KESAH.IDEs teh mungkin dianggap minuman receh, biasa saja. Tapi kita tahu bahwa es teh selalu enak kalau buatan orang lain, maka jangan sepelekan es teh sebagai sebuah pilihan bisnis. Brisia Jodie, penyanyi jebolan Indonesia Idol membuktikan kalau bisnis es teh bukan hanya manis rasanya tapi juga amat manis cuannya.

Senang sekali rasanya jika teman saya mengajak mampir ke rumah kakaknya yang punya usaha sebagai agen bis Damri antar kota.

Singgah ke rumahnya berarti bisa minum Teh Botol Sosro secara gratis.

Di masa itu menenggak minum botolan terasa keren, nggak ketinggalan jaman walau tak bisa dipamerkan karena sosial media belum ada.

Teh botol Sosro sendiri merupakan teh siap minum dalam kemasan yang pertama di Indonesia. Bisnisnya dimulai dari jualan teh kering dalam kemasan dari tahun 1940.

Konon gagasan membotolkan teh siap minum muncul dari kebiasaan anaknya yang suka pergi ke sekolah sambil membawa botol yang disi dengan teh manis.

Mulai dijual dan memasyarakat sejak tahun 1969, ditahun 2011 sebuah penelitian dari Youthlab Indonesia menyebutkan 84% pemuda Indonesia lebih menyukai Teh Botol Sosro ketimbang Coca Cola.

Diingat dengan slogannya “apapun makanannya, minumnya Teh Botol Sosro”, teh melati asal Slawi tetap membawa rasa sepet-sepet, sehingga cocok diminum sesudah makan.

Karakter tehnya  tidak terlalu mampu mengusir rasa haus karena masih ada rasa tertinggal di langit tenggorokan. Mungkin ini yang membuat Teh Botol Sosro disalip oleh Teh Pucuk Harum dalam penjualannya.

Tapi apapun itu minum teh dingin atau es teh memang enak, dan selalu enak jika bukan buatan sendiri meski bikin es teh itu gampang.

Fakta bahwa es teh itu enak dan teh adalah minuman kedua terbanyak setelah air putih, membuat bisnis minuman teh masih terasa legit hingga sekarang.

Sebelum demam kuliner to go, kios-kios penjual es teh sebenarnya lebih dahulu menjamur. Di jalanan dengan mudah ditemukan booth teh berlabel Teh Daun dan teh-teh lainnya. Lalu disusul dengan demam Thai Tea sebelum digulung oleh kemunculan Boba dan minuman kekinian lainnya.

Tapi tetap saja hampir semua orang Indonesia menyukai es teh, tidak ada warung makan yang tak menyediakan es teh dalam daftar menu minumannya.

Merebranding es teh kemudian menjadi pilihan dari PT. Esteh Indonesia Makmur. Dengan merek dagang Esteh Indonesia kini bisnis franchise food and beverages ini sudah menyebar dari Sabang sampai Merauke, jumlahnya ratusan mendekati ribuan.

Sesuai dengan kampanye yang digaungkan yakni #semuaakanESTEHpadawaktunya.

Di tengah kelesuan berbagai Startup, Esteh Indonesia terus bertumbuh dengan konsep, grab & go dan dine in lewat sajian es teh berkualitas dengan harga terjangkau.

Saat  banyak orang yang lebih memilih ikut-ikutan bermain kopi, pilihan Esteh Indonesia menjadi pilihan cedik dan terbukti berhasil. Selain berencana membuka gerai di seluruh Indonesia mereka juga berencana melakukan diplomasi kuliner dengan membawa Esteh Indonesia ke luar negeri.

Esteh Indonesia telah berhasil menjadi kedai teh terbesar di Indonesia, sebuah keberhasilan yang tentu saja akan memancing pengikut. Dalam bisnis berlaku model Amati, Tiru dan Modifikasi, sehingga sebagai pioner harus bersiap dengan kehadiran para penunggang angin yang bisa saja lebih baik dari mereka yang pertama memulai dan mempopulerkannya.

BACA JUGA : Apa Bedanya, Ada dan Tiada Aturan?

Beberapa malam lalu, ketika sedang asyik menonton film di layar laptop, anak saya mendekat sambil membawa gadgetnya.

“Belikan dong,” ujarnya sambil menunjukkan layar smartphonenya.

Saya hanya melihat sekilas sambil berpesan kirim saja via WA.

Saya hafal dengan kebiasaan anak saya yang suka FOMO pada gerai-gerai F & B baru. Tapi tidak apa, FOMO pada makanan dan minuman jauh lebih baik daripada tergila-gila pada Kripto, NFT dan aset digital lainnya yang sering tak masuk akal itu.

“Dimana ini tempatnya?” tanya saya sebelum pergi membeli menu pilihannya.

“Di depan, sebelum gang masuk, sebelah kiri kalau dari sini,” jawabnya memberi tahu.

Sayapun pergi dan tak sulit untuk menemukannya. Keluar dari gang dan menengok ke kiri segera terlihat keramaian. Saya parkir agak jauh agar tak menganggu kelancaran lalulintas di jalanan yang tak terlalu lebar namun ramai.

Nama kedainya ternyata Selalu Teh. Dan dalam billboardnya tertulis Teh No 2 Terenak di Indonesia, entah yang pertama siapa.

Kedainya sederhana, bersih, ringkas dan munggil. Hanya ada dua orang pekerjanya yang melayani pesanan atas puluhan menu minuman. Mereka bekerja sangat cekatan. Menu yang dijual berharga mulai dari 3000-an, yang termahal mungkin berharga sekitar Rp. 12.000 rupiah, jauh lebih murah dari kopi-kopian.

Oh, iya kedai Selalu Teh di jalan KS. Tubun ini tertulis sebagai rumah kelimabelas, artinya sudah belasan kedai di Samarinda.

Saya tak tahu darimana asal mulanya kedai ini, semoga saja asli dari Samarinda atau Kalimantan Timur, seperti beberapa kedai kopi kekinian yang berasal dari sini dan berhasil mengembangkan gerainya di banyak tempat.

Sayapun memesan 3 jenis menu berukuran jumbo. Dan yang menerima pesanan kemudian mempersilahkan saya memilih satu lagi minuman sebagai bonus. Saya memilih es teh original.

Pembeli terus berdatangan, tapi yang membuat minuman cukup cekatan sehingga tak terlalu lama menunggu minumanpun selesai dibuat dan dikemas.

Tiga gelas yang saya beli itu untuk anak saya, kemenakan dan istri.

Saya sendiri tak berniat untuk mencicipi, namun karena dapat bonus maka minuman gratisan itu yang kemudian saya minum.

“Enak juga,” guman segera setelah menyeruputnya.

Rasanya mengingatkan saya pada kesegaran jasmine tea yang biasa saya minum semasa kecil dulu.

Saya sebenarnya tetap suka teh walau lebih memilih kopi sebagai minuman sehari-hari.

Teh apalagi es teh selalu mengoda hanya saja saya cukup bisa menahan diri untuk tidak selalu meminumnya, saya khawatir perut depan akan semakin menggelambir.

Lagi pula es teh biasanya teramat manis dan tidak baik untuk orang seumuran saya meminum yan g manis-manis, kalau lihat yang manis-manis sih oke-oke saja karena baik untuk kesehatan mata.

BACA JUGA : Yang Merantau Bukan Hanya Orang Tapi Juga Makanan

Menjadikan yang biasa menjadi luar biasa ternyata masih bisa. Memulai bisnis terutama makanan dan minuman tak selalu harus aneh-aneh untuk menarik pembeli. Lagi pula terlalu kreatif bisa-bisa malah berakibat tidak baik, termasuk memancing kemarahan orang lain.

Kembangkan yang sudah ada dan terbukti telah diterima oleh banyak orang. Jangan berspekulasi seperti memasukkan babi dalam bumbu rendang, dendeng celeng dengan nasi uduk atau membuat sate babi dengan toping saus kurma.

Tidak usah neko-neko terbukti berhasil, seperti Es Teh Indonesia, yang penting pertanggungjawabkan rasa dan perbanyak varian-varian minumannya.  Lalu pasarkan dengan video-video promosi, buat videonya yang serius meski tempat upload atau mempublikasikannya gratisan.

Memakai Tik Tok sebagai platform promosi terbukti video-video Es Teh Indonesia mampu menaikkan kasta es teh manis, videonya populer sehingga selebritas tanah air pun mencarinya. Es Teh Indonesia dapat endorsement gratisan.

Pemasaran kolaboratif juga dilakukan oleh Es Teh Indonesia dengan membuat kaos dengan tulisan unik berkolaborasi dengan brand-brand besar lainnya. Sama-sama berdagang, sama-sama menguntungkan.

Kuncinya ternyata sederhana, bagaimana membuat produk simple tapi digemari banyak orang sehingga menjadi istimewa.

Jangan lupa juga jadi cerdik. Di setiap akhir videonya, Es Teh Indonesia selalu meminta dukungan dari masyarakat agar bisa go international. Itu sebenarnya merupakan cara agar Es Teh Indonesia menjadi kebanggaan nasional.

Tidak ada orang atau hukum yang melarang untuk ikut-ikutan, yang penting jangan njiplak plek ketiplek alias plagiat.

Dan itu dilakukan oleh Selalu Teh, yang tidak ikut-ikutan ngecap, seperti kecap-kecap yang selalu mengklaim sebagai yang nomot 1.

Dengan tegas Selalu Teh mendeklarasikan sebagai teh terenak no. 2 se Indonesia. Dan kita semua tahu jangankan nomor 2, nomor 20 saja kalau se Indonesia juga sudah hebat dan istimewa.

Klaim ini sangat cerdik sebagai sebuah metode pemasaran, kelasnya kelas profesor. Tahu kenapa?. Karena orang Indonesia selalu senang dengan orang yang rendah hati. Menyombongkan diri sebagai yang nomor 1 malah berbahaya, bikin banyak orang sibuk mencari-cari kelemahannya untuk membantah klaim itu.

Dan kita semua tahu, netizen paling jago mencari kelemahan dan kesalahan.

Maka memilih menjadi nomor 2 menjadi pilihan yang aman, kalau ada kurang-kurang pasti mudah dimaafkan.

Jadi tidak perlu risau menjadi nomor 2, jangan berkecil hati. Terkecuali dalam urusan cinta.

Kalau soal ini jangan mau jadi nomor 2 atau diduakan. Sebab dalam cinta yang ada hanya kau dan aku, yang lain hanya mampir minum es teh manis.

note : sumber gambar – FOX

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here