KESAH.ID – Tujuh belas Agustus, 17 kilometer begitu yang ada di benak saya ketika muncul gagasan untuk melakukan long march dengan SUP dari Bendung Benanga hingga Pangkalan Pungut GMSS SKM di kehewanan. Jarak itu ternyata kurang lebih 15 kilometeran, jadi mesti ditambah hingga Jembatan Sungai Dama. Dengan kaki mulai kebas dan gejala kram akhirnya 17 kilometer di tanggal17 Agustus 2025 bisa saya tempuh dengan SUP walau dua kali terjungkal.
Ketertarikan saya pada Sungai Karangmumus bermuasal pada sebuah cerita. Cerita seseorang yang selalu mengaku kalau namanya Primus. Memang ada hubungannya dengan Primus Justitio yang waktu itu sedang terkenal, tapi pria ini tak ada mirip-miripnya.
Nama Primus diambil karena populer, namun tujuannya untuk menyamarkan darimana dia berasal. Usut punya usut ternyata dia tinggal di sekitar Sungai Karangmumus. Maka dia menyebut dirinya Primus, Pria Karangmumus.
Saya pun mulai kasak-kusuk mencari tahu seputar Sungai Karangmumus. Ternyata saya pernah diberi satu buah buku yang berisi tentang upaya normalisasi atas Sungai Karangmumus di jaman kepemimpinan Walikota Ahcmad Amins. Dalam buku itu ada juga cerita urban legend di lingkungan Sungai Karangmumus.
Seingat saya, kisah paling terkenal di Karangmumus adalah hantu banyu dan kerajaan buaya kuning.
Sewaktu masih menjadi bagian dari Genk Suwandi, saya dan teman-teman berencana melakukan Eks Primus, Ekpedisi Sungai Karangmumus. Tapi urung karena ada berita tentang satu orang yang rajin memunguti sampah di Karangmumus.
Saya meminta seorang kawan yang kini sudah duduk di kursi wakil rakyat tingkat kabupaten untuk mendokumentasikan. Waktu itu saya masih suka membuat video untuk diupload di yutub, dari hasil rekamannya saya juga membuat tulisan karena waktu itu saya masih menjadi kontributor untuk media berita dan pengetahuan lingkungan.
Akhirnya saya mengenal Pak Misman dan kemudian Pak Iyau, dua Pria Karangmumus yang rumah tinggalnya berada di sisi tepian yang berseberangan. Pak Misman memungut sampah, Pak Iyau menjaga ruang terbuka hijau yang kemudian menjadi Pangkalan Pungut GMSS SKM.
Akhirnya niat saya menyusuri Sungai Karangmumus dari hilir hingga ke Bendungan Lempake terwujud. Pertama bersama mahasiswa Unmul yang tergabung di Imapa, Ikatan Mahasiswa Pecinta Alam. Dan setelah itu bersama Gerakan Memungut Sehelai Sampah Sungai Karang Mumus, GMSS SKM.
Sekitar empat tahunan saya kerap menyusuri Sungai Karangmumus dengan ketinting yang dikemudikan oleh Pak Iyau. Selama itu saya membantu mengkampanyekan gerakan pungut sampah, merancang sekolah sungai dan restorasi ekosistem Sungai Karangmumus di Muang Ilir.
Setelah menyelesaikan penanaman 10 ribu pohon native species di lingkungan Sekolah Sungai Karangmumus, Sesukamu dengan dukungan dari Planete Urgence dan BP DAS, saya menyingkir dari Sungai Karangmumus. Masih beraktivitas yang berhubungan dengan air, atas ajakan seorang teman yang lain, saya lebih banyak main-main ke SADAR, Sungai, Danau dan Rawa di wilayah Mahakam Tengah.
Sesekali saya masih main-main ke Sungai Karangmumus sembari ngopi dan makan gorengan di Kebabom, transformasi dari Kedai Kopi Why Not.
Awal-awal tahun 2025 ini saya kemudian lebih sering mampir ke Karangmumus. Mulanya karena mencari titik kumpul untuk Susur Gang Samarinda yang mulai menyusuri kawasan perbukitan Gunung Steling dan Gunung Damar.
Kerap menjadikan Pangkalan Pungut GMSS SKM sebagai tikum, akhirnya muncul gagasan susur sungai. Atas kebaikan Pak Iyau, beberapa warga Susur Gang Samarinda bisa menikmati susur sungai.

BACA JUGA : Ducati Pusing
Pertengahan tahun, saya melihat Krisdiyanto memposting mainan baru, Stand Up Padlleboard. Postingannya di akun sosial media saya komentari, saya juga berkirim pesan langsung padanya. Intinya bagaimana memakai Padlleboard yang dibelinya untuk mengembangkan bisnis baru itu bisa dipakai untuk ‘memantik’ kembali perhatian pada Sungai Karangmumus.
Selama kepemimpinan Walikota Samarinda Andi Harun, Karangmumus memang jadi perhatian. Rumah dibantaran sungai kembali digusur, dibongkar hingga hari ini. Lalu dengan anggaran pemerintah nasional, eks gusuran kemudian ditata, tepiannya dipasangi sheetpile, sungai diturap sekaligus ditanggul. Ini yang disebut normalisasi.
GMSS SKM sejak semula mengangap normalisasi sungai tidak membuat sungai menjadi normal kembali. Sungai malah berubah menjadi kanal.
Atas dasar itu GMSS SKM dan Sesukamu kemudian melakukan model penyadaran, pendidikan dan aksi yang mengajak masyarakat melakukan normalisasi hubungan dengan sungai.
Masyarakat diajak peduli, untuk menjaga, merawat dan memulihkan sungai agar sungai sehat kembali karena airnya berkualitas, jumlahnya cukup dan tersedia sepanjang tahun. Istilahnya 3 K yakni kualitas, kuantitas dan kontinuitas.
Saya merasa Stand Up Padlleboards bisa menjadi tools yang efektif untuk mengajak masyarakat kembali punya perhatian pada sungai, terutama Sungai Karangmumus.
Krisdiyanto setuju, Pak Iyau punya pemikiran yang sama dan Pak Misman juga mendukung.
Saya lupa persisnya kapan, tapi dua SUP akhirnya diturunkan ke Sungai Karangmumus, di Pangkalan Pungut GMSS SKM. Saya mulai mencobanya dan ternyata setelah berjuang melawan kaki yang gemetar akhirnya bisa berdiri juga.
Setelah itu Krisdiyanto menambah unit SUP-nya. Kamipun bermain di lingkungan Sekolah Sungai. Bermain disana lebih mengasyikkan karena airnya relatif lebih bersih sehingga tak takut atau khawatir jika terjatuh. Kalau terjatuh malah sekalian mandi-mandi sungai.
Setelah lumayan terampil walau belum bisa free style, muncul gagasan untuk memperingati HUT RI Ke 80 dengan melakukan long march memakai SUP dari Bendungan Benanga hingga Pangkalan Pungut GMSS SKM di Kehewanan.
Kami bersepakat, apalagi Krisdiyanto mengatakan kemungkinan Agustus nanti unit SUP-nya akan bertambah menjadi 7.
Krisdiyanto pun berbaik hati, menaruh dua SUP di Pangkalan Pungut sehingga bisa dipakai berlatih sewaktu-waktu.
Beberapa kesempatan seperti Hari Sungai Nasional dan kegiatan Punggut Sampah dipakai untuk berlatih, SUP dilibatkan dalam kegiatan itu.
Akhirnya ada beberapa orang yang cukup terampil menaiki SUP. Hanya yang perlu ditingkatkan adalah ketahanan, tahan berdiri lama dan menempuh jarak yang cukup jauh.
Kamipun berlatih dengan membagi segmen hilir dan tengah.
Segmen hilir antara Tepian Lempake hingga Kehewanan. Jalur itu kami coba dengan 4 SUP yang dinaikkan ke Pick Up. Saya dan Krisdiyanto berhasil menyelesaikan secara penuh kurang lebih 9 kilometer. Waktunya cukup panjang karena diselingi dengan singgah dan ngobrol di Gunung Lingai.
Dan seminggu sebelum hari H, kamipun mencoba jalur Bendungan Lempake hingga Sesukamu. Start dari Sesukamu melawan arus. Namun tak bisa tembus ke Bendungan karena ada halangan batang-batang pohon yang menutupi alur sungai. SUP kami angkat melewati jalan raya.
Agak berbahaya jalur antara Bendungan hingga Sesukamu, walau menantang.
Akhirnya diputuskan nanti pada hari H, hanya akan ada 3 SUP yang turun dari Bendungan Lempake membawa bendera, lalu akan diadakan upacara di Sesukamu untuk membacakan Deklarasi Sungai Karangmumus.

BACA JUGA : Marc Lagi
Dari hitungan latihan jarak jauh, ternyata jarak antara Tepian Lempake hingga Pangkalan Pungut GMSS SKM hanya sekitar 9 kilometer. Artinya kalau dari Bendungan Lempake hanya berkisar 15 kilometer.
Untuk mengenapi hingga 17 kilometer sehingga pas dengan 17 Agustus, jarak harus diperpanjang hingga ke Jembatan Sungai Dama.
Sayapun menguatkan niat untuk menempuh 17 kilometer di tanggal 17 Agustus itu. Saya sampaikan pada Krisdiyanto dan Pak Iyau, kalau saya tak ingin gantian di titik-titik estafet.
Cuaca pada 17 Agustus 2025 agak mendung, bahkan gerimis mulai turun ketika kami membawa 5 SUP dan 2 Kano dengan Pick Up.
Saya, Krisdiyanto dan Ari diantar hingga Bendungan Lempake. Airnya cukup tinggi dan deras.
Kamipun turun bertiga disertai satu bocah yang membawa bendera. Menurut Krisdiyanto bocah ini secara organik belajar SUP memakai papan gabus dan tongkat.
Perjalanan ke bawah cukup lancar karena air tinggi sehingga halangan tidak terlihat. Tapi pada satu belokan saya terlambat membelokkan SUP sehingga menabrak batang pohon dan SUP saya terbalik. Agak gelagapan juga, beruntung ada Ari yang tak terlalu jauh posisinya sehingga bisa membantu saya meminggikan SUP.
Sampailah kami ke Sesukamu dan disana sudah menunggu 5 teman dengan SUP. Satu SUP datang dari Tenggarong dari Taman Seri.
Setelah pembacaan Deklarasi Sungai Karangmumus, kami beringsut ke arah hilir. SUP berbaris, ada yang dinaiki satu orang ada pula yang dinaiki 2 orang.
Dalam perjalanan antara Sesukamu hingga Tepian Lempake, lagi-lagi saya terbalik. Tapi karena airnya tak terlalu berarus, tidak sulit untuk membalikkan SUP dan kemudian naik kembali ke atasnya.
Karena libur di sepanjang perjalanan jalur air Karangmumus ada banyak orang. Beberapa memfoto dan mencoba berdialog dengan kami yang ada di atas SUP. Ada yang bertanya apakah ini lomba. Kami jawab seadanya saja.
Begitu memasuki jalur kota, barisan SUP cukup menghebohkan. Dimulai dari Jembatan S Parman. Di sepanjang kanan kiri sungai kemudian banyak yang mendokumentasi.
Sesekali ada suara teriakan Merdeka dari kanan kiri sungai.
Sepanjang perjalanan saya membawa bendera. Bukan bendera Merah Putih, melainkan bendera Extention Rebellion. Bendera kuning bertuliskan Act Now, dan bendera kemerahan bertuliskan Rebel For Life.
Karena berada terus di air dalam waktu cukup panjang, kaki telanjang saya mulai terasa agak kebas dan cenderung mau kram.
Itu saya rasakan semenjak Jembatan Gelatik, tapi saya terus tahan dan tidak minta ganti. Perlahan SUP saya bawa sambil berdiri, agak perlu usaha lebih karena selain mulai panas, angin juga bertiup. Air sungai juga seperti tertahan tidak ada arus. Nampaknya antara arus atas dan arus pasang bertemu sama kuat.
Agak tertinggal, Acok yang membawa perahu ketinting berbalik. Dia ingin menarik saya agar sejajar dengan teman-teman lainnya. Tapi saya menolak karena tahu mereka akan bermain di sekitar Jembatan Baru dan Tarmidi.
Sesampai di Tarmidi saya terus saja, niat saya mau mengejar 17 kilometer hingga Jembatan Sungai Dama.
Saya terus melewati Pangkalan Pungut GMSS SKM, angin terasa makin kencang sehingga kayuhan terasa berat sementara kaki bawah makin kebas dan kaku.
Tadi akhirnya saya melewati Jembatan Sungai Dama, dan kemudian menepi di dermaga dekat masjid. Setelah meneguk sisa air di tumbler, saya mengambil HP untuk menelepon Pak Iyau minta dievakuasi. Tapi belum ditelepon Pak Iyau sudah datang.
Dengan menempel di Ketinting, saya dibawa kembali ke Pangkalan Punggut. Dari bawah Jembatan Sungai Dama terlihat satu SUP menyusul, ternyata Erma yang memang masih punya simpanan tenaga karena menggantikan Winda di sekitar Taman Para’an.
Saya dan Erma digandeng dengan ketinting yang dikemudikan Pak Iyau melawan arus yang karena pasang mulai surut.
Dan akhirnya setelah 4 jam perjalanan dari Bendungan Lempake akhirnya saya mencatatkan 17 kilometer di tanggal 17 Agustus.








