Beberapa kali bertemu namun saya tak sempat menanyai namanya.  Melihat tampilan fisik dan raut wajah sepertinya belum 40 tahun umurnya. Mengerjakan petak lahan yang biasa dijagai mertuanya yang sedang sakit, pria itu mengatakan sesuatu yang tak saya duga sebelumnya. “Pekerjaan terberat petani itu mempertahankan air, menahan air agar tidak cepat pergi, mengalir deras ke bawah,” begitu ucapnya.

Saya yakin apa yang diucapkannya adalah saripati pengalaman selama bertahun-tahun menjalani hidup sebagai petani. Yang kala tidak ada hujan terpaksa harus menghidupkan mesin pompa untuk menyedot air dari sungai yang airnya cepat surut.

Kenapa air sungai cepat surut hanya dalam beberapa hari saja saat tidak ada hujan turun?.

Karena aliran sungai telah dinavigasi. Mereka yang diberi kuasa dan mandat oleh negara untuk mengurus sungai hanya berpikir bahwa sungai adalah saluran pembuangan untuk mengatasi banjir.

Dengan paradigma seperti itu maka aliran sungai harus lancar dan cepat. Alur sungai yang berkelok kemudian diluruskan dan semua hambatan dipinggir sungai termasuk rerumputan dan pepohonan dibersihkan.

Sungai dipelihara, namun yang disebut dengan pemeliharaan sungai adalah secara rutin membersihkan sisi kanan kiri sungai dari aneka rerumputan dan semak, agar tak menghambat aliran air.

Biar pemeliharaan lebih mudah dan pinggiran kanan serta kiri lebih solid maka pinggir sungai di tembok dengan beton. Ditanami pagar berupa lembar beton (sheet pile), yang menyatukan fungsi antara turap dan tanggul. Sebab konon selain untuk  memperlancar aliran air fungsi tembok beton itu untuk mencegah longsoran (turap) dan mencegah luapan air.

Dengan tembok beton ini maka pemeliharaan sungai akan beralih dari membersihkan pinggiran sungai, menjadi mengeruk sedimen. Semua sedimen akan ada angkat agar aliran air tak lagi meluap ke kanan dan kiri sungai sebagai banjir.

Dari sisi estetika pembetonan kanan dan kiri akan menghasilkan tampakan sungai yang rapi. Apalagi kalau sisi luar tembok kemudian dibuat taman, istilahnya Ruang Terbuka Hijau. Tapi dampak visual itu sesungguhnya adalah pembunuhan. Yang dibunuh adalah hakikat dan fungsi sungai.

Dengan mempwrlancar aliran dari hulu ke hilir akan terjadi ketidakseimbangan air. Air akan menumpuk di hilir sementara di hulu kering atau surut.  Padahal di hulu ketersediaan air amat penting untuk petani. Rendahnya permukaan air sungai membuat petani kesulitan memperoleh air untuk mengaliri lahan dan menyirami tanaman. Petani mesti memompa air ke lahan agar tidak gagal panen.

Dalam khazanah kebudayaan Kalimantan, upaya menavigasi air memang dilakukan. Di Banjar dikenal istilah anjir, handil dan tapa. Namun itu tidak dilakukan dengan mengotak atik badan sungai.

Navigasi dilakukan dengan menghubungkan sungai dengan sungai dengan terusan. Dan kemudian dialirkan ke lahan lahan di daratan yang jauh dari sungai dengan dibuat saluran-saluran pembagi. Intinya air dimanfaatkan dan dijaga agar tidak cepat pergi ke hilir.

Secara alamiah sungai memperlambat alirannya sendiri. Di bagian hulu hingga tengah biasanya sungai akan berkelak-kelok. Meanders selain berfungsi memperlambat aliran juga untuk menangkap atau mengendapkan sedimen. Maka sungai menjadi dinamis. Alirannya bisa bergeser-geser.

Di bagian tengah, air akan ditahan dengan meluapkan air sungai. Ruang sungai di bagian tengah biasanya sangat lebar dan luas. Sungai akan terhubung dengan lahan basah, berupa rawa pasang surut dan rawa permanen. Pada daerah cekungan kemudian akan muncul genangan yang luas, yang kerap disebut dengan danau.

Ruang inilah yang disebut sebagai ruang penyimpanan dan penampungan air. Air di rawa dan danau akan dialirkan kembali pelan-pelan sedikit demi sedikit seiring dengan surutnya permukaan sungai. Jika hujan berbulan-bulan tak turun danau dan rawa-rawa itu akan mengering.

Contoh paling jelas dari rumus alami ini bisa dilihat dikawasan Mahakam Tengah. Ada puluhan danau disana meski yang kita kenal adalah Jempang, Semayang dan Melintang. Serta rawa-rawa termasuk rawa gambut yang maha luas.

Dan karena simpanan air di kawasan Mahakam Tengah itu maka sungai Mahakam menjadi sungai permanen, sungai yang tak kehabisan air, selalu ada air meski hujan tak turun-turun.

Dan yang tak banyak disadari oleh orang Samarinda, keberadaan danau dan rawa-rawa di Mahakam Tengah itulah yang menyelamatkan Samarinda. Tanpa danau dan rawa-rawa, air Mahakam yang berlimpah di musim hujan semua akan mengalir ke Samarinda. Dan jika itu terjadi,.Samarinda bukan hanya akan kebanjiran melainkan tenggelam jadi lautan.

Kembali ke awal tentang petani yang pintar meski tak sekolah tinggi-tinggi. Pengetahuan karena pengalamannya itu jika disimpulkan lewat pelajaran yang saya peroleh di bangku sekolah dasar, maka bisa disimpulkan sungai salah bagian dari siklus hidrologi.

Dengan demikian fungsi utama sungai adalah sebagai wadah untuk memanen air hujan. Lewat sungai air hujan dinikmati dan didayagunakan tanpa kita perlu menyediakan wadah atau penampung besar saat hujan turun.

Bayangkan andai tak ada sungai dimana kita akan memperoleh bahan baku untuk sumber air bersih kita?.

Sayangnya hanya gara-gara.membenci banjir lalu kita mengotak-atik sungai. Merubah hakikat sungai. Banjir jika itu terjadi karena luapan sungai maka alam sedang menunjukkan seberapa luas wilayah dan wadah air yang diperlukan oleh kita untuk menampung air hujan.

Jika ruang banjir itu dihilangkan dan tidak diganti, maka banyaknya air yang mengenang dan kemudian kita cepat-cepat buang ke laut, sebanyak itulah juga air yang kita sia-siakan.

Jadi untuk apa sekolah tinggi-tinggi jika hanya untuk pintar mencari alasan guna menyia-nyiakan air.

Ingat mengatasi banjir tanpa mencegah kekeringan di musim kemarau menunjukkan otak para perencananya tidak lengkap, tidak genap dan tidak normal. Tak ada bukti otak-atik aliran sungai akan membebaskan dari banjir. Yang ada malah kekurangan air di musim kemarau.

Maka kita harus mencatat setiap proyek bernama normalisasi sungai yang tak mengkompensasi ruang banjir. Nanti saat kita kekeringan di musim kemarau, mereka inilah yang harus bertanggungjawab. Karena mereka telah membuang air hujan dengan cepat ke laut. Bukan menyimpan untuk cadangan di musim kemarau.

Jangan lupa yang disebut banjir pernah membuat penghuni tanah Borneo kaya raya. Namanya banjir kap.

Dan tanyalah kepada mereka yang ada di Mahakam Tengah, anugerah apa yang dibawa oleh banjir?. Mereka pasti akan bungah menjawab ‘Ikan melimpah,’.

Tapi kalau tanya ke orang Samarinda maka akan dijawab dengan wajah kusut ‘Sampah, bangkai dan tahi,”

Kenapa?. Cari saja jawabannya sendiri.

 

“Ikam urang hanyar di Samarinda kah?”