

Douglas Aircraft, perusahaan yang berbasis di California pada masa Perang Dunia ke II dipaksa untuk menghasilkan pesawat yang sesuai untuk perang. Hasilnya adalah B 17 Flying Fortress. Industri pembuatan mesin perang dadakan ini menyerap banyak anak-anak muda di California untuk dipekerjakan sebagai buruh.

Anak-anak muda ini kemudian terlibat dalam pembuatan berbagai produk yang tidak ada sebelumnya. Setelah perang usai, berbekal pengetahuan dan ketrampilan teknik dari industri pertahanan sebagian dari mereka mulai mengoprek mobil-mobil tua. Hasilnya adalah sebuah kendaraan yang baru dan sama sekali berbeda dari sebelumnya. Kemampuan teknis mereka mampu meningkatkan perfoma, kecepatan dan handling dari kendaraan.

Mereka kemudian disebut sebagai builder, atau pembuat kendaraan kustom dengan cara mengurangi bobot kendaraan dengan mencopot beberapa bagian kendaraan, menganti ban standar dengan ban tertentu, mengecat kembali body mobil dengan motif artistik hingga mengoprek mesinnya. Kiprah para builder ini kemudian melahirkan mobil yang dikenal dengan nama hotrods.

Lahirlah kemudian yang disebut sebagai custom culture yang bisa dimaknai tidak sekedar kustomisasi semata melainkan merubah, merancang ulang dan kemudian melahirkan sebuah model baru yang unik dan sekaligus ekpresif. Maka kultur kustom berbeda dengan modifikasi semata karena didalamnya ada identitas dan aktualisasi diri. Dalam konteks anak muda, ekpresi ini menjadi khas karena merupakan penanda keinginan untuk keluar dari zona nyaman yang diciptakan oleh orang-orang mapan lewat industri massal.

Dan kemudian kultur kustom ini terus berkembang hingga sekarang pada berbagai hal lewat aksi-aksi kreatif yang menyegarkan jaman.

Arus kultur kustom kemudian menyebar ke seluruh dunia. Sejak tahun 70_an, ikon kultur kustom telah mewarnai jagad berita. Masuk lewat kustom kendaraan bermotor dan mobil, kultur kustom terus berkembang hingga ke produk appareal dan fashion. Indonesia kini menjadi salah satu yang terkemuka di Asia Tenggara dalam urusan kultur kustom ini.

Dan kini yang disebut dengan kultur kustom bukan lagi berada di pinggiran, sub kultur ini sudah masuk menjadi mainstream baru. Berbagai festival kultur kustom telah diselenggarakan secara rutin dan dihelat di tempat bergengsi serta dibuka oleh tokoh-tokoh terkemuka.

Diam-diam anak muda Samarinda ikut serta. Karya dari Puji Setiono masuk dalam sepuluh besar Custom Culture yang diselenggarakan oleh House of Vans, produsen sneaker terkemuka.

Mengusung corak dan motif tradisional Kalimantan Timur, sneaker yang dikustom dengan lukisan tangan karya Puji kini dipajang pada sebuah musium di China setelah dipamerkan keliling Asia.

Bagaimana kisah dan lika-liku kiprah Puji dalam kultur kustom, silahkan simak dan ikuti dalam video berikut ini.