Di jaman jaya-jayanya koran, saya diajak oleh beberapa teman untuk melahirkan tabloid berita bermodal bondo nekat.
Hasilnya bisa ditebak, berhasil terbit beberapa kali namun kemudian mati karena gagal meraup pembeli dan pemasang iklan.
Kegagalan ini kemudian saya tanyakan pada teman lain yang piawai dalam ‘memberanakkan’ koran.
“Apa rahasia keberhasilan penerbitan koran baru?” tanya saya waktu itu.
Dan teman saya itu hanya menjawab singkat “Jualan koran itu seperti jualan kacang goreng,”.
Lewat jawaban itu, teman saya hendak mengatakan kalau semua kacang goreng itu sama saja, tapi selalu ada yang lebih laku dari yang lainnya.
Dengan mengumpamakan koran sebagai kacang goreng maka tak ada rahasia bagaimana satu koran bisa lebih laku dari yang lainnya.
Saya terima saja jawaban teman itu tanpa berniat membantahnya. Sebab nanti jika saya katakan ini dan itu, khawatirnya dia justru balik berkata “Sudah tahu kok masih bertanya,”
-000-
Pagi-pagi buta di jalanan gang sudah lewat seseorang memikul tumpukan koran sambil berseru “Koran seribu, koran seribu,”
Padahal yang biasanya lewat dan berseru-seru memanggil pembeli adalah penjual kukis pisang, biapong, lalampa dan nasi kuning.
Saya menenggok keluar, melihat penjual koran yang lewat sekelebat.
Sebagai pembaca koran, saya tahu koran yang dibawanya adalah koran baru.
Menjelang siang, saya berjalan ke pusat kota. Dan setiap kali melewati perempatan jalan yang dipasangi lampu lalu lintas, di empat sudutnya berdiri gadis cantik melambai-lambaikan koran.
“Koran seribu, koran seribu,” kata mereka, persis sama dengan yang terdengar di gang pagi-pagi buta tadi.
Dan sorenya di gang yang berisi deretan warung kopi, ramai diperbincangkan perihal koran seribu yang kemunculannya menguncang kota.
Menguncang karena cara memperkenalkannya tidak biasa. Bukan lewat upacara peresmian yang mengundang banyak pejabat, atau acara macam jalan sehat dengan door prize di panggung yang dihibur oleh penampil ternama.
Koran diperkenalkan bukan dengan cara mengumpulkan orang melainkan mendatangi, mendekat kepada pembaca dan meminta pembaca membeli dengan harga yang sulit ditolak.
Benar saja tak butuh waktu lama koran seribu itu kemudian duduk sejajar dengan koran ternama yang sebelumnya menguasai pembaca.
Nama didapat, pasar terbentuk dan pembaca sudah diperoleh, koran seribu mulai menaikkan harga. Koran murah yang bukan murahan itu kemudian dibandrol dengan harga yang sama dengan koran lainnya.
Membandingkan kegagalan saya dan teman-teman dahulu dengan keberhasilan koran seribu akhirnya saya tahu bagaimana cara jitu menerbitkan sebuah koran.
-000-
Bagi usahawan dunia adalah persaingan. Jarang sekali ada kesempatan untuk melahirkan produk atau jasa yang belum ada saingannya.
Pun ketika menjadi pioner juga tidak selalu mudah. Karena masyarakat atau pasar belum punya preferensi atau preseden.
Maka selalu ada tantangan bagaimana sebuah produk atau layanan yang sudah dipersiapkan dengan matang diperkenalkan kehadirannya pada pasar.
Launching, kampanye, promosi adalah jalan untuk memperkenalkan produk dan layanan agar bisa melakukan penetrasi pasar.
Namun sebuah kehadiran yang tidak mengejutkan layaknya sebuah ledakan akan sulit untuk menarik perhatian pasar.
Model penetrasi ala koran seribu bisa menjadi contoh pengenalan yang menimbulkan ledakan di masyarakat
Namun masih ada banyak contoh lain dimana produk dan layanan dihadirkan dengan cara yang mengejutkan sehingga dengan cepat diterima masyarakat dan perusahaan tumbuh menjadi besar.
Dalam perspektif generasi YouTube apa yang diperkenalkan harus mampu memancing testimoni dan review dari konsumen.
Testimoni adalah kesaksian dari para pemakai atau penerima manfaat. Sementara review adalah penilaian dari mereka yang punya pengaruh pada pasar.
Maka iklan apalagi pada saluran iklan mainstream bukanlah pilihan pertama dan utama. Sebab iklan tak akan menghasilkan pengalaman pada penerima manfaat atau konsumen. Tanpa pengalaman tak akan ada testimoni.
Start Up banyak melakukan pilihan ini dengan memberikan layanan yang disebut freemium. Kepada pasar diberi kesempatan untuk mencoba berbagai fitur secara gratis. Kalau ingin lebih dan eklusif baru membayar.
Brand dan market dibangun dengan model ‘membakar uang’. Seperti marketplace dan ride hailing yang kemudian memberi voucher bernilai uang kepada setiap orang yang membuka akun baru.
Kemudian brand dan market juga diperkuat dengan penilaian. Bukan dengan cara memuji-muji diri sendiri melainkan dengan mengundang penilaian dari pihak luar, mereka yang layak disebut sebagai reviewer.
Andai ada kelemahan yang ditemukan oleh para reviewer maka itu tak perlu dianggap sebagai aib, melainkan sebagai jalan untuk meraih kepercayaan dengan cara mengatasi kelemahan itu secara sungguh-sungguh.
Penilaian, kritik atau masukan justru merupakan energi gratis untuk berkembang menjadi yang terbaik. Membangun brand dan memenangkan papasar untuk mencapai tujuan usaha yaitu keuntungan.
Pemenang di jaman ini adalah produk yang menjawab kebutuhan masyarakat dan layanan yang mempermudah serta meningkatkan mutu hidup masyarakat.
Sumber gambar : bisnia.com








