Dari penjara pada situasi yang genting saat menunggu tibanya saat hukuman mati ternyata bisa melahirkan kreasi yang kemudian menyebar ke seluruh dunia termasuk Indonesia. Itulah kisah pertunjukan boneka (puppet show) yang lebih dikenal sebagai wayang Potehi.
Kisah wayang Potehi bermula dari lima orang narapidana yang dijatuhi hukuman mati. Saat maut membayang seorang diantara mereka tetap tenang. Dia mengajak teman-temannya untuk gembira dan menghibur diri.
Dibuatnya boneka dari kain untuk membuat pertunjukan seadanya. Teman-temannya diminta menabuh apa saja yang bisa dibunyikan untuk mengiringi kisah dengan aktor sang boneka.
Pertunjukan yang diiringi dengan bunyi piring, panci dan perkakas lain itu ternyata menghibur, bukan hanya mereka melainkan juga narapidana lain dan para penjaga. Kejadian itu sampai kepada kaisar.
Karena penasaran kemudian kaisar mengundang mereka berlima, meminta melakukan pertunjukan di hadapannya. Kaisar terkesan dan kemudian hukuman kepada kelima orang itu dibatalkan. Mereka dibebaskan.
Itulah kisah tentang asal usul wayang Potehi. Po artinya kain, te berarti kantong dan hi adalah wayang. Dengan demikian secara harafiah Potehi berarti wayang yang berbentuk kantong terbuat dari kain.
Saya beruntung pernah menyaksikan pentas wayang ini berapa puluh tahun lalu. Pentas pada masa orde baru dimana sesungguhnya wayang ini dilarang untuk ditampilkan karena berbau Tiongkok.
Mungkin yang saya saksikan itu termasuk pertunjukan terakhir sebelum akhirnya hilang tak berbekas. Saya menyaksikannya di Kutoarjo, di sebuah pojokan gang sebelah belakang pabrik minyak kelapa dari kopra bernama Sin Hin.
Konon ceritanya wayang yang dalam pertunjukannya diiringi sejumlah alat musik tradisional Tiongkok, yakni toa loo (gembreng besar), hian na (rebab), piak ko (kayu), bien siauw (suling), siauw loo (gembreng kecil), tong ko (gendang), dan thua jwee (terompet) masuk ke Nusantara pada abad ke 16.
Wayang ini dibawa ke Nusantara oleh para imigran Tiongkok yang keluar ke wilayah selatan untuk mencari penghidupan yang lebih baik karena terjadi huru hara di kampung halaman mereka.
Di pulau Jawa, wayang ini awalnya berkembang di bagian utara pesisir Jawa. Di Semarang Jawa Tengah dan di sekitar Lasem atau Tuban Jawa Timur. Lalu menyebar ke seluruh penjuru seiring dengan aktivitas perniagaan.
Berkembangnya permukiman warga keturunan Tiongkok, tumbuhnya kelenteng dan vihara membuat pergelaran wayang Potehi menjadi bagian dari ritual peribadatan. Namun dalam prosesnya kemudian terjadi inkulturasi dengan budaya Nusantara. Bahasa dan ceritanya kemudian memakai bahasa Nusantara, Melayu dan kini Indonesia. Ceritanya juga tidak lagi melulu tentang kisah atau legenda dari Tiongkok.
Bahkan wayang Potehi yang juga berkembang di Sulawesi Selatan kemudian dinamai dengan nama lokal yaitu Baco Puraga.
Paska pemerintahan orde lama, setelah tahun 1965 pemerintah orde baru kemudian melarang segala pentas atau praktek budaya yang berunsur Tiongkok. Pertunjukan wayang Potehi dan berbagai kesenian lain yang berasal dari Tiongkok dilarang. Namun secara terbatas di beberapa tempat masih berlangsung meski diam-diam dan penuh dengan kekhawatiran.
Ironinya, wayang Potehi yang dilarang ini sebetulnya di negeri asalnya juga sudah tidak dipentaskan. Wayang tetap ada tapi hanya diperjualbelikan sebagai souvenir. Namun orde baru yang berkembang dengan sentimen negative terhadap Tiongkok tidak memandang wayang Potehi sebagai kekayaan kebudayaan.
Kelak setelah kurang lebih 30 tahun terbenam, berbagai macam jenis budaya yang berhubungan dengan Tiongkok kembali bangkit saat Presiden Abdurahman Wahid atau Gus Dur mengeluarkan Kepres No. 6 Tahun 2000, mencabut Inpres No. 14 Tahun 1967. Lewat kepres itu hari raya Imlek ditetapkan sebagai hari libur nasional. Dan Wayang Potehi, pertunjukan Barongsai dan lain-lain boleh kembali dipentaskan.
Meski begitu pertunjukan wayang Potehi di belakang pabrik minyak Sin Hin menjadi pertunjukan terakhir yang saya saksikan. Setelah reformasi bukan Potehi yang bisa saya temui melainkan Barongsai yang banyak dipentaskan pada perayaan Tahun Baru China.
kredit foto : jakartaglobe.id








