Rumah tinggalnya tak jauh dari jalan raya, namun tak kelihatan karena tertutupi deret rumah didepannya yang sekelilingnya ditumbuhi pepohonan tinggi dan rimbun.

Area dengan lahan seluas kurang lebih setengah hektar habis dipetak-petak menjadi deret kolam. Di salah satu pojoknya   berdiri kukuh rumah kayu sederhana dengan dapur di luar dan sedikit halaman untuk menebar jagung pagi-pagi bagi ayam peliharaannya.

Saya kesana karena menemani seorang  teman untuk membeli bibit anakan ikan mas.

Dalam perjalanan teman saya menceritakan kalau yang berternak adalah saudara jauhnya. Dulu kerja di luar negeri, bahasa Inggrisnya lancar, suka menyanyi dan pintar menari.

Saya mulai membayangkan sosoknya, pasti orang luar biasa. Punya pekerjaan bagus lalu memilih pulang kampung, beternak ikan.

Anak-anak pergerakan akan menjulukinya bunuh diri kelas.

Ternyata sosoknya tak seperti yang saya bayangkan. Posturnya biasa saja tapi orangnya menyenangkan, mudah akrab dan tidak pelit.

Sambil menunggu tabung oksigen untuk diisi dalam plastik wadah anakan ikan emas, saudara jauh teman saya itu mempersilahkan untuk mengambil ikan nila di kolam. Mudah saja karena ikannya sudah dikurung dalam jaring.

“Bakar banyak-banyak, pakai itu,” katanya sambil menunjuk ram besi yang kalau tidak salah berasal dari belakang kulkas rusak.

Kami hanya berempat dan ada senampan besar ikan nila bakar.

“Nda usah bikin sambil, petik lombok hijau sana. Lomboknya diceplus sambil dicolok garam saja,” ujarnya sambil menunjuk deretan pohon lombok yang ada di pematang kolam.

Tak lama kemudian dia membawa belanga nasi.

“Makan nasinya sedikit saja, banyaki makan ikan,” katanya lagi.

Jadilah saya makan ikan sambil nyeplus lombok seperti tengah makan gorengan.

Sambil menemani makan ikan dia bercerita kalau fokus usaha ternaknya bukan untuk menghasilkan ikan konsumsi. Menurutnya membesarkan ikan butuh biaya banyak untuk pakan dan kalau saat panen tidak bisa segera terjual akan rugi.

“Investasi saya pada indukan dan pejantan ikan mas. Menghasilkan anakan dan menjualnya seperti mendapat uang jatuh,” terangnya.

Uang jatuh adalah kata lain dari rejeki besar, hasil dari harga anakan ikan yang bagus, jumlahnya banyak dan belum butuh modal pakan yang besar hingga layak dijual.

Saya jadi ingat cerita teman yang memelihara babi.

Suatu kali dia berkata “Kalau mau pelihara babi jangan tanggung-tanggung. Kalau cuma satu atau dua, kita akan jadi babi. Nggak akan dapat apa-apa, cuma repotnya,”

Menurutnya kalau tidak mampu pelihara puluhan ekor, lebih baik memelihara beberapa indukan untuk menghasilkan anakan babi.

“Jual anak babi itu seperti dapat uang yang jatuh dari surga,”

Saya tahu yang disebut uang jatuh bukanlah keberuntungan, melainkan keuntungan yang cukup besar sebagai hasil dari pilihan atau model bisnis. Pilihan menjadi breeder hasilnya akan lebih stabil ketimbang menjadi grower yang nilai jualnya fluktuaktif.

BACA JUGA : Presiden Digoda Untuk Tetap Tinggal Di Istana

Lain uang jatuh, lain pula durian runtuh.

Uang jatuh adalah uang besar yang diperoleh sebagai hasil dari pilihan, diantara banyak pilihan yang menghasilkan. Sedangkan durian runtuh atau lengkapnya ‘bagai mendapat durian runtuh’, adalah memperoleh sesuatu, uang atau rejeki yang tidak disangka-sangka.

Durian runtuh bisa ada di mana-mana dan dalam situasi apapun. Bahkan penderitaan atau kesialan bagi seseorang bisa mendatangkan durian runtuh bagi orang lainnya.

Seperti pada masa pandemi dimana kebanyakan orang menderita. Namun ternyata ada yang bersuka. Pedagang masker, hand sanitizer, disinfektan yang tadi tak laku, menumpuk di gudang dan berdebu, tiba-tiba diburu, dibeli dengan harga berapapun dan tetap ludes.

Laboratorium kesehatan yang tadinya kembang kempis kemudian menjadi ramai bahkan bisa membuka gerai di pusat keramaian karena ada syarat siapapun yang hendak bepergian harus melampirkan hasil test bebas Covid 19.

Durian runtuh juga ada di pertambangan dan perkebunan. Harga komoditas tiba-tiba naik entah ada hubungannya dengan perang Rusia – Ukraina atau tidak. Naiknya gila-gilaan, sementara ongkos produksi tidak naik. Pengusaha atau investor kemudian mendapat untung gila-gilaan.

Soal minyak goreng sawit misalnya, yang dapat durian runtuh bukan hanya pengusaha sawit melainkan juga petani sawit. Harga TBS stabil tinggi, membuat semangat untuk berkebun jadi membara.

Sementara masyarakat bisa apa?. Tak bisa apa-apa selain mengeluh dan berharap pemerintah turun tangan.  Tapi tangan pemerintah lewat kebijakan atau subsidi tak selalu cukup kuat untuk mencengkeram. Masalah tidak bisa berhasil diatasi, satu-satunya cara hanya membiarkan sampai harga pulih sendiri.

Dalam arti tertentu bahkan subsidi yang mestinya dinikmati oleh masyarakat justru bocor. Subsidi jadi durian runtuh untuk kelompok atau orang yang tidak tepat.

Kondisi-kondisi darurat selalu memunculkan peluang bagi sekelompok orang ‘pintar’ untuk menangguk rejeki yang tak disangka-sangka. Ingin bergerak cepat, pemerintah biasanya menjadi tidak hati-hati dan tak menyiapkan perangkat yang cukup untuk mengawasi.

Dalam dunia pasar saham, komoditas berjangka atau pasar uang dikenal istilah investor dan trader. Investor mengeluarkan uang untuk kepentingan keuntungan jangka panjang. Yang diperhatikan adalah prospek masa depan dari saham atau instrument lain yang dibeli.

Berbeda dengan trader, keputusan membeli tidak didasari oleh prospek jauh di depan. Trader akan membeli segala sesuatu yang fluktuatif, sehingga dengan segera akan mendapat untung dari selisih harga beli dan harga jual.

Trader akan membeli ketika instrument investasi nilainya turun dan kemudian menjual ketika nilainya naik. Selisih antara membeli dan menjual itulah keuntungannya.

Dan pada umumnya pengusaha komoditas adalah trader atau pedagang. Maka momen bisa mendapat untung besar akan selalu dimanfaatkan. Prinsip pedagang selalu aji mumpung. Kalau harga murah barang ditahan, kalau harganya mahal barang dilepas.

Diminta menjual dengan harga wajar biasanya mereka akan ogah-ogahan.

Dan gonjang-gonjing harga minyak goreng sawit membuktikan hal itu. Ketika pemerintah mensubsidi, menentukan Harga Eceran Tertinggi atau Domestic Price Obligation dan meminta pengusaha untuk mengutamakan kebutuhan masyarakat atau Domestic Market Obligation, minyak goreng sawit dalam kemasan jadi langka.

Menteri Perdagangan kemudian mengeluarkan tenggara tentang adanya mafia.

Mafianya belum jadi tersangka, kebijakannya dicabut dan boom ….. minyak goreng sawit kemudian melimpah di pasaran. Mafia tak jadi ditangkap karena isi gudang normal kembali karena barang telah terdistribusi memenuhi rak-rak pusat perbelanjaan.

Dan kemudian menteri memberi pilihan “Pilih mana barang murah tapi nggak ada, atau mahal sedikit tapi barangnya melimpah?”

BACA JUGA : Kendi Nusantara Perayaan Simbolik Antiklimak IKN

Menteri Perdagangan mungkin sadar bahwa dua hal yang disampaikannya itu adalah hal buruk. Namun hal buruk itu tidak bisa ditolak sehingga tetap harus dipilih salah satunya. Maka pilihannya adalah yang terbaik diantara yang terburuk.

Saya menduga pilihan terbaik dari antara yang terburuk itu adalah “Mahal sedikit tapi barang berlimpah,”

Sedangkan bagi masyarakat selalu tidak ada pilihan, ketiadaan akses dan kontrol membuat masyarakat selalu berada dalam posisi lemah.

Bahkan untuk sekedar mengeluh saja tidak mudah.

Rakyat yang mengeluh pasti akan diberi nasehat terutama oleh guru bangsa.

“Kalau minyak goreng mahal ya tidak usah goreng-goreng, rebus-rebus saja atau makan mentah sebagai lalapan,”

Nasehatnya mungkin memang benar karena rebus-rebus lebih sehat ketimbang goreng-goreng.

Tapi cara main dan logikanya tidaklah demikian, sebab hidup sehat adalah pilihan, bukan karena dipaksa oleh keadaan.

Menasehati atau menganjurkan pola makan dan pola hidup sehat sebagai jalan keluar dari ketidakmampuan negara atau pemerintah menstabilkan harga ibarat Jaka Sembung makan kedondong, nggak nyambung dong.

Pemerintah sering kali tidak menyadari bahwa pilihan yang disampaikan itu bukanlah pilihan melainkan dilema. Kesemuanya buruk dan tidak ada yang terbaik dari antara yang buruk itu. Simalakama karena dimakan bapak mati, tidak dimakan ibu mati.

Tidak ada jalan lain bagi masyarakat jika tertekan selain menerima. Lain halnya dengan pemerintah, jika tertekan, pemerintah masih bisa menekan rakyatnya.

Pemerintah yang jatuh miskin karena pendapatannya tak sesuai dengan yang diharapkan masih punya jalan untuk memompa pendapatan. Jalan itu adalah menaikkan pajak, mengurangi subsidi, mengurangi bagi hasil daerah, mencabut kewenangan daerah dan lain-lain.

Dan apapun langkahnya pada akhirnya yang paling menanggung beban adalah rakyat atau masyarakat biasa.

Maka pantaslah jika masyarakat Indonesia yang dikenal ramah, gemar tersenyum dan tertawa ternyata ketika disurvei, tingkat kebahagiaannya tidak sesuai dengan rona wajahnya.

Senyum masyarakat Indonesia adalah senyum kecut dan tawa masyarakat Indonesia adalah tawa getir.

sumber gambar : Ilustrasi uang. ©2014 Merdeka.com/shutterstock.com/Club4traveler